
Sepertinya Rafika sudah tidak bisa mengelak lagi, saat Erlangga memaksa dia untuk perawatan seluruh tubuh dan wajah. Dia hanya mengikuti keinginan bosnya itu karena Rafika ingin mendapatkan pijatan di seluruh tubuhnya.
Namun saat sudah selesai spa badan dan berganti ke wajah, dia menolak dengan keras. Rafika memang sangat tidak suka berdandan ataupun harus memakai berbagai jenis make-up di wajahnya. Dia lebih suka terlihat natural. Dia takut menempelkan krim-krim yang tidak dia kenal di wajahnya akan merusak wajahnya yang terlihat baby face.
"Sudah, Mbak. Bukankah hanya spa badan saja. Aku gak mau wajahku diapa-apain," tolak Rafika.
"Ini bahan alami, Mbak. Tidak akan merusak wajah. Hanya akan membuat wajah Mbak lebih bersih dan bersinar," bujuk terapis.
"Beneran loh, Mbak! Awas saja kalau nanti wajah aku jadi gatal-gatal. Aku tuntut Mbak di pengadilan," ketus Rafika.
"Memang kamu punya uang, Fika?" celetuk Erlangga yang masuk karena penasaran mendengar kegaduhan.
"Bos, ngapain ke sini? Jangan ngintip! Aku gak pake baju." Rafika langsung panik melihat Erlangga berdiri di ambang pintu dengan menyenderkan badannya ke kusen.
"Aku sudah melihat semuanya, Fika. Kamu tidak usah malu-malu seperti itu," sarkas Erlangga. "Sekarang kamu nurut saja sama Mbaknya, biar cepat selesai. Itu bukan make-up hanya perawatan wajah kamu saja."
Make over kamu nanti Fika. Bukan sekarang, batin Erlangga.
"Aku tetap gak suka, Bos. Bagaimana kalau nanti wajah aku rusak?"
"Gak akan, Fika. Kalau kamu tetap menolak, aku akan tetap berdiri di sini menunggu sampai kamu mau," ancam Erlangga.
"Iya, Bos tukang paksa." Rafika mencebikkan bibirnya dengan mata yang mendelik pada Erlangga.
Bukannya tersinggung, laki-laki itu justru malah tertawa dalam hatinya. Dia merasa lucu melihat sikap Rafika. Setelah memastikan Rafika mengikuti terapis itu, dia pun kembali duduk ke kursinya.
"Elang, apa kamu sudah jatuh cinta dengan gadis itu?" tanya Calvin.
"Aku gak tahu, tapi entah kenapa dia selalu sukses membuat aku kesal dan ingin tertawa. Sampai-sampai aku tidak tahu harus berekspresi seperti apa."
"Kalau kamu mencintai, jangan permainkan dia." Calvin melirik ke arah Erlangga. Dia
ingin memastikan mimik wajah sahabatnya.
__ADS_1
"Lihat saja nanti. Aku belum bisa memberikan jawaban sekarang. Calvin, sepulang dari sini kita makan dulu. Pasti dia sudah kelaparan karena sekarang sudah masuk jam makan malam."
"Apa aku perlu mem-booking tempat?"
"Jangan! Aku ingin tahu, kedua gadis itu akan membawa kita ke mana. Terkadang aku penasaran dengan kehidupan orang biasa. Kamu tahu sendiri, selama aku hidup bersama dengan kakek, semuanya dia yang mengatur."
"Baiklah! Nikmati kehidupan kamu, Elang. Mumpung sekarang kamu jauh dari Tuan Besar," ucap Calvin seraya tersenyum hangat pada sahabatnya.
Tidak berapa lama kemudian, Rafika dan Kiranti keluar dari ruang perawatan. Kedua gadis itu terlihat fresh, meskipun tanpa make-up tebal yang menutupi wajah cantiknya.
Padahal gak make-up tapi wajah Rafika jadi lebih bercahaya, batin Erlangga.
Mereka memang cantik alami. Tanpa polesan make-up pun sudah terlihat cantik, batin Calvin.
"Woy, Pak Bos! Bengong aja! Terpesona melihat kita ya? Hihihi ... Gadis joroknya sudah berubah jadi Cinderella, ya?" Rafika mengibaskan tangan di depan wajah Erlangga.
Grep!
Laki-laki itu langsung menangkap tangan Rafika dan segera bangun dari duduknya. Dia langsung menarik gadis itu menuju ke mobilnya. Sampai di sana, Erlangga langsung memojokkan Rafika ke pintu mobil.
"Jangan tergoda oleh aku, Bos! Aku tidak yakin bisa berdiri di sisi Bos. Sementara sudah ada perempuan sempurna yang akan menjadi pendamping kamu. Sepertinya, aku akan menyerah dengan perasaan aku. Kita berasal dari kasta yang berbeda," ucap Rafika dengan menatap lekat mata Erlangga yang tepat ada di atas wajahnya.
"Apa aku mengijinkan kamu untuk menyerah? Kita belum mencobanya, kenapa sekarang kamu memilih untuk menyerah?"
"Aku merasa tidak pantas bersama dengan Bos," ucap Rafika memutuskan kontak matanya dengan Erlangga
Kenapa hatiku merasa sakit mendengar apa yang dia katakan, batin Erlangga.
Tok tok tok ....
"Bos, sudah selesai belum? Kita mau masuk nih," tanya Calvin.
"Masuk saja!" Erlangga segera membenarkan posisi duduknya.
__ADS_1
Calvin dan Kiranti langsung masuk dan duduk di kursi depan. Mereka tidak berani angkat bicara. Apalagi saat mereka melihat raut wajah Erlangga yang suram. Sampai akhirnya, Rafika memecah kesunyian.
"Bos, kita makan sate Pak Min yuk! Ayolah, Bos! Traktir aku sekali ini saja. Mau ya," pinta Rafika dengan memegang ujung jas Erlangga.
Erlangga tidak langsung menjawab permintaan Rafika. Dia melihat ke arah gadis itu. Lalu kepalanya mengangguk. Melihat isyarat setuju dari Erlangga, Rafika langsung tersenyum cerah.
"Makasih, Bos! Emang top deh Bos kita ini," puji Rafika.
Aku tidak akan membiarkan kamu lepas dari genggaman aku Fika. Semakin kamu ingin lepas dariku semakin aku akan menjerat kamu dengan cintaku, batin Erlangga.
Aku akan menikmati setiap moments kebersamaan aku denganmu, Bos. Aku ingin memiliki banyak kenangan tentang kita. Sampai akhirnya, aku tidak memiliki kesempatan lagi untuk bisa bersama denganmu, Bos. Semakin aku memikirkan setiap ucapan Ibu dan Bang Calvin, semakin aku mengerti, kalau cinta kita tidak mungkin bersama. Perbedaan yang terlihat jelas, membuat aku hilang kepercayaan diri untuk selalu bersamamu, batin Rafika.
Tidak berapa lama kemudian, Calvin memarkirkan mobilnya di sebuah warung sate yang ada di kota industri itu. Rafika langsung keluar dengan langkah ringannya dan memesan makanan yang dia inginkan. Selesai dia memesan, Rafika langsung mengambil tempat duduk lesehan.
Erlangga hanya mengikuti ke mana pun gadis itu pergi. Dia langsung mendudukkan bokongnya di samping Rafika dengan meluruskan kakinya. Dia melirik ke arah Rafika yang sedang asyik berfoto dan meng-upload di sosial media.
"Fika, kamu boleh menyicilnya."
"Menyicil apa, Bos?" tanya Rafika heran. Begitupun dengan Kiranti dan Calvin yang tidak mengerti arah pembicaraan Erlangga.
"Kamu boleh menyicil uang bekas tadi spa dan sekarang makan sate dengan memijat kakiku," ucap Erlangga.
"Maksud, Bos? Tadi aku spa gak gratis gitu?"
"Bagaimana bisa gratis, kalau ke toilet saja kita harus bayar."
"Bos, bukannya tadi yang memaksa aku perawat itu Bos sendiri ya? Kenapa sekarang harus aku yang bayar?" Rafika menautkan keningnya hingga beradu. Bibirnya pun dia bergerak ke sana ke mari mengikuti arah matanya yang mendelik.
"Kamu hanya cukup memijat aku. Bukankah tadi kamu sudah mendapatkan pijatan dari terapis itu? Sekarang kamu praktekkan sama aku," suruh Erlangga.
Bisa saja kamu Elang. Bilang saja ingin Fika menyentuh kamu karena kamu tidak suka perempuan sembarangan yang menyentuh tubuh kamu, batin Calvin.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....