Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 76 Periksa Kandungan


__ADS_3

Erlangga pergi dari penthouse-nya melakukan seperti yang Rafika minta. Akan tetapi, dia tidak mencari semua makanan pesanan istrinya. Erlangga menyuruh anak buahnya agar mencari makanan itu, sementara dia pergi ke ruangannya untuk bekerja. Setelah orang suruhannya mendapatkan makanan seperti yang diminta oleh Rafika, barulah dia kembali menemui istrinya.


"Elang, kamu bawa apa?" tanya Calvin saat berpapasan di dekat tangga.


"Sarapan buat Fika. Kamu kenapa datang telat?" tanya Erlangga dengan menyelidik penampilan Calvin yang terlihat lebih fresh dari biasanya.


"Biasalah, Bos. Kesiangan habis ronda, hehehe ...." Calvin cengengesan seraya menyugar rambutnya.


"Ck! Ronda asyik kamu tuh. Sudahlah! Aku ke atas dulu. Kasian Fika nungguin sendiri." Erlangga langsung berlalu pergi begitu saja. Dia meninggalkan Calvin yang tersenyum sendiri.


"Eh, tunggu sebentar! Hari ini, Kiran ikut ke sini. Soalnya, sepulang kerja aku mau pulang ke rumah dulu. Boleh aku titip di penthouse?" tanya Calvin.


"Boleh saja, tapi hari ini aku mau pergi ke dokter. Mau cek kandungan Fika," jawab Erlangga.


"Cek kandungan? Maksud kamu, Fika hamil?"


"Iya, Tadi pagi habis diperiksa oleh Aileen karena dia muntah terus. Ternyata sedang hamil. Pantas saja, beberapa hari ini manja sekali. Ternyata anakku ingin sekali disayang oleh papinya," ucap Erlangga dengan senyum yang merekah seperti bunga-bunga yang sedang mekar.


"Wah, selamat Bos! Nanti aku juga nyusul," ucap Calvin terlihat ikut senang dengan kabar yang diberitahu oleh sahabatnya.


"Semoga secepatnya, biar nanti nanti kita jodohkan anak-anak kita kalau mereka berlawanan jenis. Ya sudah aku ke atas dulu. Kamu nyusul saja dengan Kiran.


"Siap, Bos!"


Elang sudah mau punya anak, aku pun akan akan terus berusaha agar Kiran secepatnya hamil. Ternyata punya istri itu menyenangkan. Apalagi punya istri yang tidak banyak maunya. Tapi banyak memberi kehangatan, membuat aku jadi tidak bisa jauh dari Kiran, batin Calvin.


Erlangga langsung pergi menuju ke penthouse, sedangkan Calvin kembali ke ruangannya. Tadi dia sengaja mau meminta ijin dulu pada Erlangga. Khawatir sahabatnya itu keberatan jika diganggu oleh istrinya. Meskipun mereka bersahabat dekat tapi Calvin tidak pernah lupa soal ijin perijinan.


"Kho sudah balik, Bang. Apa Pak Bos dan Fika masih pada belum bangun?" tanya Kiranti heran saat melihat suaminya tidak lama keluar dari ruangannya.


"Tadi ketemu di jalan. Katanya mereka mau ke dokter hari ini, mau periksa kandungan."


"Apa? Periksa kandungan? Apa dia hamil?"


"Iya, kata Elang tadi pagi Fika muntah terus."


"Wah senangnya akan punya ponakan! Aku akan menjaga bayi Fika seperti anak aku sendiri," seru Kiranti heboh.


Grep!


Calvin langsung menarik Kiranti hingga wanita cantik itu terjerembab ke pelukannya. Dia menatap dalam istrinya dengan tangan kanannya menyelipkan anak rambut Kiranti ke belakang telinga. Membuat jantung Kiranti mendadak bertalu-talu seperti suara bedug saat lebaran.

__ADS_1


"Jangan heboh! Nanti karyawan lain terganggu. Kiran, bagaimana kalau kita juga program kehamilan?"


"Memangnya Abang tidak keberatan punya anak dari aku?


"Kenapa harus keberatan? Kamu sekarang istrinya, jadi kamu yanga harus mengandung benihku."


"Abang, ikh ... Aku kan jadi malu," ucap Kiranti dengan pipi yang bersemu merah.


"Kho malu?" tanya Calvin heran.


"Ya malu, Bang. Bahasannya terlalu sensitif."


"Oh, ya. Tumben nih punya malu. Kalau begini, kira-kira malu gak?" Calvin memajukan wajahnya dan langskahnya meraup candunya. Keduanya jadi asyik bertukar saliva dengan suara decapan yang memenuhi ruangan. Sampai terdengar suara interkom membuat keduanya saling melepaskan diri.


"Calvin, kondisikan! Cepat naik! Fika sudah menunggu Kiran."


"Iya, bos. Kita segera ke sana," ucap Calvin.


Sialan banget, Elang. Ganggu aja! Kenapa aku lupa kalau rekaman CCTV ruangan ini bisa dilihat dari ponselnya, batin Calvin.


"Ayo, Bang kita ke atas!" ajak Kiranti setelah dia berhasil menetralkan kekagetannya.


"Ayo!" Calvin langsung menggenggam tangan Kiranti. Membuat para karyawan merasa heran dengan apa yang dilihatnya. Kemarin bos mereka sekarang asistennya juga membawa seorang wanita muda bersamanya. Membuat sebagian dari mereka bergosip ria di belakang.


"Fika!" panggil Kiranti saat mereka sudah diijinkan masuk ke dalam penthouse.


"Kiran, aku hamil." Rafika langsung memberitahu sahabatnya dengan ekspresi yang tidak bisa ditebak.


"Syukurlah, nanti aku bantu jagain anak kamu. Aku senang karena nanti akan ada anak kecil di rumah," ucap Kiranti dengan wajah berseri.


"Kamu harus secepatnya nyusul, biar kita sama-sama punya bayi," ucap Rafika.


"Do'akan saja, Fika. Abang dan Kiran juga mau program kehamilan," serobot Calvin.


"Asyik, Bang! Biar nanti kita bareng-bareng terus," seru Rafika senang.


"Kiran, mau nunggu di sini apa ikut dengan kita kontrol?" tanya Erlangga yang sedari tadi diam.


"Ikut aja Elang. Sekalian aku konsultasi program kehamilan Kiran." Lagi-lagi Calvin yang menjawab pertanyaan buat Kiran.


"Meeting bagaimana?" tanya Erlangga dengan menatap tajam sahabatnya.

__ADS_1


"Kita undur saja setelah jam makan siang. Lagipula, meeting dengan karyawan. Biar mereka kerja dulu yang giat sebelum mendapatkan teguran dari kamu." Dengan wajah tanpa dosa, Calvin tersenyum pada sahabatnya.


"Ya sudah kalau begitu, ayo kita berangkat!" ajak Erlangga dengan berdiri dari duduknya.


Mereka pun akhirnya berangkat bersama ke rumah sakit. Namun Calvin ke meja Felisha sebentar untuk memberi tahu kalau meeting dengan karyawan diundur dan menyuruh dia untuk memberi pengumuman pada karyawan.


Padahal semuanya sudah disiapkan, kenapa mendadak diundur? Bikin aku pusing saja harus mengatur ulang jadwal Elang. Padahal sehabis dzuhur, akan pergi ke kantor cabang Depok. Sepertinya gagal lagi bisa pergi bersama dengan Elang, batin Felisha.


Sementara laki-laki yang sedang Felisha pikirkan, kini sedang menikmati kebersamaannya bersama dengan istri tercinta. Erlangga terus saja mengelus rambut panjang Rafika, membuat ibu hamil itu perlahan menutup matanya karena mengantuk. Saat tiba di parkiran rumah sakit, barulah Rafika kembali terbangun dari tidur singkatnya.


Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menemukan ruangan dokter kandungan yang sudah dibuatkan janji oleh Aileen. Kini kedua pasangan suami istri itu sudah berada di ruangan Dokter Lousiana, dokter kandungan rekomendasi dari Dokter Aileen.


"Silakan duduk, Tuan, Nyonya!" suruh Dokter Lousiana.


"Terima kasih, Dok!" sahut Rafika seraya mendudukkan bokongnya yang langsung diikuti oleh Erlangga.


"Menurut Dokter Aileen, Nyonya Rafika sedang hamil muda. Apa benar begitu?"


"Iya, Dok. Tadi pagi Dokter Aileen bilang seperti itu," jawab Rafika.


"Apa ada keluhan, seperti pusing, mual, lemas, moody?"


"Mual dan lemas, Dok. Kalau pusing kadang-kadang."


"Baiklah! Mari kita USG dulu agar terlihat jelas perkembangan bayinya," ajak Dokter Lousiana.


Dia pun langsung berdiri dari duduknya menuju ke sebuah ranjang yang terdapat banyak peralatan medis di sana. Rafika hanya mengikuti ke mana dokter itu pergi dengan Erlangga mengekor dari belakang. Saat sudah sampai di sana, Rafika pun disuruh berbaring. Sementara dokter menyiapkan alat yang diperlukan untuk melakukan USG.


Setelah perawat menempelkan gel ke perut Rafika, Dokter Lousiana pun menempelkan alat USG ke perut dan memutar-mutar alat itu untuk melihat letak kantung janin. Saat sudah menemukannya, dokter itu pun langsung tersenyum cerah.


"Selamat Tuan, Nyonya. Sepertinya Nyonya Rafika mengandung bayi kembar. Di sini terlihat ada dua kantung janin," ucap Dokter Lousiana.


"Apa Dok, kembar? Alhamdulillah, sekali bikin langsung jadi dua." Rafika tersenyum bahagia mendengar apa yang dokter itu katakan.


"Terima kasih, Sayang. Sudah mengandung anak Aa," ucap Erlangga dengan mencium kening Rafika.


"Iya, A. Terima kasih sudah jadi suami yang baik dan calon papi yang siaga," ucap Rafika dengan tersenyum manis.


"Ekhm ... Untuk usia kandungannya, sudah memasuki usia minggu ke lima. Keadaan kantung janin juga baik. Nyonya hanya perlu menjaganya. Tidak boleh stres, tidak boleh mengangkat yang berat-berat dan tidak boleh terlalu lelah. Pastikan asupan makanannya juga dijaga," cerocos Dokter Lousiana seraya membereskan alat-alat yang tadi bekas dipakai. Sementara perawat membersihkan sisa gel di perut Rafika.


Keduanya merasa malu melihat kemesraan pasiennya. Ingin menegur pun rasanya segan. Akhirnya mereka hanya berpura-pura tidak melihat dan fokus pada pekerjaannya.

__ADS_1


...~Bersambung~...


...Jangan lupa sawerannya ya kawan! Ayo dong kakak sumbangkan vote-nya buat ibu hamil Rafika 🤭...


__ADS_2