Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 80 Kemarahan Erlangga


__ADS_3

Ruangan dengan interior perpaduan modern-klasik kini terlihat sangat mencekam. Wajah-wajah tegang terlihat jelas di sana. Erlangga yang tadi melihat rekaman CCTV pertengkaran Selvi dengan Rafika, wajahnya terlihat mengeras. Dia tidak terima anak yang dikandung oleh istrinya dikatakan anak haram oleh karyawannya sendiri.


"Selvi, terlalu banyak kesalahan yang kamu lakukan di sini. Selain membuat Kiranti keguguran, kamu juga telah membuat fitnah yang keji padaku dan juga istriku." Erlangga menghela napas sejenak sebelum dia melanjutkan bicaranya.


"Seandainya membunuh itu bukan sebuah dosa dan di sini bukan negara hukum, aku tidak akan segan untuk membunuh kamu sekarang juga."


"Calvin, pecat dia dengan tidak terhormat dan blacklist dia dari dunia industri!" suruh Erlangga.


"Bos, kenapa Anda sangat tidak adil padaku. Aku hanya berbicara seperti itu tapi Anda langsung mem-blacklist aku. Aku tidak keberatan dipecat dari sini. Lagipula, aku tidak suka melihat wanita udik itu berkeliaran di sini."


"Cukup! Keluar kamu dari ruanganku! Aku tidak sudi melihat wajah tidak tahu diri seperti kamu," usir Erlangga


Selvi hanya melihat ke arah Erlangga dengan sorot mata penuh dendam. Dia tidak terima dipecat begitu saja. Apalagi sampai diblacklist yang artinya dia akan susah mencari pekerjaan. Mana dia baru saja membeli mobil cicilan. Kalau dia tidak bekerja, bagaimana dia bisa membayar kredit mobil.


Sangat berbeda dengan Rafika yang tersenyum miring melihat kepergian teman kerjanya itu. Meskipun sebenarnya dia kasihan karena di blacklist, tetapi itu kesalahannya sendiri sudah melakukan hal yang di luar batas.


"Aa, jangan marah! Kembar takut lihat papinya marah," ucap Rafika seraya mengelus perutnya sendiri.


"Maafkan Papi Sayang, udah marah-marah di depan kalian." Erlangga mencium perut buncit Rafika. Meskipun usia kandungan baru berusia lima bulan, tetapi dia terlihat seperti hamil tujuh.


"Aa, boleh aku minta sesuatu?" tanya Rafika dengan mengelus rambut Erlangga yang sedang berjongkok mencium perutnya.


"Minta apa, Sayang?" tanya Erlangga seraya berdiri.


"Anu, soal Selvi. Jangan di-blacklist ya, A! Kasian nanti dia susah mencari kerja. cukup dipecat saja."


"Kamu tuh bikin Aa bingung. Kamu tidak suka sama dia tapi Aa kasih hukuman berat kamu tidak terima."


"Sudah akh jangan ngomongin dia, mending pulang dari sini kita beli sup janda. Kayaknya segar deh. Pedes-pedesnya bikin otak fresh," ajak Rafika.


"Boleh! Kiran, jangan bengong terus! Kita makan malam bersama," ajak Erlangga.


"Iya, Kang. Aku hanya sedang berpikir, kenapa Selvi benci sekali sama aku dan Fika. Perasaan, aku dan Fika tidak pernah mencari masalah duluan. Tapi dia selalu memulai dengan menghina aku dan Fika," ucap Kiranti.

__ADS_1


"Sudah! Jangan dipikirkan! Lebih baik kamu fokus pada kesehatan biar secepatnya dipercaya lagi. Bi Erah juga, habis keguguran, dua bulan kemudian dia hamil lagi. Asalkan kita tidak pesimis," ucap Rafika.


...***...


Seperti yang sudah dijanjikan, Rafika dan yang lainnya pergi bersama untuk makan sup Janda. Mereka begitu menikmati acara makan bersama, meskipun tempatnya lumayan jauh dari tempat tinggal mereka. Tetapi hal itu tidak menjadi halangan karena Calvin memilih lewat tol agar cepat sampai ke sana.


"Fika, pedasnya nampol." Kiranti terus saja memakan sup janda meskipun keringatnya sudah bercucuran.


"Iya, tapi sayang kuahnya gak boleh diminum sama A Elang karena terlalu pedas," ucap Rafika melas. Dia melirik ke arah suaminya yang sama-sama tidak memakan kuah sup-nya.


Tidak jauh beda dengan Calvin yang memang tidak suka makan pedas. Mereka hanya memakan tulang iganya saja.


"Elang, kenapa di warung ini kuahnya pedas sekali. Rasanya memang enak tapi aku gak kuat makan pedas seperti ini," ucap Calvin.


"Iya, waktu itu pernah makan tidak sepedas ini," sahut Erlangga dengan wajah yang sudah seperti kepiting rebus.


"A, kalau gak suka buat Fika saja," ucap Rafika dengan melihat ke mangkuk Erlangga.


"Masih kurang?" tanya Erlangga dengan melihat ke arah mangkuk Rafika yang ternyata sudah kosong.


"Pesan saja lagi. Tapi minta ke mbaknya jangan terlalu pedas," ucap Erlangga.


"Gak mau, maunya punya Aa," rengek Rafika.


"Ya sudah sini, Aa suapi!"


Dasar ibu hamil manja, senang sekali merecok suaminya makan. Tapi anehnya Erlangga tidak pernah keberatan dengan apa yang istrinya lakukan. Dia selalu bisa memaklumi apapun sifat Rafika.


"Loh, Fika, Kiran kalian makan di sini juga?" sapa Zaenal yang kebetulan makan di sana sepulang kerja.


"Iya, Zen. Kamu dengan siapa?" tanya Rafika.


"Dengan temanku. Tuh aku di meja sana," tunjuk Zaenal pada meja yang berada di pojokan.

__ADS_1


Rafika pun mengikuti arah tunjuk tangan temannya. Terlihat di sana Baim bersama dengan Selvi dan seorang gadis cantik yang duduk di samping Selvi.


"Kamu pacaran sama Selvi?" tanya Rafika.


"Tidak, kebetulan aku kenal karena rumahnya dekat kontrakan aku," ucap Zaenal.


"Aku saranin, jangan pacaran sama dia! Lebih baik cari gadis lain yang jauh lebih baik," ucap Rafika mengompori.


Zaenal hanya tersenyum menanggapi ucapan Rafika. Karena memang dia tidak kepikiran untuk menjalin hubungan dengan Selvi. Meskipun dia tahu kalau gadis itu selalu mencari perhatian kepadanya.


"Fika, aku ke sana dulu. Sehat-sehat ibu dan bayinya," ucap Zaenal kemudian berlalu pergi.


Setelah kepergian Zaenal, barulah Kiranti membuka suaranya. "Fika, bukan Zaenal yang dekat dengan Selvi, tapi Baim. Lihat saja mereka saling melempar senyum dari tadi."


"Wah cocok itu, harusnya mereka berjodoh. Aku menyayangkan kalau sampai berjodoh dengan Zaenal. karena dia terlalu baik untuk perempuan seperti Selvi."


"Sayang, apa kamu suka dengan Zaenal?" celetuk Erlangga tiba-tiba.


"Suka sih A. Zaenal kan baik, suka bantu aku bikin PR sama tugas sekolah. Memangnya kenapa Aa bertanya seperti itu?"


"Aa tidak suka kamu membicarakan laki-laki lain di depan Aa. Apalagi kalau sampai memujinya. Memangnya laki-laki itu lebih baik dari Aa?" tanya Erlangga dengan wajah masam.


"Enggaklah, A. Tidak ada laki-laki yang aku kenal yang lebih baik dari Aa. Pokoknya Aa yang ter the best."


Percakapan mereka langsung terhenti saat ada seorang pengamen datang. Mereka sibuk mendengarkan suara merdu dari pengamen yang menyanyikan lagu lawas dengan petikan gitar akustik yang mengiringi.


Terlalu indah dilupakan, terlalu sedih dikenangkan. Setelah aku jauh berjalan, dan kau ku tinggalkan. Betapa hatiku bersedih, mengenang kasih dan sayangmu. Setulus pesanmu kepadaku, engkau 'kan menunggu. Andaikan kau datang kemari, jawaban apa yang 'kan kuberi? Adakah jalan yang kau temui, untuk kita kembali lagi?


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


...***...


__ADS_2