Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 86 Buka Puasa


__ADS_3

Hari-hari pun terus berlalu, kini usia bayi kembar itu sudah menginjak dua bulan. Mereka terlihat begitu menggemaskan. Kiranti setiap hari selalu ikut menjaga bayi itu. Dia pulang ke rumahnya hanya saat menjelang suaminya pulang kerja.


Hubungannya dengan Calvin semakin dekat. Apalagi sekarang Calvin sudah mulai ketularan virus cinta seperti Erlangga yang tidak mau jauh dari istri-istri mereka. Seperti siang ini, Erlangga dan Calvin tanpa sengaja bertemu dengan gadis yang pernah memporak-porandakan hati Calvin. Namun, sepertinya hal itu sudah tidak memiliki pengaruh seperti dulu lagi. Karena kini hati Calvin sepenuhnya sudah terisi oleh Kiranti.


"Hai Calvin, aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu. Dengan Elang juga. Kalian semakin gagah saja saat usia semakin bertambah," ucap Renata, mantan kekasih Calvin.


"Apa kamu perwakilan dari perusahaan ZAYN?" Bukannya menanggapi ucapan Renata, Calvin malah bertanya.


"Iya, aku manajer pemasarannya. Kenapa kita terlalu serius? Ayolah, kita kan teman lama!"


"Vin, cancel saja. Aku tunggu di mobil," ucap Erlangga seraya berlalu pergi meninggalkan gadis yang sudah mempermainkan perasaan Calvin.


"Maaf, Mbak Renata. Kami ke sini bukan untuk bernostalgia, tapi untuk memakai jasa perusahaan Anda. Tapi sepertinya Anda tidak bisa bersikap profesional, jadi mohon maaf. Kami membatalkan kerjasama dengan perusahaan Anda." Calvin mengikuti apa yang yang Erlangga suruh. Dia membungkukkan badannya sedikit sebelum berlalu pergi.


"Calvin tunggu! Kenapa terburu-buru sekali? Aku bisa memberikan apapun yang kamu minta asalkan kerjasama ini berjalan dengan baik." Renata memegang tangan Calvin menahan laki-laki itu untuk pergi.


"Jangan seperti ini, Renata. Aku pria beristri, tidak baik bersentuhan dengan lawan jenis. Sebaiknya kamu juga harus bisa menjaga diri. Jangan biarkan, tubuhmu disentuh oleh banyak laki-laki!" Calvin melepaskan pegangan tangan Renata, lalu pergi begitu saja.


Dulu Calvin cinta buta pada Renata, sampai mau saja dimanfaatkan oleh gadis itu agar bisa mendekati Erlangga. Sampai akhirnya, Renata meninggalkan dia karena tidak berhasil mendapatkan Erlangga. Bahkan meremehkan dan menertawakan Calvin di depan teman-temannya. Membuat Calvin hilang kepercayaan diri untuk menjalin hubungan dengan seorang gadis.


"Elang apa aku harus mencari rekan kerjasama baru secepatnya? Atau proyek itu kita cancel dulu sampai menemukan pengembangan yang bisa dipercaya?"


"Aku sudah menemukannya. Calvin coba kamu cari tahu rekan bisnis ZYAN industry. Kita hindari kerjasama dengan mereka. Aku tidak mau bertemu dengan wanita itu lagi."


Elang masih marah pada Renata. Sama seperti dulu saat dia membelaku, batin Calvin.


"Baik, Bos!" sahut Calvin.


Tidak ada percakapan lagi selama perjalanan pulang. Erlangga sibuk dengan laptopnya. Sementara Calvin sibuk dengan ponselnya. Mengatur jadwal Erlangga dan mencari tahu tentang perusahaan ZYAN. Sampai mobil sudah terparkir di depan rumah Erlangga, barulah mereka menghentikan kegiatannya.


Kedua sudut bibir pria tampan itu terangkat sempurna, saat melihat istri-istri mereka sedang menanti kedatangan mereka di teras rumah dengan bayi kembar Erlangga di gendongannya.


"Mereka sudah menunggu kita," ucap Calvin seraya membuka seat belt yang membelit badannya.


"Iya, beruntung aku bertemu dengan mereka. Gadis sederhana yang memiliki hati yang tulus," ucap Erlangga seraya membuka pintu mobilnya.


Rafika dan Kiranti langsung menghampiri suami mereka yang baru turun dari mobil. Mereka langsung mencium punggung tangan suaminya masing-masing. Sementara kedua suami sayang istri itu mencium kening istrinya. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata saat melihat sepasang suami istri yang terlihat saling menyayangi satu sama lain.


"A, tumben pulang cepat?" tanya Rafika setelah melepaskan tangannya.


"Aa kangen sama kamu, sama anak kita." Erlangga ingin memegang putranya yang sedang digendong oleh Rafika, tetapi istrinya langsung menjauhkan dari suaminya.


"Aa cuci tangan, bersihkan badan dulu, baru boleh memegang Agya."

__ADS_1


"Oh, iya... Maaf Papi lupa, Sayang. Aa ke atas dulu ya, mau mandi dulu biar bisa main dengan mereka."


"Fika aku pulang dulu ya! Bang Calvin juga kayaknya mau mandi dulu," pamit Kiranti.


"Iya, Alya sama Mbak dulu ya!" ujar Rafika.


Perawat yang menjaga anak kembarnya pun segera menghampiri Kiranti dan mengambil alih bayi mungil yang menggemaskan itu. Kiranti pun langsung pulang ke rumahnya dengan Calvin yang menggandeng tangannya.


"Apa hari ini jagoan kita anteng?" tanya Calvin dengan mengelus lembut perut Kiranti.


"Anteng dong, Papa. Habis meeting di mana, Bang? Tumben sekali pulang cepat. Biasanya kalian pulang menjelang magrib kalau pergi ke pusat," tanya Kiranti.


"Tadi mau meeting dengan perusahaan ZYAN, tapi Elang batalkan karena terlihat mereka tidak profesional," ucap Calvin. "Mama, mandi bersama Papa ya!" bisik-nya.


"Abang ikh ...."


"Nanti kita jalan-jalan sore ke danau melihat anak-anak muda yang sedang nongkrong. Bagaimana kalau malam ini kita menginap di apartemen. Rasanya sudah lama tidak ke sana."


"Boleh, Bang. Apartemen yang menjadi saksi kisah kita. Apa Abang tidak curiga kalau kita sengaja dikerjain mereka?"


"Kita memang dikerjain oleh mereka. Kalau kamu ingin sahabat baik kamu itu punya andil besar."


"Maksud Abang, Fika?"


"Maksud Abang? Saat pertama kita ....?" Kiranti tidak melanjutkan ucapannya, dia hanya menautkan kedua jari telunjuknya. Membuat Calvin tersenyum.


Pria tampan itu menjadi semakin gemas pada istrinya. Saat sudah sampai di rumahnya, dia langsung menggendong Kiranti dan membawa istrinya ke kamar mandi. Mereka seperti air kecil yang baru mendapatkan mainan baru. Keduanya asyik memainkan busa sabun di dalam bathtub. Sampai akhirnya, Calvin semakin merapatkan tubuhnya pada Kiranti.


"Kiran, kita lanjutkan di tempat tidur saja!" ajak Calvin.


Kiranti tidak menjawab ucapan Calvin, dia hanya tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. Tangannya dia kalungkan pada leher suaminya. Seperti seekor kanguru yang menggendong anaknya, Calvin membawa Kiranti ke bawah shower. Mereka membilas badan bersama, membuat Calvin sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya.


"Kiran, ayo kita udahan mandinya!" ajak Calvin dengan menutup air shower. Dia mengambil handuk untuk mengeringkan tubuhnya dan juga tubuh Kiranti sebelum mereka melanjutkan bermain kuda lumping.


Tidak jauh berbeda dengan Erlangga dan Rafika. Yang awalnya cepat-cepat mandi karena ingin bermain dengan anaknya, tapi pada kenyataannya, mereka asyik bermain bola kasti bersama. Membuat kamarnya dipenuhi oleh suara-suara yang membuat orang menjadi merinding saat tidak sengaja mendengarnya.


"Aa ... Kenapa sakit lagi?" tanya Rafika saat Erlangga berhasil memasukan tongkat saktinya.


"Sabar, Sayang hanya sebentar." Erlangga seperti singa kelaparan terus menggempur Rafika. Setelah dua bulan berpuasa, akhirnya dia bisa merasakan lagi nikmat dunia yang selalu membuatnya ingin lagi dan lagi.


Namun, saat Erlangga ingin melakukan untuk ronde yang berikutnya, terdengar suara pintu kamarnya ada yang mengetuk. Ditambah lagi suara tangisan anak kembarnya yang saling bersahutan. Erlangga pun segera melepaskan diri dari Rafika.


"Iya tunggu sebentar!" teriak Rafika.

__ADS_1


"Aa ke kamar mandi dulu ya!" bisik Erlangga.


"Iya!" sahut Rafika yang sibuk memakai kembali bajunya. Dia bergegas membuka pintu untuk mengambil alih kedua anaknya.


"Maaf, Mbak Fika Agya tidak mau berhenti menangis. Mungkin dia ingin menyusu," ucap Nina, perawat yang menjaga anak kembarnya.


"Alya pasti ikut-ikutan kakaknya nangis, ya sudah Mbak biar sama aku saja. Ada papinya ini," ucap Rafika seraya mendorong stroller masuk ke dalam kamarnya.


Perawat ingin melongokkan kepala untuk melihat Erlangga. Pikirannya sudah travelling membayangkan laki-laki tampan tidak memakai baju. Karena saat Erlangga memakai kameja tau kaos oblong, samar-samar pahatan perut kotak-kotaknya terlihat membuat dia penasaran ingin melihat wujud asli roti sobek itu.


"Mbak Nina, tidak usah ikut ke dalam! Suamiku tidak suka kalau ada orang asing masuk ke dalam kamar kami. Jangan sampai rasa penasaran Mbak Nina membuat Mbak susah mencari pekerjaan loh. Suamiku memang baik, lembut dan penyayang. Tapi itu hanya sama istri dan anak-anaknya. Kalau sama orang yang suka mengusik ketenangan keluarganya, dia itu SADIS. Tidak pernah pandang bulu." Rafika menghentikan ucapannya. Dia melihat ekspresi Nina yang meringis.


"Waktu itu juga, dia memecat orang karena aku yang minta soalnya orang itu menyebalkan, selalu curi-curi perhatian. Habis dipecat, orang itutidak diterima kerja di perusahan manapun. Akhirnya dia memilih jadi tukang pijat," lanjutnya.


"Beneran, Mbak Fika?"


"Iya, makanya mending cepat pergi diri sini. Sebelum suamiku melihat Mbak Nina seperti ingin masuk ke dalam kamar. Bahaya Mbak kalau kepergok sama dia."


"Kalau begitu saya permisi, Mbak!" pamit Nina.


Rafik cekikikan sendiri melihat kepergian perawat itu. Membuat Erlangga yang baru keluar dari kamar mandi menjadi heran dengan apa yang dilihatnya.


"Mami, senang sekali. Ada apa?" tanya Erlangga seraya mengambil salah satu anaknya dari stroller.


"Aku habis kasih peringatan pada perawat si kembar. Masa A, tiap Aa ada di rumah dia suka sekali curi-curi pandang." Cebik Rafika.


"Apa perlu Aa pecat dan ganti orang yang baik?"


"Gak usah A, kerjanya bagus. Hanya saja dia seperti penasaran sama Aa. Aku kan risih."


"Apa Mami kembar cemburu?"


"Enggaklah, A. Mana ada aku cemburu, aku hanya kesal kalau ada cewek yang terkagum-kagum sama suamiku."


"Sini Mami kita duduk bersama. Papi jadi gemas sama Mami kembar, jadi pengen ...."


"Apaan sih Papi Kembar?"


Keduanya pun saling menggoda dengan disaksikan oleh kedua anak kembarnya, yang mendadak anteng saat berada di dekat papinya. Sampai akhirnya mereka tidur bersama dalam satu tempat tidur.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2