Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 24 Mungkinkah dia?


__ADS_3

Ruangan CEO yang sudah bersih, Rafika kembali bersihkan hanya dengan menggunakan kemoceng untuk mengusir debu yang menempel. Namun, baru saja dia membersihkan meja kerja Erlangga, mendadak perutnya merasa sakit. Dia langsung masuk begitu saja pada sebuah pintu yang ada di pinggir kaca jendela. Rafika pikir itu pintu toilet yang ada di ruangan Erlangga.


Gadis itu merasa lega saat semua sampah di perutnya sudah berhasil dia keluarkan. Setelah dia membersihkan semuanya, Rafika pun kembali ke ruangan Erlangga. Betapa kagetnya gadis itu, saat berpapasan di depan pintu toilet dengan Erlangga yang hanya memakai handuk di pinggangnya.


Lama gak ketemu, badannya semakin besar dan berotot. Dulu kotak-kotak itu tidak begitu terlihat jelas, batin Rafika dengan mata yang tidak berkedip.


"Lihat apa kamu? Ngapain juga kamu di sini?" sentak Erlangga yang juga kaget melihat Rafika ada di kamar mandi ruangannya. Semalam dia sengaja kembali ke pabrik barunya saat pemuda tampan itu tidak bisa memejamkan matanya. Dia memilih menginap di pabrik barunya.


"Numpang kamar mandi, Pak. Perut aku sakit. Tapi sekarang sudah mendingan kho. Bapak tidak usah khawatir, aku pasti bisa bekerja dengan baik. Permisi, Pak!" cerocos Rafika.


Gadis itu berniat untuk segera pergi dari sana. Bagaimanapun juga, suasana seperti itu akan membuat orang lain salah paham, jika ada yang melihatnya dan tidak tahu awal mulanya seperti apa. Namun, saat Rafika akan pergi dari sana dan melewati Erlangga, pemuda itu langsung memegang kerah Rafika dan menahan gadis itu agar tidak pergi dari sana.


"Kamu tidak bisa pergi begitu saja dari sini. Kamu tahu, ini kamar pribadi CEO. Tidak seorangpun diperbolehkan masuk tanpa seijin aku. Tapi kamu, tanpa permisi memakai toilet aku."


"Hehehe ... Iya, Pak aku salah. Maaf deh, Pak! Tadi urgent soalnya, Pak. Panggilan alamnya mendesak," kilah Rafika. "Apa Bapak mau aku mandikan? Ayo Pak, aku mandikan! Nanti aku mandikan Bapak seperti aku mandikan si jangkung."


Apa katanya? Dia pernah mandiin cowok juga, batin Erlangga.


"Siapa si Jangkung?" tanya Erlangga penasaran.


"Ayam pelung aki, Hahaha ...." Rafika langsung tertawa dan kabur dari sana saat cengkeraman tangan Erlangga di kerahnya mengendur. Dia langsung keluar dari ruangan CEO dan tidak melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai.


Sepanjang perjalanan menuju ke kantin, Rafika terus saja tertawa cekikikan. Membayangkan wajah Erlangga yang cengo karena jawabannya. Dia pun segera menghampiri Kiranti yang sedang duduk bersama temannya yang kemarin lulus test interview.

__ADS_1


"Kamu kenapa Fika? Sepertinya senang banget," tanya Selvi saat Rafika sudah duduk di samping Kiranti


"Iya, dong! Hidup itu harus enjoy, jangan dibikin susah. Karena tanpa kita bikin susah pun, hidup ini sudah susah," jawab Rafika asal.


"Aku tuh heran, kenapa orang kayak kalian bisa lolos interview. Padahal dari penampilan apalagi pengalaman kalian tuh jauh banget dari kriteria," sinis Selvi.


Kiranti yang sedang makan langsung menghentikan makanannya. Dia melihat ke arah Selvi sekilas dan kembali asyik memakan makanannya. Berbeda dengan Rafika yang langsung tersulut dengan ucapan Selvi. Dia pun langsung membalas ucapan pedas dari calon teman kerjanya.


"Mbak'e gak usah pusing mikirin hidup orang. Lebih baik Mbak yang cantik jelita ini memikirkan plan marketing seperti apa yang akan Mbak jalankan biar mendapatkan profit yang besar. Kalau kita sih sudah punya plan marketing dan HRD serta yang kemarin test kita sudah tahu, progam seperti apa yang akan kita jalankan. Benar gak Kiran?" sarkas Rafika.


"Huum, daripada banyak cingcong, lebih baik kerja ya Cong!" jawab Kiranti cuek. Dia malas jika harus ribut dengan Selvi yang sepertinya tidak suka dengannya.


"Sudah sudah. Mending masuk yuk! Sepuluh menit lagi sudah jam masuk kerja," ucap Rio, teman baru Kiranti.


"Iya bener, kita duluan ya!" timpal Gery seraya bangun dari duduknya.


"Udah yuk, kita juga ke sana!" ajak Kiranti kemudian. Lalu dia pun beranjak pergi dari kantin.


"Kiran tapi aku takut, tadi habis ngerjain Kang Amnesia," ucap Rafika pelan seraya mengekor pada Kiranti.


"Sejak kapan kamu jadi penakut? Kayak bukan Rafika yang aku kenal saja."


"Masalahnya, aku takut dia membalas aku dengan kekuasaan dia. Bisa berabe ntar," keluh Rafika lagi.

__ADS_1


"Kamu tinggal cium aja. Pasti dia diem, bukankah dulu kalian gak jadi ciuman karena aku datang."


"Mana ada seperti itu."


"Halah, emangnya aku gak lihat bibir monyong kamu dengan Kang Asep sudah pada nempel. Untung saja aku yang datang, coba kalau Pak Hansip, bisa langsung dikawinin kalian. Messum kho di bawah pohon asem, di pinggir sungai lagi. Mending kalau kayak sungai Han di Korea. Lah ini di pinggir sungai Cihaur yang banyak ular ijo-nya." Kiranti terus saja meledek sahabatnya.


"Sudah akh, jangan ingetin yang itu. Aku suka pengen nangis kalau inget Kang Asep."


Keduanya terus saja berbincang sampai tidak menyadari kalau ada orang yang tanpa sengaja mendengarkan pembicaraan mereka. Orang itu langsung saja mengaktifkan ponsel lamanya yang sengaja dia bawa karena ingin menghilangkan rasa penasarannya. Apalagi, Erlangga memberi dia tugas untuk menyelidiki gadis itu.


Kenapa aku semakin merasa, kalau Rafika itu gadis kecil yang sudah menolong Elang. Kalau memang benar, apa yang harus aku lakukan? Bagaimana kalau Tuan besar tahu jika gadis kecil itu bekerja di perusahaan Elang. Aku pusing, siapa yang harus aku ikuti perintahnya, batin Calvin.


Dia terus berjalan menuju ke ruangan Erlangga. Saat sampai di sana, terlihat Erlangga sudah fokus dengan pekerjaannya. Laki-laki itu sampai tidak menyadari kalau Calvin sudah berada di sana.


"Sarapan dulu, Bos! Jam berapa kamu kembali ke sini? tanya Calvin seraya mendudukkan bokongnya di sofa.


"Jam satu pagi. Aku tidak bisa tidur, makanya aku ke sini lebih awal," jawab Erlangga seraya beranjak menghampiri Calvin.


"Bukan lebih awal Elang. Tapi kamu memang sengaja nginap di sini."


"Suara gadis itu terus saja terngiang-ngiang di telingaku. Makanya aku kembali ke sini. Aku penasaran dengan resume dia. Calvin, kenapa aku merasa kalau gadis jorok itu, sama dengan gadis yang ada dalam mimpiku. Tadi aku berpapasan sangat dekat sekali dengan dia. Aroma tubuhnya itu, sama dengan aroma yang selama ini membuat aku bisa tertidur pulas."


"Maksud kamu, bau minyak kayu putih? Ck! Kamu tuh terlalu mengada-ada. Semua orang juga bisa beli minyak kayu putih. Apalagi harganya yang terjangkau. Jadi bukan hanya gadis yang ada di dalam mimpi kamu yang bisa pakai, tetapi orang lain juga bisa."

__ADS_1


Benar juga apa yang Calvin katakan. Tapi tadi saat jarak aku dengan dia sangat begitu dekat, aku merasa tenang mencium aroma tubuhnya. Mungkinkah gadis itu, gadis yang selama ini menghantui aku?


...~Bersambung~...


__ADS_2