Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 45 Menguntit


__ADS_3

Mentari sudah menampakkan sinarnya, burung-burung pun bernyanyi dengan riangnya. Nampak di sebuah kamar dengan balkon yang menghadap langsung ke laut lepas, seorang pemuda sedang mengerjapkan matanya.


Erlangga yang baru bangun dari tidurnya, langsung mencari keberadaan Rafika. Sebelah tangannya terus saja meraba sisi tempat tidur di sampingnya. Akan tetapi, apa yang dia cari tidak ditemukannya. Dia langsung bangun dan terduduk dengan mata yang memicing, menyesuaikan dengan cahaya yang masuk lewat celah jendela.


"Fika! Fika! Fika kamu di mana?" tanya Erlangga dengan suara cukup keras.


Merasa tidak mendapatkan jawaban dari orang yang dipanggilnya, Erlangga pun segera turun dari tempat tidurnya. Dia mencari Rafika Ke kamar mandi tetapi tidak ada. Mencari ke balkon, juga tidak ada. Dia segera berlari ke luar kamar, mencari ke segala penjuru villa, tetap saja nihil. Erlangga terus saja mencari Rafika seraya memanggil nama gadis itu seperti anak ayam yang kehilangan induknya.


"Elang, kamu kenapa? Masih pagi udah ribut," tanya Darwin yang terganggu tidurnya dengan suara teriakan Erlangga.


"Fika, Win. Dia hilang," ucap Erlangga cemas.


"Apa katamu? Hilang? Dia kan tidur di resort bukan di sini," tanya Darwin bingung.


"Semalam aku membawanya ke sini. Calvin mana Calvin?"


"Aku gak tahu. Sudahlah aku mau mandi. Sebentar lagi mereka berangkat."


"Mereka? Maksud kamu? Apa Fika pulang duluan ke Cikarang?" tanya Erlangga kaget.


"Mungkin saja. Hati perempuan rapuh, Elang. Seperti ranting yang mudah patah. Meskipun mereka selalu terlihat kuat di luar tapi tetap saja, perempuan itu lebih memakai perasaannya daripada logikanya. Berbeda dengan kita yang kebalikannya. Apa kamu pikir, gadis itu akan percaya semua penjelasan kamu dengan apa yang terjadi semalam? Aku rasa, kamu harus berjuang lagi," sarkas Darwin.


Dia memutar badan untuk kembali masuk ke kamarnya. Akan tetapi, Erlangga segera mencekal tangan sahabatnya. "Tunggu dulu! Bantu cari Fika dulu."


"Aku mau mandi dulu, Elang. Kamu juga mandi saja dulu. Nanti aku bantu cari dia setelah mandi," suruh Darwin.


"Oke aku mandi dulu. Tapi kamu harus janji, bantu cari Fika. Kalau tidak, akan aku potong gaji kamu," ancam Erlangga kemudian berlalu pergi.

__ADS_1


Dasar abegeh tua! Ditinggal gadis itu saja kelimpungan, umpat Darwin dalam hati.


Sementara di tempat yang berbeda, Rafika dan Kiranti sudah berada di dalam bus. Dia terus saja celingukan, khawatir Erlangga menyusulnya. Rafika sengaja menyelinap pulang pas dini hari tadi. Dia terpaksa memanggil leluhurnya untuk menolong dia agar bisa kembali ke resort saat Erlangga sedang tertidur pulas.


"Fika, kenapa kita berpakaian seperti ini? Kita kan mau jalan-jalan tapi malah pakai sweater pakai topi pakai masker pula," tanya Kiranti.


"Biar aman, kamu mau acara jalan-jalan kita batal karena Bos Edan itu? Masa dia menotok aku dan menahan di kamarnya. Aku tidak bisa apa-apa kalau sudah kena totokan dia. Aku gak nyangka kalau dia punya ilmu kayak gitu. Yang lebih parah lagi, dia mau jadikan aku Shepia," gerutu Rafika dengan mengerucutkan bibirnya.


"Bukankah selama ini kamu Shepia dia? Tapi lebih baik kamu menghindar saja, Fika. Aku masih sakit hati dengan apa yang aku lihat semalam."


"Makanya aku ngajak kamu nyamar. Keren, kan?"


"Boleh juga sih. Anggap saja kita artis K-Pop yang sedang menghindari para fans, hehehe ...." Kiranti cekikikan sendiri dengan apa yang dipikirkannya.


Kedua sahabat itu terus saja cekikikan membicarakan hal-hal konyol yang akan Erlangga lakukan jika laki-laki itu menemukan mereka. Sampai akhirnya mereka berhenti tertawa saat melihat sebuah mobil sports masuk ke parkiran resort. Jantung kedua gadis itu langsung berpacu lebih cepat dari biasanya. Apalagi saat melihat Erlangga keluar dari mobil dengan wajah yang tegang. Beruntung laki-laki itu langsung berjalan cepat menuju ke dalam resort.


"Fika, kita aman. Mobilnya sudah disuruh jalan," ucap Kiranti.


"Syukurlah!" Rafika membuka matanya dan bernapas dengan lega.


Akhirnya kedua gadis itu bisa bersenang-senang dengan teman kerja mereka di Rivers, mengunjungi semua tempat wisata yang menjadi destinasi awal. Tanpa mereka tahu, semua yang kedua gadis itu lakukan tidak lepas dari pengamatan Erlangga.


Laki-laki tampan itu terpaksa menjadi penguntit, setelah mendapatkan ceramah dari Darwin dan Calvin. Erlangga memilih untuk mengalah dan membiarkan gadis itu bersenang-senang dengan temannya. Dia tidak mau, saat dia semakin mengekang Rafika, gadis itu akan kabur lagi.


"Ternyata begini rasanya mencintai orang dalam diam. Kita hanya bisa melihat dari jauh orang itu bahagia bersama orang lain," lirih Erlangga dengan pandangan tidak lepas dari Rafika.


Dia sengaja membiarkan bus yang ditumpangi karyawan Rivers pergi terlebih dahulu, barulah dia dan sahabatnya mengikuti dari belakang dengan mobil sports. Agar Rafika tidak curiga kalau sebenarnya dia mengikuti gadis itu.

__ADS_1


"Sabar, Elang. Cinta memang butuh perjuangan. Selama ini kan, Fika yang memendam perasaannya sendiri. Sekarang giliran kamu untuk membuktikan cinta kamu pada gadis jorokmu itu," ucap Darwin dengan menahan tawanya. Dia merasa melihat Erlangga yang frustrasi seperti ini. Darwin tahu kalau sahabatnya itu sedang menahan diri agar tidak mendekati gadis itu.


"Bos, apa perlu kita culik?" celetuk Calvin.


Pletak!


Darwin segera mengeplak kepala sahabatnya. Susah payah dia menasehati Erlangga agar jangan mengekang gadis itu, Calvin malah memberikan ide yang seperti itu.


"Sakit Bege!" sewot Calvin.


"Aku tidak mau melihat laki-laki lain menyentuh tubuhnya." Baru saja Erlangga selesai bicara, dia melihat Rafika sedang berfoto dengan dirangkul oleh teman laki-lakinya.


Seketika Erlangga langsung terbangun dari duduknya. Dia ingin menarik gadis itu dan membawanya pergi dari sana. Namum, Darwin langsung mencekal tangannya. Menahan Erlangga yang sudah melangkahkan kakinya.


"Tahan, Bro! Jangan buat Fika tidak nyaman dengan kamu. Kamu juga harus bisa merahasiakan perasaan kamu dari orang-orang kalau tidak mau Fika jadi sasaran biang gosip. Mungkin benar badan dia kuat. Apa kamu juga bisa memastikan kalau hatinya sekuat badannya?"


"Apa yang harus aku lakukan, Darwin? Aku harus membiarkan dia dirangkul seperti itu? Lebih baik aku pecat saja laki-laki itu daripada merebut calon istriku," geram Erlangga.


"Tenang, Bos! Aku akan membantumu untuk membawa gadis itu ke hadapan, Bos."


Ya ampun bos sama assisten-nya sudah sama-sama gila karena gadis itu. Kamu punya apa sih, Fika? Sampai seorang Erlangga Bramantyo bisa jadi orang konyol seperti ini, batin Darwin.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2