
Pagi yang indah dengan matahari bersinar cerah. Burung-burung oun berkicau dengan riangnya. Erlangga dan Calvin sudah tiba di rumah Rafika. Karena semalam mereka memutuskan untuk menginap di hotel.
"Bos, bentar ya! Kiran belum datang. Katanya dia mau bawa semangka inul. Orang tuanya habis panen semangka," ucap Rafika.
"Itu yang di dalam dus apa, Fika?" tunjuk Erlangga.
"Hehehe, itu timun suri dari Aki. Kebetulan juga Aki habis panen," jawab Rafika.
"Ini juga mau dibawa?" tunjuk Calvin pada karung beras kecil yang berukuran sepuluh kilogram.
"Iya, di apartemen kan ga ada beras. Mending bawa di kampung. Berasnya asli, gak takut itu beras plastik. Mumpung pulang ke sananya bawa mobil sendiri, hehehe ...." Rafika langsung cengengesan dengan jawabannya sendiri.
Tidak berapa lama kemudian, Kiranti datang dengan diantar oleh orang tuanya. Dia membawa satu dus cemilan dan satu karung semangka. Erlangga dan Calvin hanya melongo melihat barang yang akan dibawa oleh kedua gadis itu.
"Kiran, kamu mau jualan semangka?" tanya Calvin.
"Enak saja jualan. Ini tuh buat dibagikan ke anak marketing," cebik Kiranti.
"Kalau begitu nanti dititip saja di satpam! Tidak usah dibawa ke apartemen," suruh Calvin. Dia tidak bisa membayangkan membawa satu karung semangka ke lantai sepuluh apartemennya.
"Iya bener, Bang. Biar aku juga tidak usah berat-berat bawa ke atas," ucap Kiranti tersenyum senang dengan saran dari Calvin.
Obrolan mereka terputus saat melihat Rafika sedang berpelukan dengan ibunya seraya menangis. Gadis itu seperti berat saat harus meninggalkan ibunya yang sedang sakit. Namun, Bu Sofie berusaha menegarkan hati putrinya. Meskipun dia juga ikut menetaskan air matanya.
"Ibu tidak apa di sini sendiri. Sudah ada Bi Odah yang menjaga Ibu. Kamu baik-baik ya di kota. Jangan mencari masalah dengan orang, kalau mereka yang mencari masalah pada kamu lebih baik dihindari."
"Iya, Bu. Ibu cepat sehat ya!"
"Ibu baik-baik saja, Nak!" Sofie menguraikan pelukannya dan menghapus air mata putrinya. Dia tahu, meskipun Rafika terlihat barbar dan terkadang semaunya. Tapi gadis itu sangat menyayanginya.
"Elang juga pamit, Bu. Ibu cepat sehat ya!" Erlangga mencium punggung tangan calon ibu mertuanya.
__ADS_1
"Titip Fika, Nak Elang. Tolong jaga harta Ibu satu-satunya," pesan Sofie.
"Iya, Bu. Elang pasti akan menjaga Fika."
Mereka pun bersalaman dengan semua keluarga Rafika dan Kiranti yang mengantar kepergiannya ke kota. Meskipun sebenarnya masih kesal pada Calvin, Kiranti terpaksa ikut dengan mobil pemuda itu. Dia tidak mau jika harus jadi obat nyamuk dua irang yang sedang kasmaran.
Selama perjalanan, Calvin maupun Kiranti hanya berdiam diri. Mereka seperti habis bahan pembicaraan. Berbeda dengan Rafika dan Erlangga. Kedua insan itu terus saja saling melempar senyum.
"Oh, Iya Fika. Aa mau tahu tempat dulu kamu menemukan Aa," ucap Erlangga.
"Itu di sungai Cimanuk, A." Rafika mulai menceritakan awal mula dia menemukan Erlangga. Laki-laki hanya menggelengkan kepala saat tahu pernah dikira makhluk halus.
"Kalian tuh ada-ada saja. Masa orang seganteng ini dikira makhluk halus."
"Gimana gak ngira, wajah Aa pucat banget, kayak gak punya darah. Kiran saja ampe gak mau deket-deket karena dia yakin kalau Aa itu bukan manusia."
"Kalian gadis-gadis hebat!" puji Erlangga dengan mengacak-acak rambut Rafika.
Saat sudah melewati pintu tol Cikampek, Erlangga dan Calvin pun membelokkan mobilnya ke rest area. Mereka ingin istirahat sejenak seraya menikmati secangkir kopi. Sekaligus mengisi bensin mobilnya.
"Shitt! Kalian kalau jalan lihat-lihat dong! Punya mata, kan? Lihat bajuku kotor terkena tumpahan jus. Kamu harus menggantinya! Apa kamu tahu, harga baju ini mahal?" bentak wanita cantik itu yang ternyata Marry.
"Maaf, Nona. Kita tidak melihat kalau Anda mau berbelok ke sini."
"Matamu picek, tidak bisa melihat orang segede gini? Sebentar, bukankan kamu orang yang sudah mencelakai Caithlyn dan Leon? Wah kebetulan ketemu di sini, aku jadi bisa membalasnya." Marry langsung melemparkan sisa jus yang ada di tangannya.
Namun secepat kilat Erlangga memeluk Rafika, sehingga punggungnya yang terkena tumpahan jus. Laki-laki itu langsung berbalik, dan menatap Marry dengan tatapan mengintimidasi.
"Kamu harus mengganti bajuku! Calvin, beritahu dia, berapa harga baju yang aku pakai?"
"Ma-maaf Tuan Elang, saya tidak sengaja." Gugup Marry.
__ADS_1
"Aku maafkan! Aku akan mengganti seharga baju yang kamu pakai, karena gadis ini tidak sengaja menumpahkan jus di bajumu. Kamu juga harus mengganti seharga baju yang aku pakai."
Gila aja, harga bajunya sepuluh kali lipat dari harga bajuku. Bisa habis uang bonus dari Caithlyn karena rencananya berhasil, batin Marry.
"Tuan Elang, tolong bermurah hati. Aku tidak punya uang sebanyak itu," ucap Marry lemas.
"Bos kamu pasti punya, Calvin tolong urus dia. Aku mau mengambil baju ganti dulu," suruh Erlangga dengan menarik Rafika untuk kembali ke mobil. Mau tidak mau gadis itu pun mengikuti.
Tidak ketinggalan Kiranti yang langsung mengekor sahabatnya. Lebih baik dia tidak jadi makan bakso daripada harus berurusan dengan orang kaya. Akhirnya kedua gadis itu memilih menunggu di mobil. Karena Calvin yang akan membawakan makanan pesanan mereka. Sampai akhirnya Caithlyn datang dengan wajah yang memerah.
"Kak Elang, kenapa Kak Elang keterlaluan sekali. Marry tidak sengaja menumpahkan jus di baju Kak Elang. Kenapa harus minta ganti segala? Apa sekarang Kak Elang sudah menjadi miskin karena memutuskan pertunangan denganku?"
"Aku hanya minta dia untuk bertanggung jawab."
"Apa harus mengganti seharga baju itu? Itu keterlaluan Kak Elang!"
"Aku hanya meniru apa yang dia lakukan. Kenapa kamu marah?"
"Kakak masih bertanya kenapa aku marah? Hanya karena gadis udik itu, kakak meminta ganti rugi itu, kan?"
"Tentu saja, karena dia kekasihku." Erlangga langsung merangkul pundak Rafika. Dia tidak akan merahasiakan hubungannya dengan gadis itu, jika semua itu membuat Rafika tidak nyaman.
"Apa Kak Elang bilang? Gadis udik ini pacar Kakak? Jangan gila Kak Elang! Kenapa selera Kakak jadi rendahan begitu. Seperti langit dan bumi dengan Kak Felisha. Ck! Kak Elang memang gak waras."
"Terserah apa yang kamu bilang. Aku tidak membutuhkan pengakuan dari siapapun, aku waras atau tidak. Karena yang pasti, aku bisa gila jika tidak bisa bersamanya."
"Oh, seperti itu? Oke, kita buktikan Kakak bisa gila atau tidak jika tidak bisa bersama dengan gadis udik itu." Caithlyn tersenyum smirk dengan tatapan penuh dendam pada Rafika dan Erlangga.
Belum juga reda kemarahannya karena diputuskan oleh laki-laki itu. Sekarang harus mengetahui kenyataan kalau Erlangga menjalin hubungan dengan gadis yang tidak sederajat dengannya. Membuat ego Caithlyn terasa diinjak-injak.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....
...Terima kasih....