
Hari yang ditunggu pun telah tiba, kini Rafika sudah pulang ke rumah. Keadaannya pun sudah semakin membaik. Untuk mensyukuri kesembuhan dan kelahiran putranya, Erlangga tidak tanggung-tanggung mengadakan acara syukuran dengan mengadakan acara makan bersama dan pengajian di gedung yang sudah disewanya.
Dia mengundang seorang Ustadz dan para santri serta semua karyawan Rivers dan para petinggi Elang group untuk hadir dalam acara syukuran tersebut. Tidak ketinggalan pula yayasan yatim piatu turun diundang. Begitupun dengan saudara Rafika di kampung, mereka datang dengan menyewa bis.
"A, banyak sekali orang yang diundang," ucap Rafika saat mereka sudah tiba di gedung yang sudah disewanya.
"Iya, Aa hanya ingin bilang pada semua orang kalau Aa sangat bahagia karena memiliki kalian. Terima kasih sayang, sudah hadir dalam hidup Aa." Erlangga tersenyum dengan mengelus tangan istrinya.
"Fika yang harusnya berterima kasih sama Aa. Karena Aa sudah mengajak Fika memasuki dunia baru yang dulu hanya menjadi angan-angan Fika. Dulu Fika selalu merasa hidup ini tidak adil. Karena saat mereka bisa bermain sepuasnya, Fika membantu ibu, Fika harus berhemat tidak bisa jajan sesuka hati." Rafika menghapus cairan bening yang memaksa keluar dari pelupuk matanya.
"Apalagi, saat harus kuliah sambil bekerja. Fika benar-benar harus bisa membagi waktu antara belajar, mengerjakan tugas dan bekerja. Bahkan Fika dan Kiran kadang belajar di saat jam istirahat makan. Bersyukur Allah berbaik hati mengabulkan do'a-do'a aku dan Kiran dengan mempertemukan kembali dengan Aa. Padahal waktu itu aku sudah bertekad untuk move on tapi ternyata Allah tidak mengijinkan."
"Karena Allah sudah menjodohkan kita jauh dari sebelum kita bertemu," ucap Erlanga. "Ayo kita ketemu Pak Ustadz dulu. sepertinya sudah datang."
Mereka pun masuk ke dalam ruangan khusus. Nampak di sana seorang Ustadz yang memiliki ilmu agama tinggi serta taat beribadah. Terlihat beliau sedang berdoa untuk kebaikan anak kembar mereka dan meniupkan pada ubun-ubun kedua bayi itu secara bergantian.
"Assalamu'alaikum," ucap Erlangga dan Rafika bersamaan.
"Wa'alaikumsalam," jawab para lelaki yang ada di sana.
Erlangga langsung mencium punggung tangan Pak Ustadz sebelum dia duduk di dekat bayinya, sedangkan Rafika duduk terpisah dengan para wanita lainnya. Tidak lama kemudian, acara asrakal pun dimulai dengan membaca sholawat nabi. Pak ustadz pun berdoa sebelum beliau mencukur rambut bayi kembar itu. Satu persatu orang yang ada di ruangan itu mencukur sedikit rambut si kembar. Setelah acara asrakal selesai, barulah bayi kembar itu diberikan pada Rafika.
"Pak Ustadz dan uang lainnya, silakan menuju ke aula untuk memulai acar siraman rohaninya," ucap Calvin.
Mereka pun berpindah tempat, sementara Rafika dan Kiranti masih berada di ruangan itu. Mereka tidak mungkin membawa bayinya ke ruangan yang dipenuhi oleh orang banyak. Sehingga keduanya memilih untuk mendengarkan ceramah di sana.
"Sayang, Aa ke sana dulu ya! Kalian di sini saja, jaga Agya sama Alya," ucap Erlangga.
"Iya, A." Rafika pun tersenyum manis pada suaminya sebelum Erlangga pergi dari sana.
"Fika, tidak apa ditinggal di sini? Ibu mau menemui saudara yang dari kampung," tanya Bu Sofie.
"Tidak apa, Bu. Ada Kiran dan Mbak Perawat," ucap Rafika.
"Ya sudah Ibu ke sana dulu ya!" pamit Bu Sofie.
"Iya, Bu."
__ADS_1
Setelah kepergian Bu Sofie, tidak lama kemudian terdengar suara Pak Ustadz memberikan ceramah agama tentang cara-cara mendidik anak. Rafika dan Kiranti mendengarkan dengan seksama seraya dia memberikan ASI pada bayi kembar itu.
"Mendidik anak bukan hanya sekedar memberikan nasehat dan larangan. Tapi dengan teladan dan penuh pengertian. Adapun tata cara mendidik anak dalam agama kita yaitu dengan mengajarkan tauhid, mengajarkan ibadah, membentuk kepribadian anak, mengajarkan tanggung jawab dan mengajarkan akhlak."
"Kiran, ternyata berat juga jadi orang tua. Selain harus memberikan jaminan kehidupan untuk anaknya, dia juga harus bisa menjadi teladan yang anaknya."
"Makanya itu, kamu harus mulai merubah diri. Jangan seenaknya terus. Karena apa yang orang tuanya lakukan akan dicontoh oleh anak kamu. Oh, iya. Aku belum kasih kabar bahagia sama kamu," ucap Kiranti.
"Kabar bahagia apa? Apa kamu menang lotre?"
"Ck! Mana ada aku main yang begituan. Aku sudah hamil lagi." Kiranti tersenyum cerah dengan menampilkan gigi putihnya seperti iklan pasta gigi di televisi.
"Alhamdulillah, aku senang sekali mendengarnya." Rafika spontan memeluk sahabatnya, sampai anaknya menangis karena merasa terganggu saat menikmati sumber kehidupannya.
"Cup ... cup ... cup sayang. Maafkan Mama ya kalau kamu kalian kaget," sesal Rafika seraya menenangkan anaknya.
"Kamu sih main peluk-peluk aja. Udah tahu kalau Agya sedang fokus menyusu."
"Iya aku refleks. Kamu sih bikin aku seneng mendengar kabar itu. Semoga nanti persalinannya lancar ya!"
Selesai acara siraman rohani, semua tamu undangan pun menikmati hidangan yang ada. Begitupun dengan saudara Rafika yang dari desa. Mereka mencicipi semua hidangan yang ada. Sementara keluarga dekat Rafika datang menemuinya.
"Alhamdulillah ya, Fika. Kamu langsung anak dua. Ini kain jarik dari Uwa," ucap Wa Enok seraya menggendong salah satu anak kembar.
"Terima kasih Wa. Dari kampung jam berapa?" tanya Rafika.
"Habis subuh karena kata Bi Sofie acaranya jam sepuluh," ucap Wa Enok. "Fika, anak kamu mirip si Asep semua. Berarti benar-benar dia yang jatuh cinta duluan sama kamu."
"Masa sih, Wa?" tanya Rafika merasa tidak yakin.
"Iya, semoga saja kelakuannya juga ikut bapaknya. Alim dan baik. Jangan seperti ibunya yang grasak grusuk gak karuan," lanjutnya.
"Apaan sih, Wa? Aku kan pendiem, gak banyak omong. Baik hati dan suka menabung pula. Satu lagi, kata ibu aku gadis yang paling cantik sedunia." Rafika tersenyum bangga dengan ucapannya sendiri.
"Iya, kamu itu pendiem kalau lagi ngambek. Dek, jangan diikuti ya kejelekan dari mama kamu, bikin pusing."
"Iya, benar kata Wa Enok. Jangan ikuti kejelekan mama kamu. Ikuti saja kebaikannya yang suka menolong orang dan pemberani," timpal Kiranti.
__ADS_1
"Kiran ada yang kurang, aku kan pemberani dan tangguh seperti Marcopolo," protes Rafika.
Mereka pun hanyut dalam obrolan dengan saling bersenda gurau. Sampai saat matahari sudah berada di atas kepala, Rafika pun memilih untuk pulang ke rumah. Sementara acara makan-makannya masih berlangsung. Karena selepas dzuhur akan ada pembagian sembako untuk warga sekitar.
Saat tiba di rumah, Rafika menitipkan kedua bayinya pada perawat yang menjaga. Karena dia merasa sangat lelah sehingga dengan cepat mengarungi alam mimpi. Tidak jauh berbeda dengan Kiranti yang sama-sama memilih tidur siang untuk memulihkan staminanya. Sampai tanpa disadarinya, Calvin ikut bergabung dengan Kiranti saat acaranya sudah selesai.
"Anak Papa yang anteng ya, kalau ada rejeki kita juga membuat acara syukuran seperti acara syukuran si kembar," ucap Calvin seraya mencium perut Kiranti yang masih rata.
"A, acaranya sudah selesai?" tanya Kiranti seraya mengucek matanya.
"Sudah. Semua tamu undangan sudah pulang. Paling petugas kebersihan sedang membersihkan gedung," ucap Calvin.
"Syukurlah acaranya berjalan lancar. Kalau nanti anak kita lahir, tidak perlu semeriah itu ya, Bang. Cukup syukuran kecil-kecilan saja," ucap Kiranti.
"Kenapa? Apa takut Abang tidak bisa membiayai bikin acara seperti itu?"
"Bukan begitu, Aku kurang suka membuat acara yang meriah. Sayang saja, mending uangnya dibelikan sawah untuk bapak di kampung."
"Uang yang Elang habiskan kemarin tidak seberapa. Dia hanya menghabiskan lima milyar. Mau bikin acara setiap hari seperti itu pun tidak akan membuat uang dia habis."
"Apa Kang Asep sekaya itu?"
"Iya, dia menanam saham dimana-mana. Belum lagi keuntungan dari Elang Group dan Rivers. Sementara Elang tidak suka berfoya-foya ke klub malam ataupun bermain perempuan."
"Tapi kenapa Kang Asep tidak membuat rumah yang megah seperti yang di film-film itu?"
"Karena dia kurang suka kalau di rumahnya terlalu banyak orang seperti di rumah Tuan Ageng. Dia ingin memiliki privasi sendiri dan tinggal bersama dengan orang yang sangat dia percayai."
"Oh, begitu. Bang, ngomongin Kang Asep, perutku jadi lapar. Kita beli nasi Padang yuk! Yang di ruko itu," ajak Kiranti.
"Ya sudah sana cuci muka dulu. Masa mau keluar muka bantal begitu."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1