
Erlangga terus saja tersenyum setiap kali terbayang ekspresi Rafika saat di toko pakaian khusus wanita. Gadis itu sangat terkejut saat Erlangga mengajaknya untuk memilih lingerie. Dia jadi mengerti, kenapa Helen menyebutkan saringan minyak karena memang bahannya sanagt tipis dan tembus pandang.
"Elang, kamu senyum terus dari tadi. Pasti lagi bayangin Fika pakai baju yang kamu beli tadi," tebak Calvin saat mereka sedang mengikuti kedua gadis itu berkeliling mall.
"Bukan! Sotoy kamu Calvin."
"Elang, aku dengar Leon memakai uang perusahaan untuk membeli kapal pesiar. Apa kamu sudah tahu?"
"Aku tidak pernah mau tahu urusan mereka. Sudahlah, daripada membicarakan tukang huru hara, lebih baik ke sana. Sepertinya Fika ingin menonton," ajak Erlangga.
"Boleh juga tuh nonton."
"Calvin, kenapa kamu tidak mencoba untuk mendekati Kiran. Dia anak yang baik. Yang terpenting, dia orangnya setia. Kamu juga harus bahagia dengan gadis yang kamu sukai. Jangan mengingat terus gadis yang sudah mempermainkan kamu," saran Erlangga.
"Akan aku pikirkan. Tapi jujur, Kiran bukan type aku. Untuk saat ini, hati aku belum tergerak untuk menyukainya," ucap Calvin.
"Asal nanti kamu tidak menyesal, saat Kiran sudah jadi milik orang." Erlangga langsung menghampiri Rafika yang sedang memilih film yang sedang tayang. "Mau nonton?"
"Mau mau A. Nonton film ini ya!" tunjuk Rafika pada sebuah film action romance.
"Mending nonton yang ini saja, Fika. Biar aku bisa tertawa," protes Kiran.
Aku lupa kiran lagi sedih. Ya udah deh mending ikutin saja maunya, batin Rafika.
"Yang Kiran mau aja, A. Kayaknya lucu filmnya. Yuk A beli tiketnya!" ajak Rafika dengan menarik tangan Erlangga masuk ke dalam bioskop.
Setelah membeli tiket film yang mereka inginkan, Rafika pun membeli minuman dan makanan yang dijual di dalam bioskop. Dia pun langsung menghampiri Kiran yang sedang duduk berjauhan dengan Calvin.
"Ya elah, Kiran sama Bang Calvin udah kayak mobil truk saja, jaga jarak terus. Kayak aku ama A Elang dong, rapatkan barisan. Benar gak, A?"
"Iya benar. Udah yuk masuk! Udah mau mulai," ajak Erlangga.
Selama film diputar, Erlangga sama seklai tidak melihat ke arah layar. Dia tertidur di bahu kekasih hatinya. Begitupun dengan Calvin yang terus-menerus terantuk dengan kepala Kiranti. Berbeda dengan kedua gadis itu yang tertawa cekikikan karena ada hal yang lucu dalam adegan film.
"Kiran, mereka mau nonton apa numpang tidur sih."
__ADS_1
"Numpang tidur lah. Film baru jalan sudah pada ngorok. Sebel banget nih Bang Calvin! Masa kepalanya miring-miring terus ke aku," gerutu Kiran.
"Lah, Kang Asep malah tidur di bahu aku. Tahu gini, mending kita nonton di apartemen saja."
"Hooh, apa mereka tidak pernah nonton di bioskop ya?"
"Gak tahu. Bisa jadi sih."
Kedua terus saja mengobrol seraya menonton. Dengan sesekali tertawa. Tapi tetap saja, Erlangga dan Calvin seperti tidak terganggu. Mereka sangat pulas di bahu gadis cantik. Sampai filmnya sudah selesai, barulah Rafika membangunkan Erlangga.
"Aa bangun! Filmnya sudah selesai."
"Hah, udah selesai ya?" tanya Erlangga dengan merentangkan tangannya. "Ah, segarnya."
"Aa yang segar, aku yang pegal. Pokoknya nanti harus dipijitin."
"Siap, Sayang! Loh, bukannya itu teman kamu ya? Yang kemarin kita main ke kontrakan dia," tanya Erlangga dengan menunjuk Baim yang berjalan dengan menggenggam tangan seorang gadis.
"Baim ...." lirih Kiranti.
"Aw ...." Calvin meringis kesakitan dengan memegang jidatnya. Dia celingukan melihat bioskop sudah menyala dengan terang. "Apa film-nya udahan?"
"Udah dari tadi, Bang. Kalian tuh, ke sini hanya buat numpang tidur," gerutu Rafika. "Udah yuk A, kita susul Kiran!"
"Memang dia ke mana?" tanya Calvin mencari keberadaan gadis itu.
"Kabur!" sahut Rafika.
Dia langsung berjalan cepat karena merasa khawatir dengan sahabatnya. Saat sudah di depan pintu keluar bioskop, dia melihat Kiranti menampar Baim. Rafika pun langsung mendekati sahabatnya. Tanpa sepatah kata pun, Rafika langsung ikut menampar Baim
"Apa-apaan kamu, Fika. Datang-datang main nampar orang." Baim pun melayangkan satu tangannya untuk membalas Rafika. Tapi gadis itu dengan cepat menangkap tangan Baim.
"Itu hadiah dari aku, karena kamu sudah menyakiti sahabat aku. Kenapa? Kamu marah, ingin membalas? Ayo! Aku tidak akan takut sama kamu," sinis Rafika.
"Dasar cewek jadi-jadian! Kalau kamu laki-laki, akan aku tantang kamu," geram Baim.
__ADS_1
"Siapa yang cewek jadi-jadian? Jangan pernah berani menghina istriku! Kalau kamu tidak ingin berurusan denganku." Erlangga menatap nyalang Baim yang sedang melotot ke arah Rafika.
"Udah, Kang! Ayo Fika kita pulang! Biarkan saja dia seperti itu, karena hukum karma masih berlaku," ajak Kiran. "Baim, kamu tidak usah membayarkan hutang kamu sama aku. Anggap saja aku sedang bersedekah pada orang fakir," lanjutnya.
Kiranti langsung berlalu pergi dengan diikuti oleh Rafika dan Erlangga. Namun, sebelum Rafika pergi, gadis itu mengepalkan tangan kanannya terlebih dahulu di depan muka Baim. Dengan raut wajah permusuhan.
"A, makan dulu ya! Aku lapar habis marah-marah," keluh Rafika dengan mengelus perutnya
"Aku juga sama. Lapar habis tabok anak orang," timpal Kiranti.
"Iya, Aa juga lapar habis tidur." Erlangga dengan konyolnya mengikuti ketiga gadis itu. Sementara Calvin hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan bosnya.
"Terus aku lapar habis ngapain?" tanya Calvin.
"Bang Calvin lapar habis kejedot kursi. Lihat Kiran! Gara-gara kamu berdiri mendadak, jidat Bang Calvin memerah gitu karena kejedot kursi," tunjuk Rafika
"Kamu tuh, bukannya prihatin malah diledekin."
"Sudah sudah! Ayo mau makan di mana?" Erlangga langsung melerai perdebatan kecil assisten-nya.
Kini keempat anak muda itu sedang menikmati makan malamnya. Meskipun hati Kiranti sedang terpotek-potek, tetapi hal itu tidak menyurutkan dia untuk menikmati makanan yang menggugah selera. Dia bahkan, makan seperti orang kesurupan.
"Kiran pelan-pelan makannya! Nanti kamu tersedak kalau makan seperti itu," ucap Calvin yang malah bengong melihat cara gadis itu makan.
Uhuk ... Uhuk ....
Benar saja dugaan Calvin. Gadis itu langsung tersedak karena mendengar apa yang Calvin katakan. Dia pun langsung meminum air yang diberikan oleh Calvin. Setelah menghabiskan hampir satu gelas air, barulah dia menyimpan kembali gelas itu ke atas meja.
"Kiran ternyata kamu jago makan ya!" ujar Calvin.
"Tentu saja, Bahkan aku ingin makan orang," jawab Kiranti.
"Makan Bang Calvin saja tuh! Pasti dia mau." celetuk Rafika. "Lihat tuh, Kiran! Bang Calvin ngelihat terus."
...~Bersambung~...
__ADS_1