Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 42 Menyamar


__ADS_3

Seluruh staff Rivers dan Elang Group nampak berbahagia. Hari ini mereka akan terbang ke pulau Dewata. Liburan gratis plus uang saku yang mereka dapatkan, membuat semuanya terlihat bersemangat. Tidak terkecuali dengan Kiranti. Dari semalam gadis itu nampak gelisah. Ini pertama kalinya bagi dia dan Rafika akan naik pesawat terbang.


Namun, berbeda dengan Rafika. Dia seperti tidak bersemangat akan pergi berlibur. Dia terlihat lesu tidak bergairah karena sudah lebih dari dua Minggu Erlangga tidak ada kabar beritanya. Rafika merasa, kalau laki-laki itu hanya memberinya harapan palsu setelah mengambil ciuman pertamanya.


"Sudahlah Rafika! Anggap saja kamu bersedekah ciuman pada laki-laki yang sangat membutuhkannya. Tapi aku juga tidak bisa melupakan hari itu," gumam Rafika pelan.


"Fika, lihat Selvi! Gayanya wow banget. Dia memang cantik, tubuhnya juga bagus. Tapi sayang mulutnya lemes." Cebik Kiranti.


"Jangan ikut-ikutan dia deh Kiran. Biarkan saja dia mau bergaya seperti apa. Kita tidak usah


jadi netizen julid. Nanti pahala kamu habis loh gara-gara suka julid ke orang," ucap Rafika menakut-nakuti.


"Ih, amit-amit jabang bayi. Udah susah ngumpulin, malah diambil sama dia."


"Makanya tidak perlu memberikan pendapat pada orang lain, kalau orang itu tidak memintanya. Meskipun niat kita baik, terkadang orang salah mengartikan. Apalagi ini berpendapat tidak baik, sudah pasti seperti mencari perkara."


"Iya, Nyonya Elang. Kita duduk di sana yuk!" ajak Kiranti dengan menyeret tangan sahabatnya.


Mereka pun asyik berbincang. Sampai tidak sadar pada orang yang duduk di belakangnya. Namun, saat terdengar suara orang yang berdehem, kedua gadis itu langsung menoleh ke asal suara.


"Kiran, jangan-jangan orang itu pengedar. Lihat saja penampilannya! Baju serba hitam, pake topi hitam, masker pun ikut-ikutan hitam," bisik Rafika.


"Bisa jadi, lebih baik kita cari tempat duduk yang lain. Aku takut dia merayu kita agar jadi pemakai." Kiranti berbisik balik pada Rafika.


Kedua gadis itu langsung berdiri dari duduknya. Namun, laki-laki itu dengan sigap meraih tangan Rafika dan langsung menariknya tanpa sepengetahuan Kiranti yang berjalan lebih dulu. Mendapat tarikan yang dadakan, membuat Rafika terjerembab dan langsung duduk di pangkuan laki-laki itu.


"Jangan pergi! Kita naik pesawat bareng. Tapi tidak boleh bilang pada siapa pun kalau ini A Elang," bisik Erlangga.


"Bos? Ke-kenapa pakai baju seperti ini?" tanya Rafika kaget.

__ADS_1


"Syut! Jangan keras-keras. Di depan temanmu, kenalkan saja kalau aku Kang Asep."


"I-iya. Tapi turunkan aku!"


Akhirnya Rafika duduk di samping Erlangga dengan wajah yang bersemu merah. Sesekali gadis itu melirik ke arah Erlangga untuk memastikan penampilan laki-laki yang dicintainya. Dia tidak menyangka kalau Erlangga sengaja menyamar agar bisa bersamanya.


Sementara Kiranti celingukan mencari keberadaan sahabatnya. Dia langsung berbalik menghampiri Rafika yang sedang mesem-mesem duduk di samping laki-laki yang dia kira seorang pengedar obat-obatan terlarang.


"Fika, kenapa kamu malah duduk di situ?" tanya Kiranti kesal.


"Sini aku bilangin!"


Kiranti hanya menurut, gadis itu langsung duduk di samping Rafika. Dengan sedikit mencondongkan badannya, Rafika berbisik pada sahabatnya. "Yang kamu kira pengedar itu sebenarnya Kang Asep. Dia sengaja menyamar agar bisa bersama kita."


"Apa katamu? Kang Asep?" tanya Kiranti kaget. Dia langsung melihat ke arah Erlangga yang sedang melihat ke arahnya.


Laki-laki itu membuka kacamata hitamnya yang bertengger manja di hidung mancungnya. Dia menggerakkan matanya naik turun untuk menggoda Kiranti. Tentu saja gadis itu jadi ingin tertawa melihat kekonyolan bos-nya. Saat di kantor saja tegas sekali tapi saat bersama Rafika, ternyata Erlangga memiliki sisi konyol yang tidak diketahui oleh orang lain.


"Baru sampai sini semalam. Kerjaan aku banyak sekali di sana. Fika, nanti pijitin Aa ya!" pinta Erlangga melas. Dia menyenderkan kepalanya di bahu Rafika.


Astaga Pak Bos! Ini di bandara. Apa dia tidak sadar kalau banyak orang yang diam-diam sedang memperhatikan kita, kata hati Kiranti.


"Aa, malu banyak yang lihatin ke sini." Rafika melirik ke arah Erlangga yang asyik memejamkan matanya.


"Aa ngantuk Fika."


"Aa, itu ada Pak Calvin bersama dengan Bos Besar dan ...." Rafika tidak melanjutkan ucapannya saat dia melihat semua anggota keluarga Erlangga yang dia tahu sedang berjalan menuju ke arah boarding pass. Apalagi di sana juga ada Caithlyn.


"Biarkan saja, mereka akan naik jet. Tidak akan bertemu dengan kita," ucap Erlangga seakan tidak peduli.

__ADS_1


Dia yakin kalau keluarganya tidak ada yang tahu kalau dia sudah ada di bandara. Karena dia beralasan akan menyusul mereka. Erlangga sudah mengatur agar dia bisa duduk bersama dengan Rafika di pesawat.


"Berarti mereka juga akan ikut dalam acara gathering?"


"Iya, tapi untuk acara pesta dansa saja. Selepas itu mereka punya acara sendiri. Tidak akan bersama-sama dengan para staff."


Tidak lama kemudian terdengar panggilan untuk para penumpang dengan tujuan pulau Dewata. Rafika dan Erlangga pun langsung bergegas menuju ke pesawat. Begitupun dengan Kiranti yang mengekor kedua orang yang sedang dimabuk cinta.


Saat sudah sampai di pesawat, Rafika dan Kiranti dibuat tercengang dengan fasilitas yang ada di dalam pesawat. Bagaimana tidak, mereka masuk ke first class. Namun yang lebih kaget lagi, ternyata Darwin dan Calvin sudah ada di dalam.


"Kalian dari mana dulu? Kita tunggu di lounge tapi gak muncul-muncul," tanya Calvin dengan menelisik penampilan Erlangga.


"Kita di luar, tadi sampai di bandara Fika gak langsung check-in," jelas Erlangga.


"Pantas saja." Calvin hanya menganggukkan kepalanya.


"Hehehe ... Aku kira kasih tiketnya nanti di dalam pesawat. Soalnya banyak yang dari Rivers masih di luar tidak masuk gate," ucap Rafika cengengesan.


"Jadwal penerbangannya beda-beda. Mungkin mereka masih menunggu temannya. Ayo kita duduk!" ajak Erlangga dengan mencari kursi agak belakang dari teman-temannya. Dia tidak ingin diganggu saat sedang bersama dengan Rafika.


"Kiran, sini dekat Mas Darwin saja duduknya. Jangan dekat mereka nanti ludah kamu habis ditelan terus," ajak Darwin.


"I-iya Mas." Kiranti pun memilih duduk di dekat Darwin.


Tidak berapa lama kemudian kursi yang hanya berjumlah sepuluh itu sudah penuh oleh penumpang. Mereka semua petinggi dari perusahaan Elang Group. Calvin sengaja mengatur agar orang-orang itu tidak ada yang mengenal Rafika dan Kiranti.


Sementara Erlangga tidak melepaskan masker dan kacamata hitamnya sebelum pesawat itu lepas landas. Dia tidak mau kalau orang-orang yang tidak mengenal dekat dengannya bergosip dan membicarakan hubungan dia dengan Rafika.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, gift, vote dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2