
Selama meeting berlangsung, kedua sudut bibir Erlangga terus saja membentuk bulan sabit. Hatinya sangat senang karena ada seorang wanita yang terus saja mengikutinya. Dia merasa menjadi suami yang paling beruntung di dunia.
Fika, kamu benar-benar membuat Aa jatuh cinta sejatuh-jatuhnya, batin Erlangga.
Meskipun dia terus saja teringat dengan Rafika yang menjadi padanya. Tetapi Erlangga tetap fokus dengan meeting yang dipimpinnya. Dia pun memberikan terobos baru dalam mengembangkan pruduk baru perusahannya.
Setelah meeting selesai, Erlangga pun bergegas untuk menemui Rafika. Dilihatnya, Rafika sedang tertidur di depan televisi. Dengan bungkus makanan yan berserakan di meja.
"Calvin, panggilkan cleaning service ke mari. Semua berkas yang haru aku tanda tangani juga bawa saja ke mari. Aku akan bekerja dari sini," suruh Erlangga.
"Siap, Bos!" sahut Calvin.
Calvin segera menghubungi bagian cleaning service dan menyuruhnya ke penthouse. Sementara Erlangga memindahkan Rafika ke kamar. Dia ikut membaringkan badannya di samping Rafika.
Saat Erlangga akan ikut terlelap bersama dengan istrinya, terdengar suara Calvin memanggilnya. Terpaksa Erlangga pun kembali bangun dan keluar dari kamar itu. Dia langsung menghampiri Calvin yang tersenyum cengengesan.
"Kamu, kenapa?" tanya Erlangga.
"Tidak apa. Aku pikir kamu seperti tadi pagi," ucap Calvin.
"Dasar kamu, masih saja ingat." Erlangga hanya menggelengkan kepalanya menanggapi ucapan Calvin.
Kedua sahabat itu akhirnya larut dalam pekerjaan. Sampai hari menjelang sore, barulah mereka menyelesaikan pekerjaannya. Calvin kembali turun ke ruangan, meninggalkan Erlangga bersama dengan Rafika di penthouse.
"Sayang, lelap sekali tidurnya." Erlangga mengecup bibir Rafika. Membuat istri mudanya itu membuka matanya karena kaget.
"A Elang, sudah selesai meeting-nya?" tanya Rafika dengan suara serak khas bangun tidur.
"Sudah dari tadi. Apa perutnya kekenyangan sampai ketiduran di sofa?"
"Hehehe ... A Elang tahu aja." Rafika cengengesan karena merasa malu ketahuan banyak makan.
"Renang yuk, mumpung cuaca sore harinya bagus. Malam ini, kita nginap di sini saja ya! Biar bisa menikmati langit malam yang indah," ajak Erlangga.
"Asyik renang, tapi aku gak bawa baju A," keluh Rafika dengan mengerucutkan bibirnya.
"Nanti Aa suruh sekretaris Aa agar menyiapkan semua keperluan kamu. Sekalian kita minta pesankan makanan juga," ucap Erlangga dengan mengutak-atik ponselnya.
"Boleh deh A. Nanti tambahin asinan Bogor ya A sama kerak telor."
__ADS_1
Erlangga mengirimkan pesan pada Calvin agar disiapkan semua keperluan Rafika dan makanan untuk makan malamnya. Selesai mengirimkan pesan, dia pun kembali melihat ke arah istrinya yang sedang melihatnya.
"Apa Aa tampan? Sampai tidak berkedip melihat Aa," tanya Erlangga dengan menangkup kedua pipi Rafika.
Cup
Erlangga pun mengecup bibir Rafika sekilas sebelum dia berbicara. "Aa mau renang dulu, apa mau ikut bergabung? Kalau mau ikut bergabung, sepertinya ada short pant yang baru di lemari. Kamu bisa memakainya."
"Oke deh, let's go A kita renang!" Rafika menjadi bersemangat.
Mereka pun bergegas berganti pakaian. Keduanya terlihat begitu bersemangat. Mereka sepakat untuk lomba renang.
"Ayo Fika, kita lomba! Yang kalah harus cium yang menang," ajak Erlangga saat keduanya sudah masuk ke dalam kolam renang.
"Sama saja, ujungnya ciuman. Pengennya Aa kayak gitu," cebik Rafika.
"Hahaha ... Ketahuan banget ya kalau Aa modus," Erlangga tertawa sendiri. Menertawakan kekonyolannya.
"Banget, A."
"Ya sudah ganti. Bagaimana kalau yang kalah harus pegang kendali?"
"Yang kalah mainnya di atas," bisik Erlangga.
"Apaan sih, A?"
Keduanya terhanyut dalam candaan mereka. Sampai saat Rafika yang kalah, mau tidak mau, dia harus mencium suaminya. Jangan panggil Elang kalau tidak bisa memanfaatkan keadaan. Dia langsung menahan tengkuk Rafika dan memperdalam ciuman Rafika yang seperti slow motion.
Lagi-lagi Calvin harus melihat pemandangan yang membuatnya panas dingin. Seandainya saja, di sana ada Kiranti, sudah pasti dia pun ikut mempraktekannya. Mungkin juga, mereka berlomba ciuman paling lama dan panjang. Tapi sayang, dia ke sana bersama dengan Felisha yang membawa barang pesanan Erlangga.
Janda muda itu hanya mematung di tempatnya melihat mantan kekasihnya begitu menikmati kebersamaannya dengan sang istri. Dia tersenyum getir, sampai akhirnya berbalik kembali ke ruangannya.
Dia sengaja memanasi aku dengan melakukan semua itu di tempat terbuka. Kenapa tidak di kamar saja kalau memang ingin berciuman, batin Felisha.
"Calvin, aku turun. Kamu saja yang memberikan pesanan Elang," ucap Felisha.
"Kenapa? Apa kamu cemburu melihat Elang seperti itu dengan istrinya? Terlambat kalau kamu cemburu karena sekarang kalian sudah tidak ada apa-apanya lagi," ucap Calvin sinis.
"Aku hanya tidak ingin mengganggu mereka," elak Felisha.
__ADS_1
"Syukurlah kalau seperti itu. Turunlah kalau tidak kuat melihat kemesraan mereka! Biar pesanan dia, aku yang berikan." Calvin langsung mengambil alih barang-barang yang ada di tangan Felisha.
Tanpa bicara lagi, Calvin langsung masuk ke dalam penthouse. Dia berpura-pura tidak melihat dengan apa yang terjadi dikolam renang. Matanya dia fokuskan untuk melihat lurus ke depan.
Setelah Calvin menyimpan semua pesanan Erlangga, barulah dia berteriak kepada sahabatnya. "ELANG, PESANAN KAMU AKU SIMPAN DI DALAM PENTHOUSE. AKU PULANG KE CIKARANG DULU. KASIAN ISTRIKU SENDIRI."
Bibir yang saling bertautan itu langsung terlepas seketika saat mendengar teriakan dari Calvin. Mereka kaget, karena ternyata ada orang lain di sana. Namun, Erlangga hanya tersenyum tipis melihat punggung Calvin yang menghilang di balik pintu tangga.
"A Elang, apa Bang Calvin melihat kalau kita ...."
"Dia sudah melihatnya. Makanya tidak berani menghampiri ke sini. Dia malah berteriak memberitahu tentang kedatangannya," potong Erlangga.
"Aa sih main serobot aja. Harusnya kan hanya mengecup," gerutu Rafika.
"Hahaha, kalau gak gitu, pasti kamu jual mahal. Padahal sama-sama suka juga." Erlangga malah tergelak merasa lucu dengan apa yang mereka lakukan.
Saat langit sudah mulai gelap, keduanya pun beranjak dari kolam renang. Mereka langsung membersihkan diri dan berpakaian rapi karena udara sudah mulai dingin.
"A, apa A Elang sering menginap di sini?" tanya Rafika saat keduanya sedang menikmati makan malamnya.
"Tidak sering. Hanya saat sedang banyak pekerjaan, Aa pasti menginap di sini untuk menghemat waktu. Rasanya lelah jika harus pulang ke rumah," jawab Erlangga.
"Bareng Bang Calvin apa sendiri?"
"Bareng Calvin."
"Apa pernah dengan pacar Aa atau karyawan perempuan menemani di sini?"
"Tidak pernah, Sayang."
"Kalau dengan Felisha."
"Tidak pernah juga. Kamu wanita pertama yang Aa ajak ke sini. Kenapa, hm? Apa curiga sama Felisha?"
"Bukan curiga A. Aku gak suka kalau A Elang terlalu dekat dengan Felisha karena sekarang, kisah kalian telah usai."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya! Klik like, comment, gift, rate, dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....