Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 93 Terima Kasih ( End )


__ADS_3

Selesai melampiaskan kemarahannya, Erlangga kembali bekerja seperti biasanya. Dia menunggu hasil perbaikan laporan yang sudah karyawannya buat. Meskipun sebenarnya dia sudah mencurigai orang yang menjadi sumber masalahnya, tetapi dia ingin orang itu jujur dan mempebaikinya sebelum dia memberikan hukuman atas kesalahn orang itu.


Namun ternyata, setelah menunggu dua jam lebih, masih ada orang yang masih juga tidak memperbaikinya. Jelas saja dia marah besar dengan apa yang anak buahnya lakukan. Dia pun segera meminta bukti fisik sebulan terakhir yang berkaitan dengan laporan itu.


“Ini, Tuan. Semuanya sudah sesuai dengan nota yang ada. Admin input juga sudah mengecek berkali-kali kalau laporan yang mereka buat memang tidak ada kesalahan,” jelas manager marketing.


Laporan dia memang tidak salah, tapi yang salah di bagian finance. Sepertinya mereka memanipulasi data secara kompak. Baiklah, aku ingin tahu sejauh mana mereka akan menyembunyikannya, batin Erlangga.


“Kalian boleh keluar dulu, nanti setelah aku periksa dengan detail, kalian akan aku panggil lagi.” Erlangga kembali duduk di kursi kebesarannya. Dia segera menghubungi Rafika agar wanita cantik itu bisa menenangkan sedikit amarahnya. Dia tidak mau apa yang biasa dia lakukan dulu pada bawahannya, dia lakukan kembali. Menghukum mereka tanpa ampun.


“Hallo, Sayang! Turun ke ruangan Aa ya!” Erlangga langsung berbicara saat panggilan teleponnya tersambung.


“Siap, Pak Bos! Fika segera meluncur,” ucap Rafika di seberang sana.


Sambungan telepon pun segera Erlangga tutup. Dia langsung memeriksa berkas dan mencocokkan laporan yang satu dengan yang lainnya. Sampai saat Rafika datang, Erlangga segera mengulurkan tangannya agar istrinya segera mendekat ke arahnya.


“Sayang, coba cari kesalahannya di mana? Kalau ketemu, nanti malam kita pulang kampung ke kota kelahiran kamu,” ucap Erlangga saat Rafika sudah duduk di pangkuannya.


“Aa, pasti sudah tahu siapa yang bermasalah. Kenapa masih mengerjai mereka?”


“Aa hanya ingin kejujuran dari mereka. Anggap saja ini kesempatan dari Aa untuk mereka memperbaiki kesalahannya. Tapi saat sudah diberi kesempatan, mereka masih saja melakukan kesalahan, jangan salahkan Aa bertindak tegas pada mereka. Karena nilainya tidak satu dua juta, melainkan ratusan milyar yang harus perusahaan tanggung kerugiannya. Jika laporan yang salah itu lolos begitu saja dan mendapatkan tanda tangan Aa.”


“Suamiku bijak sekali. Tapi kalau aku ketemu salahnya di mana, janji ya kita pulang kampung! Aku sudah kangen dengan pohon asam yang dulu selalu jadi tempat belajarku bersama dengan Kang Asep.”


“Iya, Kang Asep Amnesia janji pada Neng Fika!” Erlangga mengacungkan dua jarinya sebagai tanda dia bersungguh-sungguh janji pada Rafika.


Rafika pun segera memeriksa laoran itu dengan sungguh-sungguh. Benar saja apa dugaan Erlangga, Mami kembar itu juga menemukan kejanggalan dalam laporan Finance. Dia segera menyuruh Calvin untuk memanggil orang yang bermasalah itu.


Bruk!


Erlangga segera melempar laporan itu ke muka seorang lelaki yang umurnya tidak jauh beda darinya. Dia benar-benar merasa geram karena orang itu menunjukkan wajah tanpa dosa di depannya.

__ADS_1


“Aku sudah memberi kamu kesempatan untuk memperbaikinya. Tapi sedikit pun tidak ada itikad baik darimu. Kamu pikir, aku tidak akan tahu kalau laporan yang kamu berikan padaku itu hanya sebuah rekayasa. Kamu membeli barang dengan harga murah tapi kamu menuliskan harga dua kali lipat dari harga beli. Karyawan seperti kamu tidak layak bekerja di perusahaanku.”


Tidak ada pembelaan dari laki-laki itu karena apa yang Erlangga katakan itu benar adanya. Sehingga dia menerima saja hukuman yang akan diberikan oleh bosnya yang dia tahu sangat arogan. Dia juga merasa sedikit heran karena Erlangga tidak memberikan hukuman yang kejam seperti saat dulu ada yang menggelapkan uang perusahaan.


“Maafkan saya, Bos.”


Hanya kata itu yang diucapkan oleh laki-laki itu sebelum dia pergi ke luar dari ruangan Erlangga. Meninggalkan Rafika dan Erlangga yang menatap punggung laki-laki itu menghilang dari balik pintu ruangannya. Mereka menarik napas dalam dan menghembuskan secara bersamaan.


“Kenapa selalu ada orang serakah ya A. Padahal gaji di Elang group termasuk besar, tapi tetap saja ada yang merasa kurang dengan gaji yang mereka terima,” tanya Rafika.


“Karena banyak manusia yang kurang bersyukur dengan hidupnya. Seandainya dia bisa mensyukuri setiap rejeki yang didapatkannya, tidak mungkin dia berpikir untuk mengambil yang bukan haknya.”


“Benar yang Aa katakan. Orang itu ingin uang besar dengan cara instan, makanya mengahalalkan dengan segala cara. Sudah selesai kan, A? Katanya mau pulang kampung,” tanya Rafika menagih janji Erlangga.


“Nanti malam kita berangkat. Kita beli oleh-oleh dulu untuk Wa Enok dan keluarga yang lain. Kamu ingin belikan apa? Di tulis saja, biar nanti Felisha yang beli.”


“Gak kita langsung yang beli?”


Rafika hanya menurut apa yang Erlangga katakan. Dia menuliskan beberapa baju dan tas yang bermerek untuk dijadikan oleh-oleh. Setelah mendapatkan semua itu, mereka pun langsung pulang ke rumah karena akan segera menuju ke kampung halaman Rafika dan Kiranti.


Rafika sangat terkejut saat Erlangga memboyong keluarganya dengan helikopter. Yang lebih terkejut lagi, mereka mendarat tepat di atap rumah Rafika yang sudah dibangun menjadi rumah yang sangat megah di kampungnya. Satu tahun tidak pulang kampung, membuat Rafika menjadi sangat pangling dengan suasana rumahnya.


“A, kapan dibangunnya? Kenapa aku tidak tahu. Padahal tahun kemarin pulang belum seperti ini,” tanya Rafika.


“Tanya Wa Kumis. Dia kepala proyeknya. Aa hanya memberikan uang dan gambar pada beliau,” jawab Erlangga enteng. “Sudah, kagetnya dilanjut besok saja. Aa Lelah ingin cepat istirahat. Anak-anak juga sudah kecapean, mereka langsung tidur di kamarnya masing-masing.”


Erlangga benar-benar tertidur lelap dengan menelusupkan kepalanya di dada Rafika. Seperti sudah menjadi candu, sebelum tidur, laki-laki dewasa itu selalu ingin menikmati buah ranum istrinya sebagai pengantar dia tidur. Meskipun mereka tidak sampai melakukan hal yang lebih jauh lagi.


Keesokan harinya, semuanya sudah bersiap dengan baju seragam batik yang sudah dipesan oleh Erlangga. Karena sebenarnya, dia pulang kampung untuk memenuhi undangan peresmian stadion yang dibangun dari dana hibah darinya. Rafika tidak pernah tahu kalau suaminya banyak menyumbangkan uang untuk pembangunan di kampungnya. Sampai-sampai soal stadion itu, Rafika tahu saat mereka sudah tiba di lokasi.


“Loh, Aa kenapa kita ke sini. Memangnya ada apa di sini? Jalannya juga sudah bagus begini,” tanya Rafika yang kaget saat tiba di lokasi.

__ADS_1


“Hari ini ada gunting pita stadion. Aa diundang untuk datang. Ayo turun!” Erlangga dan keluarga pun turun dari mobil, mereka disambut hangat oleh orang-orang yang datang ke sana. Membuat Rafika semakin kebingungan.


Rafika menyalami orang-orang yang dikenalnya. Dia hanya berdiri di samping Erlangga seraya memberikan senyum terbaiknya. Meskipun sebenarnya dia masih bingung, tapi Rafika berusaha mengikuti alurnya.


“Silakan Tuan Erlangga! Kami semua menunggu kedatangan Anda untuk meresmikan stadion Rivers ini,” ucap kepala daerah setempat.


“Terima kasih sudah menyambut kedatangan saya dan keluarga. Untuk mempersingkat waktu, mari kita bersama-sama untuk membacakan basmalah,” ucap Erlangga dengan bersiap untuk menggunting pita. Dia memberikan gunting itu pada Rafika agar mereka bersama-sama meresmikan stadion. “Dengan ini, saya dan istri saya Rafika, resmikan stadion Rivers untuk dipergunakan sebaik-baiknya oleh semua warga.”


Semua orang bertepuk tangan saat pita itu sudah terpotong menjadi dua. Mereka berhamburan masuk ke dalam. Karena di dalam sudah disediakan kuliner nusantara untuk semua warga yang datang. Calvin dan Kiranti serta pengasuh menjaga anak-anak yang ingin mencicipi hidangan yang ada.


Sementara Erlangga membawa Rafika ke tepi sungai tempat pertama kali mereka bertemu. Lagi-lagi Rafika terpukau karena di tepi sungai itu sudah dibangun Gazebo dengan anak tangga yang menuju ke sebuah batu besar. Rafika masih ingat, di antara batu besar itu dia menemukan laki-laki yang sekarang menjadi suaminya.


“Apa Aa yang membangun semua ini?”


“Tidak! Aa hanya memberikan dananya saja, kepala daerah sini yang mengatur semuanya.”


“Aa tau dari mana tentang tempat ini. Bukankah aku tidak memberitahu lokasi tepatnya?”


“Sahabat kamu yang memberitahu semuanya pada Calvin dan Aa yang meminta dia untuk membangun tempat ini. Kebetulan waktu itu Aa melihat banyak anak sekolah yang berolah raga di sini. Jadi Aa pikir, sebaiknya dibangun stadion untuk mereka. Agar saat hujan turun, ada tempat untuk berteduh.”


“Terima kasih, A. Pasti adik kelasku senang bisa berolah raga di tempat yang nyaman.”


"Terima kasih juga, karena kamu sudah memberikan kehidupan yang baru untuk Aa."


Erlangga mencium kening istrinya lama. Melepaskan semua kabahagiaan di hatinya. Dia sangat bersyukur dengan kehidupannya yang sekarang. Makanya dia ingin membagikan kebahagiaannya dengan memberikan fasilitas umum yang baik pada orang lain.


...~The End~...


...Terima kasih banyak untuk semua my good reader yang sudah meluangkan waktunya untuk mengikuti kisah Erlangga dan Rafika dalam Jerat Cinta Ceo Amnesia. Semoga ada hikmah yang bisa dipetik dan menghibur Kakak semua....


See you bye-bye .... Sampai ketemu lagi di cerita Author yang lainnya.

__ADS_1



__ADS_2