Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 59 Malam Pengantin


__ADS_3

Kedua kakak beradik itu hanya melihat dari jauh tiap prosesi yang Erlangga dan Rafika lakukan. Mereka masih asyik berbincang. Sementara suami Helen sedang menjaga anak mereka yang tidak mau turun kuda renggong.


"Calvin, kamu lihat Kiranti! Apa kamu tidak tertarik untuk mendekatinya? Dia anaknya baik, setia kawan dan tulus. Itu yang bisa kakak simpulkan setelah dekat dengan mereka berdua. Kakak tidak keberatan jika kamu dekat dengan dia. Bukankah kamu selalu ingin bersama Elang. Kalau kamu menikah dengan gadis itu, pasti kalian akan selalu bersama-sama."


"Stop Kak! Gak usah promosi terus. Aku belum memikirkannya sampai ke sana."


"Apa yang kakak kamu katakan ada benarnya. Jika kamu tidak percaya dengan gadis yang sering memanfaatkan kamu, kenapa tidak mencoba dengan gadis desa yang pemikirannya sederhana," timpal ibunya Calvin.


Kedua orang tuanya sudah sering menyuruh putranya untuk mencari pasangan. Mengingat umur Calvin yang sudah mendekati angka tiga. Tentu mereka menginginkan agar anaknya cepat berkeluarga.


"Sudahlah, Bu. Kalau sudah jodoh tidak akan ke mana," kelit Calvin.


"Ish! Kamu tuh selalu saja begitu."


Ibu dan kakaknya terus saja menasehati Calvin. Jarang-jarang mereka bisa bicara lama dengan anak itu. Karena seringnya Calvin beralasan sibuk kerja jika sudah disinggung soal pernikahan. Sampai terdengar suara Rafika yang berbicara di atas pelaminan, membuat mereka mengalihkan perhatiannya.


"Ayo-ayo yang masih jomblo berkumpul depan panggung ya! Fika masih kasih jalan biar kalian cepat menikah."


"Sudah cepat Fika jangan ngomong terus," celetuk salah satu orang yang sudah bersiap untuk menangkap bunga pengantin.


"Sabar dong! Ayo Bang Calvin merapat biar cepat nyusul!"


Mau tidak mau Calvin pun langsung berdiri menghampiri ke arah Rafika dan Erlangga. Daripada dia terus mendengar ceramah ibu dan kakaknya yang bikin kuping panas. Lebih baik dia mengikuti kekonyolan istri sahabatnya.


"Bersiap ya! Satu dua tiga," ucap Rafika membelakangi orang-orang yang menunggunya melemparkan bunga.


"Fika, kenapa bunganya tidak dilempar?" protes semua orang yang ada di sana.


"Belum ya? Ayo A kita lempar bunganya sambil lihat wajah-wajah jones mereka, hehehe ...." Dia dan Erlangga berbalik kembali menghadap wajah-wajah penuh harap itu. Hingga akhirnya dia melemparkan bunga ke arah Calvin tanpa aba-aba lagi.


Grep!


Bunga yang seharusnya ditangkap oleh Calvin sudah diambil lebih dulu oleh Darwin. Laki-laki itu tersenyum menggoda saat melihat tangan Calvin yang masih menggantung di udara.


"Sorry, Bro. Aku duluan nikahnya," ucap Darwin.


"Ambil sana. Gak penting juga," ucap Calvin.

__ADS_1


"Ke atas yuk! Kita kasih ucapan selamat," ajak Darwin.


"Ayo, aku juga belum kasih ucapan selamat."


"Kamu dari tadi di sini ngapain aja?"


"Dengerin ceramah kanjeng ratu. Pusing disuruh cepat-cepat nikah terus. Apalagi melihat Elang sudah menikah, mereka semakin bersemangat menyuruh aku nikah."


Keduanya pun berjalan naik ke atas pelaminan, disambut senyum cerah oleh Erlangga. Dia sangat senang sahabatnya menghadiri pesta pernikahan dia. Meskipun tempatnya jauh dari keramaian kota.


"Selamat, Bro. Samawa ya!" ujar Darwin seraya memeluk Erlangga. "Selamat ya, Fika!" lanjutnya.


"Makasih, Win."


"Makasih, Mas Darwin. Cepat nyusul ya!" ujar Rafika seraya tersenyum.


"Selamat, Elang!" Calvin pun memeluk sahabatnya dengan mata yang berkaca-kaca. Antara bahagia dan sedih jadi satu. Pasti setelah menikah, Elang akan lebih sibuk dengan istrinya, pikir Calvin.


"Thanks, Bro. Kamu selalu ada untuk aku."


"Selamat ya, Fika. Jagain sahabat Abang!"


...***...


Saat pesta belum usai, Rafika dan Erlangga memilih pulang ke rumah. Mereka merasa lelah melihat orang yang berjoged di panggung. Begitupun dengan sahabat dan keluarga Erlangga yang datang. Mereka memilih pulang ke hotel untuk beristirahat.


"Fika, apa kakimu tidak sakit seharian pakai high heels?" tanya Erlangga saat mereka sudah berganti baju.


"Enggaklah, A. Orang gak aku pakai, hehehe ... Apa A Elang gak lihat kalau aku pakai sendal ceplek waktu naik kuda?"


"Enggak, Aa lupa lagi. Fika, tidur yuk! Aa sudah ngantuk," ajak Erlangga seraya menghampiri Rafika yang sedang membereskan baju miliknya di koper kecil.


"Baru jam delapan malam. Masih sore A. Ibu dan yang lainnya juga masih di desa. Pasti mereka sedang joged," ucap Rafika yang menyadari kalau Erlangga sudah berdiri di belakangnya.


"Mumpung mereka gak ada. Kalau ada, nanti kita malu. Kamarnya kan cuma pakai gorden. Gak ada pintunya. Memang kamu belum ngantuk, hm ...?" Erlangga langsung memeluk Rafika dari belakang. Dia meniup tengkuk gadis itu hingga bulu kuduk Rafika berdiri. "Ini kan, malam pengantin kita."


"Maksud Aa? Kita gitu-gituan sekarang?"

__ADS_1


"Hm ... Bukankah kamu sudah beli baju saringan minyak? Kenapa tidak dipakai?"


"Itu, A. Bajunya ketinggalan di apartemen."


Astaga! Kenapa sampai ketinggalan segala?


"Tidak apa, buat nanti kita di sana."


"Lalu, Fika harus gimana A? Fika belum ngerti malam pertama harus ngapain." Jantung Rafika berdetak lebih kencang dari biasanya.


"Kamu tidak harus ngapa-ngapain." Erlangga membalikkan tubuh Rafika agar menghadap ke arahnya. "Semuanya berjalan mengikuti naluri."


Erlangga semakin mendekatkan wajahnya. Jantungnya berirama tidak seperti biasanya. Badannya menghangat menahan hasrat yang menyergap. Dia sedikit memiringkan kepalanya dan mulai menikmati bibir merah jambu yang menjadi candunya.


Keduanya sama-sama terbuai. Menikmati sensasi yang membuat keduanya ingin melakukan hal yang lebih dan lebih lagi. Apalagi, saat tangan Erlangga mulai mengelus titik sensitif Rafika, membuat hasrat gadis itu melambung tinggi.


"Fika, apa boleh Aa memintanya sekarang?" tanya Erlangga dengan napas yang memburu


"Meminta apa A?" tanya Rafika.


"Mendapatkan hak Aa."


"Tapi aku, aku sedang datang bulan," ucap Rafika lirih.


"Tidak apa. Aa mainnya di atasnya saja," ucap Erlangga kembali menyerang Rafika.


Dia kembali mengeksplor seisi rongga mulut Rafika, sehingga terdengar suara decakan dan decapan yang memenuhi kamar Rafika. Tangan Erlangga tidak tinggal diam, dia terus saja memainkan squisy yang masih mangkel itu.


Sungguh libidonya benar-benar naik. Tapi sayang dia tidak bisa menuntaskan hasratnya karena ternyata sang istri sedang palang merah. Hingga akhirnya, dia memilih menjadi seperti bayi yang menempel pada Rafika seraya menikmati buah kembar yang terjaga keasliannya.


Sementara Rafika yang benar-benar sudah mengantuk, membiarkan Erlangga melakukan sesuka hatinya. Dia biarkan suaminya itu terus menempel. Meskipun ada geleyar aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


"Aa, boleh Fika tidur? Aku ngantuk sekali," ucap Rafika.


"Boleh, tapi bajunya jangan dipakai lagi ya." pinta Erlangga.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2