Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 72 Manjanya Rafika


__ADS_3

Reuni yang sejatinya untuk saling melepaskan kerinduan dengan teman sekolah, pada kenyataannya selalu dipakai untuk saling memamerkan kesuksesan dan kebahagiaan hidup pesertanya. Meskipun tidak sedikit dari mereka yang sebenarnya tidak merasakan kebahagiaan.


Seperti Felisha saat ini. Dia yang memutuskan untuk meninggalkan Erlangga. Namun ternyata, pilihan hatinya tidak bisa membuat hidupnya bahagia. Bukan masalah harta kekayaan yang menjadi penyebabnya. Akan tetapi, sikap tidak peduli dan masa bodoh dari lelaki yang dicintainya. Apalagi, dia tidak kunjung hamil, membuat mertuanya sering mempermasalahkan hal itu.


Pada akhirnya, pernikahan Felisha dan suaminya berada di ujung tanduk. Mereka sering memperdebatkan hal yang seharusnya mereka diskusikan bersama. Apalagi, setelah kedatangan seorang gadis yang mampu mencuri hati suami dan mertuanya.


"Felisha, kenapa kamu melamun terus?" tanya Darwin saat menyadari arah pandang wanita itu tidak lepas dari Erlangga.


"Tidak apa. Aku bahagia melihat Elang bahagia bersama dengan istrinya. Seandainya dulu aku tidak memutuskan dia, mungkin sekarang aku bisa bahagia bersamanya." Felisha melihat ke arah Darwin dengan tersenyum tipis.


"Jangan menyesali masa lalu. Apa kamu ada masalah dengan suami kamu?" tanya Darwin lagi.


"Tidak, aku merasa iri saja melihat kemesraan mereka. Karena dulu, Elang tidak selembut itu sama aku." Bohong Felisha.


"Bukankah dulu Elang selalu menuruti keinginan kamu? Kamu saja yang tidak bisa melihat ketulusan hati Elang. Kamu tahu, Elang sampai kecelakaan karena ingin bertemu dengan kamu. Saat kamu baru pulang dari luar negeri. Salah aku juga sih, karena aku yang memberitahu dia tentang kedatangan kamu."


"Seandainya waktu bisa diputar lagi, aku akan memilih Elang untuk jadi pendampingku."


"Buang saja keinginan seperti itu, hal itu hanya akan menyakiti kamu karena tidak mungkin terjadi."


"Sudahlah! Ayo kita ke sana, acara amalnya akan dimulai!" ajak Felisha.


Felisha pun segera membuka acara amal yang dia cetuskan saat akan mengadakan reuni. Semua orang yang hadir merespon dengan baik, sehingga tida butuh waktu lama sudah banyak uang yang terkumpul untuk disalurkan pada masyarakat yang kurang mampu ataupun berbagai sarana umum yang dirasa sudah tidak layak pakai.


"A, teman Aa royal-royal ya, paling sedikit yang nyumbang sepuluh juta. Bisa dua bulan gajiku itu," cetus Rafika yang melongo melihat kegiatan amal para orang kaya.


"Jumlah segitu hanya sedikit. Paling hanya sekali makan di restoran," ucap Erlangga seraya menjawil hidung mancung istrinya. "masih betah di sini, apa mau pulang? Sebentar lagi acara dansa, apa mau ikutan?"


"Gak mau A! Aku gak bisa, kalau diajak joged aku mau."


"Kalau mau joged, nanti sama pekerja di rumah kakek. Biasanya kalau pas tahun baru atau acara tujuh belasan suka ada panggung hiburan di lapangan bola itu. Sengaja untuk menghibur mereka," ucap Erlangga.


"Wah, perhatian juga kakek. Tapi kenapa Aa seperti kurang suka sama kakek?"

__ADS_1


"Inner child Aa kurang bagus soal kakek. Ayo kita pulang!" ajak Erlangga dengan menggandeng Rafika.


Dia pun langsung berpamitan pada teman-temannya. Begitupun pada Felisha yang merupakan panitia acara reuni. Tidak ketinggalan Calvin dan Kiranti pun ikut pulang bersama dengan Erlangga.


...***...


Hari pun terus berlalu dan waktu pun terus berganti. Semenjak acara reuni waktu itu, Felisha jadi sering menghubungi Erlangga dengan alasan minta tolong untuk dicarikan pekerjaan. Mau tidak mau, Erlangga pun memberikan pekerjaan di Elang Group pada Felisha. Karena tidak mungkin dia merekrut Felisha untuk ditempatkan di Rivers. Bisa kacau dunianya seandainya Rafika tahu kalau dia memberi pekerjaan pada mantan kekasihnya.


Apalagi, semenjak mereka menempati rumah baru, Rafika jadi semakin manja dan sangat mudah tersinggung. Mood-nya pun selalu berubah-ubah. Membuat Erlangga harus memiliki ekstra sabar. Seperti pagi ini yang harus diawali dengan kesabaran.


"Aa, hari ini mau ke Elang apa ke Rivers?" tanya Rafika saat mereka sedang sarapan.


"Aa ada meeting di Elang. Kenapa? Mau ikut ke Elang Group?" tanya Erlangga dengan melihat sekilas ke arah istrinya yang sedang mengaduk-aduk bubur ayam.


"Gak mau, jauh. Aa mending ke Rivers aja, biar aku gampang ketemu Aa kalau kangen," pinta Rafika.


"Sayang, Aa ada meeting penting. Mending kamu yang ikut Aa. Pulangnya kita jalan-jalan," rayu Erlangga.


"Siap Tuan Puteri!" Erlangga tersenyum manis pada istrinya. Membuat Rafika ikut tertular sehingga menampilkan senyum terbaiknya pada Erlangga.


Namun, acara lempar senyum itu harus terhenti saat Calvin dan Kiranti datang untuk mengajak berangkat bersama.


"Elang, ayo kita berangkat!" ajak Calvin


"Ayo Sayang!" ajak Erlangga seraya berdiri dari duduknya.


"Aa gendong!" rengek Rafika.


"Astaga Fika! Kamu udah gede mau digendong segala," cetus Kiranti yang sedari tadi diam.


"Aku males jalan. Pengennya digendong sama Kang Asep," ucap Rafika dengan tersenyum manja.


Erlangga hanya menggelengkan kepala seraya memposisikan diri untuk menggendong istrinya di belakang. Dengan senang hati, Rafika langsung naik ke punggung Erlangga.

__ADS_1


"Kiran, kamu jangan iri karena aku digendong. Kalau kamu mau, minta saja sama Bang Calvin," ketus Rafika.


"Kakiku masih kuat untuk berjalan, untuk apa aku digendong segala." Kiranti membalas ucapan sahabatnya.


"Udah Kiran, ayo kita berangkat!" Calvin langsung melerai istrinya.


Mereka pun berangkat bersama dalam satu mobil. Karena setalah mengantar istri-istrinya, kedua pria tampan itu akan langsung pergi ke ibu kota. Tetapi, saat sudah sampai di perusahaan, Rafika enggan turun dari mobil.


"Fika ayo turun! Sebentar lagi bel," ajak Kiranti yang sudah turun terlebih dahulu.


"Aa, aku gak mau kerja. Aku mau ikut sama Aa saja," rengek Rafika.


"Ya sudah kalau mau ikut dengan Aa. Kiran, sepertinya Fika mau ikut ke Elang Group. Nanti pulang kerja, minta antar sama supir kantor saja," ucap Erlangga.


"Oke, Bos. Aku masuk dulu, assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam," jawab Calvin dan yang lainnya.


Setelah Kiranti masuk ke dalam perusahaan, Calvin pun segera melajukan mobilnya kembali menuju ke Elang Group. Dia hanya menggelengkan kepalanya melihat Rafika yang terus mendusel ke dada Erlangga. Sampai akhirnya, mata gadis itu terpejam saat mobil sudah memasuki jalan tol.


Erlangga hanya mengelus lembut bahu istrinya, dengan sesekali mencium pucuk kepala Rafika. Meskipun dia merasakan keanehan pada diri istrinya yang semakin manja. Namun, Erlangga berusaha untuk memakluminya.


"Elang, bagaimana kalau Fika bertemu dengan Felly?" tanya Calvin saat melihat Rafika seperti sudah tertidur pulas.


"Tidak apa. Aku hanya membantu dia. Kasian, sekarang dia sudah berpisah dengan suaminya," ucap Erlangga.


"Semoga saja, kebaikan kamu tidak disalah artikan oleh dia dan orang lain. Terutama oleh Fika."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2