
Meeting di Eastern Elang Groups berjalan dengan lancar. Mereka membahas tentang beberapa kendala yang ada di pabrik itu. Erlangga yang mendengarkan penuturan dari beberapa direktur di sana, akhirnya memberikan solusi yang tepat karena Leon yang disuruh memegang Eastern tidak bisa mengambil keputusan.
"Pak Elang, sebenarnya ada satu masalah yang sampai saat ini belum menemukan titik temunya," ucap Direktur Operasional Eastern Elang Groups.
"Soal?" tanya Erlangga dengan menatap lekat lelaki yang sudah berumur itu.
"Mengenai pembebasan lahan untuk pengembangan lokasi pabrik. Mereka protes karena uang yang mereka terima tidak sesuai dengan keinginan mereka."
"Bukankah waktu itu sudah deal?"
"Sudah, tetapi dana yang cair tidak sesuai dengan kesepakatan awal."
Baru saja direktur itu selesai bicara, terdengar keributan di luar lokasi pabrik. Sepertinya penduduk desa yang sawah mereka terkena gusuran pabrik tidak terima karena ternyata uang yang mereka terima tidak sesuai dengan kesepakatan awal. Hingga akhirnya mereka sepakat berdemo karena pihak perusahaan seperti tidak mau menanggapi komplain mereka.
"Jangan bikin pabrik di sini kalau tidak mau memenuhi keinginan kita! Pergi kalian orang kota!" teriak salah satu pendemo.
"Iya, lebih baik kita usir saja."
Orang-orang yang sedang meeting pun jadi penasaran. Mereka semua ikut mengintip dari jendela yang besar di ruangan itu saat Erlangga melihat ke luar jendela. Akhirnya dia pun turun untuk menemui orang-orang itu. Tak terkecuali Rafika yang penasaran karena sebenarnya, lokasi pabrik itu dekat dengan kampungnya. Hanya saja terhalang oleh sungai yang lumayan besar.
"Itu bosnya keluar, mana janjinya yang akan memberikan kami harga tanah sesuai kesepakatan?"
"Tenang bapak-bapak! Kita bisa bicarakan masalah ini baik-baik," ucap Calvin langsung menengahi.
"Halah bicarakan baik-baik bagaimana? Kami sudah beberapa kali datang ke sini baik-baik tapi kenyataannya, kami hanya pulang dengan tangan kosong. Cepat berikan sisa pembayaran tanah kami!"
Mendengar semua itu, Erlangga pun berniat untuk menenangkan. Namun, ada seorang pendemo yang malah melemparnya dengan telur busuk. Beruntung Rafika yang ada di samping Erlangga sigap, dia refleks menangkis telur busuk itu hingga akhirnya berbalik pada orang yang melemparkannya.
Gerakannya cepat sekali, seperti sudah terlatih, batin Erlangga.
__ADS_1
"Bapak-bapak, silakan kumpulkan fotocopy surat perjanjian jual beli dan kwitansi kalian agar kami mudah membayar sisa pembayarannya," ucap Erlangga. "Calvin dan kalian semua, urus masalah ini. Hubungi bagian keuangan untuk menyiapkan dananya."
"Baik, Bos!" sahut Calvin dan yang lainnya.
Sementara peserta demo hanya melongo, karena ternyata mudah sekali melobi bos perusahaan besar itu. Padahal saat mereka bertemu dengan bos yang satunya lagi, orang itu pintar sekali berkelit. Makanya tetua kampung itu mengajak warganya untuk berdemo.
Berbeda dengan Rafika yang langsung tersadar dari rasa kagetnya. Dia pikir Erlangga akan marah karena ada orang yang melempar telur ke arahnya, tetapi nyatanya itu tidak terjadi. Namun, yang lebih membuatnya kaget, saat tangan Erlangga terus menarik gadis itu menuju ke ruangan CEO yang ada di pabrik itu.
"Rafika, katakan siapa kamu sebenarnya! Darimana kamu belajar ilmu seperti itu?" tanya Erlangga saat sudah berada di ruangan Leon..
"Itu hanya kebetulan saja, Bos. Aku-aku hanya karyawan baru di perusahaan, Bos."
"Katakan! Apa kita pernah bertemu sebelumnya?"
"Tidak, Bos!"
Dia pun langsung menghubungi Leon dan meminta adik tirinya itu agar segera datang ke pabrik. Cukup lama laki-laki tampan itu berbicara, sampai tidak menyadari, gadis yang bersamanya malah tertidur di sofa.
"Dasar ceroboh! Bisa-bisanya dia tertidur saat bersama dengan seorang pria. Apa dia tidak takut jika nanti aku mengambil kesempatan," gumam Erlangga.
Dia pun duduk di sofa tunggal dengan mata yang terus melihat ke arah Rafika. Hatinya seperti ada yang menggelitik agar dia mendekat ke arah gadis itu. Tanpa sadar, dia berjongkok tepat di dekat wajah Rafika yang sedang tertidur.
Erlangga memejamkan matanya, perlahan tangannya mengelus wajah cantik itu. Entah kenapa dadanya langsung bergemuruh hebat. Denyut jantungnya memompa pembuluh darah lebih cepat dari biasanya.
Erlangga terus saja menyusuri wajah cantik itu yang terasa hangat. Tanpa sengaja, tangannya menyentuh cairan bening di pelupuk mata Rafika. Pemuda tampan itu langsung membuka matanya dan melihat gadis itu sedang menatap lekat ke arahnya dengan sorot mata yang penuh luka dan kerinduan.
"Kenapa kamu menangis? Bukankah aku tidak menyakiti kamu?" tanya Erlangga.
"Bos, kenapa menyentuh wajahku. Please deh, jangan tergoda olehku! Ingat bos, Anda sudah bertunangan. Lagipula, aku hanya gadis jorok yang harus kamu jauhi," sarkas Rafika.
__ADS_1
"Apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Lagi-lagi Erlangga menanyakannya hal yang sama.
"Tidak!" sahut Rafika dengan memutuskan pandangannya. "Kenapa sih tanya begitu terus? Untuk apa aku harus bertemu dengan Bos sebelum aku bekerja di perusahaan Bos. Aku hanya gadis desa, perbedaan kita seperti langit dan bumi. Mana mungkin kita pernah bertemu sebelumnya. Sekarang pun kita bisa bertemu karena menjadi atasan dan bawahan."
"Jujur Rafika, siapa kamu sebenarnya?" Erlangga terus saja menatap lekat gadis itu. Semakin dia menatapnya, semakin penasaran dan membuat hatinya semakin bingung dengan perasaannya sendiri. "Lihat mata aku, katakan kalau sebelumnya kita tidak pernah bertemu?"
"Elang, semuanya ...." Calvin yang baru saja masuk ke ruangan itu, tidak melanjutkan ucapannya. Dia terkejut melihat posisi intim Erlangga dan Rafika yang sedang tertidur di sofa. Sampai akhirnya suara Erlangga menyadarkannya kembali.
"Calvin, apa mereka sudah pulang?" tanya Erlangga seraya bangun dari jongkoknya.
"Sudah, seperti anggaran untuk pembebasan lahan itu dipakai Leon. Tadi bagian keuangan bilang, dari perusahaan sudah keluar sesuai anggaran awal," jelas Calvin.
"Biarkan saja. Aku sudah bilang sama Kakek. Mungkin sebentar lagi, Leon datang ke sini. Saat dia datang, kita langsung pulang."
"Kamu tuh gak pernah berubah. Dari dulu selalu menghindari adikmu," ucap Calvin.
Baru saja dia selesai bicara, Leon datang bersama dengan Caithlyn. Rupanya mereka menggunakan helikopter agar cepat sampai di sana. Karena keduanya sedang berada di puncak.
"Kak Elang, maaf aku terlambat!" sesal Leon.
"Iya, Kak. Tadi Leon menjemput aku ke lokasi syuting. Katanya Kakak ada di sini, jadinya aku ikut saja dengan Leon," ucap Caithlyn dengan tersenyum manis pada Erlangga.
"Dekat sekali hubungan kalian?" sarkas Erlangga.
"Namanya juga dengan calon ipar," jawab Caithlyn langsung mendekati Erlangga. Senyuman manis yang sedari tadi menghiasi bibir sensualnya, langsung surut saat melihat Rafika ada di dekat Erlangga. "Kak Elang, siapa gadis itu? Kenapa berantakan sekali?"
"Dia assisten pribadiku."
...~Bersambung~...
__ADS_1