
Malam yang cerah bertabur bintang dengan rembulan yang bersinar terang, membuat sepasang suami istri enggan beranjak dari tempatnya. Setelah makan malam tadi, Rafika dan Erlangga memutuskan untuk menikmati langit malam di luar. Sampai tanpa terasa, sudah satu jam lebih keduanya berada di sana.
"Sayang, sudah malam. Masih betah di sini?" tanya Erlangga dengan mengeratkan pelukannya.
"Fika suka di sini. Tapi semakin malam, udaranya semakin dingin."
"Masuk saja, yuk!" ajak Erlangga."
"Tapi ... Ke sananya ... Mau digendong!" pinta Rafika dengan tersenyum cerah.
"Boleh! Tapi nanti gantian gendong Aa ya!" bisik Erlangga pelan.
Bukannya menolak, Rafika hanya menganggukkan kepalanya. Entah kenapa, dia selalu ingin menghabiskan waktu berdua dengan Erlangga dalam suasana apapun. Apalagi, saat dia menjelang tidur, Rafika suka sekali mendusel di dada bidang suaminya dengan bulu-bulu halus yang menghiasi.
Erlangga pun langsung menggendong istrinya dan membawa Rafika ke kamar. Apa yang Erlangga inginkan, menjadi pengantar malam untuk pasangan suami istri itu. Karena keduanya sama-sama terhanyut menikmati permainan yang mereka lakukan.
Keesokan harinya, Erlangga bangun karena dikejutkan dengan Rafika yang muntah terus menerus. Dia langsung menghampiri istrinya dan memijat tengkuk Rafika untuk mengurangi rasa mual.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Erlangga cemas.
"Gak tau A, aku mual sekali," jawab Rafika.setelah dia puas memuntahkan cairan bening.
Wajah Rafika terlihat pucat, badannya pun nampak lemas. Melihat keadaan istrinya yang mengkhawatirkan, Erlangga dengan sigap menggendong Rafika dan membaringkan istrinya di tempat tidur.
"Tunggu sebentar, Aa ambil air hangat dulu sama kayu putih," ucap Erlangga sebelum dia berlalu pergi menuju ke dapur untuk mengambil air putih.
Setelah mendapatkan apa yang ingin diambilnya, Erlangga pun segera kembali ke kamar dan menghampiri Rafika. Dia pun memberikan gelas berisi air putih pada Rafika lalu Erlangga menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan istrinya.
"A, aku hanya mual. Nanti juga pasti sembuh sendiri. Setiap hari juga seperti ini tapi nanti mualnya hilang sendiri," ucap Rafika.
"Kenapa tidak bilang sama Aa kalau kamu suka mual di pagi hari?" tanya Erlangga cemas.
"Aku mual kalau gosok gigi, tapi masih bisa aku tahan. Gak tahu kenapa hari ini mual sekali?"
"Istirahat saja, ya Sayang. Sebentar lagi Dokter Aileen datang. Aa mau mandi dulu," ucap Erlangga dengan mencium kening Rafika.
Erlangga bergegas untuk membersihkan dirinya sebelum dokter itu datang. Benar saja, selesai dia mandi dan berpakaian, terdengar suara pintu bel penthouse-nya berbunyi. Erlangga segera menuju ke depan untuk membukakan pintu penthouse.
Terlihat di sana satpam perusahaan bersama dengan seoang wanita cantik yang Erlangga kenal. Erlangga tersenyum menyambut kedatangan kedua orang itu, membuat wanita cantik itu menjadi heran.
Tumben Elang senyum duluan, batin dr. Aileen.
"Bos, ini Bu Dokter mau bertemu dengan Bos. Apa Bos sakit?" tanya Satpam.
"Bukan aku tapi istriku," ucap Erlangga.
"Istri? Kamu sudah menikah?" tanya Aileen.
__ADS_1
"Sudah, ayo masuk Ai! Terima kasih ya, Pak." Erlangga langsung menyuruh Aileen untuk masuk agar secepatnya memeriksa Rafika.
"Sama-sama, Bos. Saya permisi!" pamit Satpam.
Setelah kepergian satpam yang mengantar Aileen, mereka pun langsung masuk ke dalam ke dalam kamar. Erlangga hanya fokus melihat ke arah Rafika yang sedang terbaring lemah, sedangkan Aileen sibuk melihat raut wajah Erlangga yang terlihat serius.
"Sudah berapa lama istrimu sakit?" tanya Aileen.
"Baru hari ini. Tapi katanya dia mual di pagi hari hampir tiap hari hanya saja tidak separah hari ini," jelas Erlangga.
"Oh, aku periksa dulu. Namanya siapa, Mbak" Tanpa basa-basi lagi, Aileen langsung memeriksa Rafika.
"Rafika. Panggil saja Fika, Dok!"
Dokter cantik itu begitu serius memeriksa keadaan Rafika. Sampai akhirnya senyum cerah tersungging dari kedua sudut bibirnya. Namun, sepertinya Aileen tidak mau memberikan penjelasan detail tentang sakitnya Rafika.
"Elang, sepertinya istrimu harus dibawa ke rumah sakit. Ada sedikit masalah dengan lambung dan perutnya," ucap Dokter Aileen.
"Apa masalah serius?" tanya Erlangga mendadak tegang.
"Iya, sangat serius." Dokter Aileen bicara dengan nada yang meyakinkan.
"Yang benar saja, Dok. Aku hanya mual dan muntah. Mana mungkin masalahnya serius sekali. Paling juga masuk angin," sanggah Rafika.
Pintar juga istrinya Erlangga. Mau aku kerjain malah tidak percaya, batin Aileen.
"Apa??? Hamil???" kompak Erlangga dan Rafika kaget.
"Iya, Fika hamil. Apa kalian tidak merasakan perubahan pada diri Fika. Karena pada saat seorang wanita hamil, dia pasti mengalami perubahan hormon yang signifikan."
"Ada sih Ai. Fika jadi lebih manja dan selalu ingin dekat dengan aku," jawab Erlangga dengan mengulas senyum seraya melihat ke arah istrinya.
"Aku gak manja, A. Aku kan mau dekat sama Aa terus," kelit Rafika.
"Iya, kamu memang bukan anak manja." Lagi-lagi Erlangga memamerkan senyum manisnya pada Rafika.
"Aa memang suami the best," puji Rafika.
"Ekhm ... Kalau boleh tahu, kalian menikah sudah berapa lama?" tanya Dokter Aileen penasaran dengan teman kecilnya itu.
"Sudah mau tiga bulan. Kami menikah tanggal sebelas Agustus," jawab Erlangga.
"Wah, kalian masih pengantin baru rupanya. Selamat ya buat kalian berdua. Aku ikut senang melihat kamu akan menjadi ayah, Elang.
"Terima kasih Ai," ucap Erlangga.
"Bu Dokter, sepertinya kenal dekat dengan A Elang," tebak Rafika.
__ADS_1
"Kami pernah satu sekolah bahkan satu kelas," jelas Aileen.
"Berarti kenal dong dengan Mbak Felisha," todong Rafika.
"Kenal. Kenapa, apa kamu cemburu sama dia? Cemburu sih boleh-boleh saja tapi jangan berlebihan karena Elang yang sekarang, sudah jauh berubah dari Elang yang dulu. Mungkin hatinya pun sudah banyak berubah," tanya Dokter Aileen.
"Makasih ya, Dok. Sudah cantik, baik pula." Rafika tersenyum manis pada Aileen. Begitupun dengan Aileen yang membalas senyuman dari Rafika.
Setelah cukup mengobrol dan menuliskan resep agat tidak mual, Aileen pun berpamitan pulang. Sementara Erlangga menyuruh satpam untuk membeli obat Rafika di apotek karena Calvin maupun karyawan yang lain belum ada yang datang.
"Sayang, tadi Ai sudah membuatkan janji dengan dokter kandungan. Katanya kita kontrol jam sepuluh," ucap Erlangga. "Kita sarapan saja dulu. Mau sarapan apa? Biar Aa pesankan. Anak Papi mau makan apa."
Erlangga mencium perut Rafika berkali-kali. Dia sangat bahagia karena akhirnya akan memiliki anak. Meskipun usia pernikahan mereka baru seumur jagung, tapi dia berharap dengan adanya anak di antara dia dan Rafika akan semakin memperkuat hubungan mereka.
"Aku mau makan hucap A, tapi tahunya setengah matang terus kasih rampeyek. Minumnya susu kedelai."
"Hucap apa, Sayang? Aa baru dengar," tanya Erlangga.
"Itu loh A, kupat sama tahu pake bumbu kacang. Enak loh A."
"Kaya kupat tahu gitu?"
"Mirip sih, A. Tapi rasanya beda dikit. Nanti juga ada yang jualan pake gerobak tulisannya HUCAP."
"Ya sudah, nanti Aa suruh Calvin buat cari makanan yang kamu inginkan."
"Kenapa Bang Calvin yang nyari?"
"Memangnya harus siapa, apa mau Felisha yang nyari?"
"Gak mau, nanti dicampur racun lagi."
"Lalu? Maunya sama siapa?"
Rafika tidak langsung menjawab pertanyaan Erlangga. Dia tersenyum malu-malu sebelum berbicara, "Maunya sama A Elang."
"Nanti kamu di sini sendiri. Tidak apa emang?"
"Tidak apa, Aku mau Aa yang beli."
"Ya sudah, Aa beli dulu ya. Hati-hati di rumah, ya Sayang!"
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, rate, vote dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1