Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 50 Gugurkan anak itu!


__ADS_3

Selama perjalanan menuju ke apartemen, Erlangga lebih banyak diam. Dia terus memikirkan apa yang Caithlyn katakan. Erlangga tidak dapat memungkiri hatinya, kalau dia khawatir Caithlyn akan melakukan hal yang menyakiti Rafika


"A, kita langsung ke apartemen, kan? Tidak ikut ke perusahaan?" tanya Rafika.


"Iya, kita langsung pulang. Biarkan saja barang-barang sama Calvin. Paling nanti dia nyuruh satpam untuk membawa ke atas," jawab Erlangga dengan melirik sekilas ke arah Rafika.


"Baguslah, aku mau langsung mandi. Udah gerah," ucap Rafika.


"Kamu ngajak Aa buat mandi bareng?"


"Sembarangan. Belum sah tidak boleh seperti itu!"


"Berarti kalau nanti sudah sah, boleh kan?"


"Apaan sih Aa? Masa mandi saja harus barengan. Malu dong!" Pipi Rafika langsung merona saat dia membayangkan hal yang belum pernah dia lakukan.


Tangan Erlangga terulur mengacak-acak rambut calon istrinya. Dia merasa gemas melihat Rafika yang malu-malu. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin menghalalkan gadis yang ada di sampingnya itu.


Saat mobil sudah memasuki basemen apartemen. Keduanya masih saja membisu dengan pikirannya masing-masing. Sampai akhirnya Erlangga membuka suara terlebih dahulu setelah mematikan mesin mobil.


"Fika, jika ada apa-apa langsung hubungi Aa ya! Jangan seperti kemarin! Kamu pergi tanpa memberitahu terlebih dahulu," pinta Erlangga.


"Iya, Aa. Kemarin aku mendadak sekali, jadi lupa buat kasih tahu."


"Lupa atau sengaja nih?"


"Sengaja, hehehe ... Oh iya, A. Caithlyn sepertinya marah sekali."


"Iya, kita harus berhati-hati, Fika. Mereka selalu menghalalkan segala cara. Aa khawatir mereka menargetkan kamu."


"Kalau menargetkan aku, malah aku gak takut, A. Aku takut jika Ibu yang menjadi targetnya. Saat seseorang tidak bisa membalas dendam secara langsung. Maka orang itu akan mencari kelemahan kita."


"Aa tidak salah pilih calon istri. Kamu menyembunyikan semuanya dibalik sikap konyol kamu." Erlangga tersenyum manis. "Ayo kita turun!" ajaknya kemudian.


Menyembunyikan apa maksudnya. Apa dia tahu kalau aku ..., batin Rafika.


Rafika pun segera turun saat Erlangga sudah membuka kunci mobil. Mereka berjalan beriringan dengan tangan yang saling menggenggam. Meskipun keduanya merasakan akan terjadi hal yang tidak mereka inginkan, tetapi Erlangga maupun Rafika tidak mau melewatkan kebersamaan mereka.

__ADS_1


"A, aku langsung ke kamar ya. Mau mandi dulu," pamit Rafika saat baru sampai di apartemen.


"Iya, Aa juga mau langsung mandi. See you wife!" Erlangga memberikan ciuman jarak jauh saat dia akan menuju ke kamarnya.


Bilang aku konyol, dianya juga sama.


Rafika langsung saja membersihkan dirinya. Dia sangat menikmati acara mandinya. Apalagi guyuran air shower membuat badannya merasa segar.


"Kenapa seperti ada yang bertamu ya! Bukankah Kiran tahu nomor password apartmen ini," gumam Rafika.


Dia pun segera menyudahi acara mandinya. Setelah berpakaian lengkap, Rafika langsung menuju ke pintu depan dengan handuk kecil yang masih bertengger di atas kepalanya. Dia merasa risih karena bel apartemen terus saja di tekan oleh orang yang akan berkunjung. Namun, saat pintu apartemen sudah dia buka sempurna, Rafika sangat terkejut dengan tamu yang datang.


"Kamu siapa? Di mana Erlangga?" tanya Tuan Ageng. Dia terus menelisik penampilan Rafika dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"A-ada Tuan. Bos sedang mandi," jawab Rafika dengan sedikit gugup.


"Boleh masuk?" tanya Tuan Ageng dengan terus menelisik Rafika.


"Silakan, Tuan!" Rafika segera memberi jalan pada Tuan Ageng. Kemudian dia langsung menuju ke dapur untuk menyiapkan minuman.


Sementara Erlangga berniat untuk pergi ke dapur karena merasa haus. Dia keluar kamar hanya memakai handuk kimono. Tetesan air di rambutnya, membuat Tuan Ageng yang melihatnya hanya menggelengkan kepala. Dia jadi curiga, kalau cucunya suka bermain perempuan.


"Loh, Kakek? Kapan datang?" Bukannya menjawab, Erlangga malah balik bertanya. Dia sangat terkejut melihat Tuan Ageng ada di apartemennya.


"Belum lama. Apa Kakek mengganggu kamu?" sarkas Tuan Ageng.


"Enggak sih. Aku hanya kaget, kenapa Kakek ada di sini. Sebentar, Kek. Aku mau minum." Erlangga langsung berlalu pergi meninggalkan kakeknya. Dia langsung meminum satu botol air mineral dengan rakus.


Sementara Rafika baru saja selesai membuat satu cangkir kopi untuk calon kakek mertuanya. Dia hanya mematung melihat Erlangga yang sepertinya kehausan. " Aa kenapa tidak pakai baju. Di depan, kan ada Tuan besar."


"Iya aku tahu. Tadi sempat bertemu. Fika bersiaplah, kita hadapi kakek tua itu bersama. Sini Aa bisikan!"


Erlangga langsung membisikkan rencana yang mendadak melintas di kepalanya. Bagaimanapun, dia harus bisa membuat kakeknya menyetujui rencana pernikahannya dengan Rafika. Meskipun dia sudah bertekad, ada dan tidak ada restu dari kakeknya, dia akan tetap menikahi Rafika.


"Apa kamu ngerti?" tanya Erlangga


"Ngerti sih, A. Tapi, kenapa harus berbohong?"

__ADS_1


"Biar jalannya mulus. Kamu ikuti saja rencana Aa ya!"


"Baiklah kalau begitu."


Kedua calon pengantin itu segera kembali ke depan untuk menemui Tuan Ageng. Mereka pun merapikan dulu penampilannya. Sebelum berbicara penting dengan Tuan Ageng.


"Elang, kamu pasti tahu kenapa Kakek datang ke sini," tanya Tuan Ageng setelah Rafika dan Erlangga terlihat rapi.


"Aku tidak tahu, Kek. Aku hanya bisa menebak."


"Apa ini alasan kamu membatalkan pertunangan dengan Caithlyn?"


"Ini salah satunya, Kek. Yang pastinya, aku tidak bisa mencintai Caithlyn."


"Cinta? Bukan kamu tidak bisa mencintainya, tapi kamu tidak mau membuka hati untuk dia. Apa kamu sudah tahu bibit bebet bobot gadis yang bersama kamu itu?"


"Aku tahu Kek."


"Apa latar belakang keluarganya?"


"Maaf, Tuan. Saya hanya orang biasa. Ayahku sudah meninggal, sedangkan ibuku hanya penjual sayur." Rafika langsung menyela.


"Apa aku bertanya padamu? Aku sedang berbicara dengan cucuku. Lebih baik kamu diam sebelum aku mengajak kamu berbicara," sentak Tuan Ageng.


Sedari tadi dia menahan kekesalannya. Dia diberitahu kalau Erlangga kembali menjalin hubungan dengan gadis desa yang pernah menolong cucunya. Makanya dia langsung datang untuk memastikan kebenarannya.


"Maaf, Tuan ...," lirih Rafika.


"Kakek jangan menakuti calon istriku. Dia sedang mengandung anakku. Bagaimana kalau anakku kaget karena mendengar bentakan dari kakek? Kakek harus bertanggung jawab jika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan," bela Erlangga.


"Apa maksud kamu mengandung anak? Apa dia sedang hamil?" tanya Tuan Ageng kaget.


"Tentu saja, makanya aku ingin buru-buru menikahinya. Aku tidak mau nanti anakku di cap sebagai anak haram. Apa kakek mau Keluarga Bramantyo tercoreng namanya karena memiliki anak haram?"


"Tidak ada sejarahnya Keluarga Bramantyo memiliki anak haram. Gugurkan anak itu! Aku tidak mau keturunanku lahir dari wanita yang tidak berkelas."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift, dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2