
Keramahan Darwin pada kedua gadis itu, membuat Rafika dan Kiranti merasa nyaman. Sampai akhirnya mereka menumpang hingga ke ibu kota. Namun, saat masih di tol, Darwin membelokkan mobilnya ke rest area karena perutnya keroncongan ditambah lagi jalan mobilnya merayap.
"Kita makan dulu ya! Perutku lapar nih," ajak Darwin.
"Siap, Pak Bos!" sahut Rafika dan Kiranti.
"Ck! Jangan panggil Pak Bos kalau lagi di luar! Panggil saja Mas Darwin, biar lebih akrab." Darwin berdecak sebal mendengar kedua gadis itu terus saja memanggilnya Pak Bos.
"Baiklah, Mas Darwin. By the way, Mas Darwin katanya pindahan dari kantor pusat ya! Berarti sudah kenal lama dengan Pak CEO," tebak Rafika.
"Hahaha ... Bukan lama lagi, kita teman dari kecil. Tapi kalian tidak boleh bilang siapa pun ya! Bisa-bisa Elang marah kalau aku membocorkan kedekatan kita pada karyawannya."
"Memangnya kenapa?" tanya Rafika penasaran.
"Dia tidak suka orang terlalu kepo dengan hidupnya. Ya begitulah Erlangga! Meskipun terlihat keras di luar, sebenarnya dia laki-laki yang berhati lembut. Saat kita sudah bisa merebut hatinya, maka apapun yang terjadi, dia pasti akan bersama dengan orang itu," beber Darwin. "Ayo turun!" ajaknya.
Tapi sudah pasti itu bukan aku, semua yang dia katakan dulu, semua itu diluar kendalinya. Karena yang mengucapkan kata-kata manis dan janji cinta bukan dia, bukan Erlangga tapi Kang Asep dan dia sudah pergi, tidak mungkin kembali lagi, batin Rafika.
Rafika terus saja berjalan mengikuti ke mana Darwin pergi. Sampai tanpa sadar, kakinya tersandung pembatas parkiran mobil. Dia sempat terhenyak kaget karena ada seseorang yang menarik tangannya.
"Fokus kalau berjalan!" seru Erlangga yang baru saja turun dari mobil.
"Terima kasih," ucap Rafika datar. Dia langsung melangkahkan kakinya saat Erlangga sudah melepaskan pegangan tangannya. Sedikit pun tidak ada niat gadis itu untuk menengok dan melihat ke arah Erlangga.
"Fika, kami gak apa-apa?" tanya Kiranti cemas.
"Gak apa! Aku ke toilet dulu ya," pamit Rafika langsung berlalu pergi begitu saja.
Melihat sahabatnya yang langsung pergi, Kiranti pun langsung mengikuti. Tidak mungkin dia berduaan dengan laki-laki yang baru dikenalnya. Meskipun Darwin terlihat welcome, tetapi dia merasa sungkan jika hanya berdua.
"Fika, kamu gak apa-apa?" tanya Kiranti memastikan sekali lagi.
__ADS_1
"Gak apa Kiran. Aku baik-baik saja," ucap Rafika.
"Kalau kamu merasa terbebani oleh Pak Erlangga. Lebih baik kita cari pekerjaan yang lain saja," saran Kiranti.
"Gak apa, Kiran. Kamu jangan cemas gitu! Aku hanya perlu waktu agar terbiasa," ucap Rafika dengan tersenyum samar. "Udah yuk! Pasti Mas Darwin nungguin."
Kedua gadis itu pun langsung berlalu pergi menuju restoran di mana Darwin berada. Namun, Rafika lagi-lagi harus menghela napas dalam karena ternyata di sana sudah ada Erlangga dan Calvin yang bergabung makan bersama.
"Ayo Fika, Kiran, kalian jangan sungkan! Pak Bos yang akan traktir," ucap Darwin dengan tersenyum senang.
"Wah asyik dong! Boleh dibungkus juga gak Bos? Buat besok sarapan, besok kan harus berangkat pagi. Mau jadi cleaning servis dulu," sarkas Rafika. Sebisa mungkin dia sembunyikan perasaannya, dengan kekonyolan yang dia lakukan di depan Erlangga.
"Pesan saja," jawab Erlangga datar. Dia melanjutkan makannya, seolah tidak terganggu dengan apa yang dikatakan oleh Rafika.
"Bungkus aja, Fika. Biar besok kamu semangat kerjanya," ucap Darwin. "Kiran, kamu juga sama. Kalau ada yang mau dipesan, pesan aja. Traktir kita-kita, gak bakal bikin Pak Bos bangkrut," lanjutnya.
"Ayo makan, jangan ngoceh terus!" Calvin yang sedari tadi diam langsung memasukkan udang krispi ke mulut Darwin. Tentu saja Darwin langsung memakannya.
"Loh, Fika. Kenapa makanannya tidak dihabiskan? Gak enak ya?" tanya Darwin yang melihat piring Rafika masih utuh.
"Enak kho, Mas. Aku sepertinya mau diet aja biar langsing seperti model," ucap Rafika asal.
"Gadis seperti kamu mau jadi model? Ketinggian mimpinya," ketus Erlangga.
"Bodo amat, suka-suka aku lah." Rafika langsung bangun dari duduknya. "Makasih traktiran Pak Bos. Ayo Mas kita pulang!" ajaknya pada Darwin.
Erlangga hanya diam melihat kepergian gadis itu. Dia merasa bingung dengan perasaannya sendiri. Dia merasa senang dekat dengan gadis itu. Tapi mulutnya selalu ingin mencela apa yang dilakukan oleh gadis itu.
"Ayo kita juga pulang!" ajak Calvin dengan menepuk pundak Erlangga yang masih bengong melihat kepergian Darwin dan kedua gadis itu.
"Vin, kamu cari tahu gadis yang bernama Rafika. Aku ingin informasi detail tentang dia," suruh Erlangga.
__ADS_1
"Kenapa harus mencari tahu, kita tinggal minta saja resume dia ke HRD, kan beres."
"Terserah apa yang akan kamu lakukan. Aku kasih waktu dua hari untuk mencari tahu tentang dia sedetail mungkin." Erlangga langsung pergi menuju ke mobilnya, sedangkan Calvin pergi ke kasir untuk membayar semua makanan.
...***...
Keesokan harinya, Rafika pun berangkat pagi-pagi sekali dengan tas ransel di punggungnya. Dia sengaja membawa beberapa baju dan keperluan lainnya. Agar sepulang kerja langsung mencari rumah kontrakan yang tidak jauh dari tempat kerjanya.
Tidak jauh berbeda dengan Rafika. Kiranti pun melakukan hal yang sama. Semalam mereka dapat informasi dari Baim kalau kamar kontrakan yang ada di dekatnya ada yang kosong. Sehingga mereka meminta temannya itu agar membooking terlebih dahulu pada pemilik kontrakan.
"Kiran, nanti kita titip tasnya ke pos satpam aja ya! Masa bawa ransel ke atas. Tar dikira camping di kantor lagi," ucap Rafika saat mereka akan berangkat kerja.
"Iya, bener. Kita titip saja di pos satpam. Mereka baik-baik kho," ucap Kiranti.
Keduanya terus saja berceloteh selama perjalanan menuju ke perusahaan. Sampai akhirnya, taksi yang mereka tumpangi sudah sampai di perusahaan tempat mereka bekerja.
"Permisi, Pak. Boleh kita titip tas di sini gak, Pak. Nanti pulang kerja baru kita ambil," ucap Rafika.
"Bukannya, Mbak yang kemarin test di bagian staf ya?" tanya satpam yang terlihat masih muda.
"Iya, Pak. Disuruh datang pagi-pagi sama Pak Bos. Titip tas di sini ya, Pak." Kiranti langsung menimpali.
"Iya boleh. Silakan, Mbak!"
"Makasih ya, Pak. Aku ke atas dulu. Kiran, kamu mau ikut atau tunggu di kantin saja?" tanya Rafika.
"Aku tunggu di kantin saja. Semangat ya, Fika!" Kiranti mengepalkan tangannya ke udara untuk memberi semangat sekaligus meledek sahabatnya yang harus bersih-bersih di ruangan CEO.
Gak tahu saja, aku mau numpang tidur di sana. Biarin aja, biar aku dipecat. Rasanya hatiku tidak bisa kompromi jika setiap saat harus melihatnya.
...~Bersambung~...
__ADS_1