
Setelah hari itu, hubungan Calvin dan Kiranti pun jadi membaik. Mereka sama-sama berusaha saling menerima satu sama lain. Begitupun dengan Rafika dan Erlangga yang terlihat semakin lengket setiap harinya. Seperti hari ini, saat mereka menghadiri acara pernikahan Leon dan Caithlyn. Kedua sejoli itu hanya setor wajah saja. Saat acara akadnya sudah selesai, keduanya memilih untuk pergi ke taman hiburan. Tidak lupa Erlangga dan Rafika berganti kostum sebelum mereka mereka pergi.
"A, memang tidak apa kita meninggalkan acara pernikahan adik Aa?" tanya Rafika saat keduanya sudah berada di dunia fantasi.
"Aa males berkumpul dengan keluarga Wijaya. Lebih baik mencoba wahana baru. Mumpung libur kerja. Nanti Calvin sama Kiran nyusul ke sini," ucap Erlangga.
"Aa tahu aja kalau aku belum pernah ke sini, hehehe ...." Rafika cengengesan dengan ucapannya sendiri.
"Bukankah kamu kuliah di Jakarta? Masa belum pernah ke sini," tanya Erlangga merasa tidak percaya.
"Aku kan di Jakarta kuliah bukan jalan-jalan. Aku sama Kiran kuliah sambil kerja jadi saat libur kuliah kita kerja. Paling kalau jalan-jalan ke tempat yang tiketnya murah."
"Istri Aa pekerja keras, pintar menabung juga. Sekarang, kamu tinggal minta saja sama Aa kalau ingin jalan-jalan. Selama Aa ada waktu libur pasti Aa temani." Tangan Erlangga terulur mengusak rambut Rafika.
"A Elang baik banget. Benar-benar kekasih ideal," ucap Rafika dengan memeluk tangan kekar Erlangga.
"Kho kekasih, sekarang kan Aa sudah jadi suami kamu," protes Erlangga.
"Iya deh, suami ideal." Rafika tersenyum manis dengan kepala yang dia senderkan pada bahu suaminya. Sungguh pemandangan yang membuat bibir ikut terangkat sempurna melihat kemesraan dua insan yang sedang dimabuk cinta.
Tidak berapa lama kemudian, Calvin dan Kiranti datang menyusul. Meskipun mereka belum semesra Rafika dan Erlangga, tetapi Calvin selalu menggenggam tangan istrinya saat mereka pergi berdua. Dia tidak ingin Kiranti merasa diabaikan saat tanpa sengaja dia pergi begitu saja.
"Sudah lama menunggu?" tanya Calvin seraya mendudukkan bokongnya.
"Belum lama," jawab Erlangga.
"Apaan belum lama. Kita sudah mau satu jam loh duduk di sini melihat pengunjung berdatangan," cetus Rafika.
"Sorry. Tadi kita ditahan oleh Tuan Ageng. Dia menanyakan kamu," ucap Calvin.
"Biarkan saja. Lebih baik kita naik bom-bom car. Ayo kita lomba, Calvin!" ajak Erlangga.
"Siapa takut. Dulu kita pernah berjanji akan membawa istri-istri kita ikutan main. Ternyata kesampaian juga," ucap Calvin dengan tersenyum cerah.
Mereka pun langsung bergegas menuju ke wahana bom-bom car. Tanpa mengantri, kedua pasangan suami istri itu langsung bermain. Jangan bertanya kenapa mereka tidak
mengantri? Kekuatan uang memang tidak bisa diragukan.
__ADS_1
Merasa bosan dengan permainan bom-bom car Rafika mengajak untuk mencoba berbagai wahana lainnya. Sampai-sampai Erlangga merasa kewalahan mengikuti keinginan istrinya. Namun, demi membahagiakan istrinya, Erlangga hanya mengikuti saja.
"Lelah juga ya A menjajal semua wahana," keluh Rafika saat dia baru saja turun dari wahana tornado.
"Mau ngadem gak?" tanya Erlangga.
"Mau!" sahut Rafika dan Kiranti kompak.
"Kita ke rumah boneka saja. Kita naik perahu masuk ke dalam gua buatan," ajak Erlangga.
Setelah semua setuju, akhirnya mereka pun masuk ke dalam rumah boneka. Erlangga merangkul Rafika dan menyenderkan kepala istrinya di bahu kokohnya saat sudah duduk di perahu. Karena memang satu perahu itu hanya diisi oleh mereka berempat.
"Istirahatlah kalau lelah!" suruh Erlangga.
Rafika tersenyum manis seraya mengikuti apa yang Erlangga katakan. Dia merasa sangat bahagia karena bisa bersama dengan laki-laki yang dicintainya. Tidak jauh berbeda dengan Kiranti yang terlihat masih malu-malu menunjukkan kedekatannya dengan Calvin. Namun Calvin berusaha untuk lebih mendekatkan diri pada Kiranti.
"Elang, bukankah nanti malam kita reuni di hotel MP?" tanya Calvin mengingatkan sahabatnya.
"Kamu benar. Sayang setelah ini, kita pulang saja ya! Nanti malam kita harus menghadiri reuni sekaligus acara amal," ucap Erlangga.
Namun, sedikit pun Rafika tidak menyahutnya. Saat Erlangga melihat ke arah wajah Rafika, ternyata mata gadis itu sudah terpejam. Dia hanya tersenyum seraya mengelus lembut pipi Rafika. Erlangga membiarkan gadis itu tertidur dalam pelukannya.
"Iya, Kiran. Sepertinya dia lelah," jawab Erlangga.
"Ya ampun, Fika. Sampai keenakan karena udara adem," ucap Kiranti.
"Kalau kamu mau tidur, sini sama Abang!" ajak Calvin.
"Enggak Bang. Aku senang melihat miniatur berbagai negara dan daerah di nusantara," tolak Kiranti.
Merasa puas bermain di taman hiburan, mereka pun memutuskan pulang ke apartemen. Entahlah, kedua pasangan baru itu merasa enggan untuk pulang ke rumah. Mereka hanya ingin menghabiskan waktu berdua dengan pasangannya tanpa ada orang yang mengganggu.
...***...
Suasana meriah terlihat di ballroom hotel berbintang lima milik keluarga Pratama. Rafika terlihat cantik dengan gaun malam yang berwarna merah marun. Meskipun Rafika sedikit kesusahan dengan high heels yang dipakainya, tetapi akhirnya dia bisa menyesuaikan diri.
"Elang sini!" panggil Darwin saat Erlangga baru menjejakkan kakinya di sana.
__ADS_1
Erlangga pun mengajak Rafika untuk menemui sahabatnya semasa sekolah dulu. Di sana sudah berkumpul teman-temannya dan juga seorang wanita cantik yang Rafika pernah lihat dalam album foto suaminya.
"Hai Elang, apa kabar? Kata Darwin kamu sudah menikah. Kenapa tidak mengundang kita?" sapa seorang wanita cantik.
"Iya, sudah. Kenalkan ini istriku Rafika," ucap Erlangga dengan memperkenalkan Rafika pada teman-temannya.
Mbak itu kan yang foto bareng dengan A Elang. Meskipun sudah banyak berubah tapi mata, bibir dan tahi lalat yang ada di pipinya masih aku ingat, batin Rafika.
"Apa Calvin juga sudah menikah?" celetuk salah satu teman laki-laki Erlangga.
"Sudah, ini istriku Kiranti." Calvin pun ikut memperkenalkan istrinya.
"Kalian menikah diam-diam semua. Gak satu pun yang mengundang kita. Apa kalian kebobolan?" tanya Bobby, teman Erlangga.
"Aku tidak mau kamu melakukan hal yang tidak baik pada istriku," sengit Erlangga.
"Elah Elang. Itu kan masa lalu. Felisha saja tidak mempermasalahkannya. Iya gak, Fel?"
"Itu hanya masa lalu. Udah gak penting lagi," ucap Felisha dengan terus menyelidik penampilan Rafika.
"Tentu saja, masa lalu hanya cukup untuk dikenang. Tidak perlu diulang kembali," ucap Erlangga dengan menatap mesra Rafika.
"A Elang, aku haus. Antar aku ambil minum yuk!" ajak Rafika dengan nada manja.
"Ayo Sayang! Aa juga haus," sahut Erlangga lembut.
Felisha terus saja melihat ke arah mantan kekasihnya. Dia tidak menyangka sifat cuek Erlangga bisa berubah pada gadis itu. Dia pun hanya tersenyum tipis melihat kepergian Erlangga bersama dengan Rafika.
"Semenjak bersama dengan gadis itu, Elang jadi banyak berubah. Dia sudah tidak se-cuek dan arogan dulu lagi," ucap Darwin seraya menepuk pundak Felisha.
"Aku pikir, masih ada kesempatan untuk kembali sama dia tapi ternyata, dia sangat mencintai istrinya." Felisha tersenyum samar dengan apa yang diucapkannya.
"Tante gak akan bisa merebut Kang Asep dari Fika. Mereka sudah dijodohkan oleh Tuhan. Lebih baik Tante menyerah sebelum lebih terluka lagi karena keinginan Tante tidak tercapai," celetuk Kiranti yang sedari tadi diam.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....