Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 88 Bang, lihat apa?


__ADS_3

Ruangan serba putih kini menjadi menjadi teman Kiranti selama beberapa hari ini. Keluarganya dan Keluarga Barack, datang bergantian silih berganti. Membuat ruangan itu tidak pernah sepi oleh orang yang ingin menjaganya.


Calvin dengan setia menjaga Kiranti. Dia menjadi suami siaga yang selalu sigap saat Kiranti membutuhkan sesuatu. Membuat Kiranti merasa benar-benar disayang oleh semua keluarganya


"Calvin, kalian sudah mendapat nama belum untuk bayi tampan ini?" tanya mamanya Calvin.


"Belum Mah," jawab Calvin.


"Bagaimana kalau Kelvin saja? Biar Namanya dekat dengan nama kalian," usul Bu Riani.


"Boleh tuh, Mah!" Pak Reno langsung menyetujui usulan istrinya.


Setelah saling berembuk, akhirnya nama bayi laki-laki Calvin dan Kiranti diberi nama Kelvin Barack, mengikuti nama papanya. Bayi tampan itu terlihat senang mendapatkan nama dari oma-nya. Cukup lama keluarga Barack berada di sana. Akhirnya mereka pun berpamitan pulang.


Selepas kepergian orangtuanya, Calvin mendekati Kiranti yang sedang memberikan sumber kehidupannya pada bayi mereka. Laki-laki itu senyam -senyum melihat ke arah istrinya. Entah apa yang sedang dia pikirkan. Hal itu membuat Kiranti menjadi mengerutkan dahinya.


"Bang, lihat apa?" tanya Kiran.


"Kelvin rakus sekali ya! Dia begitu bersemangat menikmati ASI-nya. Dia memang anakku yang sama-sama menyukai buah ranum itu. Kiran, kalau Kelvin sudah, nanti Abang ya!" Calvin tersenyum membayangkan hal yang biasa dia lakukan bersama dengan Kiranti.


Sial! Calvin merutuki dirinya sendiri saat sesuatu yang dibawah sana tiba-tiba saja mengeras. Dia tidak mungkin memintanya pada Kiranti karena istrinya itu masih dalam masa nifas. Dimana seorang wanita tidak boleh melakukan hubungan suami-istri saat masa nifas.


"Bang, kenapa?" tanya Kiranti yang melihat suaminya gelisah.


"Tidak apa, Abang ke toilet dulu ya!"


Calvin langsung berlalu pergi ke toilet yang ada di dalam ruangan itu. Sementara Kiranti hanya melihat aneh pada suaminya. Sampai suara derit pintu menyadarkan dia dan langsung mengalihkan pandangannya ke arah pintu. Kedua sudutnya melengkung membentuk bulan sabit, saat dia melihat Rafika datang bersama dengan kedua bayi kembarnya.


"Hallo, Tante! Agya sama Alya kangen nih. Kapan Tante pulang?" tanya Rafika dengan menirukan suara anak kecil.


"Mungkin besok, Tante juga kangen sama kalian. Sini sini beri Tante pelukan!" Kiranti mengulurkan satu tangannya yang bebas agar anak kembar itu mendekat ke arahnya.


Seperti sudah mengerti, Agya dan Alya meminta diturunkan agar bisa bersama dengan Kiranti. Untung saja dia sudah selesai memberikan ASI-nya, sehingga tidak malu saat Erlangga tiba-tiba saja datang ke kamar inapnya.


"Sini jagoan Tante, biar Tante yang gendong!" pinta Rafika. Akhirnya mereka bertukar anak untuk saling bercengkerama. Sementara kedua anak kembarnya sudah berada dalam pelukan Kiranti.


"Kiran, Calvin ke mana? Kenapa kamu hanya sendiri?" tanya Erlangga dengan mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru ruangan.


"Ada di kamar mandi, mungkin sebentar lagi ke luar," jawab Kiran.


"Orang tua kamu?" tanya Erlangga lagi.


"Ibu sama Bapak tadi pagi pulang, karena Bapak sedang tidak enak badan, batuk terus. Takutnya akan menular pada Kelvin."


"Kelvin? Sudah dapat nama?" tanya Rafika kaget.


"Sudah tadi mertuaku yang kasih," jawab Kiranti dengan tersenyum.


"Wah mertua kamu perhatian sekali," puji Rafika.


Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk menyinggung siapa pun. Tapi kata-katanya membuat Erlangga merasa tidak enak hati. Karena keluarganya tidak perhatian seperti keluarga Calvin.

__ADS_1


Tidak berapa lama kemudian, Calvin keluar dengan wajah yang ditekuk. Dia merasa kesal karena tongkatnya susah sekali buat ditidurkan. Apalagi dia terus terbayang buah yang selalu membuatnya penasaran.


"Calvin, kamu kenapa kelihatannya tidak bersemangat sekali?" tanya Erlangga.


"Tidak apa, Elang. Kapan kamu datang?" tanya Calvin langsung mengalihkan pertanyaan.


"Belum lama. Ayo kita duduk di sofa!" ajak Erlangga.


"Kembar ikut juga, sini sama Om!" ajak Calvin lalu mendekat ke arah Kiranti.


Melihat kedatangan Calvin, Agya langsung meminta digendong oleh omnya itu. Wajah yang tadinya ditekuk langsung terlihat berseri. Saat Agya merengek meminta digendong olehnya. Calvin pun langsung mengulurkan tangannya agar Agya menuju ke arahnya.


"Agya pasti kangen nih sama Om," ucap Calvin.


"Iya Om, makanya Agya ke sini," ucap Rafika menirukan suara anaknya.


"Ada-ada saja kamu Fika," ucap Calvin seraya berlalu pergi menuju ke sofa tempat Erlangga duduk. Kedua laki-laki itu pun berbincang sangat serius. Karena ada hal penting yang ingin Erlangga katakan pada sahabatnya.


Berbeda dengan Rafika dan Kiranti, kedua wanita cantik itu berbincang dengan diselingi oleh candaan. Apalagi saat melihat tingkah Alya yang menggemaskan membuat Kiranti dan Rafika semakin terkekeh.


"Kalau Mami Papi Alya mengizinkan, Tante ingin sekali menjadikan Alya sebagai menantu tante."


"Boleh aja sih Kiran. Kita jadi besanan, hahaha ... Kayaknya seru ya kalau anak-anak kita menikah."


"Iya kayaknya lucu banget ya Fika. Awalnya kita sahabatan udah tua malah jadi besanan."


"Sayang, biar anak-anak yang menentukan pilihannya sendiri. Jangan main jodoh-jodohan kalau nanti membuat anak kita tidak bahagia. Aa tidak keberatan anak-anak kita menikah dengan siapa pun, asalkan bisa membuat anak kita bahagia dan membawa mereka pada kebaikan," tegur Erlangga saat mendengar pembicaraan istrinya.


"Iya, Papi. Kita hanya becanda kho!" sahut Rafika


Mereka berjalan beriringan dengan tangan yang saling menggenggam. Sampai tanpa sengaja lewat lewat di dekat kasir dan mendengar perdebatan seorang wanita hamil yang mereka kenal.


"Mbak Selvi, ada apa?" tanya Rafika menghampiri Selvi yang sedang memasang wajah tegang.


"Dia memaksa ingin semua obatnya dibawa, Mbak. Tapi dia hanya memberi uang setengah dari resep obat. Kami tidak bisa memberikannya, karena kami tidak ada uang untuk membayar sisanya," jelas petugas apoteker.


"Tolong berikan saja, Mas. Biar saya yang akan membayar sisanya," ucap Rafika.


"Silakan Mbak bayar di kasih dulu, baru saya akan memberikan obat sesuai resep."


"Mbak Selvi, boleh saya minta struknya?"


Selvi tidak bicara sepatah katapun, dia butuh obat itu untuk kandungannya yang lemah. Tapi dia pun tidak memiliki uang yang cukup. Dia habis tertipu oleh pria hidung belang yang mengaku sebagai pengusaha tambang. Sampai mobilnya raib, ditambah lagi dia harus mengandung anak dari laki-laki itu. Meskipun dia membenci ayah dari anaknya, tetapi hatinya sebagai seorang ibu sangat menyayangi anaknya itu.


Setelah Rafika membayar resep obat sesuai yang diresepkan oleh dokter dan mengambil obatnya, dia pun kembali menemui ke Selvi yang sedang duduk di Bangku tunggu. Lumayan jauh dari tempat Erlangga duduk.


"Mbak, ini obatnya. Kalau boleh tahu memangnya sakit apa? Kenapa obatnya banyak sekali?" tanya Rafika.


"Kamu tidak perlu tahu apapun tentang aku, terima kasih sudah menebus obatku." Selvi mengambil satu kantong obat yang diberikan oleh Rafika. Dia pun langsung berlalu pergi meninggalkan Rafika.


Mbak Selvi masih saja ketus. Tapi biarlah, itu urusan dia.

__ADS_1


Rafika pun segera menghampiri suaminya yang sedang bercanda dengan putra mereka. Erlangga tersenyum menyambut kedatangan istrinya. Dia senang, meskipun sekarang Rafika sudah membeli apapun yang dia inginkan tapi Rafika masih saja menjadi orang yang sederhana dan suka menolong orang yang membutuhkan pertolongannya.


"Aa, sepulang dari sini kita makan bakso yuk! Aku kangen makan bakso boom." ajak Rafika seraya duduk di samping Erlangga.


"Boleh saja, tapi tidak boleh makan pedas," sahut Erlangga


"Yah, gak enak. Kembar, boleh kan kalau Mami makan bakso pedas?"


Seperti yang sudah mengerti, kedua anaknya menggelengkan kepalanya. Padahal mereka hanya mengikuti papanya yang menggelengkan kepala.


"Kalian tuh, selalu menurut pada Papi. Tidak sayang sama Mami ya," ucap Rafika dengan memasang wajah melas.


"Ma-ma Ma-ma ...." Kompak kedua anaknya.


"Mami juga sayang pada kalian," ucap Rafika dengan mencium kedua anaknya secara bergantian.


"Papi tidak?" tanya Erlangga dengan melihat ke arah istrinya.


"Malu ikh Papi, nanti saja ya!"


"Oke, janji ya! Ayo pulang, sepertinya Agya sudah mengantuk." ajak Erlangga.


Pasangan suami istri itu pun akhirnya langsung pulang ke rumah. Mereka membeli baksonya di bungkus. Karena akan sulit jika makan di tempat. Tidak ada yang menjaga anaknya. Sampai di rumahnya, terlihat Bu Sofie yang sedang menata pot bunga di taman. Dia langsung mencuci tangan dan menyambut kedatangan anak dan cucunya.


"Cucu Nenek tidur semua, sini biar Ibu bantu." Bu Sofie langsung mengambil alih cucunya dan membawa ke kamar anak yang ukurannya cukup luas. Setelah menidurkan cucu perempuannya, dia kembali untuk membantu Rafika membawa cucu laki-lakinya.


"Ibu, Mbak Nina ke mana?" tanya Rafika dengan melihat ke sekeliling rumah.


"Dia mengundurkan diri, Fika. Ibu juga tidak tahu kenapa. Katanya diterima kerja di rumah sakit yang ada di luar negeri."


"Kenapa mendadak sekali ya! Tidak bilang dulu sama aku juga," gerutu Rafika merasa aneh dengan perawat itu.


"Biarkan saja, Sayang. Kita cari perawat lain yang lebih kompeten."


Baguslah dia pergi sendiri. Tidak harus repot-repot aku usir, batin Erlangga.


Flashback on


Saat kemarin Rafika menjaga Kiranti di rumah sakit. Erlangga sengaja pulang lebih dulu dan berganti pakaian. Namun, saat dia keluar dari kamar mandi. Dia sangat terkejut melihat perawat itu sedang duduk di tempat tidurnya. Padahal dia hanya memakai handuk yang melilit di pinggangnya.


"Siapa yang mengijikan kamu masuk?" tanya Erlangga dengan nada dingin.


"Tadi Agya ingin bertemu papinya," kelit Nina.


"Keluar!!! Atau ingin aku pecat dengan tidak terhormat." Aura dingin Erlangga yang memendam kemarahan, membuat tulang -tulang Nina terasa membeku. Dia tidak menyangka kalau Erlangga marah akan sangat menakutkan seperti itu.


Nina pun akhirnya memilih keluar dari kamar Erlangga dengan membawa Agya bersamanya. Meninggalkan Erlangga dengan rahang yang mengeras. Ingin sekali dia membentak perawat itu, tapi sudah pasti, anaknya kan ketakutan.


Flashback off


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2