
Semua hidangan yang tersedia sangat menggugah selera. Rafika yang sedang lapar menjadi kalap. Dia lupa kalau sedang makan bersama dengan bos-nya. Sampai-sampai makanan yang dia pesan sudah habis duluan.
"Fika, mau nambah?" tanya Calvin yang terlebih dahulu menyadari kalau Rafika sudah selesai makan.
"Emang boleh?" tanya Rafika malu-malu.
"Boleh kan, Bos?" Calvin malah bertanya pada Erlangga.
"Pesan saja, memang perut kamu akan muat?" tanya Erlangga dengan menatap lekat Rafika.
"Muat lah Bos, porsinya saja dikit gitu."
Erlangga pun langsung memesankan makanan untuk Rafika. Dia hanya menggelengkan kepala melihat gadis itu kembali menikmati satu porsi makanan. Sampai datang seorang gadis yang sukses mengagetkan mereka.
"Loh, Kak Elang makan di sini juga? Tumben banget?" tanya Caithlyn yang datang bersama dengan managernya.
"Kenapa memangnya? Kamu dengan siapa?" Erlangga balik bertanya.
"Gak apa sih. Aku hanya berdua dengan Merry. Kebetulan baru pulang pemotretan. Boleh gabung Kak?" tanya Caithlyn dengan menelisik Rafika yang duduk di depan Erlangga.
"Duduk saja," suruh Erlangga dengan melanjutkan makannya.
"Hey, kamu! Bisa tukeran tempat duduk?" seru Caithlyn pada Rafika. Namun, gadis itu masih saja asyik dengan makanannya.
"Hey, gadis norak! Kamu dengar tidak apa yang dibilang Caithlyn," seru Merry.
"Jaga ucapan kamu, Merry! Namanya Rafika," sentak Erlangga. "Lagipula kalau mau duduk, tinggal duduk saja. Apa susahnya,?"
"Kenapa, Bos. Ada yang mau kenalan dengan aku?" tanya Rafika melihat ke sekeliling.
"Bisa tukeran duduk?" Caithlyn mengulang lagi pertanyaannya. Dia tidak peduli dengan apa yang Erlangga katakan.
"Oh, mau duduk di sini? Silakan, Nona! Aku mau ke toilet kho." Rafika langsung bangun dari duduknya setelah dia menyeruput segelas minuman yang ada di depannya.
Erlangga hanya melihat kepergian Rafika, tanpa berniat untuk mencegahnya. Namun, tidak berapa lama kemudian, dia pun bangun dari duduknya saat Caithlyn dan Merry sudah mulai menikmati hidangannya.
__ADS_1
"Aku ke toilet dulu," pamit Erlangga.
"Kak Elang, jangan lama ya! Masa aku ditinggalkan," pinta Caithlyn.
"Hm ...."
Selepas kepergian Erlangga, Calvin yang sedari tadi diam akhirnya angkat bicara. Kadang dia merasa kasian pada gadis itu, karena selama empat tahun bertunangan dengan Erlangga. Sedikit pun sahabatnya itu tidak pernah bersikap baik layaknya seorang kekasih.
"Caithlyn, aku salut sama kamu. Meskipun Elang selalu judes sama kamu, tapi kamu tetap saja mau menikah sama dia. Apa kamu tidak khawatir jika nanti menikah malah akan berakhir perceraian?" tanya Calvin.
"Kenapa Kak Calvin bertanya begitu? Apa Kakak berharap aku berpisah dengan Kak Elang? Jangan-jangan Kakak diam-diam menyukai aku," tuduh Caithlyn.
"Hehehe ... Sebagai seorang lelaki, aku memang menyukai kamu. Tapi sebagai sahabatnya Elang, aku tidak pernah berpikir begitu," jawab Calvin sambil terkekeh.
"Sayang, sedikit pun aku tidak pernah berpikir untuk menyukai Kakak," ucap Caithlyn dengan entengnya.
Tentu saja kamu bicara seperti itu karena Elang memiliki segalanya. Selain wajah yang rupawan, dia memiliki harta yang berlimpah. Bahkan kekayaan keluarga kamu masih kalah dari Elang. Hanya saja kamu keturunan ningrat jadinya Tuan Ageng memilih kamu sebagai menantunya, batin Calvin.
Sementara di lorong menuju ke toilet, Erlangga menghentikan langkahnya. Dia tertegun di tempatnya saat melihat Rafika sedang berbicara dengan seorang laki-laki dengan mengunci leher laki-laki itu menggunakan tangannya. Dia penasaran dengan apa yang akan dilakukan oleh gadis itu.
"Dengar Roy! Aku tidak mengijinkan kamu mendekati Kiran. Kamu jangan melewati batas kesabaran aku! Aku tahu siapa kamu dan aku tahu apa yang selalu kamu lakukan di belakang Kiran."
Rafika menendang perut laki-laki yang bernama Roy dengan lututnya, sebelum dia melepaskan kuncian pada leher Roy. Dia merasa kesal pada laki-laki itu karena terus-menerus menanyakan soal Kiranti padanya. Padahal dia tahu kalau Roy pernah menjadikan Kiranti sebagai bahan taruhan saat mereka kuliah dulu.
Saat sampai di tempat Erlangga berdiri, Rafika cukup terkejut karena ternyata kelakuannya diketahui oleh bosnya yang sedang melihat ke arahnya. Dia pun berpura-pura tidak terjadi apa-apa di depan Erlangga.
"Aku suka gayamu. Siapa laki-laki itu?" tanya Erlangga dengan menepuk pundak Rafika.
"Orang gak penting. Mau ngapain bos ke sini?" tanya Rafika balik.
"Mau ngajak kamu kencan," jawab Erlangga asal.
"Kencan kho di toilet, gak modal banget sih Bos." Cebik Rafika sambil berjalan menjauhi Erlangga.
Laki-laki itu pun langsung mengejar Rafika. Karena memang, dia pergi ke toilet untuk memastikan keadaan gadis itu. Entah kenapa dia merasa khawatir saat tadi Caithlyn meminta gadis itu untuk bertukar tempat.
__ADS_1
"Fika, kita langsung ke mobil saja yuk! Aku males bertemu dengan dia," ajak Erlangga dengan menarik tangan Rafika agar mengikutinya.
Dia langsung menghubungi Calvin untuk memberitahu kalau sudah menunggunya di mobil. Meskipun dia tahu sikapnya itu tidak sopan. Entah kenapa dia ingin sekali menunjukkan ketidaksopanan itu pada tunangan yang akan dia putuskan.
Aku ingin Caithlyn menyerah dengan pertunangan ini, tapi sepertinya gadis itu tidak mengerti dengan penolakan yang secara halus, batin Erlangga.
"Bos, kenapa tunangannya ditinggalkan?" tanya Rafika saat sudah sampai di parkiran.
"Karena sudah ada kamu."
"Maksud, Bos?"
"Bukankah saat aku menjadi Kang Asep, aku sudah berjanji untuk menikahi kamu?"
"Kang Asep memang berjanji untuk kembali dan melamar aku. Tapi dia bukan Bos. Aku sudah menganggap kalau Kang Asep sudah me ...." Rafika tidak melanjutkan ucapannya saat telunjuk kanan Erlangga menempel di bibirnya.
"Kang Asep kamu masih hidup dan dia sudah hidup lebih baik dari saat pertama kali kalian bertemu. Kamu hanya perlu bersabar, karena dia pasti akan kembali padamu." Erlangga menatap lekat Rafika dengan tidak melepaskan telunjuknya. Sampai akhirnya suara deheman Calvin membuyarkan semuanya.
"Ck! Masih di parkiran, Bos. Ayo kalau mau pulang sekarang!" ajak Calvin dengan berdecak sebal dengan adegan yang dia lihat.
Erlangga pun segera melepaskan Rafika. Dia langsung masuk ke dalam mobil yang disusul oleh gadis itu. Mereka hanya diam selama perjalanan pulang. Kejadian tadi membuat jantung Erlangga dan Rafika berirama tidak seperti biasanya. Niat hati ingin menggoda gadis itu, tapi justru membuat hatinya tidak karuan saat menatap lekat Rafika. Entahlah, Erlangga masih bingung mengartikan perasaannya.
"Makasih, Bos. Makasih Pak Calvin sudah mengantar ke sini. Aku pulang duluan ya!" pamit Rafika saat sudah sampai di jalan yang dekat ke kontrakannya.
"Iya, sama-sama. Jangan lupa besok kerja ya!" pesan Calvin.
"Siap, Pak Calvin!"
Erlangga hanya menganggukkan kepalanya melihat Rafika yang tersenyum cerah. Dia pun kembali menutup jendela mobilnya, saat Calvin mulai menyalakan mesin mobil.
"Bos, tadi Tuan Ageng menelpon. Meminta Bos untuk pulang malam ini," ucap Calvin.
"Besok saja, hari ini aku mau langsung pulang ke apartemen. Kepalaku pusing."
"Tapi sepertinya penting, Bos."
__ADS_1
"Biarkan saja, kalau memang penting nanti juga mendatangi aku."
...~Bersambung~...