
Selesai Rafika diperiksa oleh dokter. Kini Giliran Kiranti dan Calvin yang diperiksa. Mereka menjalani serangkaian test untuk mengetahui kesuburannya. Saat keduanya dinyatakan dalam keadaan subur, mereka pun berpamitan pulang karena memang sedang ditunggu oleh pekerjaan di kantor.
Elang dan Calvin kembali sibuk dengan pekerjaannya. Sementara Rafika dan Kiranti memilih untuk tinggal di penthouse. Kedua sahabat itu terlihat asyik menikmati hari tanpa kerja. Hanya nonton bareng drama dari negeri ginseng.
"Fika, aku betah banget tinggal di sini. Seperti ada dalam dongeng negeri di atas awan."
"Aku juga betah tinggal di sini. Tapi nanti gak punya tetangga. Gak bisa godain mang Udin sama Bi Surti."
"Dasar kamu tuh, orang tua saja digodain."
"Habisnya seru. Apalagi kalau Bi Surti kaget, keluar semua itu latahnya."
"Nanti kamu gak boleh goda-godain orang lagi. Apalagi ngetawain orang, pamali."
"Pamali hukumnya apa?"
"Aku gak tahu tapi lebih baik kamu hindari karena kalau kamu menabraknya, akan berakibat kurang baik. Apalagi, sekarang kamu sedang hamil, harus bisa menjaga sikap."
"Kamu udah seperti emak-emak aja. Pasti nanti banyak pantangan. Gak boleh ini gak boleh itu." Rafika mencebikan bibirnya menanggapi ucapan sahabatnya yang menurut dia pemikirannya kolot.
"Dasar Fika, dibilangin gak mau dengar. Udah yang penting kamu jangan suka ngetawain orang. Mau lagi hamil atau tidak, ngetawain orang kan tidak baik."
"Iya Mami Kiran."
Keduanya terus saja berdebat yang tidak penting dengan tangan dan mulut yang tidak berhenti menggiling makanan. Sampai-sampai rumah yang tadinya rapi kini terlihat banyak bungkus makanan ringan di atas meja.
Saat jam makan siang tiba, suami-suami sayang istri kembali ke penthouse untuk melihat keadaan istri-istri mereka. Keduanya mematung diambang pintu melihat apa yang terjadi di dalam rumah. Calvin menarik napas dalam melihat kelakuan istri dan sahabatnya. Sementara Erlangga hanya tersenyum tipis.
Astaga! Rumah yang biasanya terlihat rapi, kini jadi kacau balau begini, batin Calvin dengan mengusap dadanya sendiri.
Ada-ada saja kelakuan mereka. Tapi mereka yang seperti itu, yang membuat aku kangen. Hidupku terlalu sempurna dengan semua hal yang aku miliki, sampai aku tidak membutuhkan kesempurnaan itu ada pada diri istriku. Seperti apapun kamu, Aa akan selalu menerima kamu Fika. Karena hanya kamu yang bisa membuat hati Aa merasa tenang, batin Erlangga.
Setelah puas melihat kedua sahabat itu saling berebut makanan, Erlangga dan Calvin pun menghampiri mereka. Tanpa malu, Erlangga mengecup singkat bibir Rafika sebelum dia mendudukkan bokongnya di samping istrinya yang sedang duduk di karpet bulu.
__ADS_1
"Anak Papi masih lapar tidak?" tanya Erlangga dengan mencium perut rata Rafika
"Lapar, Papi. Dede mau makan bakso bom," ucap Rafika dengan menirukan suara anak kecil.
"Jangan makan bakso dulu. Makan nasi dulu ya, nanti Papi yang suapi."
"Mau mau ... Kalau Aa yang suapi rasanya enak sekali." Kedua mata Rafika mendadak berbinar saat mendengar Erlangga yang akan menyuapi makannya. Entah kenapa, dia merasa sangat suka jika disuapi oleh suaminya.
Tidak lama kemudian, datang Felisha dan OB yang membawa banyak makanan untuk makan siang mereka. Sebelum OB itu menyajikan makanan, dia terlebih dahulu membuang sampah bekas Rafika dan Kiran. Sementara Felisha merasa tidak percaya saat Erlangga hanya bersikap biasa saja.
"Mbak Felisha, ayo kita makan siang bersama!" ajak Rafika.
"Tidak usah, terima kasih. Aku sudah ada janji dengan teman," tolak Felisha halus.
Mana mau dia melihat kemesraan mantan kekasihnya dengan wanita lain. Sementara dia tidak bahagia dalam pernikahannya. Terkadang ada rasa sesal menyelinap di relung hatinya, karena dulu dia yang sengaja meninggalkan Erlangga dengan berbagai alasan demi mengejar laki-laki yang dicintainya.
"Sayang sekali. Padahal ini juga makanannya banyak loh, Mbak!" sesal Rafika.
"Hahaha ... Iya sih. Kamu tahu aja."
"Sayang, tawanya dipelankan sedikit ya!" ujar Erlangga dengan nada lembut.
Astaga! Apa yang Erlangga sukai dari gadis itu. Kelihatan sekali kalau dia itu bar-bar. Kenapa selera Elang berubah? Dia kan sukanya sama cewek feminim yang terlihat anggun, batin Felisha.
Tidak lama kemudian, OB pun sudah selesai mengerjakan tugasnya, membersihkan penthouse yang berantakan. Sampai saat ruangannya kembali bersih, Felisha dan OB itu berpamitan untuk turun ke bawah Meninggalkan dua pasang suami.
"Maaf, Bos. Saya permisi," pamit OB itu.
"Elang, aku juga turun ke bawah ya!" Felisha ikut berpamitan pada Erlangga dan yang lainnya.
"Oh, iya. Terima kasih sudah disiapkan," ucap Erlangga.
"Sama-sama."
__ADS_1
Selepas kepergian Felisha, mereka pun langsung menyantap makanan yang tersedia. Lagi-lagi Rafika seperti orang kelaparan. Dia dengan cepat menghabiskan makanannya. Sampai, akhirnya semua makanan habis tak bersisa.
"Sayang, makannya belepotan." Erlangga membersihkan sisa makanan di sudut bibir Rafika.
"Terima kasih, Papi."
...***...
Setelah hari itu, hubungan Erlangga dan Rafika semakin lengket. Erlangga tidak pernah mempermasalahkan kemanjaan istrinya. Justru dia senang melihat Rafika sangat bergantung padanya. Berarti gadis itu benar-benar mencintainya dan tidak mungkin meninggalkannya.
Begitupun dengan Calvin dan Kiran, yang makin bersemangat membuat adonan. Agar bisa secepatnya menyusul Rafika dan Erlangga. Keduanya sama-sama berharap agar secepatnya memiliki momongan. Seperti malam ini, saat Calvin sudah memberikan kodenya, tetapi keinginannya tidak dapat terpenuhi.
"Kiran, kita coba lagi yuk!" ajak Calvin memberi kode pada Kiranti.
"Gak bisa, Bang. Aku lagi PMS," ucap Kiran sendu.
"Tidak apa. Sini duduk dekat Abang!" Calvin menarik tangan Kiranti dan membawa istrinya agara duduk di pangkuannya.
"Kita masih punya banyak waktu untuk terus berusaha. Jangan sedih gitu dong! Mungkin Allah memberi kita kesempatan untuk saling mengenal dulu, saling jatuh cinta dulu."
"Apa Abang mencintai aku? Bilang cinta saja belum pernah." Kiranti menundukkan kepalanya. dengan tangan saling bertautan.
"Apa harus dikatakan ya? Abang pikir, kamu sudah mengerti karena kita sudah saling menyerahkan diri seutuhnya." Calvin menatap lekat Kiranti yang ada di pangkuannya.
"Kalau tidak dikatakan, mana mungkin orang mengerti dengan perasaan kita."
"Begitu ya! Maaf, Abang kurang paham cara orang berpacaran." Calvin tersenyum manis dengan melihat ke dalam mata Kiranti. "Baiklah, Kiranti Wulandari, maukah saling mengikat janji denganku, seorang pria biasa yang tidak memiliki apapun untuk dibanggakan, selain cinta yang tulus kepadamu."
Kiranti tidak menjawab pertanyaan suaminya. Dia hanya balik menatap ke dalam mata Calvin. Mencari kebenaran dengan apa yang suaminya katakan. Saat dia yakin kalau apa yang Calvin katakan itu jujur dari hati lelaki itu, barulah sia menganggukkan kepalanya.
"Aku mau, Bang."
...~Bersambung~...
__ADS_1