
Rafika hanya menyimpan paper bag itu begitu saja. Dia tidak berniat untuk membukanya. Meskipun dia tahu kalau Erlangga yang sudah mengirimkannya, tetapi dia tidak peduli.
"Kiriman dari siapa?" tanya Kiranti.
"Gak penting. Lebih baik tidur saja. Biar besok kita tidak ketinggalan berkeliling pulau Dewata."
"Iya, bener." Rafika langsung memejamkan matanya. Meskipun sebenarnya dia belum mengantuk. Dia memaksa agar bisa tertidur pulas
Saat waktu sudah menunjukkan angka dua belas malam dan semua orang sudah kembali ke kamarnya masing-masing. Lagi-lagi pintu kamar kedua gadis itu ada yang mengetuk. Rafika yang belum bergegas untuk membukanya karena orang itu terus-menerus mengetuk pintu.
"Fika, ikut Aa sebentar!" ucap Erlangga yang berdiri di depan pintu dengan baju sweater hoodie dan topi hitam yang dipakainya.
"Aku tidak mau! Aku mau tidur," tolak Rafika langsung menutup pintu kamarnya lagi.
"Please! Kamu harus tahu apa yang sebenarnya terjadi," pinta Erlangga dengan menjegal pintu dengan kakinya.
"Tidak ada yang harus aku tahu. Aku hanya harus sadar diri kalau Bos, bukan laki-laki yang bisa aku miliki. Pergilah Bos! Tempatmu bukan sini," usir Rafika dengan memalingkan wajahnya.
Baru saja dia merasa bahagia bisa bersama dengan Erlangga, tetapi apa yang dilihatnya tadi membuat hatinya sangat sakit. Sampai akhirnya dia memilih untuk menyerah setelah dia berpikir bolak-balik.
"Tidak! Kamu harus mendengar semuanya." Erlangga langsung menotok Rafika hingga gadis itu tidak bisa bergerak.
Tidak ingin menyia-nyiakan waktu, Erlangga segera membawa Rafika ke villanya. Dia baru melepaskan totokan pada Rafika saat mereka sudah berada di kamar.
"Apa yang kamu lakukan? Aku mau kembali ke kamar," geram Rafika.
"Jangan marah, Fika! Di sini, tidak akan ada yang melihat kita. Please jangan salah paham dulu! Aa terpaksa menolong Caithlyn dulu karena dia tidak bisa berenang. Bukan tidak bisa sebenarnya, tapi kakinya selalu kram jika dia pakai berenang."
"Lalu, bagaimana kalau ternyata kaki aku yang kram?"
"Aku percaya kalau kamu gadis yang tangguh. Aku selalu percaya, kamu bisa menyelamatkan diri dari situasi sulit."
__ADS_1
"Iya, Bos benar. Sekarang pun aku bisa melumpuhkan Bos kalau aku mau," ucap Rafika sinis.
"Ayo lumpuhkan aku!" Erlangga langsung menarik tangan Rafika hingga gadis itu duduk di pangkuannya. Dia memeluk gadis itu erat dan mengunci tangan Rafika di belakang badan gadis itu.
"Lepas!"
"Dengarkan dulu, Aa mau bicara hal penting."
Flashback on
Setelah membuka acara pesta dansa, Keluarga Bramantyo dan Keluarga Wijaya duduk bersama untuk membahas soal pernikahan Erlangga. Laki-laki itu di desak oleh keluarga Caithlyn untuk mempercepat pernikahan mereka. Namun, jawaban Erlangga sungguh membuat Tuan Wijaya marah.
"Maaf Tuan, saya tidak bisa melanjutkan pertunangan dengan Caithlyn. Saya sudah berusaha untuk belajar mencintai putri Om. Tapi saya tidak bisa. Saya masih mencintai kekasih saya, yang sudah saya janjikan sebuah pernikahan. Saya tidak mau, jika saya memaksakan diri untuk menikah dengan putri Om, maka bukan kekasih saya yang terluka tapi kami bertiga."
"Jadi selama empat tahun pertunangan kalian, putriku tidak ada apa-apanya di mata kamu? Begitu Erlangga? Kamu sangat keterlaluan! Aku tidak pernah menyangka kalau berbesanan dengan kalian akan dipermalukan seperti ini." Tuan Wijaya meluapkan kemarahannya dengan menggebrak meja.
"Tenang Wijaya! Kita bisa cari solusinya bersama," ucap Tuan Ageng.
Kemudian disusul oleh Tuan Ageng dan Erlangga. Semuanya diam sampai di depan gedung serbaguna, Erlangga melihat kalau Rafika menarik Caithlyn. Khawatir Tuan Wijaya dan kakeknya melihat hal itu, Erlangga pun langsung berlari dan segera menolong Caithlyn.
Flashback off
"Fika, kalau tadi kakek dan Tuan Wijaya melihat kamu yang menarik Caithlyn. Masalah bisa ruwet, aku khawatir mereka menargetkan kamu jika terjadi hal yang tidak diinginkan pada Caithlyn. Maafkan aku, jika cara aku salah. Aa hanya takut tidak bisa menjaga kamu dari mereka, saat Aa jauh."
"Bos, apa tidak bisa kalau kita berhenti sampai di sini saja. Mumpung perasaan Bos belum terlalu dalam. Pasti Bos secepatnya bisa mendapatkan gadis seperti yang Bos inginkan. Banyak loh, yang menyukai Bos. Mereka bahkan jauh lebih baik dari aku," ucap Rafika dengan suara yang bergetar. Sebisa mungkin dia menahan air matanya untuk keluar. Meskipun mulutnya meminta berpisah tapi hatinya tidak.
Erlangga melepaskan kuncian tangan Rafika. Dia langsung menempelkan telunjuknya di bibir gadis itu seraya menggelengkan kepalanya. Sungguh, hatinya terasa sangat perih mendengar permintaan gadis itu.
"Jangan menyerah! Kalau pun kamu menyerah, aku tidak akan pernah membiarkannya. Aku yakin kalau kamu jodoh yang Tuhan kirimkan untukku. Selama empat tahun kita berpisah, tidak sehari pun aku melupakan kamu. Meskipun aku tidak mengingat namamu tapi suara dan aroma tubuhmu melekat dalam ingatan." Erlangga menatap lekat mata Rafika yang sedang menatapnya.
"Berjuanglah bersamaku untuk meruntuhkan ego kakek! Kamu harus ingat Fika, jika nanti kakek tetap tidak merestui hubungan kita, aku akan tetap memilihmu."
__ADS_1
"Bos, sebenarnya sebenarnya, ibu dan Tuan Besar sudah membuat perjanjian. Kalau kita bersama, apa ibu akan baik-baik saja?"
"Aku yang akan mengurusnya. Tapi untuk sementara, kita sembunyi-sembunyi dulu dari orang-orang. Demi keamanan kamu dan juga ibu."
"Apa aku jadi kekasih gelapmu, Bos? Yang tidak boleh diketahui oleh orang lain," tanya Rafika. Kini kekesalannya pada Erlangga sudah mulai menguap.
"Wah, aku punya Shepia berarti. Mau aku nyanyikan lagunya?"
"Jangan meledek aku! Nanti aku bisa khilaf kalau marah."
"Tapi kenapa kamu menarik Caithlyn? Aku dengar juga, kamu mendorong Leon."
"Aku tidak mendorong adikmu, tapi dia memaksa aku untuk berdansa dengannya. Dia langsung menarik tanganku, tapi aku hempaskan. Akhirnya dia jatuh sendiri ke kolam," jelas Rafika.
"Hahaha ... Kamu memang calon istriku, orang seperti Leon, memang tidak boleh dikasih hati." Erlangga tergelak sendiri.
"Bos, jangan tertawa! Sudah malam, nanti malah dikira Nyi Kukun. Udah akh, ayo antar aku pulang!"
"Tidak mau! Aku susah payah membawa kamu ke sini. Masa aku antarkan lagi. Lebih baik kita tidur yuk! Besok mau jalan-jalan ke mana?"
"Ke mana saja, tempat yang belum aku kunjungi."
"Memang kamu pernah liburan ke mana saja di daerah sini?"
"Belum pernah liburan ke sini. Ini pertama kalinya karena gratis. Hehehe ...." Rafika menjawab dengan cengengesan.
"Berarti semua tempat belum pernah kamu kunjungi. Tenang saja, ada Kang Asep yang jadi pemandunya." Erlangga menjawil hidung Rafika gemas.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift, dan favorite....
__ADS_1
...Terima kasih....