Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 87 Calvin Pingsan


__ADS_3

Hari-hari terus berlalu dan waktu pun terus berganti. Kini usia kandungan Kiranti sudah memasuki usia ke sembilan bulan. Meskipun dia tidak mengandung anak kembar, tetapi perutnya terlihat lumayan besar. Sementara anak kembar Rafika terlihat semakin menggemaskan dengan pipi chuby keduanya, membuat setiap orang yang melihatnya terasa ingin mencubitnya.


Kedua keluarga kecil itu saling mendukung satu sama lain. Meskipun diantara Calvin dan Erlangga maupun Kiranti dan Rafika tidak ada hubungan darah, tetapi itu tidak membuat mereka merasa ragu untuk saling menguatkan dan mendukung satu sama lain.


Karena memang kedekatan hati itu bukan karena adanya hubungan darah tetapi karena adanya kedekatan secara emosional dan seringnya berinteraksi satu sama lain. Seperti yang dilakukan oleh dua sahabat itu. Setiap hari Rafika dan Kiranti bersama-sama menjaga anak kembarnya sampai mereka melupakan waktu kalau hari sudah beranjak sore.


"Permisi, Neng. Ini bubur untuk makan Den Agy dan Neng Aya," ucap Bi Sari seraya membawa mangkuk dengan dua warna yang berbeda. Agya warna Biru, sedangkan Alya warna ungu.


"Oh, iya Bi. Makasih ya!" ucap Rafika yang sedang menyusui anaknya.


"Aya dulu yang makan, nanti gantian sama Bang Agy," ucap Kiranti seraya mengambil mangkuk yang berwarna ungu di meja.


Dengan telaten Kiranti menyuapi bayi cantik itu. Dia selalu terpesona melihat bulu mata Alya yang panjang dan lentik ditambah lagi alisnya yang sudah tertata rapi. Jangan lupakan hidung mancung dan wajah blasteran yang dominan dari papinya. Membuat Kiranti menjadi ingin memiliki anak perempuan. Tapi sayangnya, hasil USG dia menunjukkan kalau bayinya berjenis kelamin laki-laki.


"Aw ...." Kiranti menghentikan menyuapi Alya, saat perutnya terasa mulas karena tendangan putranya yang lumayan kuat.


"Kenapa Kiran?" tanya Rafika saat mendengar Kiranti meringis. "Mbak Nina tolong gantikan dulu."


"Baik, Mbak!" sahut Nina yang sedari tadi hanya memperhatikan saja.


"Fika, kenapa perutku terasa mulas terus menerus?" tanya Kiranti.


"Apa kamu mau melahirkan?" tanya Rafika mendadak cemas.


"Sepertinya begitu. Mbak Nina kalau sudah menyuapi Alya, tolong periksa ya!"


"Iya, Mbak. Ini sebentar lagi sudah mau habis." Nina pun menyuapkan suapan terakhir pada Alya. Setelah dia membereskan bekas makan Alya, barulah dia memeriksa keadaan Kiranti di kamar tamu.


"Mbak Nina, bagaimana keadaan Kiran?" tanya Rafika menghampiri Kiranti yang sedang telentang seraya menggendong Alya.


"Mbak Kiran sudah pembukaan tiga. Apa dari semalam sudah terasa mulas?" tanya Nina.


"Iya, tapi jarang-jarang."


"Kamu hubungi Bang Calvin, aku mau nyuruh Bi Atun untuk menyiapkan barang-barang yang diperlukan," suruh Rafika.


Dia bergegas pergi ke rumah Kiranti lewat pintu samping, sehingga tidak perlu memutar ke luar gerbang. Sampai di sana. Bi Atun sedang menyiapkan makan malam untuk majikannya.


"Bi, tolong siapkan keperluan Kiran untuk melahirkan. Aku mau bawa dia ke rumah sakit sekarang," ucap Rafika.


"Apa, Neng? Neng Kiran mau melahirkan?" tanya Bi Atun kaget.


"Iya, Bi. Cepetan siapkan ya! Sebentar lagi Bang Calvin datang," ucap Rafika.


"Rebes Neng Fika, Bibi otewe." Bi Atun langsung berlalu pergi menuju ke kamar anak yang sudah disiapkan oleh Calvin dan Kiranti.


Dia segera mengambil tas besar yang sudah disiapkan untuk keperluan Kiran melahirkan. Saat sudah mendapatkannya, DIa pun kembali untuk menemui Rafika. Akan tetapi mama muda itu sudah tidak ada di tempatnya. Karena dia langsung pulang saat Bi Atun meninggalkannya sendiri.


"Yah, Neng Fika malah ninggalin Bibi." Bi Atun langsung saja menuju ke rumah sebelah. Bukan hal yang aneh jika penghuni kedua rumah itu selalu hilir mudik lewat pintu samping.

__ADS_1


Sementara itu, Kiranti sudah siap akan dibawa oleh Calvin. Karena saat diberitahu kalau Kiranti akan melahirkan, pria tampan itu langsung pulang ke rumah Erlangga. Meninggalkan Erlangga yang masih meeting dengan klien.


"Ibu, titip dulu kembar ya! Fika mau menemani Kiran dulu," ucap Rafika panik.


"Iya, biar Ibu yang jaga anak-anak. Kiran, semoga persalinannya lancar ya, Nak. Nanti biar Bibi yang menghubungi ibu kamu," ucap Bu Sofie.


"Iya, Bi terima kasih!" sahut Kiranti dengan nada lemah.


Saat mereka akan berangkat, terlihat Bi atun datang tergopoh-gopoh dengan tas besar di tangannya. Dia sangat panik saat dari jauh melihat mobil Calvin akan segera berangkat.


"Neng Fika, ini tas-nya bagaimana?"


"Nanti Bibi nyusul saja dengan Pak Parman. Mobilnya gak muat," ucap Rafika karena memang sudah tidak tempat kosong untuk duduk.


"Ya, sudah. Bibi nanti menyusul," ucap Bi Atun.


Supir kantor yang membawa mobil, melakukan kendaraannya dengan kecepatan sedang. Dia khawatir dengan kondisi Kiranti yang terlihat terus meringis. Namun, hal itu membuat Kiranti menjadi tidak senang.


"Pak, cepetin dong, Pak! Kenapa lama sekali kayak siput?" Kiranti kembali meringis saat rasa mulas itu datang.


"Baik, Mbak!" sahut supir itu.


Calvin hanya mengelus perut istrinya. Melihat Kiranti seperti kesakitan seperti itu, membuat dia seakan kehilangan kata-kata. Setiap kata yang ingin dia ucapkan, terasa tercekat di tenggorokan.


Tidak berapa lama kemudian, mobil sudah berhenti di depan IGD. Perawat pun sudah siap dengan brangkar yang akan membawa Kiranti. Karena memang tadi Kiranti sudah menghubungi dokter kandungnnya, sekaligus melakukan pendaftaran via phone.


"Mas cepat bantu sahabat aku mau melahirkan," ucap Fika saat dia sudah turun lebih dulu.


Mereka dengan sigap membantu Calvin memindahkan Kiranti ke brangkar. Ibu hamil itu pun segera mendapatkan pertolongan dari dokter. Setelah semuanya siap, dia segera dipindahkan ke ruang persalinan.


Calvin dengan setia menemani istinya. Mulutnya memang terdiam, tetapi hatinya terus berdoa meminta keselamatan anak dan istrinya. Sampai saat Kiranti sudah pembukaan sembilan, dia barulah berbicara.


"Kiran, yang kuat. Abang akan selalu bersama kamu," ucap Calvin pelan.


"Iya Bang. Maafkan Kiran ya, kalau belum bisa jadi istri yang baik."


"Iya," ucap Calvin dengan mengelus rambut Kiranti.


Dokter pun mulai memberi arahan pada Kiranti bagaimana cara dia bernapas saat mengejan. Sampai saat Kiranti merasakan mulas seperti ingin buang hajat, dia pun langsung diberi komando oleh dokter.


"Ayo, Mbak! Tarik napas dalam-dalam lalu lepaskan dengan sekuat tenaga sambil melihat ke arah perut," ucap dokter.


"Iya, Dok!" sahut Kiranti.


Dia segera menarik napas dalam-dalam, kemudian melepaskannya seraya mendorong bayinya agar keluar. Namun, pada dorongan pertama, dia belum berhasil mengeluarkan bayinya. Membuat Calvin yang melihatnya keluar keringat dingin karena ikut merasakan bagaimana sakitnya. Dia juga tidak tega melihat Kiranti sepertinya kesakitan sekali.


"Ayo dicoba sekali lagi, Mbak. Rambutnya sudah kelihatan," ucap dokter.


Kiranti pun kembali mengambil napas dalam-dalam dan segera mengeluarkannya dengan sekuat tenaga hingga akhirnya terdengar suara tangisan bayi yang sangat kencang. Bersamaan dengan suara benda keras yang terjatuh.

__ADS_1


Gubrak!


Seketika Calvin pingsan karena tidak tahan melihat Kiranti yang kesakitan. Perawat pun akhirnya segera menolongnya. Sementara dokter kembali membantu Kiranti untuk mengeluarkan ari-ari.


Astaga, Bang Calvin kenapa pingsan? Aku yang kesakitan tetapi dia yang malah pingsan, batin Kiranti saat melihat suaminya digotong oleh perawat laki-laki yang terpaksa dipanggi ke sana.


"Sepertinya suami Mbak sangat mencintai Mbak ya! Dia jadi ikut merasakan sakit saat melihat Mbak melahirkan. Sampai-sampai dia pingsan?" ucap Dokter seraya menyimpan bayi laki-laki itu di dada Kiranti.


Kiranti hanya tersenyum mendengar apa yang dikatakan oleh dokter itu. Dia pun tidak menyangka kalau Calvin akan seperti itu saat dia melahirkan. Setelah semuanya beres, barulah Rafika diperbolehkan masuk untuk menjenguk sahabatnya.


"Kiran, selamat ya! Kamu sudah jadi ibu kayak aku," ucap Rafika seraya memeluk sahabatnya.


"Terima kasih, Fika."


"A Elang sedang menemani Bang Calvin. Mungkin dia ke sini kalau Bang Calvin sudah siuman. Apa kamu mau minum?" tanya Rafika.


"Iya, Fika. Tolong ambilkan teh manis itu!" pinta Kiranti.


Rafika pun segera mengambil teh manis yang sudah disediakan pihak rumah sakit. Dia memberikan pada Kiranti dan membantu sahabatnya itu minum dengan sedotan.


"Tadi Ibu menelpon, katanya ibu kamu sedang di jalan. Saat diberitahu oleh ibu, langsung berangkat ke sini," ucap Rafika.


"Iya, Fika. Aku lemas sekali. Aku tidur dulu ya!"


"Tidurlah, aku akan menjaga kamu di sini."


Kiranti pun langsung tertidur pulas, karena rasa lelah yang dirasanya. Sementara Rafika berbalas pesan dengan suaminya. Mereka terkadang bersikap seperti anak muda yang sedang kasmaran. Meskipun sudah memiliki anak dua, tidak membuat pasangan itu berkurang keromantisannya.


Papi Kembar: [Sayang, Aa ke situ sekarang. Calvin sudah sadar.]


Mami Kembar: [Siap A say, ditunggu ya! Muach ...]


Rafika segera menyimpan kembali ponselnya saat dia sudah membalas pesan terakhir dari Erlangga. Tidak lama kemudian, Erlangga dan Calvin datang ke ruang persalinan untuk melihat Kiranti sebelum dipindah ke ruang perawatan.


"Bang, sudah diadzani belum bayinya?" tanya Rafika saat mereka baru saja sampai.


"Sudah, tadi sebelum ke sini. Kenapa belum dipindahke ruang perawatan?" tanya Calvin heran.


"Mungkin sebentar lagi. Mereka sedang menyiapkan ruang VVIP untuk Kiran."


Benar saja, tidak lama kemudian perawat datang untuk memindahkan Kiranti ke ruang perawatan. Rafika dan Erlangga pun mengikuti brangkar itu di bawa kemana oleh perawat. Saat mereka sedang menyusuri lorong rumah sakit, tanpa sengaja betemu dengan Selvi yang sedang memegangi perutnya yang nampak sudah membuncit.


"A, lihat itu Mbak Selvi kenapa periksa kandungan sendiri? Ke mana suaminya? Tega sekali membiarkan istrinya sendirian." tunjuk Rafika.


"Biarkan saja. Jangan terlalu kepo dengan hidup orang lain, Sayang. Apalagi sampai berprasangka buruk, itu tidak baik."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2