Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 70 Gara-gara Rafika


__ADS_3

Seperti yang sudah mereka janjikan, Rafika dan Kiranti membawa banyak makanan ke rumah baru Rafika. Untung saja di sana masih ada pengurus rumah, sehingga kedua gadis itu bisa masuk walaupun tidak membawa kunci rumah.


"Fika, rumahnya bagus banget. Pasti bakal betah tinggal di sini. Apalagi jalannya rindang dan tidak jauh dari taman komplek," ucap Kiranti dengan mengedarkan pandanganya.


"Iya, aku juga udah gak sabar pengen tinggal di sini. Tapi kata A Elang, nunggu rumah kamu beres dulu biar barengan pindah ke sini."


"Suami kamu baik banget, Fika. Kasih kado saja rumah bagus," ucap Kiranti mendadak lesu.


"Kamu kenapa, apa ada masalah dengan Bang Calvin?"


"Tidak, aku males aja sama Bang Calvin. Dia gak peka banget. Masa kemarin di ninggalin aku di parkiran. Bukannya dia gandeng gitu," gerutu Kiranti.


"Hahaha ... Kasian sekali sahabat aku. Nanti kalau dia gak peka, kamu minta terus terang aja apa yang kamu inginkan. Tidak usah malu-malu meong sama orang model gitu. Bikin sakit hati," hasut Rafika.


"Tapi kan malu, masa cewek agresif." Kiranti mencebikan bibirnya menanggapi saran sahabatnya.


"Ya elah, Kiran. Gengsi dipelihara. Kalau sama suami sendiri gak apa, keles. Kecuali kamu agresif sama cowok lain yang bukan muhrim kamu, baru gak boleh dan memalukan."


"Kamu mau jadi ustadzah dadakan?"


"Ya elah bocah, dikasi tahu juga." Giliran Rafika yang menggerutu karena kata-katanya tidak dianggap.


"Iya-iya, gitu aja ngambek. Ayo kita habiskan baksonya, setelah itu kita tidur. Biarkan Pak bos nyariin kamu karena gak pulang ke apartemen."


"Gak bakal nyariin, paling langsung nyusul ke sini."


Kedua gadis itu terus saja berbincang sambil menikmati bakso pedas. Sampai hari sudah gelap, mereka belum pulang dari rumah baru Rafika. Pada akhirnya, mereka menunggu kedatangan Erlangga dan Calvin menjemputnya.


"Fika, kenapa belum datang ya? Sudah jam delapan malam. Aku mau mandi nih," keluh Kiranti.


"Kata A Elang masih di tol. Kamu gak nelpon Bang Calvin?" tanya Rafika melihat ke arah Kiranti.


"GAK! Dari kemarin aku diemin. Malas aku nyapa-nyapa dia," ketus Kiranti.

__ADS_1


Waduh, masa pengantin baru udah marah-marahan. Apa aku harus kasih cairan itu ke minuman Kiran, biar mereka baikan, batin Rafika.


Dia terus menimang-nimang antara mengikuti saran Helen dan suaminya. Sampai akhirnya, Rafika mencari botol kecil yang dulu dia simpan di nakas. Dia pun diam-diam memberikan satu tetes pada minuman yang dia buat untuk Kiranti. Tapi hatinya bergejolak sehingga membua kmng setengah gelas air yang sudah bercampur obat dan menambahnya dengan air yang baru. Berharap efeknya tidak akan terlalu keras.


Maaf Kiran, sebaiknya kamu baikan dengan Bang Calvin, daripada aku mengerjai kamu, batin Rafika.


"Daripada bete lebih baik minum dulu. Sebentar lagi pasti mereka datang," ucap Rafika.


"Enggak akh, aku gak haus. Kamu saja yang minum," tolak Kiranti.


"Ya sudah kalau gak mau." Rafika meminum minumannya sendiri dan membiarkan minuman milik Kiranti teronggok di meja.


Sampai saat kedua laki-laki tampan itu datang, minuman itu masih utuh tak tersentuh. Calvin yang merasa kehausan, meminumnya begitu saja tanpa bertanya lebih dulu. Karena dia yakin pasti minuman itu belum ada yang menyentuhnya.


"Sayang, langsung pulang yuk!" ajak Erlangga.


"Sebentar Elang! Aku habiskan dulu minumnya, haus banget," sela Calvin.


Tidak lama kemudian, Calvin masuk ke dalam mobil bersama dengan Kiranti yang hanya diam saja. Sepertinya perang dingin di antara suami istri itu belum juga mencair. Sampai akhirnya Erlangga membuka obrolan saat mobil sudah mulai melaju.


"Kiran, bagaimana rumahnya? Apa kamu suka?"


"Suka Kang. Memang kapan kita mau pindah ke sana?" tanya Kiranti balik bertanya.


"Dua minggu lagi ya! Minggu depan Leon menikah ditambah ada acara reuni. Nanti kalian cari gaun malam yang bagus," ucap Elang.


"Siap, A. Tapi uangnya mana?" Rafika menengadahkan telapak tangannya seperti seorang anak kecil yang meminta uang jajan.


"Astaga, maaf Sayang. Aa lupa belum memberi kamu nafkah. Padahal Aa sudah mengambil hak Aa," ucap Erlangga seraya mengambil dompetnya.


Dia keluarkan sebuah kartu berwarna hitam dan memberikannya pada Rafika. Namun, gadis itu tidak mengambilnya. Dia menggelengkan kepala saat akan menerima kartu sakti dari Erlangga.


"Kenapa gak mau?" tanya Erlangga heran.

__ADS_1


"Bukannya gak mau, tapi aku heran kenapa Aa bisa punya kartu seperti ini. Emang gak takut uangnya aku habiskan?


"Suami kerja untuk istrinya. Kalau habis untuk hal yang baik, Aa tidak akan marah."


"Makin sayang sama A Elang," ucap Rafika seraya merangkul tangan Erlangga dan menyimpan kepalanya di dada bidang suaminya. Erlangga pun langsung memeluk tubuh istrinya dan mengecup pucuk kepala Rafika


Sementara Calvin, mendadak gelisah saat tidak sengaja melihat apa yang sahabatnya itu lakukan bersama dengan istrinya. Dia melirik Kiranti yang sedari tadi melihat ke arah luar jendela. Merasa hatinya tidak karuan, Calvin pun segera mempercepat laju mobilnya. Hingga tidak butuh waktu lama, mereka sudah sampai dia apartemen.


Kiranti berjalan lebih dulu agar cepat sampai ke unit milik Calvin. Dia sudah tidak sabar ingin mengguyur tubuhnya dengan air shower yang menyegarkan badan. Namun, baru saja dia dan Calvin masuk ke apartemen, laki-laki itu langsung memojokkannya ke daun pintu.


"Bang, mau apa?" tanya Kiran kaget dengan sikap Calvin.


"Kiran, kenapa mendiamkan Abang?" tanya Calvin dengan mengunci kedua tangan gadis itu.


"A-aku ...." Belum sempat Kiranti menyelesaikan ucapannya, Calvin langsung membungkam mulut gadis itu dengan mulutnya. Dia tidak memberikan waktu untuk Kiranti berbicara. Sampai saat dia sudah tidak bisa menahannya lagi, Calvin langsung membopong tubuh istrinya.


Kiranti hanya diam, saat suaminya mulai menjelajahi lembah dan bukit di tubuhnya. Merasakan gelenyar aneh yang belum pernah dia rasakan sebelumnya. Sampai akhirnya dia pun ikut terhanyut dalam permainan Calvin yang menggila menikmati setiap inci tubuhnya.


Keesokan harinya, Kiranti perlahan membuka matanya. Dia berusaha melepaskan diri dari belitan tangan suaminya. Dilihatnya wajah calvin yang masih tertidur pulas. Dia hanya menghela napas dalam karena sekarang dia seutuhnya sudah menjadi istri dari laki-laki yang tidak disukainya.


"Kiran, apa kamu menyesal?" tanya Calvin seraya membuka matanya.


Tadi dia terbangun saat Kiranti melepaskan tangannya dari perut rata gadis itu. Namun dia tidak langsung membuka mata karena ingin tahu apa yang akan dilakukan oleh istrinya. Tapi saat mendengar helaan napas Kiranti, Calvin pun memutuskan untuk membuka matanya


"Apa ada gunanya kalau aku menyesal? Aku hanya ingin, setelah hari ini Bang Calvin bisa bersikap selayaknya seorang suami bukan hanya cuek dan meninggalkan istrinya begitu saja."


"Maaf, Abang janji akan berusaha untuk menjadi suami yang baik."


...~Bersambung~...


...Dukung terus author ya kawan! klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2