Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 41 Cokelat Cinta


__ADS_3

Seminggu sudah Rafika tidak bertemu dengan Erlangga. Semenjak hari itu, kekasih hatinya seperti menghilang di telan bumi. Memberi kabar ataupun menanyakan kabarnya saja tidak pernah. Membuat gadis itu berpikiran yang tidak-tidak.


"Fika, jangan melamun terus! Nanti Mbak Imel marah loh," ujar Kiranti mengagetkan Rafika yang sedang termenung di kubikel-nya.


"Kiran, kenapa Pak Bos tidak pernah memberi kabar ya? Bukannya kalau pacaran itu harus saling komunikasi?" tanya Rafika.


"Mungkin dia sibuk. Sudahlah, nanti dia juga pasti datang. Oh iya, besok Baim ngajak main ke kota tua. Kamu mau ikut gak? Katanya Zaenal juga ikut. Ayolah, mumpung kita libur!" ajak Kiranti setengah memaksa.


"Kamu masih suka sama Baim?" tebak Rafika.


"Hehehe ... Dikit sih. Sekarang badannya bagus ya Fika. Gak kaya jaman sekolah kerempeng," ucap Kiranti dengan tersenyum malu-malu.


"Dasar budak cinta!"


"Siapa budak cinta?" tanya Helen yang baru datang dari toilet.


"Itu tuh, Mbak. Fika cinta mati sama Kang Asep," jawab Kiranti asal.


"Kamu sudah punya pacar? Kirain kamu sedang pedekate dengan Pak Bos. Meskipun perjaka tua tapi penampilannya membuat cewek ngiler. Sayang saja, dia selalu menghindar untuk kontak fisik dengan cewek-cewek di kantor sini," beber Helen.


Apaan menghindar, Fika aja dibikin kehabisan napas sama Pak Bos, elak Kiranti dalam hati.


"Memang umurnya berapa, Mbak?" tanya Rafika kepo.


"Gak tahu juga sih, denger-denger sih sudah mendekati angka tiga puluh." Helen membuka kembali komputernya yang tadi dia kunci saat pergi ke toilet.


"Berarti sama aku beda delapan tahunan ya!" Rafika menempelkan telunjuknya di dagu dengan kepala yang mengangguk-angguk.


"Jangan kepedean deh, Fika. Mana mungkin dia mau sama kamu. Pak Bos saja manggil kamu gadis jorok. Lagipula, kamu seperti langit dan bumi dengan tunangan Pak Bos yang foto model itu," cela Selvi ikut menimpali pembicaraan ketiga wanita yang tempat kerjanya berdekatan.

__ADS_1


"Asal nimbrung aja, kamu Selvi. Jodoh gak ada yang tahu, siapa tahu nanti malah Mbak yang udah punya anak jadi jodohnya, hehehe ...." Helen tergelak sendiri dengan ucapannya. Membuat Rafika dan Kiranti pun ikut tertawa.


"Sepertinya anak marketing sedang bahagia," cetus Darwin yang baru datang ke ruangan.


"Biasalah, Mas. Hawa-hawanya ada yang sedang jatuh cinta," celetuk Helen di sela-sela tawanya.


"Kenapa kamu tidak ikut tertawa dengan mereka, Selvi?" tanya Darwin.


"Gak ada yang lucu, Mas. Mereka hanya sedang berkhayal untuk mendapatkan Pak Elang," jawab Selvi sinis.


"Tidak apa, asal jangan terobsesi saja! Lagipula Pak Elang sudah memiliki kekasih," ucap Darwin dengan melirik ke arah Rafika. "Oh, iya. Aku ke sini untuk memberikan ini sama kamu. Oleh-oleh dari Ausy."


"Siapa yang sudah ke Ausy, Pak?" tanya Selvi kaget.


"Pacarnya Fika. Dia menitipkan ini sama aku karena dianya masih sibuk belum bisa bertemu dengan Rafika," jawab Darwin enteng.


"Dia temanku dan bekerja di Elang Group pusat. Sudahlah, aku harus kembali ke ruangan aku. Jangan lupa di makan ya, coklat cintanya," goda Darwin.


Dia sebenarnya ingin tertawa saat teringat pada sahabatnya yang kebingungan mencari oleh-oleh untuk Rafika. Karena baru pertama kalinya seorang Erlangga membelikan oleh-oleh saat dia perjalanan dinas ke luar negeri. Darwin pun merasa bingung dengan tingkah Erlangga yang terkadang mirip abegeh yang sedang kasmaran.


"Makasih, Mas Darwin." Rafika tersenyum senang seraya mengambil paper bag yang diberikan oleh atasannya. Bisa-bisanya seorang direktur operasional menjadi kurir dadakan.


Setelah kepergian Darwin, tanpa malu Selvi merebut paper bag yang sedang Rafika keluarkan isinya. Selvi sangat tidak sabar ingin mencicipi cokelat buatan dari luar negeri. Tentu saja hal itu mengundang kemarahan Rafika yang kaget dengan sikap Selvi.


"APA YANG KAMU LAKUKAN?" bentak Rafika. Gadis itu langsung merebut kembali paper bag dan mendorong Selvi dengan keras sampai jatuh tersungkur dan kepalanya membentur ke lantai.


"Aw ... Sakit Rafika! Dasar cewek jadi-jadian, teman hanya minta juga kasar banget. Lihat jidat aku pasti memar. Akan aku adukan kamu ke HRD," ancam Selvi dengan memegang jidatnya.yanh sedikit memerah.


"Salah kamu sendiri gak punya sopan santun. main rebut milik orang lain. Memangnya kita tidak melihat pas kamu merebut paper bag itu? Lain kali, kalau kamu mau, minta dulu sama orangnya. Jangan asal rebut saja!" bela Helen yang memang melihat kejadian yang sebenarnya.

__ADS_1


"Mbak Helen tuh gak adil. Aku yang celaka tetap saja dia yang dibela. Apa istimewanya gadis urakan itu?"


"Sudah, Mbak. Jangan diladeni orang seperti dia. Kalau kamu mau lapor, lapor aja sana. Sekalian lapor ke Pak CEO. Kita tunggu panggilan sidangnya," timpal Kiranti.


"Kalian tuh terlalu hiperbol. Sini Mbak Selvi aku lihat. Kira-kira mau ditambahin biar masuk ke IGD atau sekalian masuk ke kuburan?" tanya Rafika enteng.


"Dasar bocah gendeng! Bicara sama mereka gak guna banget. Tapi kalau aku ngadu, Mbak Helen pasti belain cewek udik itu. Sudahlah, lebih baik aku ke klinik saja," gerutu Selvi seraya pergi ke luar ruangan


Sementara jauh dari perusahaan Rivers Automotive, seorang lelaki tampan dan mapan sedang tersenyum puas. Dia merasa sangat senang saat melihat rekaman CCTV yang menayangkan Rafika sedang mempertahankan cokelat pemberian darinya.


"Lucu sekali! Aku seperti melihat anak-anak kecil yang sedang berebut mainan. Aku semakin kangen ingin segera bertemu. Tapi sepertinya pekerjaanku di sini belum bisa aku tinggalkan," gumam Erlangga dengan senyum-senyum sendiri.


Sampai Calvin menjadi heran melihat kelakuan sahabatnya. Seminggu berada di luar negeri, membuat Erlangga terkadang uring-uringan. Tapi saat dia melihat CCTV yang terpasang di apartemennya, laki-laki itu langsung senyum-senyum sendiri.


Elang benar-benar sedang kasmaran. Hanya melihat rekaman CCTV apa yang Rafika lakukan, dia sudah senang seperti itu, batin Calvin.


"Calvin, kira-kira minggu depan kita sudah bisa pulang belum?" tanya Erlangga membuyarkan lamunan sahabatnya.


"Semoga saja sudah. Sepertinya, kita masih bisa datang ke acara gathering. Elang, yang aku dengar, Tuan Ageng juga mau ikut berpartisipasi pada saat acara gathering. Apa tidak akan ada masalah dengan Rafika. Sebaiknya kalian menjaga jarak di depan keluargamu," ungkap Calvin.


"Aku bisa sembunyi-sembunyi. Sepertinya seru kalau pacaran seperti main petak umpet. Kamu ingat Calvin, saat dulu aku memelihara kucing di kamarku? Kakek tua itu tidak tahu karena aku rapi menyembunyikannya. Tapi si penghianat itu malah memberitahu pada kakek."


"Iya, aku ingat. Sejak saat itu, kamu tidak ingin lagi dekat dengan adikmu."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2