
Terlihat wajah-wajah tegang di ruang tengah rumah megah itu. Tuan Ageng sebagai tetua di keluarga itu sudah siap untuk mendengarkan, apa yang sebenarnya sedang terjadi pada cucu keduanya. Begitupun dengan Erlangga yang mau tidak mau ikut terlibat dalam masalahnya Leon.
"Maaf Om Ageng, saya ke sini ingin meminta pertanggungjawaban dari cucu Anda, karena Caithlyn hamil dua bulan," ucap Andre Wijaya, ayah dari Caithlyn.
"Andre, sekarang Elang sudah menikah. Apa kamu tidak keberatan jika Caithlyn menjadi istri ke dua?" tanya Tuan Ageng.
"Apa maksud Kakek menjadi istri kedua? Bukan aku yang menghamili Caithlyn tapi Leon. Kenapa harus aku yang bertanggung jawab?" protes Erlangga.
"Apa katamu? Leon? Kamu jangan mengada-ada!" sentak Tuan Ageng. "Mereka sepupu, mana mungkin Leon menghamili Caithlyn."
"Sebelum Kakek menuduhku, lebih baik Kakek tanyakan dulu pada Caithlyn. Siapa ayah dari anak yang dikandungnya? Karena selama aku bertunangan dengannya, aku belum pernah menyentuhnya."
"Caithlyn, katakan siapa ayah dari anak yang ada dalam kandungan kamu?" tanya Tuan Ageng dengan menatap lekat gadis cantik itu.
"Sebenarnya anak ini ... anak ini ... anaknya Leon. Kami ... Kami ... Kami tidak sengaja melakukannya saat liburan ke Maldives." Caithlyn memejamkan matanya sesaat. Hatinya merasa plong karena akhirnya dia bisa mengungkapkan kenyataan yang sebenarnya.
Meskipun dia tahu pasti Leon akan marah dengan apa yang dikatakannya. Tapi Caithlyn tidak mungkin mendesak Erlangga. Karena memang benar, jangankan melakukan hal yang di luar batas. Sekedar berciuman saja mereka belum pernah.
"Caithlyn! Kamu jangan memfitnah aku," seru Leon tidak terima.
"Aku tidak memfitnah kamu. Kenapa kamu tidak mau mengakuinya? Lagi pula, kita bukan sepupu kandung. Mamamu hanya anak angkat keluarga Wijaya."
"Bicara kamu semakin ngawur, Caithlyn. Atau jangan-jangan, dia anak dari teman model kamu. Tapi kamu malah meminta pertanggungjawabannya padaku."
"Kamu benar-benar brengsekk, Leon. Sudah berbuat tapi tidak mau bertanggung jawab."
"Kamu pikir kamu orang baik? Tidak bisa mencelakai anaknya, kamu berhasil mencelakai ibunya juga."
"Maksud kamu apa?"
"Kamu pikir aku tidak tahu kalau kamu sudah menyuruh orang untuk mencelakai ibunya Rafika?"
"Bukan aku yang punya usul seperti itu, tapi ibumu sendiri."
__ADS_1
"SUDAH STOP! KALIAN BERDUA SALAH TAPI KENAPA SALING MENYALAHKAN?" Tuan Ageng langsung menghentikan perdebatan dua anak muda itu. "Sekarang jawab Kakek. Apa benar itu anak kamu Leon?"
"Bukan!" sahut Leon
"Iya!" sahut Caithlyn.
"Kamu tidak ingin tanggung jawab Leon? Aku pikir kamu dan ibumu tahu balas budi. Tapi ternyata aku salah. Baiklah, kalau kamu tidak mau bertanggung jawab, aku akan menghapus kalian dari ahli waris Keluarga Wijaya. Tadinya aku mau membagi warisan dengan kamu Merlina. Meskipun kamu hanya adik angkat ku. Tapi ternyata, aku tidak perlu berbelas kasih pada orang seperti kalian," ucap Andre.
"Kakak, bagaimana bisa begitu? Leon pasti bertanggung jawab kalau itu memang anaknya," ucap Merlina.
"Kenapa kamu meragukan putriku? Kamu pikir anakmu itu anak yang baik dan membanggakan? Baru diberi kepercayaan menjadi CEO saja sudah belagu dan membuat kerugian besar pada perusahaan. Benar-benar tidak berguna," hina Andre.
Mereka terus saja beradu mulut. Membuat Erlangga tertawa dalam hati. Berbeda dengan Rafika yang masih kaget dengan apa yang dikatakan oleh Caithlyn kalau kecelakaan yang menimpa ibunya karena ulah ibu tiri Erlangga.
"Sayang, kamu tidak apa-apa?" tanya Erlangga saat melihat Rafika bengong.
"A, jadi waktu itu ...." Rafika tidak melanjutkan ucapannya. Dia hanya melihat ke arah Erlangga.
"Aa minta maaf, karena keluarga Aa yang sudah menyebabkan kecelakaan itu," sesal Erlangga dengan menggenggam tangan istrinya. Dia juga sama terkejutnya dengan apa yang dia dengar sekarang. Erlangga hanya diam saja, karena dia ingin tahu sejauh mana kebusukan ibu tirinya akan terungkap.
"Tapi, Kek ...." Leon akan bicara lagi, tetapi Merlina langsung memotongnya.
"Baik Ayah. Leon pasti akan tanggung jawab," ucap Merlina. Daripada dia harus kehilangan semua harta warisan. Lebih baik Merlina memaksa putranya untuk menikah dengan Caithlyn. Toh, gadis itu memiliki segalanya yang diimpikan para kaum hawa.
Setelah semuanya sepakat. Erlangga langsung mengajak pergi Rafika menuju ke kamarnya. Dia sudah sangat merindukan kamarnya yang selama ini menemaninya berkeluh kesah.
"A Elang, kenapa Mama A Elang jahat sekali. Padahal ibu tidak salah apa-apa," keluh Rafika saat mereka sudah berada di dalam kamar.
"Dia memang bermuka palsu. Untung saja ibu cepat pulih kondisinya, sehingga bisa menyaksikan pernikahan kita."
Erlangga menarik tangan istrinya dan membawa Rafika ke balkon kamarnya. Terlihat senja yang sudah memerah di ufuk barat. Dia pun mendudukkan Rafika di pangkuannya.
"Aa, aku tidak mau tinggal lama-lama di sini. Apalagi bersama dengan orang yang tidak menyukai aku. Bikin mataku gatal melihat tatapan sinisnya," ucap Rafika dengan mengelus lembut dada suaminya.
__ADS_1
"Besok pagi kita akan pulang." Erlangga mendusel ke dada Rafika mencari kenyamanan di sana. "Sayang, jangan hiraukan Mama Merlina. Dia memang seperti ini itu. Dia akan baik jika kita memberikan dia jatah bulanan."
"Apa Aa memberikannya?"
"Bukan Aa tapi memang jatah dari kakek. Hanya Aa yang membagikan uang jatah mereka karena perusahaan Aa yang pegang. Mungkin sekarang, mereka bebas melakukan hal sesuka hati mereka. Karena Leon yang memegang kendali perusahaan."
Lama keduanya di dengan posisi seperti itu. Sampai langit sudah berganti gelap, barulah Rafika mengajak suaminya masuk. Mereka membersihkan diri saling bergantian sebelum keduanya menunaikannya kewajiban pada Sang Pencipta.
Baru saja Rafika akan merebahkan badannya di kasur empuk uang berukuran besar. Terdengar suara pintu ada yang mengetuk. Rafika pun segera membukakan pintu. Terlihat di sana, Pak Tejo sedang berdiri di depan pintu.
"Maaf Neng Fika, Bapak mengganggu," ucap Pak Tejo.
"Tidak apa. Ada apa ya, Pak?"
"Anu, Neng. Den Elang disuruh ke ruang Tuan sekarang," ucap Pak Tejo.
"A Elangnya sedang di kamar mandi. Nanti Fika sampaikan."
"Baik, Neng. Kalau begitu, Bapak permisi." Pak Tejo pun langsung pergi setelah dia menundukkan sedikit badannya pada Rafika. Begitupun dengan Rafika yang kembali ke dalam kamar.
"Aa, disuruh Kakek untuk menemuinya," ucap Rafika saat Erlangga menghampirinya di tempat tidur.
"Mau ikut sekalian turun? Sebentar lagi makan malam. Nanti kamu bisa di ruang baca Aa dulu kalau tidak suka bersama dengan Leon dan mamanya."
"Ya udah deh. Tadinya aku mau tidur-tiduran di sini."
"Di ruang baca juga ada sofa bed. Kamu bisa tiduran di sana," ucap Erlangga.
"Baiklah, aku jadi ingin tahu apa saja yang A Elang baca makanya bisa pinter banget."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift, dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....