Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 90 Berlibur Bersama


__ADS_3

Seiring berjalannya waktu, kini bayi kembar itu sudah bertransformasi menjadi seorang anak yang pintar dan energik. Alya yang lebih dominan ikut sifat maminya, sedangkan Agya dan Kelvin tidak jauh dengan papinya mereka.


Kini ketiganya sudah memasuki usia taman kanak-kanak. Meskipun selisih umur mereka lumayan jauh, tetapi Kiranti memilih untuk memasukkan putranya ke sekolah yang sama dengan kedua anak kembar itu.


Bukan tanpa alasan Kiranti dan Calvin melakukan hal itu, karena Kiranti ingin selalu bersama-sama dengan Rafika. Tidak jauh beda dengan Rafika yang selalu mengajak sahabatnya itu kemana pun dia pergi.


Seperti saat ini, saat Erlangga mengajak Rafika untuk berlibur ke pantai, tidak lupa dia pun mengajak sahabatnya. Mereka berlibur bersama untuk mengisi hari libur sekolah.


"Mami, Mama, kenapa Kelvin suka diam saja kalau Aya ajak bicara. Apa dia sakit gigi?" tanya Alya.


"Enggak, Sayang. Dia memang irit sekali bicara. Mama juga sampai pusing karena dia tidak bisa diajak ngobrol. Makanya Mama lebih sering main di rumah Aya. Karena kalau di rumah, Kelvin diam saja, gak bisa diajak ngobrol," beber Kiranti.


"Sama kaya Agya ya Mih. Tapi kalau Agya, diajak bicara dia pasti jawab. Gak kaya Kelvin yang hanya mengangguk dan menggeleng. Aya kan jadi gak suka main sama dia. Mending main sama Cherryl, tapi kan Cherryl belum bisa diajak main boneka." Cebik Alya.


"Sebentar lagi Cherryl juga besar, Sayang. Nanti kalian bisa bersahabat seperti Mami sama Mama. Enak loh, kalau kita punya sahabat. Ada yang mengerti kita dan juga jagain kita," ucap Kiranti membujuk Alya agar mau bermain dengan anak keduanya yang baru berusia dua tahun.


"Iya, deh. Nanti Alya jadiin Cherryl sahabat," ucap Alya. "Ayo Dek, kita main pasir!"


Alya pun menuntun adik kecilnya agar mau main bersamanya. Sementara Agya dan Kelvin sedang sibuk membuat istana pasir dengan papi mereka. Kedatangan dua gadis kecil itu disambut hangat oleh kedua pria dewasa. Namun, tidak oleh Kelvin. Dia hanya melirik sekilas lalu kembali melanjutkan membuat istana pasir.


"Kelvin, Aya boleh pinjam serokan-nya gak?"


"Nih." Kelvin langsung memberikan apa yang Alya minta. Namun, sedikit pun dia tidak melihat ke arah gadis cantik itu.


"Papi, Papi. Ayo kita buat istana pasir yang baru, Tapi yang bisa Aya masukin istananya," rengek Alya.


"Boleh, Sayang. Ayo kita buat!"


Erlangga langsung membuatkan istana pasir untuk putrinya. Dibantu oleh Calvin dan Agya. Sementara Kelvin hanya melihat dari jauh. Dia tersenyum tipis saat melihat Alya yang terlihat sangat bahagia. Namun, sedikit pun anak kecil itu tidak berniat untuk bergabung dengan yang lainnya, Dia lebih memilih menyelesaikan istana pasir miliknya sendiri.


Puas bermain di pantai, mereka pun kembali ke resort saat hati menjelang sore. Meskipun ingin melihat sunset di tepi pantai, tetapi Rafika memikirkan kesehatan anak-anaknya. Karena semakin sore, udara di tepi pantai terasa semakin dingin.

__ADS_1


Sesampainya di resort, mereka memilih untuk secepatnya membersihkan diri. Sebelum hari semakin gelap. Saat semuanya sudah terlihat rapi dan cantik, mereka pun makan malam bersama. Dilanjutkan dengan bercengkerama di ruang tengah.


Rafika bersandar pada dada bidang suaminya seraya melihat anak-anaknya bermain. Dia merasa sangat bahagia karena memiliki suami dan anak-anak yang sayang dan peduli padanya.


"Aa, anak-anak sudah besar. Apa tidak sebaiknya kita program lagi. Biar mereka memliki banyak saudara," ucap Rafika seraya memainkan telapak tangan Erlangga yang memeluknya.


"Aa masih takut, Sayang. Aa takut, saat kamu melahirkan nanti, Tidak bisa kembali bersama dengan Aa lagi. Memiliki mereka bersama kita, itu sudah cukup. Aa tidak ingin kehilangan sumber kebahagian Aa," ucap Erlangga.


Memang benar adanya. Karena Rafika tidak ingin menggunakan alat kontrasepsi, Erlangga dengan suka rela melakukan operasi kecil untuk proses pencegahan kehamilan pada istrinya.


"Aa, bukankah umur manusia sudah ditentukan kapan waktunya untuk kita harus menghadap Sang Pencipta."


"Iya, Sayang. Tapi Aa tidak ingin mengalami hal seperti waktu itu. Sudahlah, jangan membicarakan hal itu terus, lebih baik kita membuat adonan. Meskipun tidak akan pernah jadi," ucap Erlangga. " Ayo ke kamar!' bisik-nya.


Rafika hanya tersenyum menanggapi ajakan suaminya. Setelah Rafika menganggukkan kepalanya, Erlangga pun berpamitan untuk tidur lebih dulu dan menitipkan anak-anaknya pada pengasuh.


"Agy, Aya, Mami dan Papi tidur duluan ya. Kalian tidurnya jangan terlalu malam," pesan Rafika sebelum di masuk ke kamarnya.


"Kelvin, tidak memberikan ciuman untuk Mami?" tanya Rafika dengan merentangkan tangannya.


Anak laki-laki itu pun langsung menghampiri Rafika dan Erlangga untuk memeluk sahabat orang tuanya secara bergantian. "Selamat malam, Mih, Pih!"


"Malam juga Kelvin. Jangan tidur terlalu larut ya! Dadah anak-anak, Mami tidur dulu."


Rafika langsung pergi menuju ke kamarnya. Terlihat Erlangga sudah bersiap di tempat tidur. Laki-laki tampan itu sepertinya sudah bersiap untuk bertempur dengan istrinya. Dia tersenyum hangat menyambut kedatangan Rafika. Begitupun dengan Rafika yang langsung menghampiri suaminya. Keduanya saling melempar senyum, sampai akhirnya Erlangga menarik tangan istrinya agar segera mendekat ke arahnya.


"Sayang, kenapa lama sekali?" bisik Erlangga.


"Kasih ucapan selamat malam dulu pada Kelvin. Anak itu, harus kita yang lebih aktif mendekatinya. Kita hanya diam saja, dia tidak akan mau berinteraksi," ucap Rafika.


"Sayang, jangan dibahas di sini! Lebih baik kita membahas tentang kita saja," ucap Erlangga dengan mulai mendekatkan wajahnya pada wajah Rafika.

__ADS_1


Terasa hangat hembusan napas Erlangga yang menerpa kulit Rafika. Perlahan ibu dua anak itu memejamkan matanya. Sampai ada benda kenyal yang terasa dingin di kulitnya. Barulah dia membuka matanya kembali. Namun, hanya sesaat dia membuka mata, karena Erlangga langsung memainkan bibir dan lidahnya.


Sementara Calvin dan Kiranti, masih sibuk menjaga putri kecilnya. Badannya mendadak panas sepulang dari pantai Mereka berdua pun langsung pergi ke dokter tanpa memberitahu Erlangga dan Rafika. Karena saat mereka keluar kamar, Erlangga dan Rafika baru saja masuk ke kamarnya. Mereka merasa tidak enak hati jika mengganggu acara malam sahabatnya itu.


"Bagiamana keadaan putri saya, Dok?" tanya Kiranti saat dokter selesai memeriksa.


"Sepertinya masuk angin. Perutnya kembung sekali," ucap dokter itu seraya mengetuk-ngetuk perut Cherryl.


"Sepertinya begitu, kami habis bermain di pantai, Dok." Kiranti menatap lekat ke arah putrinya


Selesai memeriksa putrinya secara lengkap, Dokter itu pun kembali berbicara seraya menuliskan resep yang harus Kiranti beli di apotek. "Nanti oleskan balsem yang saya resepkan dan obatnya diminum sehari tiga kali."


"Baik, Dok. Terima kasih!" ujar Kiranti.


Mereka pun kembali ke resort saat hari sudah malam. Kiranti segera mengoleskan balsem bayi untuk meredakan kembung putrinya. Sementara Calvin menyiapkan kompres air hangat. Anak-anak yang sedang bermain dengan pengasuhnya, sedikit heran melihat kesibukan orang tua itu.


"Om, itu untuk apa?" tanya Alya saat melihat Calvin membawa baskom kecil yang berisi air hangat.


"Ini untuk mengompres Adik, badannya panas. Kalian cepat tidur, sudah malam!" suruh Calvin.


"Baik, Pah!" sahut Alya. "Dek Cherryl cepat sembuh ya, Pah."


"Iya, Sayang. Makasih doanya. Abang juga tidur sama mereka dulu ya!"


"Iya, Pah!" sahut Kelvin.


Mereka pun menuju ke kamar khusus anak-anak dengan pengasuh yang menjaga mereka. Sementara Calvin dan Kiranti menjaga putri kecilnya yang mendadak sakit saat berlibur.


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, dan favorite....

__ADS_1


...Terima kasih....


__ADS_2