
Suasana desa yang asri membuat Erlangga betah berlama-lama duduk di bawah pohon Asam. Dia melihat hamparan sawah nyang menghijau sejauh mata memandang. Erlangga memejamkan matanya, mengingat mimpi yang selalu datang hampir setiap hari padanya.
Ternyata apa yang aku mimpikan, suasananya sama dengan apa yang aku rasakan sekarang. Ikatan batin kita sangat kuat, Fika. Sampai kamu terus mengusikku saat aku melupakanmu, batin Erlangga.
Dia yang baru yang baru datang di kampung Rafika memilih untuk beristirahat sejenak sebelum melanjutkan perjalanannya menuju ke hotel yang biasa Erlangga tempati ketika menginap di kota itu.
"A, ini sirupnya." Rafika membawa tiga gelas sirup untuk menyegarkan tenggorokan. Karena hawa di kampung Rafika lumayan panas.
"Makasih. Ternyata segar sekali duduk di sini," ucap Calvin.
"Memang, dulu saja Kang Asep betah sekali kalau sore-sore diajak main di sini. Ampe ketagihan," ucap Rafika seraya mendudukkan bokongnya di atas dipan bambu yang ada di sana. "Oh, iya kata Uwa, mending tinggal di rumah Uwa saja biar tidak jauh. Tapi kalau gak mau bisa di rumah Kiran. Biar nanti keluarga Kiran yang menjadi pengiring pengantin prianya."
"Nanti malah merepotkan kalian. Acaranya kan masih dua hari lagi," ucap Erlangga.
"Iya, Fika. Nanti orang tuaku dan Kak Helen juga mau datang. Karena Elang sudah seperti anak bontot mamaku," jelas Calvin.
"Persahabatan kalian ternyata sangat dekat."
"Bukan dekat lagi. Sebelum anak-anaknya, orang tua kita sudah bersahabat. Seperti persahabatan yang diwariskan," jelas Calvin.
"Tapi kenapa aku tidak diajak ke makan orang A Elang?"
"Orang tuaku meninggal karena kecelakaan pesawat. Sampai sekarang, jasadnya belum ditemukan," jelas Erlangga dengan tersenyum getir.
"Maaf, A! Aku tidak tahu," sesal Rafika.
"Tidak apa. Kamu harus tahu siapa aku, Fika. Biar nanti kamu tidak menyesal saat angan kamu tentangku tidak seperti kenyataannya," ucap Erlangga dengan membelai lembut rambut Rafika.
"Ah, sepertinya tidur di sini nyaman ya! Meskipun tidak di atas kasur empuk," sela Calvin.
"Nyaman sih, Bang. Tapi jangan lupa baca doa dulu biar tidak ada yang maksa masuk," ucap Rafika enteng.
"Maksa masuk gimana?" tanya Calvin penasaran.
"Ya, seperti orang kesurupan gitu." jawab Rafika enteng.
"Aa juga mau tidur saja benar kata Fika, kita berdo'a dulu sebelum tidur," ucap Erlangga dengan merebahkan badannya dan menjadikan paha Rafika sebagai bantalnya.
__ADS_1
Benar saja, kedua pria tampan itu langsung memejamkan matanya. Sepertinya mereka kelelahan karena membawa mobil sendiri. Sementara Rafika hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan dua sahabat itu.
Ternyata hidup A Elang lebih berat dari aku. Ayah memang sudah meninggal dan aku harus membantu ibu sebisa yang aku bisa untuk menggantikan pekerjaan ayah. Tapi Ibu tidak pernah memaksakan keinginannya padaku, batin Rafika.
Tangannya mengelus rambut Erlangga yang lebat. Terkadang dia merasa bersalah pada keluarga Erlangga. Karena demi bersamanya, laki-laki itu harus berselisih hebat dengan kakeknya.
"Fika, mereka tidur?" tanya Kiranti yang baru datang dengan satu kantong semangka di tangannya.
"Iya, Kiran tolong ambilkan bantal di kamarku! Pegal juga mendadak jadi bantal," pinta Rafika.
Kiranti bergegas ke rumah Rafika, setelah dia memberikan semangka yang dibawanya, Kiranti pun langsung membawa bantal dari kamar sahabatnya. Perlahan Rafika mengangkat kepala Erlangga dan memindahkan ke bantal. Namun, laki-laki itu seperti tidak terganggu tidurnya.
"Ade Fika, Akang kasepnya lagi tidur?" tanya Ina, anaknya Wa Enok.
"Iya, gak boleh ganggu ya! Ade mau ke depan dulu."
"Sip, biar Ina yang jagain," ucap bocah empat tahun itu.
"Oke, nanti Ade kasih oleh-oleh." Rafika langsung berlalu pergi bersama dengan Kiranti.
Dia dan Kiranti sengaja ke rumahnya untuk membongkar oleh-oleh yang akan dibagikan pada sanak saudaranya. Meskipun hanya buah-buahan dan kue, tetapi mereka senang karena merasa diakui sebagai saudara.
"Oh, Iya lupa. Orangnya juga lagi tidur Bu di belakang," ucap Rafika.
Saat mereka sedang asyik membagi oleh-oleh, tiba-tiba saja terdengar suara teriakan dari belakang rumah. Membuat Rafika dan yang lainnya segera berlari. Namun, saat tiba sana, Rafika tidak bisa menahan tawanya, melihat wajah tampan Erlangga dan Calvin penuh dengan coretan spidol.
"Hahaha ... Pasti Ina kan yang coret-coret," tuduh Rafika pada sepupunya ya masih kecil itu.
"Ina gak coret-coret! Ina lagi dandanin. Biar tambah ganteng," elak Ina.
"Ya ampun, Ina. Kamu ada-ada saja. Maaf ya Asep, Ujang. Anak Uwa memang suka sekali dandanin orang," sesal Wa Enok merasa tidak enak hati.
"Iya, gak apa, Wa." Erlangga menyahut lemas.
"Sebentar aku ambil tissue basah dulu!" Rafika langsung berlari kembali ke rumahnya.
Setelah mendapatkan tissue basah, dia langsung membersihkan wajah Erlangga yang tidak berbentuk. Sementara Calvin memilih untuk membersihkan sendiri. Mau meminta tolong pada Kiranti pun, dia merasa tidak enak hati.
__ADS_1
"Bang Calvin, itu masih ada di sini sini dan sini." Kiranti menunjukkan menunjukkan posisi coretan yang belum bersih. Namun, tetap saja Calvin tidak bisa membersihkan seluruhnya.
"Kiran, bantuin bersihkan. Uwa ke depan dulu," pamit Wa Enok dengan membawa anaknya yang masih kecil.
"Iya, Bang. Biar Kiran bantu bersihkan saja," ucap Rafika.
"Iya sini, Bang! Biar aku bantu," ucap Kiranti dengan mengambil tissue basah dan mulai membersihkan wajah Calvin.
Posisi mereka yang sangat dekat, membuat jantung Calvin mendadak berdebar-debar. Apalagi, saat tanpa sengaja melihat belahan dada Kiranti yang tepat di depan matanya, sukses membuat jantung Calvin berirama tidak beraturan.
Wajahnya langsung memerah menahan malu dengan apa yang dilihatnya. Tetapi dia sangat penasaran ingin melihat lebih dalam lagi. Sampai akhirnya, Kiranti menyadari kalau Calvin sedang melihat ke arah bajunya.
"Lanjutkan sendiri! Dasar bujang alot messum! Sudah dibantu juga malah curi-curi kesempatan," semprot Kiranti.
"Kiran, sorry! Aku gak sengaja," sesal Calvin.
"Gak sengaja gimana? Mata Bang Calvin melotot begitu."
"Wah, Calvin. Kamu sudah menodai Kiranti. Lebih baik tanggung jawab dan segera menikahinya," celetuk Erlangga.
"Aku beneran gak sengaja Elang. Itu terlihat jelas di depan mata aku," bela Calvin.
"Apa? Bang Calvin melihat jelas? Benar-benar keterlaluan. Aku gak mau temenan sama Bang Calvin lagi."
"Abang minta maaf, Kiran. Kalau kamu ingin Abang tanggung jawab, baik Abang akan lakukan!"
"Tanggung jawab apa maksud Bang Calvin?"
"Tanggung jawab karena tidak sengaja lihat," jawab Calvin.
"Lalu apa yang akan Abang lakukan?"
"Belikan kamu baju yang tertutup. Seperti gamis mungkin, atau busana muslim lainnya."
Iya juga sih, gara-gara aku juga pakai baju kerah V-neck. Jadinya mengundang mata Bang Calvin untuk melihat, batin Kiranti.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....