
Laki-laki tampan dengan sejuta pesona itu, terus saja uring-uringan. Sudah satu minggu ini dia disibukkan oleh pekerjaannya. Apalagi kakeknya membebani dia dengan pekerjaan yang seharusnya Leon kerjakan. Karena adik tirinya itu masih belum kerja kembali setelah asmanya kambuh. Sampai acara menguntit itu akhirnya harus berakhir saat Tuan Ageng meminta Erlangga untuk segera menemuinya. Semenjak saat itu pula, dia belum bertemu lagi dengan Rafika.
"Sialan! Sampai kapan aku terjebak di sini?" gerutu Erlangga dengan mata yang tidak lepas dari berkas yang menumpuk di depannya.
"Bos, nanti malam menghadiri jamuan makan malam bersama dengan Keluarga Dirgantara," ucap Calvin.
"Kamu saja yang datang. Aku tidak mau dijodohkan lagi. Kakek pikir, aku tidak laku sampai harus mencarikan jodoh untukku," semprot Erlangga.
"Mungkin yang sekarang cocok, Bos. Lebih baik dari Rafika dan Caithlyn."
"Apa kamu bilang, Rafika? Aku akan pulang ke Cikarang saat acara makan malam itu. Kamu bilang saja sama Kakek kalau aku masih sibuk kerja."
"Bos, bagaimana kalau Tuan besar tahu kalau kita membohonginya?"
"Kamu cari saja alasan yang meyakinkan. Aku tidak mau tahu, aku mau pulang ke apartemen."
Benar saja apa yang dikatakan oleh Erlangga. Dia memaksa pergi sendiri ke Cikarang. Meskipun Calvin sudah melarangnya. Laki-laki itu seperti kehilangan kesabarannya untuk bertemu dengan Rafika.
Namun, sepertinya harapan tinggallah harapan. Dia tidak menemukan Rafika maupun Kiranti di apartemen. Mencari ke kontrakan lama pun tidak menemukan kedua gadis itu.
"Ke mana mereka? Tadi pagi masih ada. Masih tertawa cekikikan sambil sarapan. Sekarang semua bajunya pun sudah tidak ada di lemari," gumam Erlangga dengan menjambak rambutnya. Dia pun langsung menghubungi Helen untuk menanyakan kedua gadis itu.
"Hallo Helen! Kamu lagi ngapain?" tanya Erlangga saat sudah terhubung.
"Ck! Elang kira-kira dong kalau nelpon orang. Lihat jam! Sudah hampir tengah malam. Aku lagi tidur."
"Tidur tapi mendessah. Cepat katakan di mana Fika? Kenapa tidak ada di apartemen?"
"Ya ampun, Erlangga! Demi gadis itu, kamu ganggu aku bikin adonan. Tadi siang dia ijin pulang cepat. Ibunya sakit."
"Apa? Sakit?"
"Wait! Kamu jangan nyusul dia malam-malam sendiri. Ajak Calvin atau Pak Parman. Kalau kamu maksa, aku lapor pada Tuan Ageng."
"Lapor sana! Aku gak peduli!"
__ADS_1
Klik!
Erlangga langsung menutup sambungan teleponnya. Dia kembali menyalakan mesin mobilnya menuju ke jalan tol. Perjalanan malam yang lengang, membuat dia tidak butuh waktu lama untuk sampai ke kota kecil tempat kelahiran Rafika. Dia mencoba menghubungi gadis itu tapi tidak ada yang mengangkatnya. Akhirnya Erlangga memutuskan untuk mendatangi rumah Rafika.
"Pagi buta gini pasti mereka sedang tidur. Mana mungkin aku berani bertamu. Lebih baik aku tidur di mobil saja," gumam Erlangga.
Baru saja dia akan memejamkan matanya, terdengar ponselnya berbunyi. Terlihat di layar, Calvin sedang melakukan panggilan telepon padanya. Dia pun memutuskan untuk menerima panggilan telepon itu.
"Hallo, Bos! Lagi di mana?" tanya Calvin dengan nada cemas.
"Aku di rumah Fika. Sudah, kamu jangan menyusul ke sini! Pasti Helen kan uang kasih tahu."
"Iya! Kakakku khawatir sama kamu. Dia takut kejadian yang dulu terulang lagi, makanya segera menghubungi aku."
"Aku sedang di depan rumah Fika, tapi tidak berani masuk."
"Jangan, Bos! Tunggu saja adzan subuh. Pasti sudah banyak orang yang keluar rumah."
"Sudahlah! Aku mau tidur dulu. Yang penting, aku sudah sampai di sini."
"Biarkan saja."
"Ya sudah, aku tutup dulu."
Calvin pun segera mengakhiri sambungan teleponnya. Dia membiarkan Erlangga untuk beristirahat setelah perjalanan jauh. Calvin khawatir karena kurang istirahat, bosnya akan jatuh sakit.
Sementara Erlangga langsung terlelap. Hatinya merasa tenang saat sudah melihat rumah kekasih hatinya. Apalagi terlihat lampu kamar Rafika yang menyala. Dia yakin, gadis itu sedang terlelap tidur di sana.
Saat waktu sudah merangkak pagi, terdengar kaca mobil Erlangga ada yang mengetuk dari luar. Laki-laki itu pun langsung bangun dari tidurnya. Dia mengucek matanya berkali-kali sebelum akhirnya membuka kaca jendela.
"Bos, ngapain ada di sini?" tanya Rafika yang mengenali mobil Erlangga.
Sebenarnya dia diberitahu oleh uwanya kalau ada mobil bagus yang terparkir di pinggir jalan. Namun, mereka tidak bisa mengintip ke dalam karena kacanya terlihat gelap kalau orang melihatnya dari luar.
"Mencari kamu." Erlangga segera keluar dari mobil. Tanpa bicara lagi, dia langsung memeluk gadis yang dia rindukan. Tentu saja keluarga dan tetangga Rafika yang melihatnya menjadi kaget.
__ADS_1
"Bos lepasin! Malu dilihat orang," suruh Rafika. Dia mengedarkan pandangannya dengan cengengesan karena malu dilihat oleh uwa dan tetangganya.
"Ujang, dihalalkan dulu baru boleh dipeluk," ucap Pak Haji depan rumah Rafika
"Anak jaman sekarang, main peluk-pelukan aja di pinggir jalan. Benar-benar urat malunya sudah disimpan di pegadaian," timpal Wa Janggot.
"Kalau sudah tidak sabar, cepat halalkan saja. Untuk apa pacaran lama-lama, nanti hanya jagain jodoh orang." Wa Enok yang baru keluar dari rumahnya langsung nimbrung.
"Hehehe, iya Wa. Secepatnya pasti aku akan menghalalkan Fika," ucap Erlangga dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Entah kenapa dia merasa malu di hadapan keluarga Rafika.
"Itu lebih baik, Jang. Jangan menggantungkan anak gadis orang. Kalau memang serius cepat lamar, tapi kalau tidak serius lebih baik jangan mendekati Fika lagi." Pak Haji mendekati Erlangga yang masih berdiri di dekat mobilnya.
"Saya serius Pak Haji. Saya tidak keberatan jika menikah hari ini juga. Tolong disiapkan saja, untuk biaya tidak usah khawatir. Saya akan menanggung semuanya," ucap Erlangga dengan penuh keyakinan.
Bugh!
Rafika meninju perut Erlangga gemas. Belum juga dia mengatakan setuju atau tidaknya menikah dengan Erlangga. Laki-laki itu sudah meminta untuk disiapkan acara pernikahannya.
"Aw ... Fika, perutku sakit. Dari kemarin aku belum makan," keluh Erlangga meringis.
"Fika-Fika masih saja barbar. Dikurangi, Nak. Apalagi, dia akan jadi calon suami kamu nanti." Pak Haji langsung menasehati Rafika.
"Hehehe ... kelepasan Pak Haji. Ya udah yuk! Nanti aku kasih makan benyer," ajak Rafika. "Pak Haji permisi, mau masuk ke dalam dulu. Kasihan ada yang kelaparan."
"Iya silakan! Ingat Ujang, niat baik harus disegerakan," pesan Pak Haji.
"Iya, Pak Haji terima kasih sudah diingatkan. Permisi!" sahut Erlangga seraya mengikuti Rafika masuk ke dalam rumah. Dia pun langsung menarik tangan Rafika yang akan pergi ke dapur. "Fika, benyer itu kue apa? Apa rasanya enak?"
"Benyer itu beras bubuk buat kasih makan ayam. Hahaha ...."
Astaga! Dia sedang mengerjai aku.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....