
"Baik, Kek. Tapi mungkin aku tidak bisa ikut sekarang. Karena ada hal penting lian yang harus aku kerjakan," ucap Erlangga.
"Tidak apa. Kakek menunggu waktu senggang kamu. Oh ya, Fika. Kalau bisa jangan ditunda, biar Kakek bisa melihat cicit. Kakek ingin, sebelum Kakek pergi bisa melihat Elang memiliki anak."
Degh!
Rafika hanya tersenyum samar mendengar permintaan kakek mertuanya. Baru saja dia sepakat untuk menunda kehamilannya, ternyata mertuanya menginginkan cicit secepatnya
"Semoga Kakek panjang umur, biar bisa menimang cicit. Aku dan A Elang hanya berusaha . Semoga Allah secepatnya mengabulkan," ucap Rafika.
"Aamiin," ucap Erlangga dan Tuan Ageng kompak.
Erlangga hanya tersenyum tipis mendengar penuturan istrinya. Meskipun dia juga sama dengan kakeknya, ingin segera memiliki anak. Akan tetapi, Erlangga menghargai keinginan istrinya untuk menunda dulu.
"Kalian lanjutkan makannya! Kakek pamit pulang dulu. Elang, jangan lupa ke rumah. Kakek menunggu kedatangan kalian."
"Baik, Kek. Aku pasti pulang ke rumah besar bersama dengan Fika," ucap Erlangga meyakinkan.
Selepas kepergian Tuan Ageng, Rafika langsung melihat ke arah suaminya. Dia menelisik raut wajah Erlangga dengan seksama. Entah apa yang dipikirkan oleh gadis itu. Tapi sepertinya Rafika punya sebuah pemikiran.
"A, apa Elang ingin cepat-cepat punya anak seperti Kakek?" tanya Rafika dengan melihat lekat suaminya.
"Aa punya jawaban yang berbeda. Kamu mau jawaban yang mana dulu?" tanya Erlangga.
"Aku mau yang jujur."
"Aa juga ingin secepatnya punya. Seperti keinginan Kakek. Tapi Aa tidak akan memaksa kamu jika kamu belum siap. Kita jalani saja seperti angin air yang mengalir."
"Ya sudah deh, Fika mau cepat-cepat punya anak. Tapi, harus barengan dengan Kiran. Gimana, setuju gak?"
Setuju sih setuju. Tapi bagaimana caranya agar mereka mau begituan? batin Erlangga.
"Aa malah bengong lagi. Katanya mau ke rumah baru. Yuk berangkat!" ajak Rafika membuyarkan lamunan Erlangga.
Erlangga langsung tersenyum mendengar ajakan istrinya. Dia pun berbisik, "Sekalian kita cicil bikin dede bayi."
Blush!
__ADS_1
Wajah Rafika langsung bersemu merah mendengar godaan dari suaminya. Ingatannya langsung terbang melayang pada kejadian kemarin saat pertama kali mereka melakukannya. Erlangga hampir kelelahan karena dia tidak bisa-bisa memasukkan pedang saktinya ke sarang Rafika sampai laki-laki itu memilih untuk beristirahat dulu sejenak. Namun, setelah dicoba lagi, akhirnya Erlangga bisa membobol gawang dengan sukses.
"Kalian mau ke mana?" tanya Helen saat mereka berpapasan di pintu keluar.
"Kita mau pulang dulu, Kak."
"Sebentar! Usaha kita belum sukses kalau mereka belum malam pertama," ucap Helen.
"Lalu, harus bagaimana lagi, Mbak?" tanya Rafika bingung.
"Nanti kamu teteskan sedikit saja ke minuman Calvin sama Kiran. Ingat sedikit saja!" pesan Helen.
"Lalu, habis itu bagaimana lagi?" Rafika begitu antusias mendengarkan arahan dari Helen.
"Nanti kalian tinggalkan mereka berdua. Ingat, hanya berdua. Tidak boleh ditemani." Lagi-lagi Helen mewanti-wanti keduanya.
"Iya, Kak Helen. Sudah biar Aa saja yang simpan. Kami pergi dulu, Kak." Erlangga langsung mengambil botol kecil yang diberikan oleh Helen dan menyimpannya dikantong jas.
Dia pun langsung menarik tangan Rafika agar segera mengikutinya. Sementara Helen hanya menggelengkan kepala melihat sahabat adiknya. Erlangga dan Calvin memang selalu saling menjaga. Mereka tidak akan membiarkan ada orang yang mengerjai salah satunya.
"A, kenapa kaya gak suka sama Kak Helen?" tanya Rafika saat mereka sudah dalam perjalanan menuju ke rumah baru.
"Kenapa saling menyakiti?"
"Fika, Calvin dan Kiran sama-sama tidak saling mencintai. Ditambah lagi mantannya Kiran masih suka mengganggu."
"Tapi aku yakin, mereka akan saling mencintai.
Setelah perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka sampai di rumah barunya. Terlihat halaman rumah yang nampak asli. Meskipun tidak luas tapi cukup untuk menyimpan dua mobil.
Erlangga langsung membawa Rafika masuk ke dalam rumah. Tercium bau cat yang masih menyengat saat pertama kali menginjakkan kaki ke dalam rumah. Rafika terus mengedarkan pandangannya, melihat interior rumah yang memanjakan matanya.
"A, rumahnya bagus sekali. Aku pasti betah tinggal di sini. Ayo A kita cepat-cepat pindah ke sini!" ajak Rafika dengan tidak sabaran.
"Ayo! Aa juga sudah ingin pindah ke sini. Bagaimana kalau kita coba dulu sofanya sebelum orang lain mencobanya." Erlangga langsung menarik tangan Rafika dan membawa gadis itu duduk di pangkuannya.
"A, apa kita?"
__ADS_1
Erlangga tidak menjawab pertanyaan Rafika. Dia langsung membungkam mulut istrinya dengan bibir sensualnya. Pertautan bibir yang menggairahkan itu membuat kedua melupakan segalanya. Sampai-sampai baju keduanya berserakan di lantai.
...***...
Keesokan harinya, Erlangga terlihat begitu bersemangat. Badan terasa lebih segar setelah menggempur istrinya dengan berbagai macam gaya. Berbeda dengan Rafika yang terlihat kelelahan. Gadis itu memilih tidur kembali setelah dia menunaikan kewajibannya kepada Sang Pencipta.
"Sayang, masih ngantuk? Aa mau berangkat kerja dulu. Kalau lelah, istirahat saja. Nanti Aa suruh orang untuk mengantarkan makanan ke sini," ucap Erlangga dengan membelai lembut rambut panjang istrinya.
"Aku cape, A. Mau tidur saja. Tapi baju-baju sudah ada di sini?"
"Ini sebagian barang-barang yang dibawa dari rumah besar waktu itu. Mungkin nanti juga ada orang yang datang untuk membersihkan rumah," ucap Erlangga seraya mengancingkan lengan bajunya.
"Oh. Gak apa kan, Aa ke kantor sendiri?"
"Gak apa Sayang. Aa juga gak lama kho di sana. Paling setelah makan siang, Aa kembali ke sini. Aa berangkat ya!" pamit Erlangga seraya mencium kening istrinya.
Dia pun langsung berlalu pergi meninggalkan gadis itu sendiri. Kedua sudut bibirnya terus saja terangkat mengingat kejadian semalam. Erlangga benar-benar merasa bahagia bisa bersama dengan gadis yang dicintainya.
"Saat tiba di kantor, dia langsung menuju ke ruangannya. Namun, dia sangat terkejut melihat Caithlyn sedang menunggu kedatangannya di ruang tunggu khusus tamu. Gadis itu terlihat berantakan dengan mata yang sembab. Saat melihat Erlangga, Caithlyn langsung memeluk mantan tunangannya.
"Cai, kamu kenapa? Kenapa kamu berantakan sekali?" tanya Erlangga kaget.
"Kak Elang, tolong aku! Aku-aku-aku hamil," ucap Caithlyn dengan menangis terisak.
"Siapa yang telah menghamili kamu? Karena aku belum pernah menyentuh kamu."
"Leon. Dia tidak mau tanggung jawab dan menyuruh aku menggugurkan anak ini."
"Apa? Leon? Bukankah kalian bersaudara? Bagaimana bisa?"
"Maka dari itu, Leon tidak mau menikah dengan aku. Ku mohon Kak, nikahi aku! Aku tidak mau menggugurkan anakku."
"Aku tidak bisa, Cai. Tapi aku akan membantu kamu mendapatkan keadilan."
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih!...