
Keesokan harinya, saat sinar mentari masuk menelusup lewat celah jendela. Rafika mengerjapkan matanya. Dia merasa silau dengan cahaya yang menerpa wajahnya. Gadis itu pun terbangun dari tidurnya dengan mengedarkan pandangan, memindai setiap sudut kamar yang ditempati.
"Ini kamar siapa? Kenapa bagus sekali? Sangat berbeda dengan kontrakan dan rumahku," gumam Rafika dengan memegang kepalanya karena rasa pusing yang dia rasakan.
Namun, Rafika sangat terkejut saat menyadari kalau dia hanya memakai pakaian pelindung intinya saja. Dia berkali-kali menyingkap selimut untuk memastikannya. Tetap saja, baju yang kemarin dia pakai sudah tidak melekat di tubuhnya.
Jantungnya langsung berdegup lebih kencang dari biasanya. Dia takut kalau bos galak yang kemarin bersamanya mengambil kesempatan. Dia pun segera mencari bajunya, tetapi yang dia dapatkan hanya secarik kertas dan sebuah paper bag di atas nakas.
Minumlah susu dan obat pengar yang ada di dalam kantong plastik. Bajumu sudah aku buang, tapi aku sudah menggantinya dengan yang baru. Beristirahatlah sampai sisa mabuk kamu hilang. Aku memberikan cuti hari ini padamu.
Fika, terima kasih untuk tadi malam. Kamu gadis yang luar biasa.
^^^Kang Asep^^^
Deg ... deg ... deg.
Jantung Rafika berdetak semakin kencang. Dia takut tadi malam sudah terjadi sesuatu yang tidak dia inginkan. Meskipun benar dia mencintai Kang Asep, tapi dia tidak ingin menyerahkan kehormatannya pada laki-laki yang belum sah menjadi suaminya.
"Sialan! Bos Galak sialan! Pasti dia sudah mengambil kesempatan padaku saat mabuk. Rafika bego! Kenapa kamu mencoba minuman orang kaya itu jika akhirnya harus seperti ini."
Rafika langsung mencari kamar mandi. Dia merasa sangat kotor dengan apa yang sudah terjadi. Gadis itu teringat pada pesan ibunya yang meminta dia untuk menjaga kehormatannya. Karena saat seorang gadis kehilangan kesuciannya sebelum menikah, maka tidak ada hal yang dapat dia banggakan sebagai seorang gadis. Apalagi, di kampungnya masih tabu tentang hal itu. Bisa jadi dia menjadi bahan gunjingan saat orang tahu kalau dia sudah tidak perawan lagi.
"Ibu maafkan aku ...." lirih Rafika.
Rafika langsung menghentikan mandinya saat tubuhnya mulai menggigil dan tangannya sudah keriput. Dia berjanji akan merahasiakan semua yang terjadi padanya. Rafika tidak mau jika ibunya merasa malu karena memiliki anak sepertinya.
Selesai berpakaian, dia pun memakan roti dan meminum susu kotak yang sudah disiapkan untuknya. Namun, dia tidak meminum obat yang disuruh Erlangga. Karena dia merasa tidak yakin kalau itu obat untuk menghilangkan pengar.
Rafika berjalan gontai saat keluar dari apartemen mewah itu. Meskipun sebenarnya dia bingung sedang berada di mana. Tapi dia berusaha menenangkan hatinya. Kalau semuanya akan baik-baik saja.
"Permisi, Mbak. Kalau mau ke Pasir Gombong lewat mana ya?" tanya Rafika pada seorang wanita cantik yang sedang menunggu lift bersamanya.
__ADS_1
"Mbak mau ke sana?" tanya wanita cantik itu dengan menelisik penampilan Rafika.
Apa dia cewek bookingan ya? Sampai tidak tahu alamat sini. Mungkin saja dia dibawa Mister ke sini tadi malam, makanya tidak tahu jalan pulang, batin wanita itu.
"Iya, Mbak!" sahut Rafika.
"Nanti ikut dengan saya saja, kebetulan saya mau ke Cibitung."
"Terima kasih, Mbak!"
...***...
Sore harinya, Saat Rafika sedang tertidur di kontrakannya. Dia dikagetkan dengan kedatangan Calvin dan Kiranti yang terlihat yang kesal. Entah ada masalah apa di antara keduanya, sepertinya mereka sedang berbeda paham.
"Fika, Pak Calvin ada perlu dengan kamu," ucap Kiranti dengan mendudukkan bokongnya di kasur busa tempat mereka istirahat.
"Ada apa mencari aku?" tanya Rafika bingung.
"Tapi kamu tidak diapa-apain, kan?" tanya Rafika cemas.
"Enggak, Fika. Aku kan cuma nyicip satu gelas. Pas rasanya gak enak, aku gak nambah lagi. Sudah cepat sana! Dia nunggu di teras," suruh Kiranti. Dia langsung merebahkan badannya karena merasa lelah setelah bekerja.
Sementara Rafika langsung mencuci mukanya sebelum dia menemui Calvin. Dirasa penampilannya sudah rapi, gadis itu pun segera menghampiri Calvin yang ada di depan kontrakannya.
"Maaf, Pak Calvin. Ada apa ya?"
"Fika, bisa ikut saya sebentar? Ada hal yang harus saya katakan. Tapi sepertinya tidak bisa bicara di sini."
"Bisa, Pak!" sahut Rafika.
Disinilah sekarang Rafika dan Calvin, duduk saling berhadapan di sebuah cafe. Calvin memang sengaja membawa gadis itu ke sana karena ada hal penting yang ingin dia tanyakan.
__ADS_1
"Fika, semalam kamu dan Elang ke mana? Kenapa dia susah dihubungi? Ponselnya sengaja dia matikan," tanya Calvin to the points.
"Maksud Pak Calvin apa? Memangnya Bos Galak gak kerja? Aku tidak tahu dia ke mana." Bukannya menjawab, Rafika malah balik bertanya.
"Dia tidak datang ke perusahaan. Dengar Fika! Aku tahu, kamu berjasa pada Elang. Tapi Tuan Ageng sudah membayar dengan uang yang cukup besar untuk mengganti semua jasa kamu itu. Aku harap, kamu jangan mengganggu Elang ataupun mengingatkan dia pada saat kalian bersama. Kamu tidak mau kan jika dicap pelakor? Karena sebentar lagi Elang akan menikah."
"Jadi Bang Calvin sudah mengenali aku? Hehehe ... Lucu ya! Bang Calvin pintar sekali bersandiwara. Abang tenang saja, aku tidak akan mendekati bos galak itu. Tapi kalau dia yang mendekati aku, jangan salahkan aku. Suruh saja dia menjauhi aku," sarkas Rafika.
"Fika, jangan salah paham. Aku tidak mau terjadi suatu hal yang tidak diinginkan pada keluarga kamu. Yang kamu hadapi bukan orang biasa. Asal kamu tahu, Tuan Ageng memiliki kekuasaan yang besar. Dia juga memiliki watak yang keras dan tegas. Lebih baik kita menghindari bersinggungan dengannya."
"Aku kho bingung, Bang Calvin sebenarnya berada di pihak siapa? Tapi terima kasih sudah mengingatkan aku."
Jangankan kamu, aku juga bingung harus berpihak pada siapa jika Tuan Ageng dan Elang sampai bertentangan gara-gara kamu, batin Calvin.
"Sudahlah! Aku harap kamu mengerti dengan apa yang aku katakan."
"Iya, Bang. Aku mengerti dengan apa yang Bang Calvin katakan. Apa aku sudah boleh pulang?"
"Pesanannya belum datang, Fika. Kamu makan saja dulu."
"Aku dibungkus saja, biar nanti makan bareng dengan Kiran. Dia pasti belum makan karena baru pulang kerja."
"Fika, kamu jangan marah sama aku! Aku bicara seperti ini demi kebaikan kamu."
"Iya, Bang. Aku tahu, aku memang tidak pantas berdiri di samping Kang Asep. Dulu aku mencintainya, karena aku tidak tahu kalau dia orang kaya. Tapi sekarang aku semakin mengerti, aku telah salah mencintainya. Karena dia laki-laki yang tidak mungkin bisa aku gapai."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1