Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 66 Pulang


__ADS_3

Sinar mentari sudah tepat berada dia atas kepala. Perlahan Rafika membuka matanya. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali karena merasa silau dengan cahaya masuk. Tangannya menyingkirkan tangan Elang yang membelit di perutnya. Gadis itu langsung membalikkan badannya melihat pemilik tangan itu.


"Sudah puas tidurnya, Sayang?" tanya Erlangga dengan tersenyum manis.


Alis Rafika bertautan melihat keberadaan suaminya. 'Bukankah tadi ijin berangkat kerja?' pikirnya.


"A gak jadi kerja?" tanya Rafika.


"Jadi, sekarang sudah jam makan siang. Makanya Aa pulang. Kangen sama istri Aa. Tapi ternyata masih tidur." Lagi-lagi Erlangga tersenyum manis.


"Aku mau mandi dulu akh, nanti dibilang gadis jorok lagi sama Pak Bos Elang." Rafika langsung bangun dari tidurnya. Dia bergegas menuju ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Meninggalkan Erlangga yang tersenyum sendiri mengingat awal pertemuan mereka setelah dia sembuh dari amnesia.


Jodoh memang tidak bisa diduga. Dulu aku sangat tidak menyukainya karena penampilan gadis itu yang asal. Tapi semakin aku tidak menyukainya, semakin aku ingin selalu melihatnya, batin Erlangga


Seraya menunggu istrinya yang sedang mandi. Erlangga pun menyiapkan makanan untuk mereka makan siang. Dia yakin kalau Rafika sudah melewatkan sarapannya. Karena saat tadi dia datang, pengurus rumahnya bilang belum bertemu dengan nyonya rumah.


"Ayo, Sayang! Makan siang dulu. Pasti kamu gak sarapan," ajak Erlangga saat melihat kedatangan Rafika.


"Aa beli makan di mana?" tanya Rafika dengan melihat banyaknya makanan di meja.


"Tadi pengurus rumah yang beli. Katanya di dekat sini ada restoran Padang yang enak tapi harganya murah. Aa sih belum pernah mencobanya. Ini semua dibelikan sama Mang Udin."


"Siapa Mang Udin?"


"Yang jagain rumah ini. Dia hanya datang untuk beres-beres. Mungkin sekarang ada sedang membereskan taman," jelas Erlangga.


"A kapan kita pindah ke sini? Kayaknya enakan tinggal di sini. Depan rumah teduh karena ada pohon akasia. Ada halaman rumputnya juga. Tapi belum ada bunga-bunga yang cantik."


"Nanti kamu pilih sendiri bunganya atau mau nyuruh Mang Udin untuk mencarikannya. Kita tinggal mengatur saja mau ditanam sebelah mana. Kalau pindah ke sini, kita tanya dulu sama Calvin dan Kiran. Biar barengan pindahnya."


"Bagus juga pindahan bareng. Ayo A pimpin do'a, kita makan dulu."


Erlangga pun memimpin doa sebelum mereka menikmati makan siangnya. Perut yang lapar karena melewatkan sarapan pagi, membuat Rafika menghabiskan semua makanan yang ada. Erlangga hanya tersenyum melihat napsu makan istrinya yang tidak tertolong. Membuat pria tampan itu hanya menopang dagu melihat cara makan Rafika.

__ADS_1


"Alhamdulillah kenyangnya," ucap Rafika dengan mengelus lembut perut ratanya.


"Fika, makanannya lari ke mana? Kenapa perutnya tidak terlihat buncit?"


"Mungkin masih nyangkut di lambung dan tenggorokan."


"Aa, kenapa makanannya tidak dihabiskan?"


"Porsinya terlalu banyak buat Aa. Fika, setelah makan, kita ke rumah besar ya! Aa harus ke sana. Ada hal yang harus diurus," ucap Erlangga.


"Ketemu kakek?"


"Iya, ketemu semua keluarga Aa. Nanti kita menginap di sana saja."


"Lalu Kiran bagaimana? Kita kan belum tahu mereka sudah malam pertama apa belum," tanya Rafika.


"Sayang, tugas kita untuk membuat mereka bersatu sudah selesai. Aa khawatir, kalau kita mengikuti saran Kak Helen. Nanti salah satu dari mereka ada yang tidak terima dan berakhir pada hubungan yang tidak baik. Biarkan saja Calvin dan Kiran merasakan cinta secara perlahan. Aa yakin, mereka berdua akan sama-sama jatuh cinta."


...***...


"Jangan takut! Kakek sudah menyetujui hubungan kita. Tidak akan ada yang berani menyinggung kamu kalau kakek sudah mengatakan menerima kamu."


"Iya, A. Tapi gak tahu kenapa aku deg-degan aja," ucap Rafika jujur.


Setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam, akhirnya mobil yang dibawa Erlangga sudah sampai ke sebuah rumah yang bergaya klasik. Dengan pagar rumah yang tinggi dan halaman yang lumayan luas.


Rafika terus saja mengedarkan pandangannya. Dia sedikit heran kenapa jarak dari pintu gerbang ke rumah utama lumayan jauh. Apalagi, mereka harus melewati tanah kosong yang seperti lapangan sepakbola bola.


"A, di rumah Aa ada lapangan bolanya ya! Aku baru rumah yang ada lapangan bolanya," ucap Rafika.


"Itu sengaja untuk latihan. Kalau pas tujuh belasan, suka ada turnamen bola. Selama sebulan itu rumah ini open house."


"Wah keren juga ya. Nanti aku mau ikutan."

__ADS_1


"Mana bisa. Yang ikut hanya laki-laki. Para wanita menyiapkan makanan untuk kita. Tuh lihat, kedatangan kita sudah ditunggu," tunjuk Erlangga pada orang-orang yang sedang berdiri di depan teras rumahnya.


"Aa anak sultan?" tebak Rafika. Dia teringat dengan film yang ditontonnya tentang kerajaan modern.


"Bukan sayang!" Erlangga menjawil hidung Rafika gemas. "Aa hanya cucu purnawirawan," lanjutnya. Bersamaan dengan Erlangga mematikan mesin mobilnya.


Pasangan suami istri itu keluar dari mobil dengan di sambut oleh para pekerja di rumah itu. Mereka sangat senang saat mendengar Erlangga akan membawa istrinya. Namun tidak bagi seorang wanita cantik yang sebentar lagi akan memasuki usia setengah abad.


Merlina terus saja menampilkan senyum palsunya saat semua orang satu persatu menyalami Rafika dan Erlangga. Begitupun dengan dengan Leon yang menatap sinis pada Rafika. Apalagi setelah kejadian di pulau Dewata. Laki-laki itu sangat tidak menyukai kakak iparnya.


"Selamat datang Den Elang dan Neng Fika. Kami senang dengan kedatangan kalian." ucap Pak Tejo pengurus rumah Tuan Ageng.


"Terima kasih Pak Tejo."


"Elang, lain kali kalau pulang ke rumah jangan membawa kuman. Kamu pulang saja sendiri," ucap Merlina dengan melihat sinis ke arah Rafika.


"Sudahlah, Mah. Gadis seperti itu tidak usah kita hiraukan. Hanya buang-buang waktu saja," timpal Leon.


"Apa maksud kalian bicara seperti itu? Kalau kalian tidak suka dengan kedatangan istriku, baik aku akan pulang." Erlangga langsung membalikkan badannya.


"Elang tunggu!" panggil Tuan Ageng yang baru keluar dari rumah. "Kalian berdua, harus bisa menjaga sikap. Bukan istrinya Elang yang menjadi kuman. Tapi kalian berdua," tunjuk Tuan Ageng pada Merlina dan Leon.


"Ayo masuk Elang! Di dalam sudah berkumpul untuk membicarakan tentang adik kamu," ajak Tuan Ageng.


Pasti soal Caithlyn. Cepat juga orang tuanya bergerak, batin Erlangga


Erlangga merangkul pinggang Rafika dan membawanya masuk ke dalam rumah. Dia tidak ingin ada keluarganya yang bersikap tidak baik pada istrinya. Karena hal itu sama dengan tidak menghargainya.


"Aa ada masalah apa?" tanya Rafika bingung.


"Nanti juga tahu. Kita akan menonton sandiwara keluarga Wijaya."


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2