Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 25 Tertidur Di Bahu


__ADS_3

Terlihat semua staff marketing sedang briefing pagi, Rafika dan yang lainnya pun dikenalkan oleh Restu, managernya. Setelah saling memperkenalkan diri, Rafika dan yang lainnya masuk ke ruang training sekaligus ruangan yang dipakai untuk meeting anak-anak marketing.


"Sambil menunggu meja kalian siap, kita training dulu. Kenapa harus training? Karena training dibutuhkan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang memiliki kapabilitas tinggi," ucap Restu dengan menatap satu persatu calon bawahnya.


"Sebagai mana kita tahu, staff marketing dan sales merupakan ujung tombak dari sebuah perusahaan karena mengemban tugas untuk memasarkan produk perusahaan kepada publik. Oleh karena itu dibutuhkan sumber daya manusia yang mumpuni dan mampu bekerja keras untuk bisa meningkatkan nilai penjualan perusahaan dengan strategi-strategi yang kreatif dan mampu melihat peluang." Restu menjeda ucapannya sesaat sebelum dia melanjutkan kembali pengarahan pada anak buahnya.


"Meski pengalaman adalah pelajaran yang paling berharga, staff bagian marketing dan sales juga harus dibekali dengan soft skill di bidang terkait sebagai pondasi yang kuat."


Restu terus saja memberi pengarahan pada karyawan barunya dengan sesekali memperlihatkan sebuah slide di layar. Rafika dan yang lainnya dengan serius mencermati setiap ucapan yang Restu katakan. Meskipun benar di kampus sudah banyak mempelajari tentang ilmu marketing, tetapi di setiap perusahaan pasti memiliki strategi yang berbeda.


Sampai akhirnya, Erlangga dan Calvin datang untuk melihat bagaimana seriusnya karyawan baru itu mempelajari strategi marketing di perusahaannya. Mereka hanya berdiri di ambang pintu tanpa berniat untuk masuk ke dalam.


"Calvin, suruh gadis jorok itu agar ikut dengan kita ke lapangan! Biarkan dia yang membawa berkas-berkas yang kita butuhkan," suruh Erlangga dengan sedikit berbisik pada Calvin.


"Baik, Bos!" sahut Calvin. Dia pun langsung berbicara dengan Restu dan meminta Rafika untuk ikut bersama mereka ke Pabrik Majalengka yang baru dua tahun beroperasi.


Mendapatkan bisikan dari atasannya, Restu pun langsung mengangguk mengiyakan. "Rafika Qatrunada, silakan ikut dengan Pak Calvin. Hari ini, kerja membantu Pak Calvin dulu," ucapnya.


"Baik, Pak!" sahut Rafika langsung bangun dari duduknya.


Namun saat dia berbalik, Rafika sempat terkaget melihat Erlangga yang sedang tersenyum miring melihatnya. Hatinya was-was, khawatir bosnya itu akan membalaskan apa yang terjadi tadi pagi. Apalagi, dia tidak selesai mengerjakan tugasnya membersihkan ruangan Erlangga.


"Silakan Rafika, ikut dengan kami!" ucap Calvin.


Ingin rasanya Rafika menolak. Akan tetapi, terasa tidak sopan jika dia terus membantah. Dia pun hanya bisa pasrah mengikuti ke mana pun Calvin dan Erlangga pergi.


"Rafika, nanti kamu bawakan berkas-berkas yang ada di meja Pak Elang, yang bertuliskan Eastern Elang Groups," suruh Calvin.


"Baik, Pak!" sahut Rafika.


Dia pun langsung membereskan tumpukan map yang ada di meja kerja Erlangga. Sementara kedua orang itu sedang berbicara serius. Entah apa yang mereka bicara, Rafika tidak peduli. Dia hanya fokus dengan pekerjaan yang disuruh oleh Calvin.


"Fika, sudah siap belum?" tanya Calvin.

__ADS_1


"Siap, Pak!"


"Ayo kita berangkat sekarang, agar nanti pulang tidak kemalaman," ajak Calvin yang langsung berdiri dari duduknya bersamaan dengan Erlangga.


Rafika hanya mengekor di belakang Calvin. Dia enggan bertanya, akan ke mana mereka pergi. Hingga saat sudah tiba di parkiran, dia mendadak bingung, harus duduk di mana saat di mobil nanti.


"Fika, kamu duduk di belakang saja. Aku dan Pak Parman di depan," suruh Calvin yang mengerti kebingungan Rafika.


"Di belakang ya, Pak?" tanya Rafika seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Cepatlah naik!" suruh Erlangga yang sudah berada di dalam mobil.


Tanpa menyahut ucapan Erlangga, Rafika langsung masuk dan duduk di sebelah Erlangga. Gadis itu duduk dengan melipir ke pintu. Dia khawatir bos galaknya itu tidak suka berada di dekatnya.


"Kenapa? Kamu takut duduk dekat aku?" tanya Erlangga dengan menatap tajam Rafika.


"Siapa yang takut? Aku hanya gak enak saja, karena tadi sarapan habis makan pete. Nanti Pak CEO nyium bau pete dari mulut aku yang mungil ini." Bohong Rafika.


"Sudahlah jangan berisik! Aku mau tidur. Calvin, bangunkan aku jika sudah sampai," pinta Erlangga.


"Baik, Bos!" sahut Calvin.


Benar saja, Erlangga langsung memejamkan matanya sedari mobil itu mulai berjalan. Rasa kantuk karena semalam hanya tidur dua jam, membuat tidurnya pulas. Apalagi, wangi yang keluar dari tubuh Rafika membuat dia menjadi tenang. Sampai akhirnya kepala Erlangga menyender ke bahu Rafika.


"Fika, tolong tahan kepalanya, kasian dia kurang tidur!" pinta Calvin.


"Iya, Pak!" sahut Rafika pelan.


Dia sibuk mengontrol detak jantungnya yang berdetak lebih cepat dari biasanya. Perasaan yang sudah dia kubur dalam-dalam, kini kembali mencuat. Dia tidak bisa menghilangkan rasa cintanya untuk Erlangga. Meskipun dia tahu, laki-laki itu tidak mungkin akan bersamanya.


Rasanya sakit, saat harus mencintai seseorang dalam diam. Mungkin ini yang dulu Zaenal rasakan. Meskipun aku selalu mengerjainya, tetap saja dia selalu baik padaku.


Hanya butuh waktu tiga jam, akhirnya mereka sudah sampai di tempat yang di tuju. Rafika sempat terkaget saat dia mengenali pintu keluar tol dan daerah di sekitar itu. Dia terus saja memastikan penglihatannya untuk meyakinkan diri dengan apa yang dilihatnya.

__ADS_1


"Pak Calvin, bukankah ini di Majalengka ya?" tanya Rafika.


"Iya benar, kenapa memangnya?"


"Rumahku kan gak jauh dari sini. Apa aku boleh mampir dulu?"


"Maaf, Fika. Sekarang kita sedang kerja, jadi tidak bisa mampir sembarangan. Karena setelah dari sini, masih ada pertemuan lagi."


"Gitu, ya! Tapi kita mau ke mana? Kho ke sini?"


"Mau ke pabrik cabang. Berkas yang kamu bawa, itu untuk Elang Groups cabang timur," jelas Calvin.


Mendengar percakapan Rafika dan Calvin, Erlangga yang masih tertidur di bahu Rafika, membukakan matanya. Namun, dia masih enggan beranjak dari bahu gadis itu. Erlangga kembali memejamkan matanya, menghirup dalam-dalam aroma tubuh Rafika yang membuat pikirannya menjadi tenang.


Siapa gadis ini sebenarnya? Apa mungkin, dia gadis yang selalu ada dalam mimpiku? Calvin juga, tumben sekali dia tidak bisa memberikan informasi tentang gadis ini secepatnya. Sepertinya, aku harus menahan gadis jorok ini agar selalu berada di sisiku. Meskipun tampilannya seperti itu, tetapi saat di dekatnya, aku merasa tenang.


"Bangun Elang sudah sampai! Kasian Fika pegal, dari Cikarang kamu terus menyender padanya," ucap Calvin yang menyadari sahabatnya sudah terbangun dari tadi.


"Memang sudah sampai ya? Ah, tidurku nyenyak sekali." Erlangga merentangkan tangannya hingga salah satu tangan dia menimpa mulut Rafika.


Gep!


Rafika langsung menggigit tangan Erlangga, yang sukses membuat laki-laki itu terkaget. "Kenapa kamu menggigit aku? Apa kamu kanibal?"


"Iya, aku ingin sekali memakan Pak CEO yang seenaknya tidur di bahu orang."


"Oh, ya? Aku menunggunya saat kamu bisa memakan aku."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2