Jerat Cinta CEO Amnesia

Jerat Cinta CEO Amnesia
Bab 84 Pelajaran Berharga


__ADS_3

Tangis kebahagiaan menyambut Rafika yang kembali membuka matanya. Erlangga begitu bahagia melihat kekasih hatinya sudah sadar dari komanya. Dia terus saja menciumi tangan Rafika yang bebas saat dokter memeriksa keadaan wanita cantik itu.


"Syukurlah, keadaan Nyonya sudah membaik. Luka jahitan di perutnya pun sudah mengering. Tinggal mencoba untuk belajar jalan," ucap dokter yang memeriksa keadaan Rafika.


"Terima kasih, Dok."


"Kalau begitu, saya permisi! Jangan lupa obatnya diminum," pesan dokter itu.


"Iya, dok!" sahut Erlangga.


Selepas kepergian dokter, Kiranti langsung mendekati sahabatnya. Dia memeluk Rafika dengan buliran air mata yang memaksa keluar. Dia pun sangat bahagia karena sahabatnya kembali pulih.


"Fika, maneh mah baong. Kenapa tidurnya kelamaan. Kamu tahu, kalau aku khawatir sama kamu," semprot Kiranti seraya mengelap air matanya.


"Maafkan aku sudah membuat kalian khawatir. Bagaimana keadaan anakku?"


"Mereka sehat, Fika. Besok aku bawa ke sini, sekalian kontrol. Ibu pasti senang anak bandelnya sudah kembali sadar," jawab Kiranti.


"Sudah, Kiran. Biarkan Fika istirahat dulu. Selamat datang kembali, Fika. Aku senang kamu kembali siuman. Semoga kesehatanmu semakin membaik," ucap Calvin.


"Terima kasih, Bang."


Setelah cukup berbincang, Kiranti dan Calvin pun berpamitan untuk pulang. Mereka teringat pada bayi kembar Rafika yang sudah waktunya mandi sore. Meskipun ada perawat, tetapi Kiranti dan bu Sofie lebih banyak menjaga kedua bayi itu. Entahlah, mereka khawatir jika menyerahkan sepenuhnya pada perawat.


Selepas kepergian Kiranti, Erlangga pun membantu Rafika untuk turun dari tempat tidur. Meskipun rasanya sangat sakit, saat pertama kali kakinya melangkah. Namun, Rafika memaksa untuk belajar berjalan. Dia melawan rasa sakitnya sampai akhirnya rasa sakit itu hilang dengan sendirinya.


"Istri Aa memang hebat. Terima kasih sudah berjuang untuk anak-anak kita."


"Terima kasih juga, Aa sudah setia menjaga aku di sini."


Baru saja Rafika mendudukkan bokongnya di sofa, terdengar suara pintu ada yang mengetuk. Erlangga pun segera membukakan pintu ruang perawatan Rafika. Terlihat di sana Tuan Ageng dengan Nyonya Merlina dan juga Leon datang untuk menjenguk.


"Elang, bagaimana keadaan Fika? Kenapa kamu tidak memberitahu Kakek kalau istrimu melahirkan?" tanya Tuan Ageng.


"Maaf, Kek. Aku terlalu panik. Ibu saja yang memberitahu Kiran. Karena aku tidak terpikir untuk memberitahu siapapun," jawab Erlangga. "Ayo masuk, Kek!" lanjutnya.


Tuan Ageng dan yang lainnya langsung masuk ke dalam. Mereka menghampiri Rafika yang sedang duduk di sofa. Tanpa sungkan, Tuan Ageng langsung duduk di samping Rafika.


"Maaf, kakek baru datang menjenguk. Bagaimana keadaan kamu sekarang. Cicit Kakek, apa baik-baik saja?" tanya Tuan Ageng.


"Alhamdulillah Fika sudah baikan. Si kembar ada di rumah. Aku juga belum melihatnya," ucap Rafika sendu.


"Tidak apa. Nanti juga bisa melihatnya. Kakek bawakan gelang giok untuk kamu dan cicit Kakek yang perempuan. Apa kalian sudah punya nama?"

__ADS_1


"Belum, Kek. Aku belum memikirkannya," sela Erlangga.


"Agya sama Alya saja A," celetuk Rafika.


"Bagus itu Fika, Kakek suka."


"Baiklah, untuk yang laki-laki Agya Jaguar Bramantyo kalau yang perempuan Alya Qatrunada Bramantyo," ucap Erlangga.


"Bagus Elang. Semoga mereka menjadi anak yang sholeh dan sholeha," ucap Tuan Ageng.


"Merlina, Leon, kalian ke sini hanya untuk diam saja. Apa tidak ingin kalian mengucapkan selamat?" ucap Tuan Ageng dengan melihat ke arah menantu dan cucunya.


"Selamat Elang, Fika. Sekarang kalian sudah menjadi orang tua," ucap Merlina membuka suaranya.


"Terima kasih, Bu. Bagaimana keadaan Caithlyn, bukankah kehamilannya tidak jauh berbeda dengan Fika?" tanya Erlangga.


"Caithlyn keguguran karena dia terlalu memporsir dirinya untuk terus bekerja. Aku pun sudah bercerai dengan dia. Karena ternyata, dia selingkuh di belakang aku," jawab Leon lesu.


"Jadikan itu sebagai pelajaran bagi kamu, Leon. Selama ini, bukankah kamu yang sering mempermainkan hati perempuan. Mungkin Allah menegur kamu, agar kamu lebih menghargai perempuan," ucap Erlangga.


"Iya, Kak. Aku memang salah selama ini. Aku juga minta maaf atas kesalahan aku sama Kakak," ucap Leon sendu.


"Iya, Elang. Ibu juga minta maaf karena banyak salah sama kamu. Sama kamu juga Fika, ibu minta maaf atas sikap ibu yang kurang baik selama ini."


Erlangga hanya tersenyum tipis melihat Leon dan ibunya. Meskipun dia tidak menyukai kedua orang itu, tetapi dia juga merasa kasihan saat keluarga Wijaya sudah tidak mau berhubungan lagi dengan Mereka. Bukan tanpa alasan Keluarga Wijaya mengeluarkan mereka dari hak waris tapi karena Leon sudah melakukan kekerasan dalam rumah tangga pada Caithlyn. Saat Leon memergoki Caithlyn sedang bercumbu dengan kekasihnya yang seorang selebritis.


Namun, selama ini Erlangga berpura-pura tidak tahu karena dia tidak ingin terlibat dengan masalah mereka. Begitupun saat kakeknya menyuruh Erlangga untuk pulang ke rumah, dia selalu mencari alasan untuk menghindar bertemu dengan mereka. Karena sudah pasti mereka akan memintanya untuk menyelesaikan masalah dengan Keluarga Wijaya.


...***...


Keesokan harinya, Kiranti dan Bu Sofie membawa kedua anak kembar itu ke rumah sakit. Mereka mengharu biru karena akhirnya bisa bertemu lagi dan bercerita. Rafika pun mencoba memberikan ASI pada kedua bayi kembarnya. Namun, sayang ASI-nya belum bisa keluar.


"Ibu, bagaimana ini, Agya sama Alya tidak mau menyusu?" keluh Rafika. "Ayo, Sayang! Apa kalian tidak kangen sama Mama?"


"Sabar, Nak. Mereka sudah terbiasa minum susu formula. Tapi nanti juga mereka pasti mau," ucap Bu Sofie.


"Iya bener, Fika. Kamu sabar saja, sambil dipijat-pijat agar pucuknya keluar dan ASI juga keluar," ucap Kiranti.


"Sayang, apa perlu Aa bantu agar pucuknya lebih menonjol," celetuk Erlangga.


"Apaan sih, A Elang?" Pipi Rafika bersemu merah mendengar apa yang suaminya katakan.


"Boleh juga Elang, tapi nanti saja saat kami sudah pulang. Dipompa saja dulu, atau kita coba saja dulu dengan dot sebagai penyambungnya," saran Bu Sofie.

__ADS_1


"Boleh, Bu. Fika ikut saja bagaimana baiknya."


Setelah berkonsultasi dengan dokter dan mengikuti arahannya, akhirnya ASI Rafika oun keluar. Dia sangat bahagia karena akhirnya bisa memberikan sumber kehidupan untuk kedua anaknya. Rasanya Rafika tidak sabar untuk cepat-cepat pulang ke rumah agar selalu bersama-sama dengan anaknya.


"Dokter, kapan aku pulang? Sekarang aku sudah baik-baik saja. Jalan juga sudah normal," tanya Rafika saat ada kunjungan dokter.


"Semoga saja besok sudah bisa pulang, karena sekarang masih masa observasi," ucap dokter itu. "Untuk ASI, bisa dipumping saja dulu. Nanti setelah pulang ke rumah, bisa diberikan langsung."


"Baik, Dok. Terima kasih."


Selepas kepergian dokter itu, Kiranti dan Bu Sofie pun berpamitan pulang. Mereka tidak mungkin membawa pulang bayinya saat hari sudah malam. Meskipun sebenarnya masih kangen dengan Rafika.


Tinggallah Erlangga dan Rafika yang berada di ruang inap. Papa baru itu tersenyum melihat ke arah Rafika yang sedang memompa ASI-nya. Dia menghampiri Rafika dan duduk di tepi tempat tidur.


"Mau Aa bantu, Sayang?"


"Bantu apa?" tanya Rafika melihat ke arah suaminya.


"Bantu pegang pompanya. Barangkali pegal," ucap Erlangga.


"Boleh deh, A. Aku haus pengen minum jus," keluh Rafika.


"Sebentar, Aa suruh orang beli dulu. Mau pesan apalagi, biar sekalian?"


"Jus alpukat, siomay, martabak sama cemilan A. Perutku jadi cepat lapar kalau ASI-Nya dipompa terus," jawab Rafika.


"Tidak apa, Sayang. Kami memang harus banyak makan karena sedang menyusui. Agar kualitas ASI-nya baik," ucap Erlangga seraya mengelus lembut rambut istrinya.


"Aa pengertian sekali. Jadi makin cinta sama Papanya kembar," goda Rafika.


Erlangga hanya tersenyum seraya mengambil ponsel dan mengirimkan pesan pada supirnya untuk membeli apa yang Rafika inginkan. Setelah semuanya beres, dia pun segera mengambil alih pompa yang sedang dipegang istrinya. Dia khawatir tangan Rafika pegal saat memegang pompa terus menerus.


"Sayang, Aa sudah pesan kambing untuk acara aqiqah kembar. Setelah kamu pulang dari sini, kita langsung mengadakan acara syukuran di rumah. Semoga saja besok kamu sudah pulang," ucap Erlangga.


"Aa sudah menyiapkan semuanya?"


"Sudah, nanti kita akan berbagi kebahagiaan dengan anak-anak yatim di rumah. Mungkin sisanya Calvin akan mengurus."


...~Bersambung~...


...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....


...Terima kasih....

__ADS_1


__ADS_2