
Seminggu sudah Calvin mencari keberadaan Erlangga. Dia pusing tujuh keliling karena tidak mendapatkan kabar keberadaan sahabatnya itu. Sampai akhirnya sebuah pesan masuk ke dalam ponselnya, membuat dia bergegas menuju ke tempat orang yang mengirim pesan itu.
Calvin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia begitu tidak sabar untuk secepatnya bertemu dengan Erlangga di apartemen. Entah dari mana laki-laki itu selama satu minggu ini. Yang jelas Calvin merasa senang saat mendengar keberadaan sahabatnya.
"Elang, kamu di mana?" teriak Calvin saat sudah masuk ke dalam apartemen Erlangga.
"Di balkon." Erlangga pun ikut berteriak saat menjawab pertanyaan Calvin.
Setengah berlari Calvin menuju ke balkon kamar Erlangga. Saat sampai di sana, dia langsung menghampiri sahabatnya. Tanpa berkata sepatah kata pun, Calvin langsung meninju perut Erlangga.
"Aw ... Apaan sih? Datang-datang main tonjok." Erlangga sedikit meringis mendapatkan tinjuan uang mendadak.
"Kamu yang apa-apaan. Kenapa menghilang begitu saja. Kamu pikir aku tidak cemas. Aku mencari kamu ke sana ke mari, tapi tidak menemui kamu juga," sentak Calvin.
"Aku hanya ingin menenangkan diri. Mencari tahu, sebenarnya apa yang aku inginkan."
"Jangan bilang kalau kamu mulai menyukai gadis itu. Apa yang kalian lakukan? Kenapa saat aku kembali ke tempat karaoke kalian sudah tidak ada?"
"Aku hanya bermalam dengannya di apartemen."
"Apa kamu bilang? Kalian ...." Calvin tidak melanjutkan ucapannya, dia hanya menyatukan kedua jari telunjuknya.
"Kepo kamu. Sudahlah, aku sekarang merasa lebih baik. Teka-teki yang selama ini tidak terjawab, sekarang sudah ada jawabannya. Aku pun sudah menentukan langkah aku selanjutnya."
"Maksud kamu apa, Elang? Jangan membuat aku semakin bingung."
"Aku akan memutuskan pertunangan aku."
"Apa katamu? Kamu jangan gila, Erlangga!" Tidak biasanya Calvin memanggil sahabatnya itu dengan nama aslinya. "Apa karena gadis desa itu?"
"Tidak ada hubungannya dengan dia. Meskipun aku tahu kalau gadis dalam mimpiku itu gadis jorok itu. Tapi itu bukan alasan aku akan memutuskan pertunangan itu. Selama ini aku hanya mencari waktu yang pas dan alasan yang kuat untuk memutuskan Caithlyn."
"Apa kamu akan memakai gadis itu sebagai alasannya?"
__ADS_1
"Ternyata kamu pintar. Tidak sia-sia selama ini kamu jadi assisten aku." Erlangga tersenyum lebar karena Calvin bisa menebak maksudnya dengan benar.
"Jangan gila kamu! Jangan membuat hidup gadis itu menjadi susah. Kasian dia tidak tahu apa-apa," sentak Calvin.
"Kamu tenang saja, dia tidak selemah itu."
"Maksud kamu?" Calvin semakin bingung dengan jalan pikiran bos sekaligus sahabatnya itu.
"Besok kamu atur, agar dia jadi assisten aku. Selain untuk meyakinkan kakek tua itu, aku juga bisa menjaganya jika ada hal yang tidak kita inginkan."
"Elang, apa kamu yakin dengan keputusan kamu?"
"Aku sangat yakin. Selama ini, aku selalu mengikuti keinginannya. Semenjak kepergian ayah dan ibu, aku selalu patuh apapun yang dia katakan. Tapi untuk pasangan, aku ingin menentukannya sendiri," ungkap Erlangga.
"Baiklah, jika itu sudah menjadi keputusan kamu. Aku pasti akan berdiri di belakang kamu," ucap Calvin dengan menepuk pundak sahabatnya. Dia harus menyiapkan hati, saat nanti harus dihadapkan dengan pertentangan antara cucu dan kakek itu.
...***...
"Ada apa Bos mencari aku?" tanya Rafika dengan nada sinis.
"Untuk mengangkat kamu jadi assisten aku. Apa kamu tidak ingin aku bertanggung jawab?" tanya Erlangga dengan tersenyum miring. Laki-laki itu berjalan mendekat ke arah Rafika.
"Maksud, Bos?" tanya Rafika dengan jantung yang berdegup kencang.
"Malam itu, kamu sungguh luar biasa. Membuat aku tidak bisa melawan dengan serangan kamu. Fika, aku baru tahu kalau kamu itu sungguh liar," bisik Erlangga.
"I-itu tidak mungkin," elak Rafika gugup.
"Kenapa tidak? Kamu mengira aku Kang Asep. Kamu terus menyerang aku, sampai aku merasa lemas tidak berdaya. Apa kamu sangat berharap kalau aku Kang Asep?"
Sial! Sepertinya saat mabuk aku meracau sehingga dia tahu semuanya, batin Rafika.
"Yang aku cintai Kang Asep bukan Bos. Meskipun wajah kalian mirip, tapi aku yakin kalau kalian dua orang yang berbeda," kelit Rafika.
__ADS_1
"Benarkah? Tapi kenapa tubuh kamu menegang?" tanya Erlangga dengan memeluk tubuh Rafika dari belakang.
Laki-laki itu menghirup sepuasnya aroma tubuh gadis yang mampu membuatnya tenang. Sejak malam itu, dia terus berpikir dan bertanya pada hatinya, sebenarnya siapa gadis yang dia inginkan di untuk menjadi pendampingnya? Semakin dia mencari jawaban pertanyaan hatinya, semakin bayang-bayang Rafika mengusik harinya. Akhirnya, dia pun memantapkan hati untuk melanjutkan rasa yang sempat tertunda.
"B-Bos, apa yang kamu lakukan?"
"Fika, apa kamu masih menginginkan Kang Asep kamu kembali?" tanya Erlangga lembut.
"Apa Bos sudah mengingatnya?"
Erlangga membalikkan badan Rafika untuk menghadap ke arahnya. Dia menatap lekat mata gadis itu yang penuh dengan kerinduan padanya. "Aku tidak bisa mengingat semua hal yang berhubungan dengan kamu dan Kang Asep itu. Tapi aku tidak bisa memungkiri perasaan aku, kalau aku ingin dekat dengan kamu."
"Apa itu artinya bos mengajak aku berdamai?" Rafika pun menatap balik Erlangga hingga keduanya saling bertatapan.
Ada desiran halus yang Rafika dan Erlangga rasakan. Saat mereka saling beradu pandang. Rasanya enggan kedua insan itu untuk saling melepaskan pandangannya.
"Bisa dibilang begitu." Erlangga langsung memutuskan kontak mata duluan. Saat ada sesuatu yang mendorong hatinya agar mengecup bibir gadis yang ada di depannya.
"Bos tidak akan galak lagi sama aku, kan?"
"Tidak, kalau memang kamu tidak salah. Sekarang kamu siapkan berkas untuk meeting dengan Putra Group. Aku akan melobi Tuan Aldrich untuk acara gathering perusahaan."
"Baik, Bos. Tapi cari berkasnya di mana?" tanya Rafika bingung.
"Coba tanyakan pada sekretaris aku di depan."
"Siap, Bos! Laksanakan!" sahut Rafika dengan riangnya.
Seperti baterai yang sudah dicarger penuh, gadis itu terlihat begitu energik. Sementara Erlangga hanya menatap punggung gadis itu sampai menghilang di balik pintu. Kedua sudut bibirnya terangkat sempurna. Dia merasa bahagia saat bisa berdamai dengan gadis yang selalu membantahnya itu.
Ternyata, saat aku bersikap baik padanya. Dia berubah menjadi gadis yang patuh. Mungkin selama ini dia sering menentang aku, karena sikap aku yang tidak bersahabat. Apa ini yang aku lakukan saat dulu tidak ingat dengan jati diriku sendiri? Selalu bersikap lembut dan baik kepadanya. Seperti apa yang gadis itu katakan saat mabuk.
...~Bersambung~...
__ADS_1