
Kedatangan keluarga Barrack disambut hangathangat oleh orang tua Kiranti. Meskipun kedua orang tua itu terlihat canggung di depan orang kaya tapi mereka pun akhirnya bisa bersikeras sewajarnya.
"Silakan duduk! Tuan, Nyonya dan Mbaknya." Wulan langsung mempersilakan tamunya untuk duduk setelah mereka saling bersalaman.
"Terima kasih. Mbak ini ibunya Kiran ya?" tanya Riani, ibunya Calvin.
"Iya, Nyonya. Saya Wulan dan ini suami saya Candra," ucap Wulan.
"Saya Riani, Mbak. Ini suami saya Reno dan putri saya Helen. Kalau sama putra saya, mungkin Mbak sudah kenal ya?"
"Iya, saya kenal, Nyonya."
"Jangan panggil Nyonya! Panggil Mbak saja biar kita lebih akrab." Riani tersenyum ramah pada calon besannya. "Sebelumnya Saya minta maaf dengan apa yang terjadi pada anak-anak kita. Tapi Mbak jangan khawatir, putra saya pasti bertanggung jawab terhadap putri ibu. Bukan begitu, Calvin?"
"Iya, Bu!" sahut Calvin datar.
Dua keluarga itu pun hanyut dalam obrolan, mereka mencari jalan keluar untuk anak-anaknya. Sampai akhirnya tercetus ide yang membuat semuanya tercengang.
"Bagaimana kalau nikahnya besok saja, Tan. Biar nanti kita bulan madu bareng. Iya gak, A?" celetuk Rafika.
"Boleh, Sayang. Kita bisa liburan bareng tanpa canggung karena semuanya sudah memiliki pasangan yang halal." Erlangga tersenyum menyetujui ide istrinya. Jangan lupakan tangan dia yang terus saja menggenggam tangan gadis yang sudah membuatnya mabuk kepayang.
"Benar juga, niat baik memang tidak boleh ditunda." Riani langsung menyetujui usul dari Rafika. Bukan apa-apa, dia khawatir putranya berubah pikiran.
"Saya juga setuju. Iya kan, Pak. Biar kita tidak bolak balik juga. Soalnya sedang tanam padi takut ketinggalan sama yang lain kalau ditinggal lama," ucap Wulan.
"Iya, saya setuju besok Kiran menikah. Tapi bagaimana dengan persiapannya?" tanya Candra yang sedari tadi mendengar para wanita yang terus berceloteh.
"Pak Candra tenang saja, biar semuanya saya yang urus," jawab Riani.
Bilang Mama yang urus, ujung-ujungnya aku urus sendiri, batin Calvin.
"Mama, Papa ... Apa tidak bisa ditunda dulu sampai Minggu depan. Kenapa langsung besok saja," protes Calvin.
__ADS_1
"Minggu depan atau besok juga sama saja. Kamu tenang saja, Calvin. Biar nanti resepsinya barengan saja dengan Elang. Bukankah Elang belum mengadakan resepsi?" tanya Riani.
"Di sini memang belum, Tan." Erlangga langsung menyahut pertanyaan ibunya Calvin.
"Sudah! Kalian tahu beres saja dan siapkan diri kalian berdua. Soal tempat dan yang lainnya, biar Mama dan Helen yang atur."
"Iya, benar. Pokoknya persiapan acara biar tanggung jawab kita. Kalian tinggal mempersiapkan diri kalian saja. Ibu sama Bapak pun beristirahat saja. Pokoknya tahu beres," timpal Helen dengan bersemangat.
Calvin melihat wajah ibu dan kakaknya satu per satu. Entah kenapa, dia merasa kalau semua ini sudah mereka rencanakan. Tapi kenapa kejadiannya bisa pas begini? Apa mungkin Kiranti juga punya andil? Bukankah gadis itu tidak menyukainya?
Pertanyaan yang sama dengan Calvin, terus saja menari-nari di benak Kiranti. Dia jadi bingung sendiri dengan apa yang terjadi. Kenapa harus terjebak pernikahan dengan laki-laki yang tidak disukainya?
Setelah semua sepakat dengan rencana dari Riani dan Helen, Keluarga Barrack pun berpamitan pulang. Papa Calvin yang memang tidak suka banyak bicara, hanya mengikuti saja keinginan istri dan anaknya. Karena biasanya Tuan Barrack akan mengeluarkan suara emasnya saat apa yang dilakukan istri dan anak-anaknya menurut dia tidak pantas. Selama masih dalam batas kewajaran, dia hanya akan jadi pemerhati saja.
"Kalau begitu kami permisi dulu, Bu Wulan, Pak Candra. Sampai bertemu besok lagi. Nanti akan ada orang yang datang untuk mengukur baju buat acara besok. Sekalian untuk acara resepsi bulan depan."
"Iya, Mbak. Saya ikut saja," ucap Wulan.
"Iya, Sayang. Elang juga. Kita pakai baju samaan pas acaranya.
Setelah kepergian keluarga Calvin, orang tua Kiranti pun disuruh untuk istirahat di kamar. Begitupun dengan Rafika dan Erlangga yang sedari tadi menempel terus. Kedua pasangan baru itu memilih untuk pergi ke kamarnya. Sementara Calvin dan Kiranti masih duduk di tempatnya.
"Kiran, boleh Abang bicara serius dengan kamu?"
Bicara apa, Bang? Boleh saja, tinggal bicara saja."
"Tidak, ayo ikut ke apartemen Abang. Biar tidak ada yang menguping pembicaraan kita," ajak Calvin seraya berdiri dari duduknya. Dia langsung berlalu pergi menuju ke apartemen miliknya.
Kiranti pun langsung menyusul calon suaminya dari belakang. Gadis itu lebih banyak diam dari biasanya. Dia masih syok dengan apa yang terjadi pada hidupnya. Saat hatinya sangat terluka dengan kata-kata yang Baim katakan, dia harus menikah dengan laki-laki yang tidak disukainya.
"Kiran, apa kamu terlibat dalam rencana mamaku?" tanya Calvin saat mereka sudah duduk di sofa.
"Rencana apa, Bang? Aku tidak mengerti. Aku baru melihat jelas Mama Bang Calvin hari ini." Kiranti terlihat bingung dengan pertanyaan calon suaminya.
__ADS_1
Berarti dia tidak tahu apa-apa. Tapi aku masih curiga kalau semua ini sudah mereka rencanakan, batin Calvin.
"Tidak ada, Kiran ayo kita saling mengenal. Bukankah suami istri itu harus tahu luar dalam?"
"Luar dalam bagaimana, Bang? Aku tidak mengerti."
"Kita coba dengan pendekatan. Mungkin dengan jalan bersama seperti sepasang kekasih."
"Tapi kita kan nunggu orang buat ukur baju."
"Iya, nanti setelah mereka datang."
Aku bingung harus memulai dari dengan Kiran. Tidak mungkin kita terus bertentangan saat sudah menikah. Karena aku tidak mau jika nanti harus menyandang status duda. Aku harus bisa mengalah pada dia, karena memang umur Kiran lebih muda dariku.
Tidak berapa lama kemudian orang yang akan fitting baju kebaya datang. Setelah mereka menyesuaikan ukuran yang pas untuk Kiran dan yang lainnya, mereka pun langsung pulang karena harus menyiapkan baju untuk acara dadakan itu.
"Kiran, kita double date ke danau yuk! Kayaknya seru sore-sore lihat langit senja di sana dengan merumput. Kita bawa bekal yang banyak," ajak Rafika.
"Boleh deh, Fika. Ibu dan Bapak mau ikut?" tanya Kiranti.
"Ibu dan Bapak di sini saja. Masih cape, tadi pagi Bapak baru pulang dari sawah habis jagain air," tolak Pak Candra.
"Ya sudah, kalau begitu kita berangkat dulu. Tenang saja, nanti calon menantu Bibi sama Mamang akan bawa oleh-oleh pas pulang nanti," ucap Rafika dengan tersenyum ceria.
Dia sangat senang karena rencananya berjalan lancar. Meskipun tidak sesuai dengan rencana awal. Akan tetapi, hasil akhirnya tetap sama seperti yang diharapkan.
Senyummu mengalihkan duniaku, Fika. Meskipun aku kurang setuju dengan rencana kamu dan Helen. Tapi aku tidak bisa menolak jika hal itu dapat membuat kamu bahagia. Maafkan aku Calvin! Semua ini demi kebahagiaan kamu. Aku yakin Kiran gadis yang baik, tidak sama dengan gadis-gadis yang pernah memanfaatkan kamu.
...~Bersambung~...
...Dukung terus Author ya kawan! Klik like, comment, rate, vote, gift dan favorite....
...Terima kasih....
__ADS_1