Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 61 Lupakan!


__ADS_3

Setengah berlari, Calvin menyusuri jalanan di depan sebuah mall. Dia mencari keberadaan Kiranti yang dia pikir pergi ke parkiran. Namun, dugaannya salah karena dia tidak menemukan gadis itu di dekat mobilnya.


Setelah berlari lumayan jauh, akhirnya Calvin menemukan Kiranti sedang duduk di sebuah halte. Gadis itu tidak menangis, hanya menatap kosong kendaraan yang lalu lalang di depannya. Sampai-sampai tidak menyadari kalau Calvin sudah duduk di sampingnya.


"Nih!" Calvin memberikan es krim yang tadi dibelinya.


Kiranti langsung menengok saat mendengar suara Calvin sudah ada di sampingnya. "Terima kasih," ucapnya seraya mengambil es krim yang Calvin berikan.


"Tidak usah dipikirkan ucapan mantan kamu tadi. Nanti dia juga akan menyesal sudah menyakiti kamu," ucap Calvin seraya membuka es krim miliknya.


"Bang, jangan bilang Fika ya, soal tadi."


"Kenapa?"


"Fika pasti marah. Dia pasti akan melakukan hal tidak kita duga."


"Baiklah, aku tidak akan bilang sama sahabat kamu itu. Tapi harus janji dulu." Calvin melirik sekilas ke arah Kiranti, sebelum dia melanjutkan ucapannya.


"Janji apa? Kenapa aku harus janji?"


"Kamu harus janji untuk melupakan laki-laki yang tidak penting itu. Hidupmu masih panjang, Kiran. Jangan terpaku pada satu laki-laki yang sudah menyakiti kamu. Karena akan ada laki-laki lain yang tulus mencintai kamu."


"Baik, Bang. Aku janji pasti akan melupakan dia," ucap Kiranti dengan mata yang berkaca-kaca. Meskipun hatinya memungkiri tapi hatinya tidak bisa dia bohongi kalau sebenarnya masih sangat mencintai Baim. Tapi dia juga harus realistis, tidak mungkin memaksakan perasaannya pada laki-laki yang tidak mencintainya.


"Gadis pintar! Abang yakin, kamu pasti akan bertemu dengan cinta sejati kamu," ucap Calvin dengan mengelus lembut rambut Kiranti.


Mereka pun akhirnya bercakap-cakap, melupakan perselisihan yang sering terjadi di antara mereka. Sampai hari menjelang petang, barulah keduanya pulang ke apartemen. Mereka bahkan melupakan tujuan awalnya pergi ke supermarket. Sehingga pulang dengan tangan kosong.


"Bang, beli cemilan dulu ya! Pasti Fika nanyain kalau gak bawa apa-apa," ajak Kiranti.


"Boleh. Sekalian Abang mau beli minuman. Haus juga menghibur orang yang sedang sedih," goda Calvin.


"Siapa yang sedih? Aku hanya melow dikit," kelit Kiranti.


"Bisa saja kamu. Kamu pilih saja apa yang mau dibeli. Nanti Abang yang bayarin," suruh Calvin.

__ADS_1


"Asyik. Boleh banyak?"


"Boleh. Kamu bawa sekalian minimarketnya juga boleh asal dibopong sendiri."


"Mana bisa begitu," cebik Kiranti.


Sampai di minimarket yang ada di bawah apartemen, keduanya pun langsung memilih makanan dan minuman seperti yang mereka inginkan. Sampai keranjang belanjaan penuh dengan makanan semua. Selesai membayar belanjaannya, keduanya pun langsung menuju ke unit apartemen milik Erlangga.


Namun, saat sampai di sana, Kiranti sempat terkejut melihat baju Rafika ada di lantai. Dia pun segera membawanya ke tempat pencucian baju. Sementara Calvin yang mengerti dengan apa yang terjadi, dia pun berinisiatif mengajak gadis itu ke apartemennya.


"Kiran, ke apartemen Abang yuk! Abang mau minta tolong carikan hadiah buat seorang gadis."


"Kenapa gak di sini saja?"


"Nanti ganggu Elang dan Fika yang sedang tidur. Ayo sekalian bawa makanannya juga!" Calvin langsung menarik tangan Kiranti agar mengikutinya. Dia tidak mungkin memberi tahu yang sebenarnya terjadi pada gadis itu. Kasian kalau nanti Kiranti merasa tidak enak hati karena tinggal bersama mereka.


Sesampainya di unit apartemen milik Calvin, gadis itu hanya melongo melihat interior apartemen Calvin. Kalau milik Erlangga dengan gaya modern, sementara Calvin memilih interior dengan gaya klasik. Kiranti merasa seperti berada di ruangan yang ada di film-film barat.


"Kenapa bengong? Ayo duduk!" ajak Calvin.


"Pak Bos dan Bang Calvin ternyata teman dari kecil. Sampai fotonya dipajang di sini semua," ucap Kiranti dengan mata yang melihat satu per satu foto yang ada di dinding.


"Oh, itu Felisha. Dia teman sekelas kami."


"Cantik sekali. Pak Bos juga, mesra sekali sama dia."


Tentu saja, karena mereka berpacaran waktu itu.


Puas melihat-lihat foto yang terpajang di dinding, Kiranti pun akhirnya memilih duduk di sofa. Mereka memutuskan untuk menonton film Dewa Petir dari negeri Barat. Namun, saat film baru setengah jalan, Kiranti sudah terlelap di sofa.


"Belum juga selesai filmnya, sudah tidur aja. Sudahlah biarkan saja. Mungkin dia lelah karena banyak pikiran," gumam Calvin.


Dia pun kembali melanjutkan menonton film yang masih belum selesai. Sampai terdengar suara ponsel miliknya berbunyi, Calvin pun segera mengangkat panggilan telepon yang ternyata dari Erlangga.


"Hallo, Vin. Kamu masih di mana? Sudah malam kenapa belum pulang?" tanya Erlangga di seberang sana.

__ADS_1


"Aku di apartemen. Tadi sudah pulang tapi sepertinya kamu lagi ...."


"Sok tahu kamu. Kiranti sama kamu, kan? Istriku cemas sahabatnya belum pulang."


"Ada bersama aku lagi tidur."


"APA BANG? TIDUR? KALIAN BELUM HALAL KENAPA TIDUR BERSAMA?" teriak Rafika di seberang sana yang sukses membuat Calvin menjauhkan ponselnya dari telinga.


Belum juga Calvin akan menjelaskan, pintu apartemennya sudah dibuka oleh Erlangga. Pasangan suami istri itu nampak tergesa masuk ke dalam apartemen Calvin.


"Bang Calvin mana Kiran?" tanya Rafika tidak sabaran.


"Tuh lagi tidur!" tunjuk Calvin pada sofa.


Rafika dan Erlangga pun bersamaan melihat ke arah tunjuk tangan Calvin. Mereka pun bernapas lega, saat melihat Kiranti tertidur dengan baju yang masih utuh.


"Kalian tenang saja. Aku masih tahu batasan. Tadi mengajak Kiran ke sini, karena melihat baju kalian berceceran di lantai sehingga Kiranti langsung membereskannya. Aku tidak mau pikirannya tercemar dengan mendengar suara aneh dari kamar kalian. Makanya aku ajak ke sini," ungkap Calvin.


"Syukurlah. Makasih sudah menjaga adikku." Erlangga menepuk bahu Calvin tiga kali.


Adik? Sejak kapan Elang menganggap Kiran adiknya?


"Bang Cal, bisa tolong pindahkan Kiran ke kamarnya. Kasian kalau dibangunkan. Abang juga boleh ikut tidur di kamarnya, tapi nanti saja setelah dihalalkan," pinta Rafika cengengesan.


"Bisa saja kamu, Fika. Kenapa gak sama suami kamu saja?"


"Yeyy, A Elang kan gendong aku. Lagi pula ada yang nganggur kenapa tidak digunakan? Iya, gak A?"


"Iya, Sayang. Istri Aa makin pintar saja," Erlangga tersenyum mesra pada istrinya yang sukses membuat Calvin sakit kepala melihat kemesraan mereka.


Tidak ingin mendebat pasangan pengantin baru itu, Calvin pun segera menggendong Kiranti dan membawa gadis itu ke kamarnya di apartemen Erlangga.


Kecil-kecil badannya lumayan berat juga. Sampai tanganku kebas begini, batin Calvin.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote, dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2