Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 51 Cukup, Kakek!


__ADS_3

Gila! Masa dia nyuruh buat gugurkan bayi yang tidak berdosa. Untung saja ini hanya settingan, kalau beneran bisa sakit hati aing. Tapi aku penasaran apa yang akan Pak Bos lakukan, batin Rafika.


"Apa Kakek bilang, menggugurkan bayi yang tidak berdosa? Hahaha ... Demi sebuah kehormatan, Kakek rela membunuh keturunannya sendiri. Tapi maaf, Kek. Aku tidak akan pernah membunuh anakku. Dengan dan tanpa persetujuan dari Kakek, aku akan tetap menikah dengan Fika." Tangan Erlangga terkepal kuat menahan kemarahannya.


"Erlangga! Demi gadis itu kamu sudah lancang pada Kakek kamu sendiri. Apa ini balasan kamu? Aku susah payah membesarkan dan merawat kamu, tapi saat sudah besar kamu jadi anak pembangkang," bentak Tuan Ageng.


"Aku pembangkang?! Apa selama ini Kakek membesarkan aku untuk menjadikan aku seperti robot, yang harus terus patuh pada keinginan Kakek? Tanpa peduli dengan keinginan dan perasaanku. Cukup, Kakek! Untuk hal lain Kakek boleh mengaturku, tapi tidak untuk pasangan hidupku. Aku juga ingin bahagia dengan orang yang aku cintai."


Tanpa bicara lagi, Tuan Ageng langsung berdiri dan mendekat ke arah Erlangga. Matanya sudah memerah menahan amarah yang menguasai jiwanya. Baru kali ini Erlangga terang-terangan menentangnya, selain saat dulu sedang amnesia.


Bugh ... bugh ... bugh!


Tuan Ageng langsung memukuli Erlangga dengan tongkat yang selalu dibawanya. Persis saat dulu Erlangga waktu masih kecil. Dia selalu mendapatkan kemarahan kakeknya jika ketahuan tidak belajar.


"Tuan jangan!" Rafika langsung memeluk Erlangga yang hanya diam saja menerima setiap pukulan dari kakeknya.


"Menyingkir kamu gadis tidak tahu diri. Sudah aku kasih uang banyak, masih saja menggoda cucuku," sentak Tuan Ageng.


"Tidak Tuan, Aku tidak mengijinkan calon suamiku disakiti. Bagaimana nasib anakku, jika ayahnya nanti terluka." Rafika ikut berakting di depan Tuan Ageng.


"Kalian!" tunjuk Tuan Ageng. "Aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian. Erlangga, jika kamu tetap memaksa mempertahankan gadis itu, aku akan mencoret kamu dari daftar ahli waris. Mulai saat ini, kamu bukan CEO Elang Group lagi."


"Tidak apa! Harta masih bisa dicari tapi cinta dan kasih sayang yang tulus, sulit untuk didapatkan."


Mendengar apa yang Erlangga katakan, Tuan Ageng langsung pergi dari apartemen dengan rahang yang mengeras. Dia sangat marah karena Erlangga tidak mau menurut padanya. Dia terus berjalan dengan cepat menuju ke lift dengan pengawal yang mengikutinya dari belakang.


Sementara Calvin yang sengaja sembunyi di apartemen miliknya, langsung keluar saat sudah mendengar derap langkah yang khas milik Tuan Ageng. Dia merasa lega karena tidak sampai bertemu dengan Tuan besarnya.


"Ayo Kiran, kita lihat keadaan Elang dan Fika!" ajak Calvin dengan menarik Kiranti.


Gadis itu berjalan sempoyongan mengikuti langkah kaki Calvin. Saat sampai di apartemen Erlangga, terlihat sahabatnya sedang dikompres oleh Rafika.


"Kamu dipukul pakai tongkat keji itu? Tuan besar ternyata tidak berubah," tanya Calvin.

__ADS_1


"Bukan hal yang aneh. Vin, kamu mau ikut denganku atau ikut dengan CEO Elang Group yang baru?" tanya Erlangga dengan melirik sahabatnya sekilas.


"Maksud kamu?"


"Aku bukan lagi CEO Elang Group mulai hari ini. Mungkin mulai besok, aku akan fokus pada Rivers."


"Apa Tuan Ageng yang ...?"


"Iya. Aku tidak memaksa kamu untuk terus menjadi assisten aku. Karena mungkin, gaji di Rivers tidak akan sebesar dengan gaji kamu sekarang," potong Erlangga.


"Aku akan terus bersama kamu, Elang. Toh tabungan aku sudah banyak. Aku juga punya sepuluh persen dari saham Rivers," ucap Calvin dengan penuh keyakinan.


"A, kenapa cinta kita ujiannya banyak sekali?" tanya Rafika sendu.


"Semakin besar ujian yang menerpa, semakin kuat cinta yang kita miliki. Sabar ya! Aa yakin, akhirnya Kakek akan merestui hubungan kita." Erlangga mengelus lembut pipi Rafika.


"Hm ... Bos, cepat sehat ya! Aku ke kamar dulu," pamit Kiranti.


"Sebentar A, aku ambilkan!"


Calvin langsung mendekat ke arah Erlangga setelah kepergian gadis itu. Sejujurnya, dia khawatir Tuan Ageng akan melakukan hal yang tidak pernah mereka duga. Karena biasanya, saat Erlangga tidak mau menurut pada kakeknya, maka kakek tua itu akan menghancurkan barang kesayangan cucunya.


"Elang, apa kamu sudah siap? Aku yakin Kakek akan melakukan sesuatu agar kamu menurut padanya," tanya Calvin cemas.


"Aku siap, Calvin. Aku yakin, Fika bukan gadis lemah. Aku dan dia akan bersama-sama menghadapi apapun yang terjadi. Sudahlah jangan dipikirkan," ucap Erlangga bersamaan dengan Rafika yang datang dengan satu gelas air di tangannya.


"Buat Abang mana nih?" tanya Calvin.


"Hehehe ... Ketinggalan. Nanti deh Fika ambil lagi."


"Udah tidak usah! Biar Calvin ambil sendiri. Lebih baik temani Aa saja," cegah Erlangga.


"Iya, Fika. Aku mau pulang dulu, pengen istirahat."

__ADS_1


Calvin langsung beranjak pergi menuju ke apartemen miliknya. Tidak enak juga berada di tengah-tengah orang yang lagi kasmaran. Lebih baik dia menikmati kesendiriannya di apartemen.


Selepas kepergian Calvin, Rafika kembali duduk di samping Erlangga yang sedang menyenderkan kepalanya ke sofa. Terlihat kekasih hatinya sedang memejamkan mata.


"A, apa tidak sebaiknya kita ke dokter?"


"Tidak apa Fika, memarnya pasti hilang. Tadi kan sudah di oles salep. Biasanya setelah satu jam pasti hilang. Antar Aa ke kamar saja yuk!


Rafika langsung memapah Erlangga dan membawanya ke kamar pemuda itu. Erlangga terus tersenyum mendapatkan perhatian dari calon istrinya. Meskipun seluruh badannya sakit, tapi hatinya merasa senang bisa selalu dekat dengan gadis yang dicintainya.


"Temani Aa sampai tertidur ya!" pinta Erlangga dengan merebahkan badannya.


Dia menepuk-nepuk tempat tidur di sampingnya. Meminta Rafika agar tidur bersamanya. Namun, gadis itu terlihat ragu saat diminta untuk naik.


"Kita hanya tidur bersama, tidak melakukan hal yang lebih," ucap Erlangga. "Tuh lihat! Anak kita juga ingin tidur dekat papanya," goda Erlangga dengan menunjuk perut Rafika yang datar.


"Apaan sih A? Hamil saja enggak," sangkal Rafika.


Erlangga langsung menarik tangan Rafika hingga gadis itu terjerembab menubruk tubuhnya. Untuk sesaat mereka saling terdiam. Menyelami perasaan masing-masing lewat tatapan mata. Sampai akhirnya, Erlangga menarik tengkuk Rafika dan mengecup bibir gadis itu.


Tidak sampai di situ, Erlangga langsung membalikkan keadaan, kini Rafika yang berada di bawah kungkungan-nya. Dia semakin memperdalam ciumannya hingga naluri menuntun tangannya untuk menjamah gunung kembar yang masih tersegel kemurniannya.


Rafika yang kaget dengan apa yang Erlangga lakukan, dia langsung mencekal tangan laki-laki itu. Saat dia merasakan rasa yang tidak biasa pada dadanya. Sungguh Rafika merasa takut mereka akan melewati batas, sehingga dia segera melepaskan pagutannya.


"Jangan, A! A-aku aku tidak mau melakukan hal yang lebih," cegah Rafika dengan napas yang masih belum stabil.


"Maaf, Fika. Aa khilaf!"


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2