
Erlangga hanya tersenyum miring melihat Rafika duduk di sofa dengan bibir yang mengerucut. Dia terus saja memperhatikan gadis itu dengan sudut matanya. Erlangga merasa senang, akhirnya dia bisa menahan gadis yang suka membantahnya.
"Pak Bos, masih lama tidak? Hari ini aku gajian, aku mau pergi karaoke dengan sahabatku. Bisakah aku pulang sekarang?" tanya Rafika dengan memasang wajah melas. Bagaimana tidak, dia disuruh duduk menunggu bos galaknya menyelesaikan pekerjaan, sebelum bosnya itu memberi tahu maksud dan tujuannya menahan Rafika pulang.
"Kamu hari ini gajian? Apa kamu ingin bonus tambahan? Tapi dengan syarat harus mengajak aku karaoke." Erlangga tersenyum tipis merasa lucu dengan permintaannya.
"Bos menahan aku buat kasih bonus? Boleh banget Bos, ayo kita berangkat! Aku tidak keberatan ngajak Bos, tapi nanti Bos yang bayarin ya! Aku mau kirim uang buat ibu di kampung, jadi aku gak bisa traktir Bos."
"Uangku lebih banyak dari kamu, untuk apa aku minta bayaran dari kamu."
Lihat saja nanti, kamu pasti kelabakan karena harus membayar semuanya, batin Erlangga.
"Hehehe ... Lupa kalau Bos banyak duit," ucap Rafika cengengesan. "Ayo Bos kita berangkat! Tapi mana bonusnya?"
Melihat Rafika menengadahkan tangannya, Erlangga hanya tersenyum miring. Dia mengambil sebuah amplop coklat yang ada di laci mejanya dan langsung memberikan uang itu pada Rafika.
"Perusahaan menghargai hasil kerja kerasmu. Meskipun kamu terbilang masih baru, tapi kamu cukup mumpuni. Semangat terus dalam berkarir," ucap Erlangga.
"Makasih, Pak Bos." Rafika mengambil amplop coklat itu dengan mata yang berbinar. Dia sangat senang karena akan memberikan uang gajian pertamanya pada Sang Ibu. Apalagi, dia tahu kalau uwanya menggugat rumah yang mereka tempati. Mungkin dengan memberikan sejumlah uang pada kakak ayahnya itu, rumah itu bisa mereka tempati selamanya.
"Kamu senang?" tanya Erlangga dengan mengangkat kedua sudut bibirnya. Entah kenapa, hatinya merasa sangat bahagia melihat binar kebahagiaan dari wajah gadis yang ada di depannya.
"Tentu saja, Pak Bos! Bisa kita berangkat sekarang? Pasti Kiran sedang menunggu aku."
"Ayo!" Erlangga langsung berlalu pergi begitu saja. Dia langsung menghubungi Calvin agar menunggunya di parkiran.
Sementara Rafika terus saja berlari kecil mengejar langkah kaki Erlangga yang panjang. Meskipun dia termasuk perempuan yang memiliki tinggi badan ideal, tetapi bosnya itu jauh lebih tinggi darinya.
__ADS_1
Setibanya di parkiran, ternyata Calvin sudah menunggu di sana. Assisten-nya itu sudah siap di dekat pintu supir. Karena tadi Erlangga meminta dia yang membawa mobilnya.
"Bos, dia juga ikut?" tanya Calvin dengan menunjuk Rafika.
"Hm ...." Erlangga hanya berdehem untuk mengiyakan pertanyaan Calvin. Laki-laki itu langsung membuka pintu belakang dan masuk ke dalam mobil. "Fika, cepatlah masuk!"
"Pak Bos, aku ke pos satpam dulu ya, pasti Kiranti masih menunggu di sana." Bukannya masuk ke dalam mobil, gadis itu justru berlari menuju ke pos satpam.
"Elang, kamu jangan bermain-main dengan karyawan. Ingat! Sebentar lagi kamu akan menikah," ucap Calvin saat sudah duduk di kursi pengemudi.
"Bukan aku yang menginginkan pernikahan itu, tapi mereka. Apa aku harus mengorbankan hidupku dan kebahagiaanku hanya untuk memenuhi keinginan dan ambisi mereka?"
"Maksud kamu? Apa kamu akan membatalkan pernikahan itu?"
"Entahlah, mungkin nanti saat aku sudah memiliki alasan yang kuat."
Calvin membawa mobil dengan pikiran yang berkecamuk. Dia khawatir Erlangga akan bertentangan dengan keluarganya, terutama dengan Tuan Ageng yang memiliki watak keras dan tegas. Bisa bahaya jika dua orang yang memiliki watak keras itu saling bertentangan.
"Rafika, cepatlah naik!" suruh Erlangga setelah membukakan pintu kaca mobil. "Kamu di belakang dan temanmu di depan."
"Iya Pak Bos sebentar!" seru Rafika karena dia masih bicara dengan satpam yang terlihat seumuran dengannya. "Bro, kita pergi dulu ya! Jangan lupa nanti main ke kontrakan."
"Siplah, minggu aku main ke sana," ucap Edo, satpam baru di sana.
Rafika dan Kiranti pun langsung naik ke mobil seperti permintaan bosnya. Tidak ada yang memulai pembicaraan selama berada di mobil. Mereka terdiam saat melihat wajah suram Erlangga. Sampai akhirnya Rafika membuka suaranya.
"Pak Bos, aku dan Kiran mau ke ATM dulu. Kita mau transfer buat ibu dulu. Pak Bos duluan aja ke karaoke, nanti aku nyusul."
__ADS_1
"Aku tidak percaya sama kamu. Bisa saja kamu kabur," ucap Erlangga datar.
"Ya elah Pak Bos, takut banget aku tinggalkan. Jangan bilang ya, kalau Pak Bos mulai jatuh cinta sama aku. Karena aku sudah mencintai seorang laki-laki yang selalu baik sama aku. Selalu bicara lembut sama aku dan dia tidak pernah galak sama aku. Pokoknya, Pak Bos beda banget sama pacar aku."
Mendengar ocehan Rafika, Erlangga langsung mengeraskan rahangnya. Entah kenapa, dia sangat tidak suka mendengar gadis itu menyanjung laki-laki lain di depannya.
"Aku yakin, laki-laki itu pasti tidak bisa melihat. Hingga bisa mencintai gadis jorok seperti kamu," tukas Erlangga.
Memang benar, Kang Asep tidak bisa melihat saat bilang cinta sama aku. Sepertinya, ekspektasi aku terlalu tinggi. Berharap mendapatkan cinta yang tulus dari Kang Asep, dari kamu Pak Bos. Tapi kenapa aku tidak bisa menghilangkan perasaan aku. Meskipun aku terus mencoba melupakan cinta pertamaku, tetap saja aku masih mengharapkan dia, jerit hati Rafika.
Kasian Fika, pasti dia sedih laki-laki yang dicintainya berbicara seperti itu, batin Kiranti.
Tidak ada lagi percakapan selama perjalanan menuju ke sebuah mall di kawasan Lippo Cikarang. Semuanya terdiam dengan pikirannya masing-masing. Sampai akhirnya, mobil sudah sampai di parkiran belakang mall, barulah Calvin memecahkan kesunyian.
"Bos, aku booking tempat saja dulu. Bos mau ikut dengan gadis-gadis itu atau menunggu di mobil?" tanya Calvin.
"Aku ikut dengan mereka," jawab Erlangga singkat. Dia pun langsung turun dari mobilnya begitupun dengan yang lain. Hanya tertinggal Rafika yang masih asyik dengan lamunannya.
Jangan gila dong! Ngapain ikut ke ATM segala? Tapi baguslah, sekalian aku kerjain aja Bos Sombong itu. Aku penasaran, apa benar karena Kang Asep tidak bisa melihat jadi dia menyatakan cinta sama aku?
"Fika, ayo turun! Jangan melamun terus! Kamu jangan dengarkan omongan Bos! Aku yakin, kalau Kang Asep tulus mencintai kamu," ucap Kiranti mengagetkan Rafika.
"Makasih ya Kiran, kamu sudah membesarkan hati aku. Tapi aku memang harus menerima kenyataan kalau cinta pertamaku tak tergapai."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Jangan lupa klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....