Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 73 Peringatan Fika


__ADS_3

Semua orang terlihat terkejut melihat kedatangan Erlangga bersama dengan seorang gadis cantik yang bergelayut manja di tangan kekar laki-laki itu. Mereka merasa heran, CEO yang terkenal arogan itu bisa bersikap lembut pada gadis itu. Karena memang, pernikahan Erlangga masih belum dipublikasikan.


Sementara seorang wanita cantik yang sekarang menjadi sekretaris CEO, terlihat begitu senang karena tahu hari ini Erlangga akan datang ke perusahaan. Dia berkali-kali melihat wajahnya pada cermin kecil yang selalu dia bawa di dalam tas. Felisha ingin terlihat cantik di depan bos sekaligus mantan kekasihnya itu.


"Selamat Pagi ... Pak," sapa Felisha. Suaranya mendadak tertahan saat melihat Rafika bersama dengan Erlangga.


Erlangga menghentikan langkahnya sebentar dan berkata, "Pagi, tolong siapkan berkas untuk meeting hari ini!"


"Baik, Pak!" sahut Felisha.


"Loh, bukannya dia mantan A Elang itu ya! Aku baru tahu kalau ternyata dia kerja di sini. Apa setiap kali Aa ke sini kalian selalu bersama?" tanya Rafika dengan nada tidak sukanya.


"Enggak, Sayang! Aa kerja di dalam ruangan sana. Dia dan sekretaris yang lain bekerja di sini," jelas Erlangga dengan menjawil hidung mancung Rafika.


Jelas saja membuat Felisha dan karyawan lain yang melihatnya jadi melongo. Namun, mereka segera mengalihkan pandangannya saat Erlangga mengedarkan pandangan melihat ke sekeliling ruangan.


"Perhatian sebentar! Kenalkan ini istri saya, kalian harus membantunya jika dia membutuhkan pertolongan. Satu lagi, dilarang menggosipkan istriku ataupun kehidupan pribadi CEO. Kalau ada yang bergosip, silakan angkat kaki dari Elang Group."


"Baik, Pak!" Kompak karyawan ada di ruangan sekretaris.


"Calvin, bikin peraturan yang aku katakan tadi!" suruh Erlangga sebelum dia masuk ke ruangannya bersama dengan Rafika.


Calvin hanya tersenyum tipis melihat apa yang sahabatnya itu lakukan. Ternyata Erlangga hanya lunak pada istrinya saja. Sama karyawan dan perusahaan yang dipegangnya, dia tetap bersikap tegas.


Sementara Felisha hanya tersenyum samar, sepertinya dia sudah tidak memiliki harapan untuk mendekati Erlangga. Akan tetapi, semakin lama dia dekat dengan laki-laki itu semakin dia mengagumi sosok Erlangga yang sekarang.


Berbeda dengan Rafika yang terus saja tersenyum senang. Dia merasa sangat bahagia karena Erlangga memperkenalkan dia kepada karyawan yang bekerja di Elang Group.

__ADS_1


"Senyum terus, apa senang sudah Aa kenalkan pada mereka?" tanya Erlangga saat keduanya sudah berada di dalam ruangan Erlangga.


"Tentu saja, A. Aku gak mau ada karyawan Elang Group cari-cari perhatian sama Aa. Apalagi terang-terangan mendekati Aa. Akan aku hajar sampai habis kalau ada yang berani seperti itu. Apalagi kalau mantan Aa itu ingin balikan lagi, siap-siap saja aku siram pakai aida biar di seperti cacing yang kepanasan," ucap Rafika dengan berapi-api.


"Istri Aa sedang cemburu nih? Tenang saja, Aa bukan type playboy." Erlangga melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya, sebelum melanjutkan bicaranya, " liam belas menit lagi, Aa meeting. Tunggu di sini saja ya, kalau mau nonton televisi, ke penthouse saja. Tekan tombol yang ini," tunjuk Erlangga pada sebuah tombol hijau yang ada di dekat rak buka.


Seketika rak itu bergeser dan terlihat lift yang sudah terbuka pintunya. Begitupun saat tombol merah ditekan oleh Erlangga. Rak buku itu kembali bergeser menutupi pintu lift.


"Aa beneran di sana ada lift?" tanya Rafika dengan wajah bengongnya.


"Iya, lift itu menghubungkan ke penthouse. Kalau Aa malas pulang, pasti tidur di sana. Ada kolam renang juga di depan penthouse. Mau Aa antar ke sana?" tawar Erlangga.


"Boleh deh, A. Aku jadi penasaran," jawab Rafika langsung menyetujui.


Akhirnya Erlangga pun mengantar istrinya terlebih dahulu. Dia membiarkan Rafika berbuat sesuka hatinya di penthouse yang jarang dia tempati. Apalagi, semenjak Erlangga sering tinggal di Cikarang. Membuat Erlangga melupakan tempat yang sering dia gunakan untuk menyendiri.


"Bagus sekali, A. Aku suka pemandangan dari sini," ucap Rafika saat mereka sudah berada di luar penthouse.


"Fika aku rujak kedondong sama rujak kangkung tapi gak boleh pakai terasi. Sama keripik mangga, keripik Apel terus minumnya lemon tea saja. Boleh ditambah Pizza juga A. Sama satu lagi, ayam krispi dan kentang gorengnya."


Apa akan habis makanan sebanyak itu. Fika Fika, banyak makan tapi gak gemuk-gemuk. Hanya perut saja yang maju sedikit tidak rata seperti saat pertama kali aku melihatnya, batin Erlangga.


"Buahnya enggak?"


"Boleh deh A, mau anggur saja sama buah kiwi."


"Ya sudah, Aa pergi sekarang ya!" Erlangga mencium sekilas bibir istrinya sebelum dia pergi. Namun sepertinya, dia jadi tergoda saat Rafika meresponnya. Sampai akhirnya mereka terhanyut dengan ciuman yang memabukkan.

__ADS_1


Ekhm ... Ekhm ....


Terdengar suara orang berdehem yang sukses mengagetkan keduanya. Ternyata Calvin menyusul bosnya karena sudah waktunya mereka pergi meeting.


"Sorry, Bos mengganggu!" ujar Calvin basa-basi. "Sudah ditunggu di ruang meeting, Bos. Tuan Ageng juga sudah datang," lanjutnya.


"Oke! Aa pergi dulu ya, Sayang!" pamit Erlangga.


Dia pun langsung pergi bersama dengan Calvin, meninggalkan Rafika seorang diri di dalam penthouse. Gadis itu berjalan ke luar, mengitari kolam renang yang airnya terlihat jernih. Ingin rasanya dia berenang di sana. Namun, sayang Rafika tidak membawa baju ganti. Akhirnya, dia hanya memasukkan kakinya saja ke dalam kolam.


Tidak berapa lama kemudian, Felisha datang dengan beberapa kantong makanan. Tadi dia melihat office boy yang akan naik tangga menuju penthouse. Felisha pun berinisiatif untuk membawakan semua makanan pada Rafika. Karena sejujurnya, Felisha sangat penasaran dengan sosok istri mantan kekasihnya.


"Fika, makanannya simpan di mana?" tanya Felisha yang sukses mengagetkan Rafika.


"Eh, Mbak Mantan. Minumnya di sini aja, Mbak. Kalau makanannya tolong simpan di dalam saja," ucap Rafika dengan tersenyum tipis pada Felisha.


"Bisa tidak, panggil aku Mbak Felisha saja. Tidak usah mengungkit hubungan aku dan Elang yang sudah lewat," ketus Felisha.


"Bisa banget, Mbak. Asal Mbak juga tidak pernah berpikir untuk kembali sama A Elang dan jangan cari perhatian pada suamiku. Karena sekarang A Elang sudah jadi suamiku dan aku tidak akan pernah memberi celah pada pelakor untuk mendekat pada A Elang," ucap Rafika dengan sesekali meminum minumannya.


"Aku bukan pelakor! Aku hanya bersahabat baik dengan Elang. Maupun dengan yang lainnya," kelit Felisha.


Baru juga akan mendekati Elang lagi, istrinya sudah memberi peringatan.


"Baguslah Mbak kalau begitu. Kalau Mbak hanya bersahabat dengan A Elang, aku tidak masalah. Apalagi sekarang Mbak sendiri, tentu harus bisa menghidupi diri sendiri."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2