
Sepertinya acara gathering ini sudah dipersiapkan dengan matang oleh Erlangga. Dia sengaja memilih untuk tinggal di villa bersama sahabatnya. Hanya saat acara pesta dansa saja dia datang ke resort untuk membuka acara gathering perusahaan.
Sementara Rafika dan Kiranti, tinggal di resort selama keluarga Erlangga masih ada di sana. Agar tidak mengundang kecurigaan semua orang. Kedua gadis itu sudah berdandan dengan cantik. Meskipun awalnya Rafika menolak, tapi akhirnya dia menurut juga saat MUA yang dikirim Erlangga ke resort datang untuk mendandani gadis itu.
"Kiran, kenapa wajahku jadi aneh begini?" tanya Rafika saat dia bercermin.
"Aneh bagaimana? Kamu cantik banget padahal make-up tipis. Gaunnya juga indah sekali. Memang beda ya kalau jadi pacarnya Pak Bos," cerocos Kiranti dengan menilik penampilan sahabatnya.
"Apaan kayak kamu enggak saja. Lihat saja gaun kamu juga bagus. Apa kamu pacarnya Pak Bos juga? Jangan-jangan kamu malah pacaran dengan Bos Besar lagi. Wah, kamu jadi nenekku Kiran. Hahaha ...."
Pletak!
Kiranti langsung menyentil sahabatnya. Masa iya dia harus pacaran dengan kakek-kakek. Udah gitu orangnya menyeramkan lagi.
"Sakit dodol. Awas loh aku bilangin Kang Asep, biar kamu dimutasi ke Eastern."
"Jangan dong, Fika. Nanti aku jadi anak desa lagi, bukan anak kota," mohon Kiranti. Kalau dia pindah ke Eastern sudah pasti ibunya akan menyuruh dia untuk tinggal di rumah. Setelah itu, keluarganya pasti menyuruh dia untuk cepat-cepat menikah.
"Makanya gak boleh galak sama aku," ucap Rafika dengan tersenyum senang.
"Udah yuk! Di jadwal, kan jam delapan malam kita harus kumpul di ruang serbaguna yang dekat kolam renang," ajak Kiranti.
Kedua gadis itu pun langsung menuju ke tempat acara. Mereka menjadi pusat perhatian karena gaun yang kedua gadis itu pakai limited edition, sedangkan para staff di Rivers tahu kalau kedua gadis itu belum lama bekerja di perusahaan.
"Fika, Kiran, kalian beda banget. Gak nyangka anak didik aku bisa secantik ini. Kayaknya tunangan Pak Bos kesalip sama kalian," puji Helen yang datang bersama dengan suaminya.
"Iya, Mbak Helen. Mereka seperti cinderella. Cantiknya hanya semalam. Setelah itu jadi upik abu lagi," cibir Selvi yang berdiri tidak jauh dari Helen.
"Ngiri ya, Bos. Kasian deh lu!" balas Rafika.
"Fika, kita harus anggun. Biarin aja dia mau hilang apa, jangan dibalas. Malu sama gaun yang bagus kalau kamu jadi barbar," bisik Kiranti.
__ADS_1
"Ck! Aku aja gak suka pakai baju kayak gini." Rafika berdecak sebal menanggapi ucapan sahabatnya.
Riuh hadirin seketika senyap saat acara sudah dimulai oleh MC. Terlihat di depan sana, pemilik perusahaan dan petinggi perusahaan berjejer rapi. Acara gathering sekaligus ulang tahun perusahaan diawali dengan pelepasan balon ke udara dan kembang api.
Namun, sepertinya suasana hati Rafika mendadak tidak bagus. Wajahnya jadi muram saat melihat Caithlyn bergelayut manja di lengan kekar kekasihnya. Apalagi setelah acara kembang api itu, Erlangga dan Caithlyn berdansa sebagai pembuka acara pesta dansa.
Saat semua orang mulai menikmati acara pesta, dia justru menyelinap ke luar ruangan serbaguna. Dia berjalan sendiri menyusuri kolam renang yang ada di depan ruang dansa itu. Sampai akhirnya ada seorang laki-laki yang menyapanya.
"Hai Cantik, kenapa sendirian? Mau tidak jadi pasangan dansa aku?" tanya Leon, adik tirinya Erlangga.
"Maaf, aku tidak berminat."
"Ayolah Cantik! Tidak baik loh gadis cantik sendirian," rayu Leon.
"Jangan ganggu aku! Pergi sana!" usir Rafika.
"Wow, menarik sekali, cantik-cantik tapi galak. Aku jadi penasaran." Bukannya pergi, cassanova itu malah tergelak dengan pengusiran Rafika.
"Fika, kamu dari mana?" tanya Kiranti saat melihat Rafika baru datang.
"Cari angin. Kiran pestanya udahan, kan? Ayo kita ke kamar! Aku baru saja mendorong cowok ke kolam renang," jawab Rafika pelan.
"Ya udah yuk! Aku juga gak suka pesta seperti ini."
Kedua gadis itu langsung pergi dari ruang serbaguna. Namun saat tiba di dekat kolam renang, mereka berpapasan dengan Caithlyn yang entah mau ke mana. Model cantik itu seperti tergesa. Tapi saat melihat Rafika, dia langsung menghentikan langkahnya.
"Kamu, kan yang mendorong Leon. Aku melihatnya saat kamu berlari. Gara-gara kamu, asmanya kambuh. Kamu tahu, Leon tidak boleh kedinginan," sentak Caithlyn.
"Maaf, Nona. Anda salah orang. Aku tidak kenal dengan Leon," kelit Rafika.
"Halah, kamu pintar sekali ngeles. Memangnya aku tidak melihat apa yang terjadi? Bukannya bertanggung jawab, kamu malah lari ke dalam gedung." Caithlyn mendorong bahu Rafika.
__ADS_1
"Aku tidak mendorongnya, dia terhempas karena memaksa aku untuk ikut dengannya."
Caithlyn yang merasa kesal pada Rafika, berniat untuk mendorong gadis itu agar jatuh ke kolam. Tetapi Rafika dengan sigap menarik gadis itu agar jatuh bersamanya, saat sudut matanya melihat Erlangga menuju ke arahnya. Dia ingin tahu siapa yang akan ditolong oleh kekasihnya itu.
Byur!
Rafika langsung menahan pernapasannya. hingga dia sampai di dasar kolam. Terdengar jelas olehnya ada suara orang yang menyusul masuk ke kolam dan suara teriakan Kiranti yang kaget. Akan tetapi, setelah lebih dari lima menit dia berada di dasar kolam. Tidak ada seorang pun yang datang menolongnya. Akhirnya dia pun memutuskan untuk kembali ke permukaan.
Terlihat di sana, Caithlyn sedang memeluk Erlangga. Rafika hanya tersenyum kecut seraya naik ke atas kolam. Dia langsung dihampiri oleh Kiranti dan langsung pergi dari sana.
"Fika, ganti baju saja yuk!" ajak Kiranti yang mengerti kekecewaan hati sahabatnya.
Kedua sahabat itu pergi menjauh dari sana. Bukan hanya Rafika yang kecewa, tetapi Kiranti pun sama. Dia pikir Erlangga akan menolong Rafika saat laki-laki itu berlari dan langsung terjun ke kolam, ternyata Erlangga menolong Caithlyn terlebih dahulu.
Malam semakin larut, pesta dansa belum berakhir. Tetapi Rafika dan Kiranti memilih untuk tidur setelah membersihkan dirinya. Kedua sahabat itu saling berdiam diri. Menetralkan kekecewaan yang mereka rasakan.
"Kiran, apa sebaiknya aku mundur saja. Aku memang salah, sudah berdiri di antar mereka. Ditambah dengan kejadian ini tadi, pasti semua orang menyalahkan aku karena penyakit Leon kambuh."
"Memang kenapa kamu bisa mendorong dia?"
"Aku tidak mendorongnya."
Rafika pun menceritakan apa yang terjadi sebenarnya. Tidak ada yang dikurang ataupun dilebihkan. Sampai akhirnya terdengar suara pintu ada yang mengetuk dari luar. Dia pun bergegas untuk membukakan pintu.
"Permisi, Mbak. Ini ada kiriman untuk Mbak Rafika. Silakan ditanda tangani dulu," ucap seorang lelaki dengan membawa dua paper bag di tangannya.
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1