Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 40 Kembali Bersama


__ADS_3

"Stop! Maju selangkah lagi, aku tidak akan segan lagi sama, Bos." Rafika langsung memasang kuda-kuda saat melihat raut wajah Erlangga seperti seekor singa yang kelaparan. Dia sudah bersiap untuk berlari dari Kang Amnesia yang sedang menggodanya.


"Kenapa? Aku hanya ingin dekat dengan kamu," tanya Erlangga dengan tidak menghentikan langkah kakinya.


Seketika Rafika langsung berlari ingin menghindar dari Erlangga yang menatapnya lapar. Namun sepertinya jalan menuju ke ruang depan sudah terhalang oleh laki-laki itu. Rafika pun segera berlari ke balkon belakang. Tentu saja Erlangga segera mengejar gadis itu.


Mereka seperti anak kecil yang sedang bermain kejar-kejaran. Sungguh, Erlangga baru sekarang main kejar-kejaran dengan seorang gadis. Karena biasanya, dia hanya menjadi seorang penonton.


Grep!


Pemuda tampan itu langsung menangkap Rafika saat gadis itu sudah benarkah terpojok. Dia tidak mau melepaskan Rafika, meski gadis itu terus memberontak. Dia malah semakin mengeratkan pelukannya dari belakang.


"Diamlah, Fika! Aku hanya bercanda, kamu jangan takut! Aku tidak akan mengambil sesuatu yang bukan hak aku," seru Erlangga.


Barulah Rafika terdiam mendengar apa yang laki-laki itu katakan. Erlangga tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, dia terus saja memeluk Rafika dari belakang seraya membawa gadis itu ke tepi pagar pembatas.


"Bos, lepas!" pinta Rafika.


"Bukankah kita selalu menikmati waktu senja berdua. Apa kamu tidak ingin melakukannya sekarang bersamaku? Sekarang aku sudah bisa melihat. Meskipun udara di sini tidak sama dengan udara di sana," ucap Erlangga dengan menopangkan dagunya di bahu Rafika.


"Bos ingat?" tebak Rafika.


"Entahlah, semua itu terus hadir dalam mimpiku. Menikmati senja dengan semilir angin yang membelai kulitku bersama dengan seorang gadis yang suaranya terdengar ceria. Kamu tahu, Fika? Mimpi itu terus datang selama empat tahun ini. Setiap hari aku dibuat penasaran dengan si pemilik suara itu," beber Erlangga.


"Apa aku selalu menghantui dalam mimpi, Bos?" Rafika membalikkan badannya untuk memastikan kebenarannya.


"Hm ... Awalnya aku tidak percaya, kalau gadis jorok itu ternyata gadis dalam mimpiku. Tapi semakin aku mengenal kamu, aku semakin tidak ingin jauh dari kamu." Erlangga menyelipkan anak rambut Rafika ke telinga gadis itu.


"Apa perasaan Bos akan sama dengan perasaannya Kang Asep?" tanya Rafika dengan menatap dalam mata laki-laki tampan yang memenuhi hatinya.


"Hati Kang Asep dan hati Erlangga Bramantyo adalah hati yang sama. Meskipun seorang Erlangga terus memungkiri kehadiran kamu, tapi cinta di hati Kang Asep, terus menarik aku untuk bisa bersama kamu."


"Apa Bos merasa terpaksa dekat dengan aku?" tanya Rafika dengan suara yang bergetar.

__ADS_1


"Tidak, aku suka saat dekat dengan gadis jorok aku yang barbar. Fika, mau kan kalau kita memulainya lagi dari awal? Sebagai Erlangga bukan sebagai Kang Asep," tanya Erlangga dengan menatap lekat Rafika.


"Maksud, Bos?"


"Kamu pejamkan mata dulu, nanti aku akan katakan apa maksudku!" suruh Erlangga.


Rafika hanya menurut apa yang laki-laki itu katakan. Dia ingin tahu dengan apa yang akan Erlangga katakan. Mungkinkah laki-laki yang dicintainya itu akan mengucapkan kata-kata cinta atau memberinya sebuah kejutan.


Sepertinya, bukan kata-kata cinta yang Rafika dapatkan tapi sebuah kejutan yang membuat matanya langsung terbuka saat ada benda kenyal yang mengecup bibirnya. Dia ingin bicara, tetapi indera pengecap Erlangga langsung menerobos masuk ke dalam rongga mulut gadis itu.


Rafika yang baru pertama kali merasakan hal yang seperti itu, dia akhirnya hanya diam saja menikmati sensasi yang baru pertama kali dia rasakan. Berbeda dengan Erlangga, laki-laki itu semakin memperdalam pagutannya. Dia tidak ingin melewatkan sesuatu yang membuatnya merasakan sebuah kenikmatan. Sampai akhirnya, Rafika memukul dada Erlangga karena dia merasa kehabisan napas.


"Bos, kamu?" tunjuk Rafika dengan tidak melanjutkannya ucapannya. Dia masih sibuk mengatur napasnya sendiri.


"Yang tadi sebagai tanda kalau mulai hari ini kamu milik Erlangga, bukan Kang Asep lagi. Apa ini pertama kali kamu melakukannya?"


"I-iya!" sahut Rafika dengan menganggukkan kepalanya.


"APA KALIAN SUDAH SELESAI? MAKANANNYA SUDAH SIAP DI MEJA MAKAN," teriak Calvin dari dalam apartemen.


Mendengar teriakkan Calvin, Erlangga hanya tersenyum tipis. Dia yakin kalau sahabatnya itu pasti sudah melihat apa yang dia lakukan bersama dengan Rafika. Berbeda dengan gadis itu yang wajahnya bersemu merah seperti kepiting rebus.


"Bos, apa mungkin Bang Calvin melihat kita?" tanya Rafika cemas.


"Biarkan saja. Ayo kita makan dulu!" ajak Erlangga dengan merangkul pinggang Rafika.


Namun, saat dia teringat kalau baju yang Rafika pakai tidak pantas dilihat oleh laki-laki, dia segera menghentikan langkahnya. Erlangga segera mengambil handuk yang ada di jemuran. Dia pun melilitkan handuk itu ke pinggang Rafika.


"Kamu ganti baju dulu. Jangan memakai baju seperti ini jika Calvin berkunjung ke apartemen!" suruh Erlangga.


"Memang kenapa, Bos?"


Astaga dia tidak mengerti! Aku khilaf karena melihat penampilan dia, batin Erlangga.

__ADS_1


"Aku tidak suka milikku dilihat oleh laki-laki lain."


"Baiklah, Bos! Aku langsung ke kamar buat ganti baju."


"Fika, jangan panggil Bos kalau kita lagi di rumah!"


"Lalu aku harus panggil apa?"


"Panggil saja Aa biar terdengar mesra seperti artis yang mengaku sultan itu," ucap Erlangga dengan tersenyum nakal.


"Baiklah Aa Elang, Neng Fika mau ganti baju dulu."


Calvin dan Kiranti hanya melongo melihat kedatangan kedua orang itu. Mereka tidak menyangka Erlangga akan menggunakan kesempatan untuk mencium Rafika. Saat mereka sedang tidak ada di apartemen. Apalagi melihat Erlangga yang sepertinya begitu rakus melahap bibir Rafika, membuat keduanya hanya bisa menggelengkan kepala.


"Elang, apa kamu sudah balikan dengan Fika?" tanya Calvin saat Rafika sudah pergi ke kamarnya.


"Seperti yang kamu lihat. Rasanya cape juga kalau harus membohongi diri sendiri. Saat semua sudah aku ungkapkan, aku merasa lebih bahagia." Erlangga terus saja tersenyum membayangkan ciumannya bersama dengan Rafika.


"Bos, jangan mempermainkan sahabat aku! Sudah sekali saja dia sakit hati saat melihat Bos bertunangan dengan model cantik itu," seru Kiranti langsung memberi peringatan.


"Aku tidak mempermainkan dia. Sekarang aku baru mengerti, meskipun aku dengan Kang Asep memiliki ingatan yang berbeda tapi hati kami tetap sama. Hati aku sudah memilih Rafika sebagai pendamping hidup aku," jelas Erlangga.


"Lalu bagaimana dengan tunangan, Bos?"


"Itu urusan aku. Kalian cukup bantu aku untuk menjaga Fika."


Bukan aku yang akan menjaga Fika, tapi dia yang selalu menjaga aku. Aku hanya sahabat yang akan selalu setia sama dia dan menghabiskan waktu bersamanya, batin Kiranti.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2