
Seperti seorang pengawal, Erlangga terus saja mengikuti kedua gadis itu. Dia tidak peduli dengan tatapan lapar kaum hawa yang melihatnya. Pria kharismatik itu terus saja melangkahkan kakinya mengikuti ke mana gadis itu pergi.
"Pak Bos, aku mau beli es krim cone dulu. Apa Pak Bos mau?" tanya Rafika.
"Tidak, kalian saja yang beli." Erlangga menjawab singkat.
"Baiklah, kami ke sana dulu ya!" tunjuk Rafika pada sebuah booth yang menjual es krim dengan aneka rasa.
Erlangga tidak menyahut ucapan Rafika. Laki-laki itu terus saja mengikuti langkah kaki gadis yang selalu membantahnya itu. Tentu saja hal itu membuat Kiranti menjadi kikuk. Bagiamana pun, sekarang Erlangga bukan Kang Asep yang dikenalnya, tetapi seseorang yang bisa saja membuat dia kehilangan pekerjaannya.
"Fika, kenapa ngikutin kita terus? Padahal tunggu saja di mobil," bisik Kiranti.
"Udah biarin. Kita sekalian aja ajak ke supermarket." Rafika berbisik balik.
Namun, sepertinya rencana kedua gadis itu tidak bisa berjalan dengan mulus. Karena Erlangga bisa menangkap gelagat yang mencurigakan dari keduanya. Erlangga pun segera menarik tangan Rafika saat gadis itu sudah mendapatkan es krim yang diinginkannya.
"Ayo, jangan banyak buang waktu!"
"Pak Bos, sebentar! Aku kan belum makan es krimnya." Rafika berusaha melepaskan diri dari cekalan tangan Erlangga.
"Nanti saja di sana."
Sampai di tempat karaoke, Calvin sudah menunggu kedatangan mereka di dekat resepsionis. Dia pun langsung menghampiri Erlangga saat melihat kedatangan bos-nya yang sedang menarik tangan Rafika.
"Ayo, Bos!" ajak Calvin memandu ketiga orang yang baru datang itu.
Mereka pun langsung menuju ruangan VIP yang sudah dipesan Calvin. Saat tiba di sana, nampak hidangan yang sudah tersaji dengan dua botol wine yang sudah di pesan oleh Calvin. Mereka pun menikmati hidangan terlebih dahulu seraya menikmati nyanyian dari pemandu lagu.
"Bos, sirup strawberry-nya enak gak?" tanya Rafika yang merasa penasaran dengan minuman yang diminum oleh Erlangga.
"Kamu ingin mencobanya?" tanya Erlangga.
"Boleh deh Bos. Aku ingin tahu rasa minuman yang biasa diminum oleh orang kaya. Apa lebih enak dari sirup Marjani?" tanya Rafika.
__ADS_1
"Fika, aku juga mau. Ikut nyicip ya!" bisik Kiranti yang duduk di samping Rafika.
"Tentu saja lebih enak. Minumlah!" Erlangga memberikan segelas kecil wine pada Rafika. Tapi sepertinya, gadis itu merasa tidak suka.
"Bos, pelit banget. Ngasihnya kho cuma dikit," gerutu Rafika.
"Kamu bisa nambah kalau merasa kurang," ucap Erlangga.
Habiskan saja, aku ingin tahu bagaimana reaksi tubuhnya, batin Erlangga.
"Elang, memang mereka sudah terbiasa minum alkohol?" bisik Calvin.
"Aku tidak tahu. Sudahlah biarkan saja," bisik Erlangga pada Calvin.
Rafika langsung meneguk satu gelas anggur wine yang dia kira sirop karena warnanya yang sama. Begitupun dengan Kiranti yang penasaran ingin mencicipi sirup orang kaya itu. Namun saat minuman itu masuk ke dalam mulut, keduanya jadi bergidik merasakan pahit dan asam di indera pengecap-nya.
"Bos, kho rasanya gini?" tanya Rafika.
"Kamu baru meminumnya?" tanya Erlangga.
"Iya benar. Tapi semakin lama diicip-icip, kho rasanya enak ya. Boleh nambah gak Bos?" tanya Kiranti
"Minumlah sepuas kalian!" ujar Erlangga dengan menggelengkan kepala melihat kelakuan kedua karyawannya.
Dasar gadis bodoh! Berani sekali dia meminum minuman yang mengandung alkohol bersama dengan seorang pria. Bagaimana kalau aku punya niat jahat. Sudah pasti kalian akan kehilangan sesuatu yang berharga, batin Erlangga.
Elang apa-apaan sih? Kenapa kedua gadis itu dicekokin minuman beralkohol. Bagaimana kalau keduanya mabuk. Pasti akan merepotkan, batin Calvin.
"Mbak, aku saja yang nyanyi. Kalian dengarkan ya!" ucap Rafika setelah menghabiskan dua gelas anggur wine.
Rafika pun segera meminta pemandu lagu itu agar menyeting lagu milik Kerispatih. Dia pun mulai bernyanyi dengan memejamkan matanya. Rafika ingin mengungkapkan perasaannya lewat lagu yang dia bawakan dengan suara serak-serak basah.
Aku memang terlanjur mencintaimu dan tak pernah kusesali itu. Seluruh jiwa telah ku serahkan. Menggenggam janji setiaku. Kumohon jangan jadikan semua ini alasan kau menyakitiku.
__ADS_1
Meskipun cintamu tak hanya untukku, tapi cobalah sejenak mengerti bila rasaku ini rasamu.
Sanggupkah engkau menahan sakitnya terkhianati cinta yang kau jaga?
Rafika tidak melanjutkan lagunya. Dia malah menangis tersedu. Sementara Kiranti yang merasakan pusing di kepalanya mulai meracau. Dia segera berdiri di depan Erlangga dengan berkacak pinggang.
"Dasar laki-laki edan! Kamu janji untuk menikahi sahabatku, tapi kamu malah bertunangan dengan gadis lain. Tapi yang lebih edan keluargamu, mereka mengancam aku dan Bu Sofie agar tidak mendekati kamu."
Mendengar apa yang Kiranti katakan, Calvin segera membawa Kiranti keluar dari ruangan itu. Dia tidak ingin gadis itu tanpa sadar membocorkan apa yang sudah dia rahasiakan selama ini.
"Elang, sepertinya dia mabuk. Biar aku bawa pulang saja. Kamu tolong urus Rafika!"
"Iya!" sahut Erlangga dengan menatap lekat Rafika yang sedang melanjutkan lagunya.
Dia meresapi lirik lagu yang dibawakan oleh gadis itu. Entah kenapa hatinya merasa sakit. Dia oun langsung bangun dari duduknya dan menghampiri Rafika yang sedang bernyanyi sambil berdiri seraya melihat ke arah layar kaca.
"Sudah cukup! Ayo kita pulang!" ajak Erlangga.
"Kang Asep, kenapa Akang harus berubah jadi bos galak itu? Di menyebalkan sekali, selalu mencari perkara denganku. Aku gak Kang Asep yang sekarang. Aku mau Kang Asep yang seperti dulu. Meskipun tidak bisa melihat dan lupa ingatan tapi Akang selalu baik sama aku. Akang sayang sama aku. Akang gak pernah galak sama aku. Hiks ... hiks ... hiks ...."
Rafika menangis di depan Erlangga. Namun, sesaat kemudian dia menghentikan tangisannya dan langsung mencengkeram kerah baju Erlangga dengan berjinjit.
"Balikin Kang Asep aku! Kenapa kamu memakai tubuh Kang Asep?" sentak Rafika.
"Kamu mabuk Fika, ayo kita pulang!" Erlangga langsung menarik tangan gadis itu.
Namun, dengan refleks Rafika menepis tangan Erlangga. Tentu saja laki-laki itu menjadi kaget, karena Rafika menepis tangannya cukup keras. Seperti memakai kekuatan yang tersembunyi.
"Jangan menyentuhku! Kamu bukan Kang Asep. Tidak mungkin Kang Asep galak sama aku. Hei buka topeng kamu! Kenapa kamu memakai wajah kekasihku. Di mana kamu sembunyikan Kang Asep?"
Fika, apa benar kamu gadis yang selalu menghantuiku dalam mimpi. Setiap kali aku tertidur, suaramu selalu terdengar. Suara yang ceria dan membuatku aku menjadi tersenyum mendengar ocehan itu. Tapi suara kamu itu, membuat aku penasaran dan ingin bertemu dengan gadis si pemilik suara dalam mimpiku.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, vote, rate, gift dan favorite....
...Terima kasih....