
Lampu ruangan operasi kini telah padam. Erlangga pun bergegas menuju ke dekat pintu. Dia sudah tidak sabar menunggu kedatangan dokter yang keluar dari sana. Sampai akhirnya seorang dokter keluar dari ruangan itu.
"Bagaimana keadaan anak dan istri saya, Dok."
"Bagaimana keadaan putri saya, Dok."
"Apa Fika dan bayinya baik-baik saja, Dok.
Mereka memburu dokter itu dengan berbagai pertanyaan. Dokter cantik itu pun mengangkat tangannya untuk meminta waktu menjawab setiap pertanyaan.
"Kedua bayi Anda lahir dengan selamat Tuan. Mereka kembar sepasang. Hanya saja, istri Anda koma karena pendarahan hebat. Sekarang bayinya sedang dibersihkan oleh perawat. Mungkin sebentar lagi, ibu dan bayinya akan dipindahkan," jelas Dokter.
Degh!
Terasa dihantam batu besar, hati Erlangga rasanya sangat sakit saat mendengar istrinya tidak sadarkan diri. Sungguh dunianya terasa runtuh seketika mendapatkan kabar buruk di tengah kebahagian menyambut kedua anak kembarnya. Begitupun dengan Bu sofie dan Kiranti, mereka seketika meneteskan air matanya.
"Dokter, tolong lakukan yang terbaik untuk istri saya," mohon Erlangga.
"Iya, Dok. Tolong selamatkan putriku!" timpal Bu Sofie.
"Kami akan melakukan yang terbaik, tolong dibantu dengan doa!"
Setelah cukup menjelaskan keadaan Rafika, Dokter pun berpamitan karena akan memeriksa pasien yang lain. Sebisa mungkin Erlangga bersikap tegar. Meskipun hatinya remuk redam. Takut, cemas, sedih bercampur jadi satu, sehingga di hanya diam. Tidak mengeluarkan sepatah kata pun.
Tidak jauh beda dengan Erlangga, Bu Sofie pun merasakan hal sama. Putri satu-satunya yang menjadi tumpuan harapannya, kini sedang terbaring tidak sadarkan.
Tidak berapa lama kemudian, dua orang perawat membawa bayi kembar Erlangga yang berlainan jenis. Erlangga pun langsung mengadzani di telinga kanan bayinya dan iqamat di telinga kiri secara bergantian.
"Sus, boleh saya menggendongnya sebentar?" tanya Bu Sofie.
"Silakan, Bu. Tapi maaf tidak boleh lama, karena akan masuk inkubator," ucap salah satu perawat.
"Iya, sus."
Bu Sofie pun mengendong cucunya bergantian. Dia mencium kening bayi mungil yang menggemaskan itu dengan sayang. Puas mencium cucunya, dia pun mengembalikan pada perawat.
...***...
__ADS_1
Satu Minggu sudah Rafika tidak sadarkan diri. Erlangga dengan setia menemani istrinya. Satu Minggu itu pula dia bekerja di rumah sakit. Sehingga Calvin harus bolak-balik ke rumah sakit dengan membawa berkas.
Sementara Bu Sofie dan Kiranti sibuk mengurus bayi kembar. Karena hanya tiga hari bayi mungil itu berada di rumah sakit. Kesedihan hati keduanya sedikit terhibur dengan adanya bayi yang menggemaskan itu. Seperti sudah mengerti dengan keadaan maminya. Mereka pun tidak pernah menyusahkan Bu Sofie yang menjaga mereka.
Sesekali Bu Sofie pun menjenguk putrinya secara bergantian dengan Kiranti. Karena tidak mungkin jika mereka pergi bersama dan meninggalkan bayi kembar itu dengan pembantu. Seperti saat ini, Kiranti ikut dengan suaminya ke rumah sakit, sedangkan Bu Sofie menjaga kedua cucunya.
"Bang, kenapa Fika tidak sadar-sadar juga
Padahal aku ingin kasih tahu dia kalau sekarang aku sedang hamil lima Minggu. Dia pasti senang karena usahanya berhasil," ucap Kiranti seraya menggenggam tangan sahabatnya.
"Kita berdoa saja, semoga Fika cepat pulih seperti sedia kala." Calvin menatap wajah pucat Rafika
"Fika bangun! Kamu harus tahu kalau sekarang aku pun sedang hamil, tapi bukan bayi kembar. Cepat bangun, Fika. Nanti kita jodohkan anak-anak kita," ucap Kiranti.
Tidak ada jawaban dari Rafika. Namun, Kiranti maupun Erlangga tidak peduli meskipun Rafika masih belum merespon. Dia terus saja mengajaknya berbicara.
Begitupun dengan Erlangga yang setiap hari mengajak istrinya berbicara. Bahkan tidak segan menceritakan pengalaman masa kecilnya yang kelam. Padahal selama ini, dia tidak pernah menceritakannya pada orang lain.
"Kang, apa Aki Anja sudah tahu kalau Fika koma?" tanya Kiranti. Dia tiba-tiba saja ingat dengan kakeknya Rafika.
"Mungkin saja. Kiran, kalau kamu punya nomor ponsel saudara di kampung tolong bilang ke Aki untuk memanggil kembali Fika agar kembali ke jasadnya. Kenapa dia tega sama Aa? Meninggalkan Aa sendirian di sini." Tanpa terasa air mata Erlangga menetes membasahi tangan Rafika.
Kiranti langsung mengambil ponselnya dan menghubungi ibunya. Dia menceritakan semua pada ibunya dan meminta tolong agar menemui kakeknya Rafika.
Sementara itu, di alam bawah sadar Rafika. Dia sedang berada di hutan lebat dengan hamparan rerumputan yang hijau serta bunga-bunga liar yang mekar dengan indahnya. Rafika sedang bersama dengan Aki Arya yang selalu memanjakannya saat dia masih kecil. Keduanya sedang asyik bercengkrama seraya membuat ketapel seperti saat dulu.
"Fika, kenapa kamu betah di sini? Ibu kamu pasti sedang cemas menunggu," tanya Aki Arya.
"Fika senang di sini, Aki. Karena Fika bisa dekat dengan Ayah."
"Kamu belum waktunya tinggal bersama kami. Pulanglah, sebelum kakek kamu menjemput dan menjewer telingamu."
"Nanti saja, Fika masih kangen dengan Ayah dan Aki. Kenapa tidak aki saja yang ikut bersamaku? Sekarang rumah Fika bagus, Aki. Ayo menginap di rumah Fika!"
"Aki lebih senang di sini. Tuh lihat, kakek kamu datang tergesa-gesa ke sini. Aki mau jadi penonton saja. Jangan minta tolong sama Aki kalau dia memaksa kamu ikut bersamanya."
"Aki, tapi aku masih ingin di sini. Kenapa aki mengusir aku?"
__ADS_1
"Karena anak dan suami kamu sedang menunggu di rumah."
"RAFIKA!" teriak Aki Anja. Dia langsung menghampiri cucunya dan menjewer telinga Rafika. "Kenapa kamu malah di sini? Kasihan anak dan suami kamu. Mereka membutuhkan kamu. Cepat pulang ikut Aki!"
"Iya, Aki sebentar!"
"Tidak bisa, kamu sudah terlalu lama di sini. Aki tidak mau tahu, kamu harus ikut dengan Aki sekarang."
"Pulanglah, Fika. Jaga anak dan suami kamu. Jadilah istri dan ibu yang baik untuk anak kamu," pesan Ayah Rafika.
"Ya Ayah, Fika pulang dulu," pamit Rafika sebelum akhirnya dia ikut bersama dengan Aki Anja.
Rafika akhirnya hanya mengikuti Aki Anja membawanya pada sebuah lingkaran cahaya. Sampai akhirnya dia tiba di ruangan serba putih dengan jasadnya yang dipasang berbagai peralatan medis.
"Tuh lihat! Suami kamu menangis karena kamu tidak mau bangun. Sahabat kamu juga setia menemani kamu. Apa kamu tidak kasihan pada mereka?" tunjuk Aki Anja.
"Aki, anakku di mana? Bukankah aku habis melahirkan. Aku pergi ke tempat Aki Arya, karena aku tidak kuat menahan sakit. Aku ingin kembali, tetapi tubuhku masih sangat lemah."
"Tubuhmu sudah membaik. Pulanglah ke ragamu!"
"Baiklah, Aki. Terima kasih sudah menjemput aku. A Elang pasti sedih melihatku tertidur terus."
Perlahan roh Rafika pun kembali masuk ke raganya. Dia pun mulai menggerakkan jari tangannya sebelum matanya terbuka. Sementara Erlangga sangat terkejut saat merasakan pergerakan jari tangan istrinya. Dia segera menekan tombol hijau untuk memanggil tenaga medis dan memberitahukan keadaan Rafika.
Tidak lama kemudian, perawat dan seorang dokter datang ke ruangan Rafika. Mereka bergegas memeriksa pasien yang susah lama tidak sadarkan diri. Mereka sangat lega karena kondisi Rafika sudah stabil.
Rafika pun perlahan membuka matanya. Dia mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menyesuaikan cahaya yang masuk. Sampai terlihat samar-samar wajah Erlangga tepat berada di sampingnya.
"A Elang ...," lirih Rafika.
"Sayang, syukurlah sudah bangun. Aa sangat rindu. Anak kita juga merindukan maminya."
...~Bersambung~...
...Jangan lupa dukungannya ya kawan! Klik like, comment rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1