Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 81 Rumput Fatimah


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, ini usia kandungan Rafika sudah memasuki bulan ke sembilan. Dia semakin kesusahan beraktifitas karena perutnya yang sudah besar. Bu Sofie pun sengaja datang ke kota untuk menemani putrinya menungu saat-saat kehamilanya.


Sementara Kiranti dengan setia menemani sahabatnya saat suami-suami mereka bekerja. Karena memang, semenjak keguguran di kantor, Kiranti sudah tidak bekerja lagi di Rivers.


Setiap hari mereka menghabiskan waktu bersama untuk merawat bunga yang sengaja ditanam di halaman rumah, sehingga rumah kedua tampak asri dengan bunga yang berwarna-warni.


Seperti pagi ini, setelah Kiranti dan Rafika mengantar suaminya berangkat kerja. Mereka mulai sibuk dengan taman bunga mini yang mereka buat bersama untuk mmepercantik rumah keduanya.


"Fika, hati-hati mawarnya banyak duri," ucap Kiranti saat melihat Rafika sedang memotong dahan bungan mawar.


"Kamu tenang saja, mawa itu cerminan aku. Yang akan membalas jika ada orang yang berbuat semena-mena," ucap Rafika dengan mengelus perutnya.


"Kamu kenapa? Apa perut kamu sakit?" tanya Kiranti.


"Enggak sih, dari semalam terasa mulas tap kadang-kadang. Mungkin kontraksi palsu. Makanya aku itdak bilang sama A Elang."


"Oh, begitu. Kalau sudah sering mulasnya, nanti bilang ya. Kata orang itu tanda-tanda mau melahirkan."


"Siap, cantik. Ayo kita lanjutkan lagi! Kiran tolong bawa pupuk yang di sana, sepertinya bunga yang ini sudah lama tidak berbunga."


Mereka pun kembali asyik dengan taman bunganya. Sampai ada seorang kurir datang mengantarkan pesanan Rafika.


"Dengan Mbak Rafika?"


"Iya, Mas. Pesanan aku datang ya! Terima kasih ya, Mas." Rafika menerima paket yang diberikan oleh kurir itu.


"Tanda tangan dulu, Mbak di sini."


Setelah semua urusannya selesai, kurir itu pun langsung pergi ke tempat lain. Sementara Rafika langsung menyudahi acara berkebunnya, Dia mengajak Kiranti untuk masuk ke rumah dan membuka paket yang diterimanya.


"Fika kamu pesan apa?" tanya Kiranti penasaran.


"Aku pesan kurma muda buat kamu sama buah zuriat. Siapa tahu jadi jalan untuk kamu cepat-cepat punya momongan lagi. Agar kita bisa menjaga anak bersama," ucap Rafika dengan membuka paket yang diterimanya.

__ADS_1


"Fika, bukannya ini rumput fatimah ya?" tanya Kiranti saat melihat bunga yang seperti akar kering.


"Hehehe ... Katanya kalau minum air rebusan rumput fatimah akan cepat melahirkan," ucap Rafika dengan mengambil bunga itu dari tangan Kiranti.


"Jangan Fika, bahaya! Rumput Fatimah dapat memicu terjadinya kontraksi. Jika dikonsumsi sebelum waktu perkiraan lahir atau di usia kandungan yang masih sangat dini, tumbuhan herba ini bisa meningkatkan risiko terjadinya keguguran. Rumput Fatimah juga bisa meningkatkan risiko terjadinya kematian janin di dalam rahim."


"Yang benar, Kiran? Kamu jangan nakut-nakutin aku!" Rafika terlihat ketakuan dengan apa yang Kiranti katakan.


"Iya, Fika. Aku pernah baca artikelnya. Rumput fatimah hanya boleh dikonsumsi ketika sudah dekat waktu kelahiran, yakni ketika pembukaan sudah di atas enam, bukan pada saat pecahnya air ketuban. Jika Rumput Fatimah sebelum pembukaan enam akan terjadi kontraksi yang abnormal, yang justru bisa sangat berbahaya bagi ibu yang melahirkan." Kiranti membuka ponselnya dan mencari artikel tentang rumput fatimah.


"NIh kalau gak percaya baca sendiri," tunjuk Kiranti pada layar ponselnya. "Dampak terburuknya bisa terjadi robekan pada dinding rahim dan perdarahan yang hebat dan tidak bisa terhenti. Karenanya, meskipun pada beberapa kasus sangat membantu proses persalinan, sebaiknya berhati-hati ketika hendak mengkonsumsi rumput fatimah ini."


"Ngeri juga ya! Aku tahu dari tetangga, katanya suruh minum rebusan rumput fatimah biar cepat melahirkan. Ya udah aku pesan saja," ucap Rafika.


"Biarkan mereka kontraksi secara normal, tidak usah dipaksa. Kalau sudah waktunya, pasti mereka juga akan lahir," celetuk Sofie yang baru datang ikut bergabung.


"Tuh benar kata Bi Sofie. Bukannya sekarang kamu suka mulas-mulas perutnya. Mungkin saja waktu melahirkanya sudah dekat. Memangnya hari perkiraan lahirnya kapan?" tanya Kiranti.


"Sabar! Tidak semua orang memiliki kesempatan seperti kamu, bisa merasakan yang namanya hamil tua dengan segala keluhannya."


"Kamu benar, ternyata aku kurang bersyukur mengeluh seperti ini."


"Yang ikhlas, Nak! Karena saat seorang perempuan mengandung dan melahirkan, itu menjadi ladang pahala bagi mereka," timpal Sofie. "Tapi, saat Allah belum juga memberi kita kepercayaan untuk memiliki momongan, kita harus tetap berprasangka baik pada rencana Allah. Terus bangun sugesti positif pada diri kita, karena apa yang terjadi dengan hidup kita, dipengaruhi oleh keyakinan kita sendiri."


...***...


Malam harinya, Erlangga datang dengan tentengan di tangannya. Dia memang sengaja selalu membawa pulang oleh-oleh saat pergi ke luar. Entah itu membawa donat, pizza atau saja yang dia lihat saat dalam perjalanan. Seperti hari ini, sepulang dari Elang Group, dia menyempatkan diri untuk membeli roti belanda.


"A, enak sekali. Apalagi yang coklat keju ini, kejunya utuh gak diparut dulu."


"Makan yang banyak ya Sayang. Aa mau mandi dulu. Rasanya gerah," pamit Erlangga.


"Iya, A!" sahut Rafika. "Bu, Fika ke kamar dulu. Rotinya dibagi saja untuk bibi juga."

__ADS_1


"Iya, kamu istirahat saja. Jangan main ponsel terus, kalau malam itu tidur," pesan Sofie.


Ibu gak tahu aja kalau tiap malam aku lembur sama A Elang. Katanya kalau sudah hamil tua harus sering ditengokin, biar anaknya cepat lahir.


Rafika pun langsung pergi ke kamarnya menyusul Erlangga. Dia menyiapkan baju yang akan dipakai suaminya. Setelah menyimpannya di atas tempat tidur, Rafika pun memilih duduk di sofa dan menonton televisi.


Tidak lama kemudian, Erlangga keluar dengan handuk yang melilit di pinggangnya. Dia tidak langsung mengambil bajunya tapi memilih untuk menghampiri istrinya yang sedang duduk dengan bersilang kaki.


"Sayang, bagaimana kembar hari ini? Apa dia rewel?" tanya Erlangga dengan mencium perut buncit Rafika.


"Enggak kho Papi! Kembar anak baik, tidak mungkin menyusahkan maminya. Aa kenapa gak pake baju?"


"Aa mau nengok kembar dulu. Kangen sekali sama mereka," ucap Erlangga lalu mengecup singkat bibir istrinya.


"Aa ikh ... Padahal tadi pagi kan kita udah jenguk mereka. Masih sore juga A," ucap Rafika dengan melihat jam dinding yang menggantung.


"Tidak apa, biar bisa lama kita main sama mereka." Erlangga menatap mesra istrinya.


Cintanya semakin bertambah setiap kali melihat Rafika dengan perut buncitnya. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin melihat buah cinta mereka lahir ke dunia. Meskipun nantinya dia harus berpuasa selama empat puluh hari, tapi itu tidak jadi masalah bagi Erlangga.


Rafika menatap balik suaminya dengan tangan memgang dada bidang suaminya. Perlahan Erlangga pun mamajukan wajahnya dan mulai memiringkannya saat hembusan napas Rafika menerpa wajahnya.


Tidak jauh berbeda dengan Rafika yang ikut memejamkan matanya saat benda kenyal itu menempel di bibirnya. Awalnya mereka hanya saling mengecup. Namun, lama kelamaan kecupan itu berubah menjadi ciuman.


Semakin lama, keduanya semakin terhanyut. Apalagi, tangan Erlangga tidak tinggal diam memainkan dan menyentuh titik sensitif Rafika. Sampai mereka sudah tidak bisa lagi menahan hasrat yang semakin menggebu.


Bukan Rafika yang kini menonton televisi, tetapi televisi yang sedang menonton kedua insan yang sedang memadu kasih. Saat keduanya sudah mendapatkan pelepasan, barulah mereka berpindah ke tempat tidur dan melanjutkan season kedua menengok bayi yang ada di dalam kandungan.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2