Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 60 Palang Merah


__ADS_3

Sayup-sayup terdengar suara adzan subuh berkumandang. Perlahan Rafika membuka matanya. Dia sangat terkejut saat melihat Erlangga masih dalam posisi yang sama seperti semalam.


Astaga! Semalaman A Elang peluk aku.


"A bangun! Sudah subuh. Aku mau mandi dulu." Rafika menggoyangkan badan Erlangga.


"Mandi bersama yuk!" ajak Erlangga dengan mengucek matanya.


Plak!


Dengan refleks, Rafika memukul tangan Erlangga. Dia merasa gemas dengan keinginan suaminya. "Sembarangan mandi bersama, mau mandi di sungai yang airnya keruh?"


"Ish! Istri Aa kenapa galak sekali?" goda Erlangga.


"Fika, kalau mau mandi air panasnya sudah ada di panci," teriak Sofie dari dalam kamarnya.


"Tuh dengar! Itu tanda ibu nyuruh aku cepat-cepat mandi."


"Apa Aa juga harus mandi sekarang?"


"Iya atuh A. Emang gak sholat subuh? Lagi halangan juga kayak aku?" tanya Rafika dengan menatap lekat Erlangga.


Erlangga hanya tersenyum menanggapi pertanyaan istrinya. Karena memang, dia bukan penganut agama yang taat. Keluarganya mendidik dia dengan keras untuk terus belajar bisnis dan ilmu militer yang diajarkan kakeknya. Tetapi mereka lalai dalam mengajarkan ilmu agama padanya.


"Iya, Aa akan sholat biar bisa jadi imam yang baik untuk kamu dan anak-anak kita."


"Gitu dong! Itu baru suami Rafika yang selalu wangi nama baik dan kelakuannya serta rapi bahasa dan tutur katanya. Akh ... Fika jadi makin sayang sama Aa." Rafika tersenyum manja dengan menggoyang-goyangkan badannya. Sampai terdengar suara ibunya kembali berteriak


"Fika, jangan lama-lama nanti airnya keburu dingin," teriak Sofie.


"Udah cepetan Aa dulu yang mandi. Biar nanti aku nyusul. Ntar keburu habis waktu sholatnya."


Mau tidak mau Erlangga mengikuti apa yang istrinya katakan. Dia pun bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Kemudian, melaksanakan kewajiban pada Sang Pencipta. Tidak berbeda dengan Rafika yang bergantian mandi dengan suaminya.

__ADS_1


Setelah semuanya berpakaian rapi, Rafika dan Erlangga pun menikmati sarapan pagi yang sudah disiapkan oleh ibunya. Tidak ada kecanggungan di antara mereka. Keduanya bersikap seperti biasa.


"Fika, kita pulang besok yuk! Biar bisa melihat rumah baru kita. Aa juga sudah terlalu lama meninggalkan perusahaan," ucap Erlangga.


"Boleh deh, A. Fika ikut Aa saja."


Tanpa disadari oleh keduanya, Sofie memperhatikan putri dan menantunya diam-diam. Dia akhirnya bernapas lega melihat Rafika bahagia bersama dengan laki-laki yang dicintainya.


...***...


Setelah pesta pernikahan itu usai. Kini Erlangga dan Rafika sudah kembali bekerja di perusahaan. Mereka berusaha bersikap formal saat sedang bekerja. Namun tidak saat mereka di apartemen karena rumah baru mereka belum bisa ditempati.


Seperti hari ini, seminggu setelah pesta pernikahannya, dua sejoli itu sedang asyik bermalas-malasan di depan televisi. Sementara Kiranti sedang pergi ke luar bersama dengan Calvin.


"Sayang, sudah selesai belum?" tanya Erlangga dengan mengelus lembut rambut Rafika.


"Udah apaan? Cuci baju? Kan udah dijemur," tanya Rafika balik.


"Bukan cuci baju, tapi itu. Bukannya udah seminggu ya?"


"Palang merah. Apa sudah selesai? Kita kan belum mencoba itu," ucap Erlangga dengan mulai mengelus bukit kembar.


"Udah sih, A. Tapi ini kan siang. Bukannya harus malam ya, A."


"Kata siapa?"


"Gak kata siapa-siapa sih. Tapi kan, kalau siang kelihatan banget, A. Fika kan malu," ucap Rafika dengan wajah sedikit bersemu.


"Untuk apa malu, kita kan sudah menikah. Kalau malu terus, nanti kapan kita punya dede bayinya."


"Emang Aa sudah ingin punya anak? Terus kapan kita pacarannya kalau habis nikah langsung punya anak? Fika gak mau akh, Fika mau pacaran dulu kayak orang-orang. Kata orang pacaran setelah menikah itu seru. Fika juga ingin mencobanya."


"Sekarang kita kan lagi pacaran. Ingin mencoba yang lebih seru lagi gak?" tanya Erlangga.

__ADS_1


"Mau mau A." Rafika langsung bersemangat menanggapi tawaran dari suaminya.


"Sekarang pejamkan matanya!" suruh Erlangga yang langsung diikuti oleh Rafika.


Perlahan Erlangga mendekatkan wajah, hingga tercium aroma napas istrinya. Dia langsung memiringkan kepalanya dan meraup candunya. Erlangga seperti tidak ada bosannya, setiap ada kesempatan pasti dia mencium istrinya.


Tangannya pun sudah bergerilya memainkan buah kesayangannya. Sepertinya Rafika sudah benar-benar terbuai dengan apa yang suaminya lakukan. Dia hanya menganggukkan kepala saat Erlangga mengajaknya untuk berpindah ke kamar.


Sementara di tempat lain, Kiranti dibuat kesal oleh Calvin yang terus saja mengikutinya. Padahal dia sudah menyuruh laki-laki itu untuk menunggu saja di mobil. Karena dia ingin membeli keperluan pribadinya di supermarket.


Ngapain sih bujang alot itu ngikuti aku terus. Gimana ini, mana aku mau beli dalam-an sama pembalut lagi. Akh ... gara-gara Rafika udah nikah nih, aku harus ke mana-mana sendiri. Giliran ditemani, sama orang nyebelin kayak gitu, ratap hati Kiranti.


Dia terus saja menatap sinis pada Calvin. Tapi sepertinya laki-laki itu tidak terganggu dengan kekesalan Kiranti karena dia sudah mendapat amanah dari Erlangga agar menjaga gadis itu. Sampai akhirnya, Kiranti tidak sengaja bertemu dengan Baim dan gadis yang baru dilihatnya.


"Eh ketemu Oon," sapa Baim dengan senyum meledek. Dia masih dendam karena waktu itu mendapatkan tamparan dari Kiranti.


"Apaan lu Oneng? Sapa-sapa gue segala." balas Kiranti sengit.


"Sekarang selera kamu sudah berubah, On? Jadi doyan Om Om modelan dia. Ternyata gak beda jauh dengan sahabat kamu."


"Biarin aja Om-om juga yang penting banyak duitnya. Daripada kamu, bisanya ngutang tapi gak mau bayar. Mau gaya kho gak modal," cibir Kiranti.


Calvin hanya melihat mereka dengan senyum yang dia tahan saat tadi Kiranti membelanya. Dia ingin tahu, apa yang akan sepasang mantan itu lakukan selanjutnya.


"Kiran-Kiran. Masih untung aku mau jadi pacar kamu. Cewek Oon seperti kamu, emang ada yang mau selain aku. Lagi pula, bukan aku yang nembak duluan tapi kamu," hina Baim.


Wajah Kiranti langsung merah padam karena merasa malu rahasianya dibongkar Baim. Karena memang benar kalau dulu dia yang mengungkapkan perasaannya lebih dulu pada Baim. Tanpa bicara lagi, Kiran langsung pergi begitu saja. Dia sangat kesal dengan apa yang dikatakan oleh Baim.


"Suatu hari nanti, kamu pasti akan menyesal telah menyia-nyiakan gadis yang tulus mencintai kamu. Meskipun memang benar, dia tidak secantik pacarmu sekarang tapi dia memiliki hati yang jauh lebih dari pacar kamu," ucap Calvin seraya menepuk pundak Baim.


Dia segera menyusul Kiranti yang langsung keluar dari supermarket. Calvin merasa tidak tega melihat gadis itu dihina oleh mantan pacarnya. Dia pun berinisiatif membeli es krim sebelum menemui gadis itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2