
Keesokan harinya, Rafika sudah siap dengan kemeja kerjanya. Tidak lupa celana bahan yang menjadi andalannya. Sementara Kiranti memakai rok span selutut. Gadis itu memang selalu terlihat feminim. Meskipun berambut pendek. Sementara Rafika yang berambut panjang terlihat lebih gagah dengan rambut yang dikuncir seperti ekor kuda.
"Pagi, Sayang!" sapa Erlangga yang sudah berada di meja makan.
"Pagi, A!" sahut Rafika. "Bang Calvin, kapan datang?"
"Belum lama. Kiran belum siap?"
"Dia masih mengeringkan rambut. Tadi terkena kecap saat memasak," jelas Rafika. "Oh, iya A. Aku masih di marketing, kan?"
"Memang kamu gak mau jadi assisten Aa?" Bukannya menjawab, Erlangga malah balik bertanya.
"Bukannya gak mau, A. Tapi aku kasihan sama mereka yang iri sama aku. Pasti kepanasan aku jadi assinten CEO. Dapat bonus penjualan saja, mereka suka nyindir. Apalagi nanti kalau tahu aku akan menikah sama Aa. Aku gak bisa bayangin bagaimana reaksi mereka?" Rafika menempelkan telunjuknya di dagu sperti orang yang sedang berpikir keras.
"Biarkan saja. Kamu tidak akan bisa maju jika terus menghiraukan segala rongrongan. Kunci sukses itu kita harus fokus dengan tujuan awal kita," ucap Erlangga.
"Tujuan awal aku cari Kang Asep. Sambil cari uang yang banyak agar ibu tidak usah jualan keliling lagi."
"Bilang saja sama ibu, setelah sembuh nanti jangan jualan keliling. Kalaupun masih mau jualan, buka toko saja. Lebih baik sih, tinggal bersama dengan kita."
"Elang, jadi mau cari rumah di sekitar sini?" sela Calvin.
"Jadi. Tidak mungkin aku tinggal di sini. Kamar saja hanya ada dua. Aku ingin cari rumah yang sedikitnya memiliki lima kamar. Kita tinggal bersama saja, biar bisa saling menjaga satu sama lain," jawab Erlangga.
"Baiklah!"
Tidak lama kemudian, Kiranti datang dengan penampilan yang terlihat fresh. Calvin sempat terpukau, saat tanpa sengaja melihat gadis itu keluar dari kamar dengan mengibaskan rambutnya.
"Cantik," lirih Calvin.
Erlangga hanya tersenyum saat mendengar ucapan Calvin. Dia senang jika nanti sahabatnya itu bisa bersatu dengan sahabat calon istrinya. Mungkin hubungan persahabatan mereka akan semakin erat.
__ADS_1
Setelah mereka menghabiskan makan malamnya, Rafika dan yang lainnya langsung berangkat ke kantor. Namun Rafika menolak saat Erlangga mengajaknya untuk berangkat bareng. Dia memilih untuk naik ojek agar tidak jadi bahan pembicaraan teman kantornya.
"Fika, bantu aku bawa semangka ke atas yuk!" ajak Kiranti saat mereka baru sampai di depan gerbang.
"Kenapa gak dibagi di pos satpam saja. Kita tunggu anak-anak marketing di pos. Biar tidak usah berat-berat bawa ke atas," saran Rafika.
"Benar juga ya, sekalian kita ngobrol sama Edo. Setelah besar, dia jadi baik, gak nyebelin kayak waktu kita masih sekolah," ucap Kiranti.
"Namanya juga manusia yang tumbuh dan berkembang biak," ceplos Rafika.
"Dasar dodol!" Kiranti langsung menarik tangan Rafika agar masuk ke dalam pos satpam. Bersamaan dengan mobil Erlangga yang baru tiba. Laki-laki itu sempat mengerutkan keningnya, waktu melihat kedua gadis itu masuk ke dalam pos.
"Pak Bos, mau semangka tidak. Gratis loh!" goda Rafika dengan menunjukkan semangka inul yang lumayan besar.
"Boleh. Tolong kamu bawa ke ruangan saya!" pinta Erlangga langsung menanggapi candaan kekasih hatinya.
"Nah loh, Fika. Sudah sana bawa ke ruangan Pak Bos. Biar ini aku bagikan sendiri," suruh Kiranti dengan menyenggol tangan sahabatnya.
"Kenapa? Cape?" tanya Erlangga seraya mendudukkan bokongnya di sofa.
"Tahu akh, kirain mau nolak, ternyata malah minta bawa ke sini." Rafika mengerucutkan bibirnya sebal.
"Fika, jangan menggoda Aa. Mau Aa kelepasan lagi?"
"Gak mau!" Rafika langsung menyilangkan kedua tangannya di depan dada.
"Tenang saja, Aa bisa tahan kho. Tapi nanti kalau kita udah nikah, mungkin Aa khilaf terus." Erlangga tersenyum geli membayangkan malam indah mereka.
"Apaan sih, A? Khilaf kho direncanakan." Cebik Rafika.
"Bos, disuruh ke pusat. Ada rapat darurat. Sepertinya Tuan Ageng tidak main-main dengan ancamannya. Dia akan mengambil alih perusahaan dan menunjuk Leon sebagai pengganti Bos."
__ADS_1
"Biarkan saja, aku ingin lihat Elang Group dibawah kendali Leon. Bukankah itu yang diinginkan oleh ibunya? Menguasai Elang Group dan menjadikan putranya sebagai pemilik perusahaan. Makanya aku mendirikan perusahaan sendiri dengan manajemen yang terpisah dari Elang Group."
"Aku mengerti sekarang. Pantas saja kamu menarik semua orang-orang kepercayaan kamu agar bekerja di sini. Ternyata semuanya sudah kamu rencanakan," ucap Calvin
"Aku hanya waspada. Karena aku tahu Ibu Merlina tidak pernah menyukai aku. Dia hanya berpura-pura baik di depan kakek, tapi saat dibelakangnya, dia sering mengancam aku," ungkap Erlangga.
"Keputusan kamu tidak salah. Aku akan terus bersama kamu, Elang."
"A, aku ke ruangan aku dulu ya! Sebentar lagi jam masuk kerja," sela Rafika yang sedari tadi diam mendengarkan pembicaraan kedua sahabat itu.
"Iya. Fika, mungkin nanti malam Aa tidak pulang. Baik-baik ya di rumah," pesan Erlangga dengan mengulurkan tangannya.
Meskipun awalnya ragu, akhirnya Rafika mencium punggung tangan Erlangga. Calvin hanya tersenyum kecut melihat keromantisan pasangan itu. Saat Rafika sudah keluar dari ruangan Erlangga, barulah pemuda itu berbicara.
"Ayo kita pergi! Sekalian kita membereskan barang-barang kita dulu yang ada di sana," ajak Calvin.
"Ayo ...." Erlangga tidak melanjutkan ucapannya saat pintu ruangannya ada yang membuka dengan kasar. Terlihat Leon datang dengan tergesa dan napas yang masih memburu.
"Kak Elang apa-apaan? Kenapa harus mundur jadi jabatan CEO. Apa Kakak tahu, kalau Kakek menyuruh aku untuk menggantikan posisi Kakak. Bukankah dari awal Kakak sudah tahu, kalau aku tidak suka memegang banyak perusahaan. Bikin kepalaku pusing," cerocos Leon.
"Bukan aku yang mundur. Tapi itu sudah keputusan Kakek," jawab Erlangga datar. "Saat menghamburkan uang, kamu tidak pusing. Kenapa saat disuruh mengurus perusahaan, kamu pusing? Lagipula, sudah seharusnya kamu merasakan bagaimana rasanyaa mengurus perusahaan besar. Bukan hanya tahu menghabiskan uang."
"Pokoknya aku tidak mau tahu, Kakak harus tetap jadi CEO. Aku sudah menolak permintaan Kakek, tapi diancam akan dicoret dari ahli waris. Ayolah, Kak! Menurut saja pada Kakek. Jangan berdebat gara-gara cewek yang gak penting," rayu Leon.
Bukannya ingin mengikuti keinginan adik tirinya, Erlangga langsung mencengkeram kerah Leon. Dia tidak terima dengan apa yang Leon katakan tentang Rafika.
"Bukan gadis itu yang tidak penting, tapi seorang pengkhianatan yang bisanya menghamburkan uang," geram Erlangga.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih ...