
Rafika hanya terdiam, sedikit pun gadis itu tidak mengeluarkan suaranya. Dia hanya terus saja merenung mendengarkan Erlangga yang sedang memberikan pengarahan. Sampai laki-laki itu sudah selesai berbicara, dia masih saja menundukkan kepalanya.
"Apa kalian mengerti?" tanya Erlangga.
"Mengerti, Pak!" Kompak anak-anak marketing.
"Kamu gadis jorok, apa mengerti apa yang aku ucapkan?" tunjuk Erlangga dengan menatap lekat Rafika yang masih menunduk.
Kiranti yang berdiri di samping Rafika, langsung saja menyenggol gadis itu seraya berbicara pelan. "Fika, kamu di tanya."
"Siapa yang tanya?" Rafika bertanya dengan sedikit berbisik.
"Saya yang bertanya," ucap Erlangga yang sudah berdiri di sampingnya.
"Eh, Pak CEO. Tanya apa ya, Pak? Bapak mau tanya saya habis makan apa? Tadi saya habis makan bakso dua mangkuk, tapi saat belum habis disuruh kumpul di sini, makanya saya buru-buru dan lupa mengelap mulut saya," jawab Rafika sekenanya.
Suara ini, kenapa sangat tidak asing? Tidak mungkin dia gadis yang ada dalam mimpiku, penampilannya saja berantakan seperti ini, batin Erlangga.
"Halo, Pak. Jangan melihat aku seperti itu! Aku tidak bisa menjamin kalau nanti Bapak akan jatuh cinta sama aku. Tapi maaf saja, Pak. Aku tidak tidak bisa menerima cinta Bapak karena sudah punya pacar," ucap Rafika asal.
"Yang lain boleh pulang. Tapi kamu diam di sini." Lagi-lagi Erlangga menunjuk ke arah muka Rafika. Tapi sedikit pun gadis itu tidak merasa gentar. Dia tidak peduli jika nanti tidak jadi diterima kerja di perusahaan itu. Dia akan mencari pekerjaan di tempat lain.
"Kenapa aku ditahan? Memangnya aku salah apa?" protes Rafika.
"Kamu tidak menyadari kesalahan sendiri? Apa kamu tidak tahu, kalau sikap kamu yang telah berani menantang aku di depan orang lain itu suatu kesalahan?"
"Aku tidak bermaksud untuk menentang Bapak. Tapi gak apa deh, kalau aku ditahannya dengan cowok cakep seperti Bapak."
Astaga, kenapa dia tidak takut sama sekali. Hanya buang-buang waktu jika menggertak dia, lebih baik aku beri dia pekerjaan yang banyak, batin Erlangga.
__ADS_1
"Besok kamu datang jam tujuh pagi. Sebelum kamu bekerja di bagian marketing, kamu harus membereskan dulu ruangan aku."
"Maaf, Pak. Aku menyela sedikit. Bukankah bersih-bersih sudah tugas cleaning service? Kenapa harus aku yang mengerjakan?"
"Itu sebagai hukuman karena kamu menentang aku. Sudah aku tidak mau dibantah, pokoknya besok kamu harus membersihkan ruangan aku." Erlangga langsung menjauh saat ada panggilan telepon masuk. Dia pun segera menerima panggilan telepon itu dengan mata yang tidak lepas dari Rafika.
Dasar bos aneh, bilangnya aku gadis jorok, tapi disuruh bersih-bersih. Gak takut nanti aku bikin berantakan ruangannya, batin Rafika.
Dia pasti mendumel dalam hatinya, merutuki aku. Lihat saja bibirnya sampai miring-miring begitu. Kenapa gadis jorok itu terlihat lucu jika sedang kesal seperti itu, batin Erlangga.
"Halo Kak Elang, halo. Kenapa diam saja? Dengar tidak yang aku katakan?" Caithlyn di seberang sana setengah berteriak karena sedari tadi dia bicara, tetapi tidak ditanggapi oleh Erlangga.
"Bicara yang sopan! Jangan berteriak! Aku dengar semuanya."
"Kenapa Kak Elang diam saja. Kak Elang di mana sekarang?"
"Aku masih di pabrik, sudahlah aku masih sibuk. Hal itu, kita bicarakan nanti."
"Calvin, ke mana dia?" tanya Erlangga.
"Dia sudah pulang. Tidak dengar tadi jam kerja sudah beralih. Sudahlah Elang! Hal kecil jangan dibesar-besarkan. Kenapa kamu begitu perhatian sama dia? Tidak seperti biasanya." Calvin menepuk pundak sahabatnya. Memang di saat tidak ada orang lain, Calvin terkadang bersikap layaknya teman.
"Entahlah, aku merasa tidak asing dengan dia. Kamu tahu, Vin? Suaranya seperti suara gadis dalam mimpiku. Aku hapal betul suara itu, bahkan mimpi itu seperti sebuah potongan puzzle. Apa mungkin dia? Tapi kenapa dia menggangu hidupku?" tanya Erlangga sendu.
Apa mungkin dia gadis desa yang waktu itu? Kenapa aku hampir lupa dengan wajahnya. Tapi aku menyimpan foto Elang dengan gadis desa itu di ponsel lamaku, batin Calvin.
Sementara di depan perusahaan, Rafika dan Kiranti sedang menunggu Baim menjemput mereka. Jarak perusahaan yang jauh ditambah jalanan yang macet di saat jam pulang kerja, membuat temannya itu tidak bisa cepat-cepat datang menjemputnya.
"Kiran, langitnya indah sekali. Lihat sudah menguning! Aku jadi kangen suasana senja di kampung. Menikmati angin sore di bawah pohon asem," ucap Rafika dengan terus melihat ke atas.
__ADS_1
Dia teringat saat dulu sering menghabiskan waktu sore bersama dengan Kang Asep. Berkat laki-laki itu pula, dia bisa mendapatkan nilai yang membanggakan. Rafika hanya bisa tersenyum samar saat teringat semua kenangan indah bersama laki-laki uang dicintainya. Meskipun dia terus berusaha melupakan laki-laki itu, tetapi setiap kenangan kebersamaan mereka melekat di hati.
"Nanti kalau kita gajian pertama dari perusahaan, kita pulang yuk! Aku ingin memberitahu uang gajian pertamaku pada ibu," ajak Kiranti.
"Iya, aku juga sama. Aku ingin memberikan uang hasil kerjaku pada Ibu. Kalau gajian kemarin di minimarket hanya cukup untuk kita makan saja, agar tidak memberatkan pada ibu."
"Kalian anak-anak yang prihatin, in sya Allah kesuksesan menanti kalian," celetuk satpam yang sedang berjaga di pintu gerbang untuk mengatur karyawan yang akan pulang kerja.
"Bapak menguping obrolan kami ya!" tebak Rafika.
"Tidak menguping, hanya mendengar. Kalian kenapa belum pulang? Di sini memang susah mencari ojeg karena pabriknya belum lama beroperasi," tanya Satpam itu.
"Tadi ke sini naik taksi, soalnya kita kost di Jakarta. Mau pulang gak tahu jalan. Ini sedang menunggu teman yang jemput," ungkap Kiranti.
"Nanti ikut saja dengan Mas Darwin. Dia biasanya pulang terakhir," usul Satpam.
"Siapa Mas Darwin, Pak?" tanya Rafika kepo.
"Dia staf marketing pindahan dari pusat. Mungkin nanti akan jadi atasan kalian."
"Boleh, Pak. Titipkan saja kita sama dia dong, Pak. Aku mau cepat-cepat pulang. Kang Jutek itu nyuruh aku datang jam tujuh besok.
Benar saja, tidak lama kemudian datang dua mobil beriringan. Pak Satpam tadi langsung saja meminta ijin pada orang yang bernama Darwin agar kedua gadis itu bisa menumpang sampai jalan raya.
"Ayo masuk ladies! Kalian pulang ke Jakarta? Aku juga tinggal di sana," tanya Darwin dengan tersenyum ramah.
"Makasih ya, Mas. Boleh Mas kalau mau ngantar kita sampai Jakarta," ucap Kiranti seraya masuk ke dalam mobil bersama dengan Rafika.
Sementara orang yang berada di mobil belakang mengeraskan rahangnya. Merasa tidak suka dengan apa yang dilihatnya.
__ADS_1
...~Bersambung~...