Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 79 Azab


__ADS_3

Wajah cantik itu terlihat pucat. Setelah menjalani kuret, kini Kiranti sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Dia terlihat sangat syok karena bayi yang dia harapkan akan menjadi pelengkap kebahagiaannya bersama dengan Calvin tidak busa diselamatkan. Kiranti juga terus menyalahkan diri sendiri karena dia telat menyadari tentang kehamilannya.


"Kiran, Maafkan Abang tidak bisa menjaga kamu. Abang minta ikhlaskan anak kita. Jangan melamun terus!" Calvin menggenggam tangan istrinya seraya menciumnya berkali-kali.


Dia sebenarnya sedih kehilangan anak mereka, tapi dia lebih sedih melihat istrinya terpuruk. Kiranti hanya diam, dia tidak bicara sepatah kata pun. Baik itu pada Calvin ataupun pada yang lainnya.


"Kiran, kamu tenang saja, aku sudah minta A Elang untuk memecat semua karyawan yang memusuhi kita. Termasuk si Selvi itu tuh. Kalau aku lagi gak hamil, mau aku ajak duel tuh cewek jadi-jadian," ucap Rafika dengan berapi-api.


"Sayang, kondisikan emosinya! Ingat kamu lagi hamil," tegur Erlangga.


"Tapi Aa janji, mau pecat Selvi. Pasti dia yang sudah bikin Kiran celaka. Karena hanya dia yang paling menunjukkan ketidaksukaannya sama aku dan Kiran," rengek Rafika.


"Iya, Sayang iya. Apa mau sekarang kamu pecat dia? Mumpung belum jam pulang kerja," tanya Erlangga.


"Jangan! Aku ingin mengusirnya sendiri. Karena dia ... dia sudah membunuh anakku. Hikz ... hikz ... hikz ...." Lagi-lagi Kiranti menangis saat teringat dengan anaknya. Calvin langsung memeluk istrinya dengan mata yang berkaca-kaca.


"Aa pulang yuk! Aku gak kuat ingin nangis, hiks ... hiks ...." Rafika langsung memeluk badan tegap suaminya. Dia ikut sedih melihat kesedihan Kiranti. Seumur hidupnya, Rafika baru kali ini melihat Kiranti benar-benar seperti orang yang tidak punya harapan hidup.


"Kiran, Calvin, kalian harus kuat. Kalian harus ingat kalau jodoh, bahagia, maut dan musibah sudah ada dalam ketetapan Allah. Sekuat apapun kita berjuang, kita tidak akan bisa menghindar dari takdir," ucap Erlangga dengan memegang pundak sahabatnya.


"Iya, Elang. Terima kasih sudah menemani aku si sini," ucap Calvin.


"Sama-sama. Aku pulang dulu. Kiran, cepat sehat agar bisa menendang orang yang sudah mencelakai kamu," ucap Erlangga.


"Iya, Kiran. Cepat sehat ya! Kamu diberi hak istimewa untuk memecat Selvi. Kamu jangan khawatir, aku pasti akan menjaga kamu."


Kiranti hanya menganggukkan kepalanya tanpa berniat menjawab apa yang Rafika katakan. Dia kembali termenung menyesali apa yang telah terjadi pada anaknya.


Sementara Rafika dan Erlangga langsung pulang ke rumahnya. Meskipun Rafika terus merengek meminta Erlangga agar ke pabrik, tetapi suaminya itu tidak mengabulkan.


...***...


Setelah tiga hari Kiran dirawat di rumah sakit, keadaannya sekarang sudah membaik. Meskipun dia tidak seceria dulu saat belum keguguran. Namun, Kiranti sudah mengikhlaskan kepergian anak pertamanya.


Rafika pun dengan setia menjaga sahabatnya. Saat Calvin dan Erlangga sedang bekerja. Untuk menghilangkan kejenuhannya, kedua sahabat itu terkadang jalan-jalan di jalanan komplek.


"Kiran, kapan kita ke kantor? Katanya kamu mau memecat dia," tanya Rafika.


"Apa tidak masalah kalau aku memecat dia?"


"Masalah apa? A Elang kan sudah kasih kamu ijin untuk memecat dia dan teman-temannya."

__ADS_1


"Ayo kita ke sana sekarang!"


"Sebentar Kiran, aku telpon A Elang dulu. Takutnya dia pergi ke pusat." Rafika langsung mengambil ponselnya dan mencari kontak suaminya. Dia pun langsung menghubungi Erlangga saat sudah menemukan nama 'Kang Amnesia' di kontak ponselnya.


"Assalamu'alaikum," ucap Rafika saat panggilan teleponnya sudah tersambung.


"Wa'alaikumsalam, ada apa Sayang?"


"Aa di Rivers apa di pusat?"


"Di Rivers, mau ke sini?"


"Iya, A. Kembar kangen. Kiran juga mau menyelesaikan urusannya yang belum tuntas."


"Oh, ya sudah. Nanti Aa kirim supir ya!"


"Makasih Kang Asep Sayang, muach ... muach ...."


Di seberang sana, wajah Erlangga langsung bersemu merah. Ingin rasanya dia membalas sun jauh dari istrinya. Tapi Sayang, sekarang posisinya sedang meeting dengan karyawan. Akhirnya Erlangga segera menyudahi panggilan telepon dari istrinya.


"Sayang, Aa sedang meeting. Di tunggu saja supir jemput ke rumah. Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Beres, nanti supir kantor jemput ke sini. Kita dandan saja dulu yuk! Biar penampilan kita memukau di depan Selvi. Enak saja dia meremehkan istri Bos-nya. Mereka belum tahu aja kekuatan Rafika Qatrunada dan Kiranti Wulandari mampu mengguncang dunia bos mereka."


"Fika, terima kasih kamu selalu menjaga aku."


"Udahlah Kiran, gak usah terima kasih segala. Kita berteman dari orok. Dari mulai belajar merangkak, kita sudah main bersama. Kalau kamu disakiti orang itu hati aku sakit. Aku gak terima mereka berbuat seenak hati sama kamu."


"Aku beruntung memiliki sahabat seperti kamu, meskipun kamu kadang barbar dan konyol tapi hati kamu baik."


"Aku juga beruntung memiliki sahabat seperti kamu. Karena kamu selalu mengingatkan aku setiap kali aku melewati batas. Kamu tidak segan menasehati aku setiap kali aku melakukan kesalahan. Aku makin sayang sama kamu Kiran."


Kedua sahabat itu saling berpelukan mengungkapkan keharuan dan kebahagiaan mereka karena memiliki satu sama lain. Sampai pembantu di rumah Rafika datang membuat mereka saling melepaskan pelukannya.


"Neng, di depan sudah ditunggu Pak Supir."


"Cepat sekali datangnya, Bi. Tolong suruh tunggu sebentar ya, Bi. Fika sama Kiran mau dandan dulu," pinta Rafika.


"Siap, Neng!" Wanita paruh baya itu kembali ke depan untuk menemui supir kantor.

__ADS_1


Sementara Rafika dan Kiranti bergegas mengganti bajunya. Mereka benar-benar memakai baju terbaiknya. Membuat penampilan kedua gadis itu terlihat berbeda dari biasanya. Meskipun hanya memakai make up tipis dan sedikit perhiasan yang mempercantik penampilannya.


"Wah, Neng cantik sekali mau bertemu dengan Tuan. Mau kondangan, Neng?" tanya pembantu rumah Rafika.


"Bibi kho kondangan, Fika kan mau ke kantor. Emang menor ya, Bi?" tanya Rafika dengan melihat ke arah kaca besar yang ada di ruangan itu.


"Enggak, Neng. Terlihat sangat cantik malah."


"Baguslah, Fika mau membasmi hama dulu di kantor. Kalau dibiarkan jadi penyakit. Dah Bibi ...." Rafika langsung menuju ke mobil yang sudah terparkir di halaman rumahnya.


Terlihat di sana Kiranti sudah menunggu di dekat mobil. Rafika pun bergegas menghampiri sahabatnya. "Ayo, Pak berangkat!"


Tidak butuh waktu lama perjalanan menuju ke perusahaan. Karena memang perumahannya dan lokasi industri masih dalam satu kawasan. Kedua wanita cantik itu langsung turun saat mobil berhenti di depan lobby perusahaan.


"Makasih ya, Pak!" ujar Rafika dan Kiranti


"Sama-sama, Neng."


Kedua sahabat itu menuju ke resepsionis dulu sebelum masuk ke ruangan Erlangga. Mereka menyapa resepsionis yang selalu baik pada keduanya. Sampai saat Rafika mau naik ke ruangan Erlangga, tanpa sengaja berpapasan dengan Selvi.


"Enak ya jadi istri bos, bisa sesuka hati datang ke kantor. Lama tidak masuk kerja, ternyata kamu sedang mengandung anak haram. Masa nikah baru beberapa bulan, hamilnya sudah sebesar ini. Kalian tuh dua sahabat yang menjijikan. Menghalalkan segala cara agar bisa jadi orang kaya," hina Selvi.


Wajah Rafia terlihat merah padam. Tangannya sudah terkepal kuat siap menghajar wajah Selvi. Namun, Kiranti langsung menahan tangan Rafika agar tidak membuat keributan di kantor Erlangga.


"Sudah, Fika. Kamu jangan mengotori tangan kamu untuk menghajar pembunuh seperti dia. Biarkan saja, nanti karma yang akan membalas semua kebusukannya. Ingat Selvi, mulutnya yang menghnacurkan kamu sendiri. Saat itu tiba, aku bisa tertawa di atas penderitaan kamu." Kiranti menatap tajam Selvi.


"Cih! Gak guna ngomong sama kalian berdua. Lebih baik aku bertemu dengan Mas Darwin." Selvi berdecih meremehkan Rafika dan Kiranti.


Dia langsung berbalik akan pergi dari sana. Namun, dengan refleks kaki Rafika menendang bokong Selvi, hingga gadis itu tersungkur membentur anak tangga. Bersamaan dengan Calvin yang akan turun menjemput istrinya.


Kiranti memang menahan tanganku, tapi kakiku masih bisa aku pakai untuk menghajar dia, batin Rafika.


"Selvi kamu kenapa?" tanya Calvin kaget.


"Itu azab karena dia sudah menghina aku dan Kiran, Bang. Itu sih belum seberapa karena istri Abang melarang aku."


Melihat Calvin ada di atas anak tangga, Selvi langsung pergi begitu saja. Dia tidak berani menghina lagi kedua gadis itu. Khawatir dia akan dikeluarkan dari sana.


"Ayo, ke atas! Bos sudah nunggu dari tadi. Kamu juga Selvi. Ditunggu sama Bos!"


...~Bersambung~...

__ADS_1


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....


__ADS_2